Beranda/Lelaki Bernama Aria/
24
Geeanee menggigit bibirnya, hingga daging yang seharusnya sudah dikuburkan tiga puluhan hari lalu berdarah lagi. Geeanee menjilat cairan berbau karat itu dan menelannya. Ia tak tahu harus memulai dari mana. Sementara, Aria mematung di sebelahnya. Lelaki itu tidak akan beranjak sebelum mendengar semua yang akan disampaikan Geeanee.
“Masa kecilku tidak begitu baik. Ibuku meninggal sebelum melahirkanku. Ayahku seorang pemabuk dan penjudi.
Sejak kecil aku tidak pernah tahu sekolah, tapi seorang anak lelaki mengajariku membaca. Peter. Ia seusia denganku. Anak tetangga.” Geeanee mengenang. Ini pertama kalinya cerita masa kecil Geeanee punya pendengar.
Aria memandangi wajah Geeanee dengan penuh konsentrasi dan keseriusan. Ia tidak berkedip. Ia tidak berani bergerak.
“Sejak kecil aku mengumpulkan kaleng bir sisa ayahku dan rongsokan lainnya. Agar aku bisa makan. Aku juga memungut buku-buku bekas. Koran, berharap bisa menjadi pintar, karena ayahku terlalu miskin untuk menyekolahkanku.” Geeanee memainkan jari-jarinya di atas paha.
“Apa ayahmu memukul?” tanya Aria hati-hati.
“Apa semua pemabuk memukul?” Geeanee menggeleng. “Ayah tidak memukul. Ia juga tidak banyak bicara. Ia tidak senang aku ada di rumahnya. Ia tidak sudi. Makanya ia tidak pernah mau menyentuhku, apalagi bicara denganku.”
“Lalu, bagaimana dengan Peter?”
“Setelah dua tahun, kami berhenti berteman. Peter bicara kasar. Karena mendengarku bicara kasar.” Geeanee tersenyum mengingat kejadian itu. “Ibunya melarang kami berteman lagi.”
“Waktu itu kamu masih kecil.”
“Ya, kupikir juga begitu,” sahut Geeanee sambil menarik-narik telinganya. “Lalu beberapa tahun kemudian ayahku mati. Aku baru tahu, kalau selama ini ia mencoba melindungiku. Ia ingin aku membencinya. Ia tidak ingin aku ditemukan oleh ‘mereka’.”
“Mereka?”
“Itu tidak penting, Aria.” Geeanee mempersempit ceritanya. “Yang terpenting adalah soal—”
Telepon genggam Aria tiba-tiba berdering. Geeanee tahu seberapa besar keinginan Aria untuk tidak menanggapi panggilan itu, tapi suaranya terlalu nyaring dan mengganggu.
“Aku minta maaf…”
Geeanee melirik benda itu. “Sejak aku melihatmu, aku belum pernah dengar teleponmu berbunyi. Jadi jika sekarang benda itu berbunyi, artinya panggilan penting.”
“Tapi…” Aria mengambil ponsel itu dan membaca nama si penelepon.
“Sementara itu aku akan membuat kopi untuk kita. Dan kita akan melanjutkan pembicaraan ini. Nanti.” Geeanee mencium pipi lelaki itu dan berdiri.
Aria mengangguk. Ia mengusap layar ponsel sambil masih mengikuti gerak-gerik Geeanee. “Halo?”
“Bagaimana kabarmu, Aria?” tanya editor Aria. Ia pantang menyerah.
“Apa yang kamu mau dariku?” tanya Aria asal-asalan dan cenderung kurang sopan.
“Pertanyaan yang bagus. Kamu tahu apa yang biasanya seorang editor inginkan dari penulisnya. Aria, sebaiknya kamu segera punya sesuatu untuk kubaca.”
“Kamu meneleponku kemarin, dan apa yang kamu harapkan untuk kuberikan hari ini?” tanya Aria. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan Geeanee yang nampaknya sedang mengisi teko dengan air.
“Outline? Basic story mungkin? Atau ada yang ingin kamu diskusikan denganku? Aria kenapa kamu jadi lamban begini? Apa kamu mengalami writers block? Apa yang bisa kubantu?” suara lelaki itu berubah cemas.
“Aku butuh menyepi sebentar. Terus terang, aku sudah memiliki ide. Tapi belum bisa aku berikan padamu. Aku harus…tunggu sebentar.” Aria menjauhkan ponsel dari telinganya. Sebuah nomor lain meneleponnya. Kenapa semua orang tiba-tiba menghubunginya sekarang?
“Aria? Aria?” panggil editornya.
“Bisa kutelepon nanti, ada panggilan lain yang nampaknya lebih penting.”
“Lebih penting? Lebih penting dariku? Aku ini adalah karirmu, Aria! Kamu adalah asetku!” Aria mendengar suara editornya yang penuh nada tidak terima dari lubang speaker. Tapi, Aria tidak punya waktu untuk menanggapi itu. Ia harus mengangkat telepon yang ini. Sebelum Geeanee selesai membuat kopi untuknya. Aria cepat-cepat menempelkan ponselnya di telinga. “Halo, Shri?”
***
Hal pertama yang Geeanee lakukan ketika sampai di dapur kecil rumah Aria adalah mencuci tangan dan wajahnya. Ia tidak berhenti menyesal karena telah bercerita telalu banyak pada Aria. Sekarang, semakinlah Geeanee merasa berat untuk meninggalkan lelaki itu. Geeanee tidak habis pikir, mengapa dengan mudahnya ia jatuh ke dalam pelukan orang yang baru dikenalnya? Mengapa dengan mudah ia menceritakan masa lalunya pada Aria, lelaki yang seharusnya mati bunuh diri dan menukar jiwanya untuk Geeanee.
Tapi Geeanee mana tahu, kalau mempercayakan ceritanya untuk orang lain akan membuat perempuan itu merasa semakin dekat dengan Aria. Meski Pier, meski Geeanee begitu mencintai Pier, perempuan itu tak pernah bicara apa pun tentang masa lalunya. Geeanee lebih senang mendengarkan cerita Pier. Ketika ia sedang mabuk obat, cerita Pier seolah dapat menggantikan masa kecilnya yang terlewat tanpa pernah mendengarkan dongeng ibunya. Sekarang, Geeanee sudah tidak membutuhkan obat itu. Ia sudah mati, begitu juga dengan Pier. Yang
membedakan mereka hanyalah kesempatan untuk hidup kembali.
Geeanee mencoba menenangkan dirinya sekali lagi. Diambilnya teko air dari atas kompor Aria dan mengisinya dengan air dari keran. Samar-samar Geeanee mendengar suara Aria yang sedang menelepon.
Setelah teko itu terisi, Geeanee menaruhnya kembali di atas kompor. Ia menyalakan apinya dan sambil menunggu Geeanee mengambil dua cangkir dari rak piring. Ia mencari-cari letak kopi dan gula. Ia meracik bubuk-bubuk itu dalam cangkir. Tak sengaja Geeanee bersenandung kecil.
“Kalau kamu hidup kembali, kamu akan menjadi seorang penyanyi yang berbakat, Geeanee. Apa ibu atau ayahmu tahu bakat terpendammu yang ini?” Malekh muncul tiba-tiba. Ia berdiri di belakang Geeanee dan membuat gadis itu kelimpungan.
Geeanee hampir saja menjatuhkan toplesnya ke lantai. Namun Malekh bisa dengan sigap menangkapnya. Bahkan tanpa menyentuhnya.
“Geeanee. Jantungmu sudah tidak berdetak, bagaimana bisa kamu merasa kaget?” ejek Malekh. Tapi, gadis itu diam saja. Saking takutnya. Bagaimana ia merasakan takut? Ginjalnya saja sudah tidak berfungsi. Ah! Persetan, pertanyaan itu akan menuntunnya pada pertanyaan-pertanyaan lain soal kenapa ia masih bisa merasa sakit atau merasa senang.
“Malekh, aku…” Geeanee salah tingkah.
“Kamu jatuh cinta Geeanee.” Malekh mengernyit, seolah yang ia katakan itu adalah aib yang luar biasa memalukan.
“Malekh. Bukan keinginanku untuk bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang.”
“Ya, karena seharusnya kamu sudah mati.” Malekh merangkul Geeanee. “Seharusnya kamu tidak merasakan apa pun.”
Merasa terancam karena pelukan Malekh yang semakin kencang, Geeanee memohon. “Malekh, maafkan aku. Aku sedang membuat rencana. Aku sedang menjalankan rencanaku.”
“Rencana yang mana?” tanya lelaki itu. Ia balik tubuh Geeanee. Matanya yang biru menusuk ke dalam mata Geeanee dan membuat dadanya sesak. “Rencana untuk tidur dengannya, atau rencana… Rencana yang mana maksudmu?”
Geeanee gemetaran tubuhnya. “Rencana untuk menukar jiwanya dengan milikku,” kata Geeanee patah-patah. Cairan itu menetes lagi dari lubang hidungnya. Geeanee cepat-cepat meraih lap dan menambalnya.
“Bagus. Kalau begitu sekarang pergilah dari sini dan jangan membuatku semakin kesal. Aku bisa membakarmu, aku bisa membuat tubuhmu meleleh sampai kamu tidak punya tempat untuk ditinggali,” ancamnya.
Geeanee tidak punya pilihan selain pergi dari rumah itu. Ia tinggalkan kompor yang masih menyala, air yang mulai mendidih dan teko yang mulai berdenging. Juga, seorang lelaki yang berjalan cepat ke arah dapur sambil kebingungan. Tangannya masih menggenggam ponsel.
“Geeanee?” Aria memanggil. Tapi si pemilik nama sudah pergi.
Aria menghela nafas, kemudian mematikan kompornya. Ia bersandar di meja sambil memandangi dua cangkir di depannya. Di dalam pikirannya, Aria masih memiliki curiga pada dirinya. Barangkali ia sudah gila. Barangkali ia mengidap skizofrenia.
Barangkali gadis bernama Geeanee hanya ada dalam khayalannya. Barangkali yang dialaminya tak satu pun nyata. Aria merabai wajahnya yang penuh memar. Tak sengaja matanya melihat setetes darah di lantai. Barangkali. Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (43)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
keren
05/09
0bagus untuk jendela masa depan
26/12
0kurang seru
27/09/2025
0Lihat Semua