38

Lelaki itu sudah hampir menyerah. Menjadi editor adalah impiannya sejak kecil. Pekerjaan itu tidak hanya membutuhkan keterampilan, pekerjaan itu membutuhkan dedikasi yang tinggi. Ia tak hanya harus menguasai tata bahasa, kosa kata yang kaya. Ia juga harus mendalami banyak hal. Ia harus senang melakukan riset, ia harus gemar membaca.
Gemar membaca. Membaca adalah satu-satunya hal yang menyelamatkannya di dunia. Setelah ibu dan ayahnya meninggalkannya di depan sebuah panti asuhan, ia menjadi sangat kecil hati. Tinggal bersama anak-anak bernasib sama juga tak membantunya lepas dari pikiran ‘tidak diinginkan’. Ia merasa hidupnya sia-sia. Sampai salah satu pengurus panti memberinya sebuah buku. Sejak itu ia menemukan dunia baru. Sejak itu ia jadi punya harapan. Namun bagaimana sekarang? Menjadi seorang editor adalah apa yang ia impikan, nyatanya tak segampang itu.
Sampai sekarang tak satu pun buku yang ia mentori memiliki kesempatan untuk meledak di pasaran. Tidak ada bonus, tidak ada uang tambahan. Tidak ada nama besar—sebesar seperti apa yang ia impikan. Meski kata orang editor adalah pekerjaan yang membanggakan. Dari tangan seorang editor, maka seorang penulis akan memiliki kesempatannya untuk punya nama besar. Seorang editor adalah seorang penjaga pintu. Sekarang tidak begitu yang terjadi dengannya.
Di tengah peperangan bathin yang sedang terjadi antara intelektualitas dan harga dirinya, sang editor masih berusaha membaca naskah-naskah itu. Naskah-naskah yang adalah amanah dari orang-orang, penulis-penulis itu. Mereka mempercayakan ini semua padanya. Namun, sekarang ia mulai kehabisan semangat. Ia tidak yakin bisa membawa orang-orang itu menuju kata sukses. Sukses adalah kata yang mahal.
Sementara, ia merasa angin bertiup di belakangnya. Seingatnya, jendela sudah ia tutup semua. Si editor merasa tidak nyaman. Namun, ia bersikukuh dengan konsentrasi. Pekerjaannya harus selesai hari ini. Setelah itu dia akan menulis surat pengunduran diri. Ia ingin cari pekerjaan lain saja. Mungkin ia lebih cocok jadi pustakawan. Mungkin ia lebih cocok membuka usaha jual beli buku bekas saja.
***
Geeanee sampai di ruangan lelaki itu dua tahun sebelum Aria menjadi seorang penulis. Lelaki itu sedang duduk, tekun membaca lembar demi lembar tumpukan naskah di depannya. Mejanya berantakan. Lelaki itu terlihat kurang makan. Kacamatanya luar biasa tebal. Pelan-pelan Geeanee mendekatinya.
Lelaki itu bergerak tiba-tiba. Ia melempar tumpukan kertas yang sedang ia baca ke tong sampah. Seolah ia begitu marah dan kecewa. “Duh! Kenapa tidak ada penulis bagus sekarang ini? Semua orang ingin jadi pegawai negeri dan guru. Tidak ada satu pun yang benar-benar melatih diri untuk menulis.”
“Aku punya satu kandidat bagus kalau kamu mau memikirkannya.” Geeanee menyela. Ia memang bermaksud mengagetkan lelaki itu. Apa yang bisa mayat hidup lakukan kalau bukan menakuti untuk mendapatkan maunya?
Dan benar, lelaki berkacamata itu meloncat dari kursinya. “Si… Siapa kamu?” Lelaki itu menoleh ke arah pintu. “Bagaimana kamu masuk ke dalam sini?”
Geeanee tersenyum jahat. “Apa kamu seorang editor novel?” Ia seram-seramkan suaranya.
Lelaki itu mengangguk. Matanya mengerjap waspada pada keberadaan Geeanee. “Apa kamu seorang penulis yang kutolak karyanya? Sejak kapan kamu mengawasiku?”
Geeanee memandangi lelaki yang sedang ketakutan itu baik-baik. “Jangan sampai kamu kencing di celana. Aku datang bukan untuk mencabut nyawamu,” ungkap Geeanee dengan nada suara yang meniru milik Malekh biasanya. “Seperti yang barusan kubilang. Aku punya seorang kandidat yang cocok untuk menjadi penulismu.”
“Apa dia berbakat?” tanya sang editor. Suaranya gemetar, matanya melirik ke sekitaran. Barangkali, ia bisa menemukan benda tajam untuk melemahkan perempuan di depannya. Seperti novel yang baru saja dia baca. Yang menurutnya sangat tak masuk akal. Namun sekarang terjadi juga padanya. Oh, ia benci novel fantasi dan suspense.
“Lebih dari berbakat, dia bisa membuatmu kaya raya.”
“Apa kamu sales asuransi?” tanya lelaki itu curiga.
Geeanee memutar bola matanya. Dengan kekuatan yang ia punya, perempuan itu menyalakan lilin aroma terapi yang sedang bertengger di atas meja si editor. “Aku menyalakan lilin itu sekarang. Kalau kamu macam-macam aku bisa menyalakan kertas dan kantormu ini sekalian,” ancam Geeanee.
“Ja… Jangan. Aku baru akan mengundurkan diri besok. Kalau kamu membakar kantor sekarang, mereka akan menuduhku yang tidak-tidak. Sekarang, katakan padaku apa maumu!”
Geeanee duduk di sebuah bangku. Ia persilahkan sang editor untuk duduk di seberangnya. “Ada seorang lelaki bernama Aria. Dia akan menjadikanmu editor yang kaya. Kamu tidak akan pernah punya niat mengundurkan diri lagi. Kamu akan dapat bonus lebih banyak dari apa yang pernah kamu dapatkan selama ini. Malah kamu bisa
dipromosikan, malah, kamu bisa membuat usaha penerbitan sendiri.”
“Apa dia sudah menulis sebelumnya?” Editor ini juga manusia. Meski terdengar muluk, ia tertarik juga. Ia sudah bosan miskin.
“Dia menulis seumur hidupnya. Tapi tak ada yang mau menerima tulisannya.”
Sang editor langsung tak enak wajahnya. “Kamu ingin aku memberinya kesempatan? Bagaimana aku bisa menerima penulis yang bahkan tidak pernah diterima karyanya? Aku tidak membuang uang untuk kesia-siaan.”
“Jadi, yang kamu lakukan selama ini bukan sia-sia?” tanya Geeanee, di tangannya ada sebuah buku tebal yang entah dari mana datangnya. Ia blempar buku itu pada lelaki di depannya. “Baca halaman penerbit.”
Takut-takut si lelaki membuka buku pemberian Geeanee. “Ini namaku. Dua tahun depan.”
Geeanee mengangguk. “Buku itu terjual habis dalam seminggu. Kalian mencetaknya dua kali lagi, dan buku itu habis.”
Si editor mengedip-ngedip. “Tidak! Kamu bisa saja mencetak buku ini untuk mempermainkanku.”
“Sepenting apa sih kamu?” tanya Geeanee kesal. Lelaki di depannya tak jauh berbeda dari Aria. Mereka
menjengkelkan.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan mencabut nyawamu sekarang.”
Editor itu langsung berdiri. “Oke! Aku akan menerimanya!” Lelaki itu mencicit ketakutan.
“Bagus.” Geeanee senang karena rencananya berjalan mulus. “Buku itu akan kamu simpan, atau aku boleh memilikinya lagi?” tanya Geeanee sambil menunjuk buku yang masih dalam genggaman si editor.
Tanpa banyak pertimbangan, si editor menyerahkan buku itu. Setelah sekali lagi ia membaca namanya di sana.
“Ada lagi?” tanya editor itu. Wajahnya takut bercampur kesal.
Geeanee menggeleng. “Namanya Aria. Ini alamatnya. Dia seorang penulis roman. Kamu tidak akan menyesal. Beri dia dua tahun. Kamu bisa mengajari apa saja. Dia pintar, intuisinya kuat. Dan dia tidak bisa mengingat wajah. Itu akan sangat membantumu nanti.”
“Dua tahun itu akan jadi sangat lama. Bagaimana kalau tiga bulan?” Si lelaki menawar.
“Bukunya akan habis dalam waktu seminggu. Kamu yakin hanya punya waktu tiga bulan?” tanya Geeanee. “Aku akan mencari editor yang lebih sabar dan tidak serakah.”
“Baiklah. Baiklah. Beri aku nomor teleponnya juga.”
Geeanee tersenyum. Kemudian dalam hitungan ketiga gadis itu menghilang di depan sang editor. Satu masalah lagi, dan semuanya akan selesai.

Komentar Buku (43)

  • avatar
    Aktivitas Pintar

    keren

    05/09

      0
  • avatar
    SarwonoEdy

    bagus untuk jendela masa depan

    26/12

      0
  • avatar
    NaksabandiDaniel

    kurang seru

    27/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru