logo text

Bab 66 First Time

Saat kami sampai di apartemenku, aku terkejut oleh betapa sepinya tempat itu. Tidak ada sambutan hangat dari Mark atau gonggongan bersahabat dari Ace. Hanya ada aku, Dylan, dan keheningan yang menghimpit.
Aku menanggalkan jaket, menggantungkannya di kait yang terletak di dekat pintu masuk, begitupun Dylan. Kami berjalan ke ruang tengah kemudian berdiri di sana dalam diam. Suara yang terdengar hanya berasal debaran jantungku. Sampai Dylan meletakkan kantong plastik tadi di atas meja kopi dan seketika aku ditampar oleh fakta kenapa kami berada di sini.
Lalu apa sekarang?
"Teh?" Aku menawari. Dylan nampak geli, dia tersenyum lalu menggeleng.
Tentu saja dia tidak mau teh, rutukku dalam hati. Dasar konyol.
"Aku—aku akan menghubungi Anna dulu," kataku lagi.
Dylan mengangguk. Kakiku terasa kaku ketika aku melangkah ke dapur, mencari sedikit privasi untuk menelpon Anna. Pikiranku masih sempat berkelana sampai suara Anna menyapa gendang telingaku.
"Ada apa, Lex?"
"Hei, Ann. Bagaimana Mark?"
"Baru saja tidur. Kau mau menjemputnya sekarang?"
Aku menjawab tidak dan menjelaskan permintaanku pada Anna untuk menjaga Mark, tanpa mengungkit apapun tentang Dylan dan keberadaannya di apartemenku. Anna menyanggupi permintaanku tanpa pikir panjang, tentu saja setelah dia puas menggodaku.
"Kencan kalian harus total, aku mengerti." Anna berkata diiringi kekehan. "Tenang saja, Mark sepertinya akan tidur nyenyak. Joshua mengajaknya berkeliling dengan sepeda tadi, dia pasti lelah. Jangan khawatir."
Aku mengucapkan terima kasih pada Anna, tapi tidak untuk keahlian meramalnya, kemudian mematikan sambungan itu.
"Sudah?" tanya Dylan.
Aku mengangguk. Di bawah cahaya lampu yang berpijar di langit-langit dapurku, dan cahaya perak rembulan yang merembes melalui jendela, wajah tampan Dylan tampak hampir tidak nyata bak sosoknya merupakan karakter fiktif buatan komputer yang diilhami dari tipe ideal setiap perempuan.
Namun Dylan nyata, dan dia berjalan ke arahku, meletakkan kedua tangan di pipiku, mengangkatnya dan mencium bibirku dalam ciuman yang nyata, hangat, lembut, dan, mengejutkannya, begitu perlahan.
Ciuman itu berbeda dari ciuman kami yang sudah-sudah pun berbeda dari gambaran yang diberikan film atau novel tentang ciuman bergairah dengan perkelahian lidah untuk memperebutkan dominasi yang biasanya terjadi dalam situasi seperti ini. Bahkan tangannya yang berada di belakang kepalaku mengusap rambutku dengan cara yang menenangkan.
Ternyata aku juga bisa menyukai sisi lain dari seorang Dylan Buman yang hobi mengejutkan.
Ketika selesai, dia merengkuh tubuhku, dagunya diusapkan di atas rambut. Aku melingkarkan tangan ke pinggangnya, menyandarkan kepala di dadanya, menikmati irama detak jantungnya di telingaku.
"Ke kamar?" dia bertanya.
Darah berdesir dalam nadiku. Aku mengangguk.
Kami berpindah ke kamarku, duduk bersisian di ranjang, lantas, tidak yakin siapa yang memulai, bibir kami kembali bertemu.
Hal selanjutnya yang kutahu, aku berbaring di atas kasur, Dylan berada di atasku dengan kedua tangan bertumpu di samping kepalaku.
Aku menggapai lehernya, merasakan nadinya berdenyut di bawah jari-jemariku sementara aku terhanyut oleh bagaimana bibir kami saling memangut. Napasku tersengal ketika ciuman itu berakhir.
Dylan menjauhkan dirinya barang beberapa inchi untuk membiarkanku bernapas.
"Lexa, kalau kau belum siap kita tidak perlu melakukannya sekarang. Aku bisa menunggu, aku akan menunggu berapa pun lamanya."
Jika serangkaian kegiatan kami tadi belum mampu membuat wajahku menghangat, apa yang Dylan katakan barusan sudah pasti membuatku merona. Namun karena sedari tadi wajahku sudah memerah, aku jadi tidak terlalu yakin ada perbedaan yang signifikan.
Aku tersenyum. "Bagaimana aku bisa tahu aku siap kalau tidak mencoba?"
Malahan, pernyataannya barusan hanya membuatku semakin yakin bahwa aku ingin melakukan ini dengannya. Hanya dengan dirinya.
Dylan memandangku, memandang ke dalam diriku, terlihat ragu sejenak sebelum itu luntur digantikan senyuman lembut. Kemudian dia membisikan kata itu,
"Aku mencintaimu."
Kembali aku mencecap bibir itu. Beberapa saat kemudian Dylan sudah menanggalkan atasan, resleting gaunku telah dibuka. Kini gaun Perkins pendek berwarna hijau itu diturunkan hingga pinggulku. Dan aku, dengan inisiatif sendiri melepaskan bra yang kukenakan.
Jari jemari Dylan sekarang bergerak lihai di atas kulitku, memetakan setiap sudut tubuhku.
Aku menghembuskan namanya ketika dia menghisap leherku, dan mendesis ketika ibu jarinya menggesek lembut puncak payudaraku. Walaupun dia menyentuhku seringan kepingan salju, bekas sentuhannya terasa menggelenyar, membuatku menggigil.
Ciuman Dylan kemudian turun. Dia menghujani daerah sekitar perutku dengan ciuman kemudian menghisap pinggangku, meninggalkan sebuah bekas merah dan membuat otot perutku mengetat sekaligus meloloskan lenguhan dari bibirku.
"Kau punya—"
"Laci paling bawah," kataku cepat dengan napas tipis sambil menunjuk meja kecil di samping tempat tidur
Dylan bergerak untuk meraih laci nakas, susah payah mencari sebuah botol lubricant yang sudah cukup lama menghuni bagian bawah nakasku. Sebab aku berusaha keras untuk menyembunyikan benda itu, Dylan membutuhkan waktu lebih untuk mencarinya.
Sebisa mungkin aku menyembunyikan benda itu agar tidak ditemukan Mark, pun jika Mark tanpa sengaja menemukannya, aku sudah menghilangkan bagian keterangan, jadi sudah dipastikan Mark tidak akan tahu benda apa itu.
Setelah berhasil menemukannya, Dylan menegakkan tubuh dan duduk untuk mengamati sebuah botol yang sekarang berada di tangannya itu. Dahinya mengernyit penuh konsentrasi.
"Apa masih bisa digunakan?" tanyaku ikut penasaran.
Setidaknya dua puluh persen dari isi botol itu telah berkurang dan aku masih ingat Anna yang memberikan itu padaku dua tahun yang lalu pada hari Valentine. Jelas untuk mengolokku.
Aku sempat menggunakannya untuk bereksperimen dengan tubuhku beberapa kali, tapi aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melakukan itu. Aku bahkan tidak ingat masih memilikinya sampai beberapa menit yang lalu.
"Kadaluwarsa dalam dua belas hari." Dylan berkata setelah berhasil membaca tanggal yang tertera, yang beruntungnya tidak ikut kuhilangkan. "Kurasa tidak apa-apa. Kecuali kau mau menungguku pergi ke apotek di bawah."
Lalu apa yang harus kulakukan selama menunggunya?
"Kurasa pakai ini tidak apa-apa," jawabku.
Alis Dylan terangkat. "Ya?"
Aku mengangguk, menangkup pipinya, menarik kepalanya dan mengecup sudut bibirnya. Kecupan ringan itu kemudian berganti menjadi ciuman yang begitu intens. Tangan Dylan menjelajahi pinggulku, kemudian dia menarik gaunku hingga sepenuhnya terlepas dari tubuhku.
"Aku lepas, ya?" tanya Dylan, mengacu pada celana dalam yang masih kukenakan.
Aku tidak tahu jawaban lain selain 'ya', dan aku juga tidak yakin Dylan menginginkan jawaban lain selain ya. Jadi, ya, aku mengangguk, sekalipun seluruh aliran darah sepertinya terpompa naik ke kepalaku dan jantungku berdetak tak karuan ketika Dylan menyentuhku.
Saat dia menyentuh karet dari celana dalamku, kakiku secara otomatis merapat sebelum aku tereskpos lebih jauh.
Astaga, aku malu. Toh, bagaimana bisa aku tidak? Bagaimana orang-orang bisa tidak merasa malu dalam situasi seperti ini?
Dylan tersenyum, bukan jenis yang mencemooh. Sinar matanya menyiratkan penuh pengertian. Dia kemudian menarik selimutku dan membungkus tubuh kami dengan itu.
Bibir kami kembali bertaut, lalu kurasakan celana dalamku, hal terakhir yang melekat di tubuhku, ditarik lepas.
Aku setidaknya tidak harus merasakan malu akibat Dylan melihat tubuh polosku bulat-bulat.
Dylan menghentikan ciuman kami untuk menanggalkan celananya. Karena dilakukan di dalam selimut, Dylan tampak gopoh. Dia berulang kali mengganti tumpuan tangan, sembari berusaha agar tidak terjerembap celananya sendiri. Aku menunggu dengan dada yang berdebar.
Setelah berhasil meloloskan celananya (aku duga begitu), Dylan menciumi leherku.
"Dee..." Tanganku berkelindanan di surai hitamnya.
Saat kurasakan bagian bawah Dylan menggesek pahaku, saat itulah sebuah ketakutan mencengkramku, mencekik pikiranku dengan serangan panik.
Napasku berubah pendek-pendek dan tidak teratur. Dylan, menyadari perubahan dari reaksi yang kuberikan, beranjak untuk berbaring di sampingku. Jidatnya menempel di satu sisi kepalaku.
"Hei, bernafas." Satu tangannya mengusap pipiku. "Sshh, perlahan, oke?"
Dia menghitung satu sampai empat, aku mengikuti instruksinya, mencoba menarik napas dengan teratur. Aku memejamkan mata dan mencengkram lengannya untuk menenangkan diri hingga gelombang kepanikan itu hilang.
Ketika aku membuka mata dan menoleh, Dylan tengah menatapku penuh khawatir.
"Sudah, sudah, tidak apa-apa sekarang," bisiknya menenangkan. Kemudian dia mengecup dahiku dan menarik selimut hingga sebatas leherku.
Tersadar dengan maksud dari perbuatannya, dengan sigap kucekal tangan Dylan, menghentikannya yang hampir beranjak.
"Tidak, tidak." Aku menggeleng kencang. "Kumohon." Aku menangkup tangannya.
Dahi Dylan berkerut dalam. "Lexa," dia memanggil. "Kau yakin?"
Aku mengangguk.
Aku tidak mau apa yang terjadi malam itu menjadi satu-satunya kenangan yang tersimpan di benakku; hal yang paling kuingat dari sosok Dylan Buman, dan menjadi epitome dari satu-satunya hubungan seksual yang aku miliki.
Aku ingin menghapus kenangan itu, tapi karena itu tidak mungkin, aku setidaknya bisa merombaknya. Aku yakin aku bisa, sebab kali ini bukan lah malam itu. Kami berdua sepenuhnya dalam keadaan sadar, berpikiran jernih, dan yang lebih penting, sama-sama menginginkan ini.
Butuh beberapa saat sampai tatapan Dylan melembut dan senyumnya terkembang. Aku entah bagaimana telah meyakinkannya. Dia menarik tubuhku, memposisikan diriku berbaring di atasnya berbantalkan dadanya. Tangannya mengusap punggungku dengan gerakan konstan.
"Kau ingin aku menceritakan sesuatu?" Dylan bersuara di atas kepalaku. Aku mendongak. "Fokus pada suaraku, oke?"
Walaupun tidak mengerti, aku tetap mengangguk. Kemudian Dylan mulai menceritakan tentang kejadian siang ini ketika dia menjemput Mark. Tentang bagaimana mereka bertemu seekor anak kucing ketika menemani Clay menunggu jemputannya.
Begitu jari berlumur pelumasnya memasukiku, barulah aku sadar mengapa Dylan melakukan hal itu. Dia ingin mengalihkan fokus ku, membuatku lebih rileks, membuat ini jadi kurang terasa menyakitkan.
Dengan jarinya yang bergerak di dalamku, aku tidak lagi mendengarkan apa yang Dylan katakan, namun aku sadar ketika dia berhenti berbicara. Entah karena ceritanya memang sudah selesai, atau karena aku tanpa sengaja memotongnya dengan suara desahan yang kubuat.
Begitu Dylan mengeluarkan jarinya, dia membalik posisiku hingga kini aku kembali berbaring terlentang di atas kasur. Dan, dengan posisi itulah dia memasuki diriku.
Kepalaku terlempar ke belakang oleh sensasi asing yang timbul ketika seluruh bagian Dylan memenuhi diriku dan bagaimana dia membisikan pujian-pujian manis di samping telingaku.
Tanganku mencengkram bantal yang juga aku gunakan untuk membekap mulutku, menahanku dari melenguh kencang.
Aku tidak lagi mengenali suara yang keluar dari bibirku. Aku terisak, melenguh, dan mengerang.
"Buka matamu, Lexa." Dylan menyentuh pipiku.
Aku menurut. Pandanganku buram akibat air mata yang mendesak di ujung mata, namun aku masih bisa mendapatkan gambaran yang sempurna dari raut wajah yang Dylan buat; alisnya bertaut penuh konsentrasi, peluh membanjiri pelipis, bibir penuhnya yang terbuka mengeluarkan desau setiap kali tubuhnya menghentakku. Lantas dia tersenyum manis padaku yang langsung membuatku membuang muka.
Aku kewalahan, kewalahan karena senyumnya, tatapannya, dan kenikmatan ini.
Kurasakan diriku semakin dekat.
Di antara desahan aku berkata, atau lebih tepatnya merancau, "Dee—Dee, aku tidak—“
Yang coba ingin ku katakan adalah bahwa aku sudah tidak kuat. Aku rasanya ingin meledak, kepalaku serasa mengawang-awang di langit entah yang keberapa. Namun alih-alih mengatakan kalimat itu secara utuh aku malah terus melenguh. Napasku tercekat. Setiap aku ingin menarik napas, Dylan selalu melakukan sesuatu yang membuatku mengejang.
Aku akhirnya keluar, menggelinjang dan gemetar akibat gelombang kenikmatan menerpa sekujur tubuhku.
Dylan masih senantiasa bergerak perlahan di dalamku ketika letihku secara cepat berubah menjadi kantuk yang mengantarku menuju alam mimpi.

***

Komentar Buku (37)

  • avatar
    sinagaweni

    cerita nyampe sangat bagusss

    18/05/2022

      1
  • avatar
    mulianazahra

    yess bagus

    21/07/2025

      0
  • avatar
    AdjahArsyad

    assalamualaikum

    03/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru