27

Selayaknya sebuah novel bergenre aksi, mobil mereka melaju kencang menyusuri jalanan. Syukurnya keadaan jalan sedang sepi, meski gelap sudah menyelimuti kota dan lampu jalan sudah bersinar sombong seolah bisa mengganti terangnya matahari. Shri menarik rem tangan dengan terburu-buru. Sama terburu-burunya saat tangannya membuka kunci otomatis dan membuka pintu.
“Apa kamu yakin melihatnya di sini?” tanya Aria yang tidak bisa menyembunyikan getaran suaranya. Bulu kuduknya merinding. Ia merasa takut, gugup. Ia tak tahu akan menghadapi apa. Atau sudah menghadapi apa selama ini. Semuanya nampak buram sekarang. Semuanya tidak semudah menganggap apa yang ia alami beberapa hari ini sebagai sebuah khayalan lagi.
“Aku yakin, Aria. Aku melihatnya berdiri di ujung atap bangunan ini. Di lantai lima. Tadi kamu cerita soal itu, kan? Kalau dia senang berdiri di sana.”
“Aku tidak bilang dia senang berdiri di sana. Aku bilang aku sempat berdiri di sana. Dan Geeanee muncul,” kilah Aria.
“Apa yang kamu lakukan di sana? Kenapa berdiri di ujung lantai lima?” Shri sudah teralihkan.
Aria membuang pandangannya. “Tidak penting. Kamu akan naik atau kita akan berdebat di sini?”
“Aria… Aria…” Shri mengambil sekotak rokok dalam tasnya. Ia menyalakan satu sebelum masuk ke dalam bangunan usang tersebut.
“Kamu punya rokok dan kamu mengambil rokokku.” Aria tidak terima.
“Hanya sebatang. Kenapa kamu pelit sekali? Aku harus memastikan kalau kamu tidak menghakimiku karena sekarang aku jadi perokok.”
“Bagaimana mungkin seorang perokok menghakimi perokok?” Aria mengikuti langkah kaki Shri.
Sampai di lantai lima, mereka berdua tidak menemukan apa-apa. Tidak ada sosok apa pun. Hanya sebuah dataran lapang yang beberapa sisinya nampak tidak berbatas karena keadaan gelap.
“Sepertinya tadi kamu salah lihat.” Aria mengalihkan pandangannya ke sekitaran. “Tidak ada siapa-siapa di sini. Ini konyol sekali, Shri.”
Shri menggigit bibirnya. “Tidak. Aku melihatnya.”
“Shri, ayo kita pulang. Aku lelah.” Aria merasa kepalanya berdenyut. Sepertinya lebam-lebam di tubuh Aria akan meledak dan memuncratkan darah sekarang.
Shri menghela nafas. Ia tidak punya alasan lagi sekarang. Perempuan itu menyerah juga akhirnya. “Baik,
kita pulang,” katanya pasrah. Sebelum ia berbalik dan berjalan menuju tangga, perempuan itu berpapasan dengan Aria.
“Shri… Kenapa ini begitu penting buatmu?”
Shri menatap Aria. Meski Aria tidak bisa melihat wajah mantan kekasihnya karena keadaan yang terlalu gelap. “Aku tidak tahu Aria. Aku hanya khawatir.”
“Khawatir?”
“Aria…” Shri menghela nafas, seolah mengeluh. Bahunya menjadi cekung karena sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. “Aku hanya mencari alasan untuk bicara denganmu lagi. Selama ini aku kira kamu membenciku. Aku kira kamu akan menusukku dengan pisau lipat yang kamu bawa ke mana-mana itu kalau kita tak sengaja bertemu.”
Aria tidak bisa menanggapi kata-kata Shri. Ia diam saja.
“Tapi, sekarang aku tahu kalau kamu bahkan tak bisa membedakanku dengan orang lain kalau tak mencium aroma parfumku yang biasanya.” Shri tersenyum. Aria melihat sudut bibirnya yang gelap tertarik naik.
“Shri…”
“Lupakan saja. Ayo kita pulang sekarang.” Shri ingin beranjak tapi kata-kata Aria menahannya.
“Shri, aku tidak pernah membencimu. Aku tidak pernah ingin menusukmu. Aku hanya menghindarimu. Aku merasa malu karena semua yang pernah kulakukan padamu dulu. Aku lelaki yang jahat, Shri. Aku tidak seharusnya menarikmu pada hubungan yang buruk itu. Kalau ada yang seharusnya membenci di sini, seharusnya orang itu adalah kamu.”
“Aku tidak membencimu. Kamu cinta pertamaku, Aria.” Shri bergumam lirih. “Aku hanya tak mau mengakuinya.
Setelah semua perselingkuhan yang kamu lakukan.”
“Sayangnya demikian. Kamu jatuh cinta pada orang yang salah.” Aria menghakimi dirinya sendiri.
“Kamu lelaki yang baik, Aria. Kamu tidak selalu menyakiti aku. Kamu membuatku senang kadang-kadang. Kamu pintar, kamu tidak pernah mengasariku.”
“Aku pernah memukulmu sekali. Dan aku menyesalinya. Namun yang tidak bisa aku maafkan dari diriku, adalah karena rasa sakit yang kuberikan padamu yang bukan berupa fisik. Aku tidak bisa membedakan wajahmu dan perempuan lain. Seharusnya aku melakukan interview sebelum tidur dengan mereka.”
“Bukan salahmu, Aria. Siapa yang bisa menolakmu?”
“Kamu bisa menolakku, kalau kamu mau.”
“Tapi kalau benar kamu bisa mengulang waktu, apa yang akan kamu lakukan dengan kita?” tanya Shri. Ia maju selangkah lagi agar bisa mencium aroma parfum Aria yang sudah bercampur dengan aroma rokok dan keringat.
“Aku sudah pernah mengajakmu berbaikan. Ketika dikembalikan ke tahun dua ribu tujuh. Tapi kamu menolakku.”
“Kalau kamu menanyakannya sekarang, aku tak akan menolakmu,” bisik Shri. Suaranya penuh rasa takut. Tapi bukan takut yang ada hubungannya dengan hantu, ketakutan miliknya ini adalah rasa takut yang biasa dialami seseorang sebelum melakukan keputusan yang salah.
Aria tersenyum. “Kamu akan memaafkanku?”
“Hanya kalau kamu mengemis padaku sekarang.”
Aria akan menjawab kata-kata itu. Namun Shri tidak mengijinkannya. Perempuan itu menempelkan bibirnya pada Aria. Ia merekatkan badannya. Lengannya menyimpul di pinggang Aria. Untuk sejenak Aria bisa menikmati ciuman itu, sampai aroma cendana dan kamboja berseliweran dan menampar kesadarannya.
“Shri…” Aria menarik diri. Suaranya parau. Nafasnya terengah.
“Ayo kita pulang, aku mengerti Aria.”
“Tidak, bukan itu.” Aria memantau setiap kegelapan di sekelilingnya. Berharap bau yang cium tadi hanyalah ada di dalam kepalanya bersama rasa bersalahnya. Namun, tidak ada apa-apa di sana. Aria kembali pada Shri, ia berbisik di telinga mantan kekasihnya itu. “Apa menurutmu kita berhak punya satu kesempatan lagi?”
Shri memejamkan matanya. “Ya, seharusnya kita selalu punya kesempatan lagi.”
Setelah mendengarkan jawaban perempuan itu Aria menggamit tangannya. Beriringan mereka turun dari lantai tersebut dan meninggalkan gedung usang tersebut.
Dalam hatinya Aria masih berharap bisa menemukan jawaban akan keberadaan Geeanee. Namun, pertama-tama, ia harus menyelesaikan apa yang sempat tertunda di antara dirinya dan mantan kekasihnya. Cinta pertamanya, Shri.
Aria berniat mengajak Shri makan malam. Ia berniat mengajak perempuan itu bernostalgia dan meluruskan semua yang sudah terjadi dengan salah dalam hubungan mereka. Aria begitu haus akan pengampunan. Ia ingin mati dengan tenang. Ia berusaha untuk tidak hanyut lagi pada keinginannya menikmati tubuh Shri. Karena kalau ia sampai tersesat lagi dalam pelukan itu, niatnya untuk mati akan berakhir. Percuma ia menulis surat itu.
Namun, Shri bukannya ingin makan. Shri tidak lapar. Shri merasa haus. Ia merasa dahaga itu bersarang di dalam hatinya. Ia merasa rindu. Ia ingin disentuh. Ia ingin dipuaskan. Ia ingin membalaskan rasa hausnya yang telah lama menyiksa di bawah pori-pori kulitnya. Dan yang bisa mengabulkan itu semuanya hanyalah Aria. Hanya lelaki itu.
Shri menghentikan mobilnya di pekarangan rumah Aria yang tak berpagar. Ia letakkan jemarinya di paha lelaki itu. Ia menjorokkan badannya ke depan. Ia merayu Aria. Ia menggigit bahunya.
Aria yang diserang sedemikian rupa tidak sempat melakukan perlawanan. Ia membalas semua penghakiman Shri dengan lapang dada. Ia tak bisa menolaknya. Di luar ketakutan bahwa mungkin Shri punya rencana lain. Mungkin Shri akan menyakitinya lagi seperti dulu. Aria memasrahkan dirinya. Ia biarkan Shri membuka kancing kemeja. Ia biarkan perempuan itu membelai dadanya. Ia biarkan perempuan itu membuka kait celananya.
“Apa kamu akan mengundangku masuk ke dalam rumahmu?” tanya Shri sambil mengusap bibirnya.
Aria menelan ludahnya. Baru ia merasa nyaman, Shri menghentikan aksinya. “Ya…ya… Kita akan masuk ke dalam rumah.” Aria turun dari mobil sambil memegangi celananya agar tidak melorot. Ia membuka pintu depan. Menunggu Shri masuk ke dalam dan menutup pintu itu lagi.
Shri mendorong tubuh Aria ke tembok dan berlutut di depannya. Ia membuat lelaki pemilik rumah itu menjadi sangat gelisah. “Kita ke kamar, Shri. Kita bisa melakukannya di kamar.”
“Sejak kapan kamu menjadi jinak begini, Aria?” tanya Shri sambil memenuhi mulutnya dengan hasrat milik Aria.
“Sejak kapan kamu menjadi liar begini?” tanya Aria. Ia tidak pernah tahu kalau Shri dapat menelan kelelakiannya. Ia takut mantan kekasihnya itu akan tersedak.
“Kita ke kamar. Aku bisa mati lemas kalau begini caranya.” Aria memohon. Ia menarik bahu Shri dan menuntun perempuan itu ke dalam kamarnya.

Komentar Buku (43)

  • avatar
    Aktivitas Pintar

    keren

    05/09

      0
  • avatar
    SarwonoEdy

    bagus untuk jendela masa depan

    26/12

      0
  • avatar
    NaksabandiDaniel

    kurang seru

    27/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru