28

Aria menuntun Shri memasuki kamarnya. Ia dudukkan perempuan itu di tempat tidur. Sementara Aria duduk di sebelahnya. Ia menangkup dagu Shri, mendekatkan dengan bibirnya. Aria menghadiahkan sebuah ciuman yang lembut. Dengan harapan Shri akan memelankan tempo permainannya. Atau barangkali, Shri akan segera tersadar dari setan yang mungkin sedang merasukinya.
Beberapa kali Aria mendengar suara desah nafas Shri. Ia sentuhkan jarinya di leher perempuan itu. Ia ingin membaca detak jantung mantan kekasihnya itu. Shri membuka matanya, memandangi Aria lekat-lekat.
“Apa bukan ini yang kamu inginkan, Aria?”
“Aku tidak lagi mengharapkanmu datang ke kamarku. AKu tidak tahu, jawaban apa yang ingin kamu dengar,” sahut lelaki itu.
“Hm… Tapi aku ingin sekali membuatmu senang.”
“Aku sudah cukup senang.” Aria membalas lagi.
Shri mengangguk. “Kalau begitu sekarang giliranmu membuatku senang.” Shri menepuk tempat tidur, memberi isyarat agar Aria merebahkan diri di atas sana. Aria mengikuti kata-kata Shri.
Di dalam kamar itu, tubuh Aria berbaring di atas tempat tidur. Sementara Shri, ia berjongkok di atas lelaki itu. Pinggulnya bergerak-gerak. Rambutnya yang terawat mulai kusut karena lembab. Geeanee sebenarnya sudah tidak tahan melihat kejadian itu, tapi sepertinya Aria lupa menutup tirai jendela kamarnya malam itu.
Geeanee berdiri di luar. Ia tidak bergerak sama sekali. Ia sedang menguji daya tahannya. Sepertinya ia punya bakat menjadi masokis. Bahkan, apa yang selalu Malekh lakukan padanya tidak dapat menandingi rasa cemburu di hati Geeanee sekarang. Rasa cemburu berbentuk ulat-ulat obesitas yang melata jahat di dalam lubuk hatinya dan menggerogoti rasa simpatinya pada Aria.
“Aku tidak pernah tahu kalau kamu tertarik pada hal-hal berbau pornografi.” Malekh muncul di belakang perempuan itu. Geeanee memejamkan matanya. Menahan rasa marah karena proses penyiksaan dirinya diganggu. Ia memilih diam. Hatinya sudah cukup sakit. Ia tidak mau fisiknya juga disiksa.
Malekh bergerak, ia berdiri di sebelah Geeanee. “Menurutmu, bagaimana kelanjutan cinta mereka?”
Geeanee tidak melepaskan tatapannya pada peristiwa di dalam kamar itu. Kemarin dirinyalah yang ada di sana. Kemarin dirinyalah yang mendaki di atas tubuh Aria. Kemarin dialah yang berada dalam pelukan itu.
“Menurutku, kalau mereka melanjutkan ini, Aria tidak akan bunuh diri. Kalau Aria tidak akan bunuh diri artinya kamu dan aku sedang melakukan hal yang sia-sia,” jawab Geeanee kesal. “Apa yang kamu pikirkan ketika mempengaruhi pikiran perempuan itu, Malekh?” Geeanee tidak tahu kalau Malekh juga memiliki kemampuan untuk merasuki pikiran orang. Tapi mungkin saja iblis bisa melakukan apa pun. Mungkin apa yang dicitrakan dalam film-film bertema kerasukan adalah hal yang benar.
“Aku ingin kamu sadar kalau Aria adalah korbanmu. Bukan jodohmu.” Malekh mengejek.
“Hm… Apa kelihatannya rencanamu berhasil?” tanya Geeanee.
“Ya, kamu bisa berterimakasih padaku nanti.” Malekh menjentikkan jarinya. Dan pemandangan yang ada di depan mereka langsung berubah.
Sekonyong-konyong gerakan Shri berhenti. Keduanya saling pandang selama beberapa detik. Lalu Shri menampar wajah Aria yang sudah lebam dari semalam. Perempuan itu turun dari tempat tidur dengan wajah yang marah. Ia memunguti semua pakaiannya. Ia mengusap air matanya. Sementara Aria yang tidak mengerti apa-apa bangun. Ia memakai celana dalamnya. Ia memakai kaosnya dan mengejar mantan kekasihnya.
“Shri… Shri… Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?” Aria mengejar perempuan itu ke ruang tamu. Sementara Shri yang masih setengah telanjang mencari-cari bajunya di lantai ruangan.
“Apa yang terjadi?” Shri mengulang pertanyaan Aria. “Kita sedang bermain boneka! Apa yang sudah kamu lakukan padaku, Aria? Jelaskan padaku bagaimana aku bisa ada di sini?” Shri membentak. Ia memungut satu lagi potongan terakhir dari keutuhan pakaiannya. Ia pakai bajunya. “Apa yang kamu lakukan padaku Aria? Apa kamu membiusku?”
Aria menggaruk jenggotnya dengan bingung. “Shri… Aku sudah mengajakmu makan malam. Tapi kamu malah mengantarku pulang. Kamu yang memaksaku…”
“Aku? Memaksamu? Aku memaksa bajingan sepertimu?” Shri tertawa miris. “Seharusnya hari ini aku sudah tidak ada di kota ini.”
“Tadi pagi kamu meneleponku. Kamu memaksa bertemu denganku di café itu. Kamu bilang gadis itu sudah meninggal sebulan lalu. Kita ke apartemennya. Kita ke gedung itu, lalu kamu menciumku. Kamu bilang kalau kamu sudah memaafkanku. Kamu bilang kita punya kesempatan lagi dan kamu tidak akan menolakku.”
“Sekarang katakan kalau aku mempercayai cerita karanganmu soal perjalanan waktu juga,” desak Shri.
Aria membuka mulutnya. “Ya, kamu mempercayainya.”
“Artinya kamu sudah gila, Aria. Aku harus pergi. Aku sudah ketinggalan pesawat dan kamu adalah alasannya. Kamu selalu jadi alasan dari semua hal buruk yang sudah terjadi dalam hidupku.” Shri semakin marah. Ia merasa sedang dikerjai oleh Aria. Kali ini sudah sangat keterlaluan sehingga air matanya meleleh tanpa bisa ia kenali sebabnya.
Sambil mengabaikan tuduhan kejam Shri, Aria mencari manufer lain untuk membuat Shri tahu diri dan berhenti
memojokkannya. “Artikel itu ada di ponselmu, Shri. Kamu begitu tertarik pada kematian Geeanee.”
“Geeanee? Siapa Geeanee?” tanya Shri.
“Pramusaji yang kita temui empat hari lalu di café Kopi Budaya…” suara Aria semakin lirih. Sudah ia duga, kalau perjalanan waktu, tidur dengan mayat hidup akan lebih masuk akal baginya dibanding berbaikan dengan mantan kekasihnya yang satu ini.
“Kamu pikir aku perduli pada kehidupan seorang pramusaji di café kecil begitu? Kehidupan seorang penulis besar sepertimu saja tidak bisa menggangguku, Aria.”
Terakhir kali, Aria percaya kalau ada orang yang memiliki rasa belas kasih yang besar di dunia ini adalah ketika ia melihat mata Shri dan kebaikan hatinya. Tapi, jelas semua orang bisa berubah. Apalah yang Aria tahu soal belas kasihan. Ia bahkan tak bisa membedakan mana kenyataan atau yang hanya khayalan.
“Apa sekarang kamu akan membiarkanku pulang, Aria?” tanya Shri akhirnya.
Aria yang masih berdiri di sana kemudian bersandar di tembok. “Ya, kenapa juga aku menahanmu. Toh, laki-laki tidak memiliki perbawa untuk dilecehkan.”
“Hati-hati bicaramu, Aria!” ancam Shri. “Kalau ada yang harus dituduh karena melecehkan atau perilaku seksual yang menyimpang, itu adalah kamu!”
Aria mengangkat bahunya. “Kamu lebih senang bertengkar denganku dari pada bersikap sabar dan mendengarkan.”
“Apa yang kamu lakukan sudah jelas, Aria. Kamu menjebakku. Kamu membawaku ke kamarmu.”
“Siapa yang sedang ada di atas dan sangat menikmati?” tanya Aria. “Apa yang kamu lakukan barusan terlihat seperti sebuah penyiksaan?”
Shri menghirup nafasnya dalam-dalam. “Percuma aku bicara denganmu, Aria.” Shri keluar pintu. Langkah kakinya menghentak-hentak menuju mobil. Bersama dengan bunyi mesin yang menjauh, Aria memerosotkan tubuhnya. Ia tersungkur dalam perasaan kecewanya. Sudah ia duga akan begini. Harusnya ia mempercayai intuisinya. Mana mungkin Shri akan bersikap baik padanya. Mana mungkin mereka punya kesempatan untuk bersama lagi.

Komentar Buku (43)

  • avatar
    Aktivitas Pintar

    keren

    05/09

      0
  • avatar
    SarwonoEdy

    bagus untuk jendela masa depan

    26/12

      0
  • avatar
    NaksabandiDaniel

    kurang seru

    27/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru