Pertengkaran di antara aku dan Anna bukanlah suatu hal yang mengejutkan apalagi patut menuai perhatian dan simpati. Saking seringnya kami bertengkar, Kim Kadarshian dan Taylor Swift patut merasa miris. Kami bukannya saling membenci. Seperti kebanyakan saudara lain, aku menyukai Anna kecuali saat dia mulai mencampuri urusanku. Setelah kejadian tak mengenakan yang membuat Mark agak dongkol padaku siang tadi, aku menghubungi Anna malamnya, berharap dia mau menemaniku minum. Aku mengendap-endap setalah Mark tertidur dan pergi ke rumah Anna setelah berhasil membujuk Nyonya Liu, seorang janda tua yang tinggal di samping rumah dan mengalami insomnia akut untuk menjaga bocah itu. Setelah ku keluarkan semua keluh kesah ku pada Anna, sungguh, yang aku butuhkan hanya segelas martini dan handphone baru. Tapi Anna benar-benar murah hati. Dia serta merta mengajakku bertengkar tanpa pamrih. "Ini tidak benar, Alexandra." Anna niscaya tidak akan memanggilku Alexandra dan bukannya Alex, jika dia tidak memendam hasrat untuk menjambak rambutku saat ini. "Kau tidak bisa menjauhkan Mark dari orangtua biologisnya selamanya." Hatiku serasa seperti dicengkeram oleh tangan tak kasat mata. Satu tanganku yang tidak memegang gelas melambai dengan gestur jengah. "Orangtua biologisnya?" Aku mencemooh. Ku tunjuk dadaku sendiri. "Aku orangtua biologisnya!" Mata Anna memerah, entah karena mengantuk atau marah. Atau perpaduan tak menguntungkan dari keduanya. "Kau tahu apa maksudku," Katanya jengkel. "Apa perlu ku jelaskan dia sebagai orang-yang-menaruh-sperm-" "Diam lah!" Aku berteriak tanpa sadar memotong perkataannya. Anna mendelik kaget. Ada jeda beberapa saat sebelum dia kembali berkata. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu takut untuk menghadapi kenyataannya." Aku meneguk martini ku kemudian memaksakan tenggorokanku untuk mengeluarkan suara tanpa bergetar. "Jika kau adalah seorang pria sukses yang—yang bisa mendapatkan siapa saja dan mengencani siapa saja, bagaimana kau akan menyukai seorang anak yang datang dari teman masa lalu-mu yang tidak jelas?" Anna tentu cukup pintar untuk menangkap maksudku. "Entahlah, Alexandra. Aku tidak pernah tahu jika aku punya anak. Bagaimana mungkin aku bisa memutuskan untuk tidak menyukainya. Mungkin kau harus memberitahuku terlebih dulu." Kemudian suaranya melembut ketika dia melanjutkan. "Dia bisa saja menyukai Mark. Dia bisa saja menyukaimu. Tapi kau tidak akan pernah tahu kecuali kau memberitahunya." Tenggorokanku terasa pahit. Kepalaku berdenyut-denyut karena otakku bekerja terlalu keras memikirkan perkataan Anna. Pertanyaan berputar-putar di dalam benakku seperti lebah penyengat. Berbahaya dan menyakitkan. Kenapa juga seseorang seperti Dylan Buman menyukaiku? Aku hanya seorang adik kelas canggung yang kebetulan terikat kepadanya karena projek sekolah. Kami menjadi dekat semata-mata karena dia adalah Dylan Buman, murid yang populer karena bisa dekat dengan siapapun, bahkan dengan adik kelasnya yang tidak menarik seperti diriku. Jika bukan karena itu aku tidak akan pernah berani menatap wajahnya, apalagi berbicara dengannya. Mempunyai anak darinya? Itu jelas di luar ekspektasi yang bisa akal sehatku pikirkan. Dan Anna salah. Dylan tidak akan menyukai Mark ataupun diriku karena tidak ada seorangpun yang akan menyukai sebuah Kesalahan. "Akui lah, Alexandra, kau takut karena kau menyukainya, bukan begitu?" Anna tentu tidak mengerti. Toh, semua orang menyukai Dylan Buman. Hanya karena dia pernah menyentuh-ku saat teler, tidak membuatku spesial. Hanya karena aku punya anak darinya, tidak lantas membuatku pantas untuk bersamanya. Selama hampir tujuh tahun ini aku hidup tenang dengan keyakinan tersebut sampai orang tersebut repot-repot meneleponku siang tadi. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Anna. Aku takut usaha keras mengubur perasaanku selama tujuh tahun ini sia-sia ketika aku bertemu lagi dengannya, tapi aku hanya diam, enggan mengatakan pada Anna bahwa dia benar, justru sebaliknya. "Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang tidak pernah kulihat selama tujuh tahun?" Itu tidak sepenuhnya salah. Aku bahkan tidak yakin apakah masih tersisa sedikit perasaan di hatiku untuk Dylan Buman kecuali perasaan jengkel. Martini ku sudah habis ku tenggak. Aku mau lagi, tapi ku yakin Anna tidak sudi membuatkan untukku segelas lagi. "Entahlah. Lalu kenapa kau tidak pernah mengencani seseorang?" "Aku sibuk." Kukatakan kenyataan yang tidak bisa dibantah. "Aku mengurus Mark dan aku bekerja untuk membayar biaya sekolahnya, untuk kami makan, untuk kami tinggal, untuk semuanya. Aku melakukan semuanya! Enam tahun!" Sudah jelas kalau aku sedikit mabuk. "Dan kau akan membuatnya lebih dari sekedar enam tahun karena terlalu keras kepala." Aku mendengarnya: tantangan yang tidak Anna katakan. Aku mendengarnya dengan jelas dari caranya mengatakan kalimat tersebut: jika kau tidak berkencan, aku menang. Dan begitulah ceritanya sampai aku bisa duduk di kafe trendi yang penuh remaja kasmaran saat istirahat jam makan siang, menunggu seseorang yang kukenal dari Derek untuk menepati janji temu yang telah kami buat beberapa hari yang lalu. Aku duduk menghadap jendela kafe yang miring, yang di bawahnya terdapat meja bar panjang tempat beberapa wanita kantoran berkerumun dan asik bergosip. Tanpa bisa ku tahan kakiku bergerak-gerak. Jemari ku mengetuk-ngetuk meja, sesekali merapikan rambut atau baju. Sedangkan suara di dalam kepalaku terus berteriak khawatir, bagaimana jika dia tidak suka penampilanku? Bagaimana jika aku mati gaya? Bagaimana jika dia tidak suka caraku makan? Bagaimana jika aku tidak suka caranya makan? Bagaimana jika pada kenyataannya dia begitu menyebalkan? Apa perlu ku batalkan saja? Mestinya benar-benar ku baca buku panduan '6 Cara agar Kencan Pertama Berjalan Sempurna' yang direkomendasikan oleh Joshua. Tidak. Sudah terlambat. Baru saja hendak ku tengok arloji di tanganku seseorang masuk ke kafe dan membunyikan bel di atas pintu. Seorang pria jangkung berambut pirang, kulit putih bersih, mata bulat yang sewarna dengan batu safir, dan hidung bangir. Pria itu menebar pandangan ke sepenjuru sebelum netranya menemukanku. Dia tersenyum ke arahku dengan lesung yang muncul di pipinya, kemudian menghampiri. "Justin Woodley?" Aku bangkit dan menjabat tangannya. "Alexandra." "Aku tahu." Suaranya berat dan dalam. Bukan jenis suara yang kukira akan dimiliki seorang pria berlesung pipi sebelum ini. "Aku suka lagu-lagu yang kau buat. Omong-omong, panggil saja aku Justin." Senyumnya bertambah lebar. Pipiku merona tanpa bisa ku tahan. Untuk mengalihkannya ku minta dia untuk duduk kemudian ku panggil waiters dan memesan caramel macchiato sedangkan Justin memesan es americano. Saat sang gadis waiters telah pergi kubuka obralan kami dengan canggung. "Kudengar kau bekerja di stasiun TV terkenal." Kucoba memujinya balik. "Iya, tapi pekerjaanku tetap tidak lebih keren darimu," Katanya tanpa berhenti mengulum senyum. Mungkin jika tadi aku tidak melihat wajah kebingungannya ketika mencari ku, aku akan mengira bahwa senyum di bibirnya memang dibentuk permanen. "Memang apa yang kau kerjakan?" pertanyaan ku mengalir begitu saja. "Penulis naskah untuk opera sabun." Dia menghembuskan napas. "Tapi sebenarnya aku selalu tertarik dengan musik. Aku selalu ingin menciptakan lagu sendiri, tapi hasilnya tidak pernah ..." Kali ini dia menggelengkan kepala sebelum menghembuskan napas panjang. Aku tertawa tanpa sadar. "Tidak mungkin seburuk itu, kan? Keberatan menunjukannya padaku?" "Inspirasi mu bisa hilang jika mendengarkannya. Sungguh seburuk itu." Tawaku lebih keras kali ini, yang mana membuatku terkejut. "Aku benar-benar payah menyusun kata-kata puitis." Setelah beberapa saat berlalu dan aku sudah bisa berhenti tertawa, ku dapati Justin tersenyum dan menatapku, pipinya samar-samar berubah kemerahan membuatku merasa aneh dan berkeringat. Ku alihkan pandangan secara seketika bertepatan dengan datangnya pesanan kami. Untuk beberapa saat, waktu di antara kami hanya dibuang untuk menikmati kopi masing-masing sampai Justin berujar tiba-tiba, "Aku tahu ini kedengaran aneh karena kita baru saja bertemu, tapi sepertinya aku sudah menyukaimu." Aku tersedak secara otomatis tanpa estetik. Ku pandang pria yang sampai sekarang senantiasa masih tersenyum tersebut dengan dahi berkerut yang menunjukan persetujuanku pada peryataannya bahwa apa yang dia katakan barusan aneh'. Mana bisa dia mengatakan sesuatu seperti itu dengan begitu kasual. Justin, yang sepertinya tidak terlalu peduli dengan reaksiku, bertanya. "Berapa umurmu, kalau aku boleh tahu?" "Dua puluh empat," Jawabku. Tanpa harus kutanya balik berapa umurnya pria itu memberitahuku. "Aku tiga puluh satu. Beda tujuh tahun, kuharap kau tidak keberatan." Walaupun tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang dia katakan, ku berikan tawa paling canggung yang pernah ku buat untuk menjawabnya, karena jauh di dalam diriku hatiku mencelus atas ketidakyakinan. Tidak mungkin kencan pertamaku dengan orang yang notabene baru kukenal berjalan semudah ini, semulus ini, sesempurna ini. Apa-apaan ini? Hal semacam ini tidak mungkin terjadi terkecuali di dalam imajinasi ku. "Aku punya anak." Kubuka kartu as ku untuk membatasi ekspektasi ku. Justin berjengit. Kopi yang ingin dia seruput diletakkannya kembali. Cara duduknya berubah menjadi lebih tegak. Senyum yang dia berikan padaku terkesan canggung daripada ramah. Ini dia. Dia memang tidak akan bisa menyukaiku begitu saja. Lebih tepatnya lagi, tidak akan ada satupun orang yang menyukaiku. Ada keheningan tak mengenakan yang terjadi setelah itu. Aku tinggal menunggunya bangkit lalu pergi kemudian esok aku akan melupakan bahwa aku pernah bertemu dengannya. Mudah. "Siapa namanya?" Pertanyaan itu menggantung sejenak di udara dan menghentak di dalam kepalaku. Rahang ku terkunci sejenak sebelum bisa membuka lagi. "Mark." "Boleh aku bertemu dengannya kapan-kapan?" Tanya nya lagi. Aku tidak tahu harus merasa kecewa atau lega, tapi yang pasti aku terkejut. "O-oke." Hanya itu yang bisa kukatakan. Lantas tidak ada satupun di antara kami yang beranjak pergi hingga jam makan siang berakhir. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nyampe sangat bagusss
18/05/2022
1yess bagus
21/07/2025
0assalamualaikum
03/06/2025
0Lihat Semua