DYLAN tersenyum ke arahku. Dia keluar dari lingkaran api unggun dan menghenyakan diri di sampingku, duduk di atas tikar di depan tenda kami. "Kau mabuk, Dee?" Bau alkohol menguar dari dirinya. Bukannya terkejut, aku sudah tahu kalau beberapa senior memutuskan untuk membawa (merampok) persedian bir di rumah mereka untuk dibawa ke acara kamping ini. “Masa muda tidak akan pernah disebut masa muda tanpa melanggar sedikit aturan.” Itu yang salah satu teman Dylan katakan ketika menawariku sekaleng bir. Aku menolak sebab aku tahu masa mudaku akan berakhir tepat ketika Dad menemukan fakta bahwa aku mabuk di acara yang seharusnya menjadi acara menyenangkan tanpa alkohol, seperti yang sudah kujanjikan pada beliau. Jika Dylan benar mabuk, aku tidak terkejut. Aku hanya perlu pemvalidasian. Dylan menyisirkan jari melewati surainya ke belakang sambil tersenyum kepadaku. Dia menggelengkan kepala. "Aku minum, tapi tidak mabuk," jawabnya. Dia lantas merogoh saku jaket, mengeluarkan satu pak kartu tarot yang kemudian dia tata terbalik di hadapan kami dengan cara yang sama seperti yang sering kulihat di TV. "Pilih salah satu." Aku menatapnya, ragu sekaligus geli. Namun akhirnya aku tetap memilih satu kartu. Aku membalik kartu itu dan melihat gambarnya bersama Dylan. Dua ekor rubah yang mendongak menatap lingkaran kuning besar di atasnya. The Moon adalah kata yang tertera di bagian bawah kartu itu. "Apa artinya?" tanyaku. Dylan meraih kartu itu dari jepitan jariku dan mengamatinya. "Artinya, suatu hari kau akan pergi ke bulan." Aku mendengus geli. "Kau tidak tahu bagaimana cara membacanya, kan?" Dylan menggeleng. "Ini punya Meena. Dia tahu cara membacanya." "Apa yang kau dapat?" Dylan mengambil semua kartu yang tersebar di hadapan kami, kemudian memilih satu untuk ditunjukkan padaku. Itu adalah sebuah kartu The Devil, dengan gambar iblis berperut buncit dan bertanduk. "Itu tidak terlihat bagus," komentarku. "Memang tidak," sahut Dylan sambil mengedikan bahu, tak ambil pusing seperti biasanya. Dia lantas kembali menyisipkan semua kartu itu ke dalam kantongnya. Udara malam yang dingin berhembus, membuat air danau di hadapan kami yang sebelumnya tenang beriak lembut, sekaligus mengibarkan rambutku yang tergerai, dan membuat aku maupun Dylan mengeratkan jaket yang kami pakai masing-masing. "Apa yang kau lakukan di sini, Lex?" tanya Dylan setelah beberapa detik keterdiaman. Aku tahu arti lain dari pertanyaan Dylan adalah: kenapa aku di sini, bukannya ikut berkumpul bersama yang lain di dekat api unggun, tapi aku tidak bisa bilang bahwa aku kurang merasa nyaman berada di dekat teman-temannya, karena aku tahu mereka tidak akan menyerah menawariku sekaleng bir, dan tidak akan puas sebelum aku menenggak satu kaleng penuh. Jika aku memberitahu Dylan, aku tahu dia akan merasa tidak enak sebab mereka adalah teman-teman dekatnya, dan dia lah yang mengajakku kemari. Untuk suatu alasan, aku tidak ingin membuatnya menyesal karena membawaku kemari. "Duduk," jawabku akhirnya. Dylan tersenyum. "Selain itu." "Bernapas." Dylan tertawa kecil. "Yang lain?" Aku menolehkan kepala menatapnya. "Memandangmu." Dylan kembali tersenyum. Entah untuk berapa lama, kami asik mempertahankan posisi itu: duduk bersebelahan dan saling menatap mata satu sama lain. Sampai aku merasa jarak di antara wajah kami makin menipis. Kemudian aku sadar bahwa itu bukan cuma perasaanku saja, Dylan memang menyorongkan kepalanya mendekat ke arahku. Kurasakan jantungku melewatkan irama degupnya. Napas hangat Dylan menerpaku. Hanya beberapa senti sebelum bibir kami bertemu, Dylan serta merta bangkit berdiri. Kepanikan terpancar jelas di matanya. "Maafkan aku," dia berkata. Dengan kasar, dia usap mukanya. Kemudian dengan tergagap, dia melanjutkan perkataannya, "Mungkin aku memang sedikit mabuk." Ketika alarm berbunyi dan membangunkanku, mimpi itu pergi, menguap seperti embun pagi. Itu bukan sekedar mimpi. Itu adalah ingatan. Aku menekankan tangan ke satu sisi wajah. "Kau menyedihkan Alexandra," gumamku pada diriku sendiri. *** Aku mengantar Mark pagi ini. Mobilku sudah keluar dari bengkel. Mark punya dua reaksi yang berbeda terhadap hal itu. Saat aku memberitahu Mark bahwa mobilku sudah selesai diperbaiki bocah itu tampak senang. Namun pagi ini, ketika aku mengingatkannya saat bocah itu bertanya, "kenapa paman Dylan belum datang, Mama? Bagaimana kalau aku terlambat." Bahwa Dylan tidak akan menjemput kami karena mobilku sudah keluar dari bengkel, Mark seketika saja berubah murung. Namun dengan cepat bocah itu tersenyum dan menepuk jidatnya. "Dadah Mama." Mark mencium pipiku. Aku tersenyum dan mengusap pipinya. "Dadah." Mark keluar dari mobil. Kuperhatikan sosok mungil itu perlahan menjauh. Seperti biasa, aku menolak pergi sebelum aku memastikan bahwa Mark sudah benar-benar berada di dalam sekolah dengan mata kepalaku sendiri. Ketika aku sedang memerhatikan Mark, pandanganku tak sengaja menangkap kehadiran segerombolan wanita di dekat gerbang masuk. Satu di antara wanita itu melihatku, kemudian melambaikan tangan. Aku mengenalnya, malahan, dia adalah satu-satunya orang yang kukenal di antara gerombolan itu. Wanita itu adalah ibu Clay, Yolanda. Aku balas melambai. Tak puas melambai, wanita cantik yang usianya berada di kisaran empat puluhan tahun itu kemudian membuat gestur agar aku mendekat. Aku mengangkat bahu sambil bertanya tanpa suara, "Ada apa?" Wanita itu semakin gencar melambai-lambaikan tangannya. Begini, aku memang mengenal ibu Clay. Dia adalah ibu dari sahabat anakku, dan wanita itu memancarkan energi yang sama seperti putranya, hangat, cerah dan bersahabat. Namun, ide tentang menghampiri segerombolan ibu-ibu yang pada kenyataannya lebih tua dariku, dan tidak kukenali, tidak terasa lazim bagiku. Aku menghela napas panjang sebelum melangkah keluar dari mobil, menghampiri Yolanda dan para ibu-ibu lain. "Sini Alex!" Yolanda menarik lenganku agar lebih mendekat. " Ini Alexandra Lynskey." Dia memberitahu para wanita itu. Tetapi spesifiknya, dia memberitahu seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Seseorang yang sepenuhnya asing bagiku. Wanita itu berambut pirang, kentara hasil cat rambut. Tubuhnya pendek namun berisi. Parasnya—Jika Anna di sini perempuan itu akan berkomentar, “Tidak akan secantik itu tanpa uang.” Menurutku, dia adalah perempuan yang cantik saat jauh lebih muda, sekarang, yang melekat di wajahnya nampak tidak natural. Dia menenteng sebuah tas Hermes berwarna merah, senada dengan rok dan scraf yang dia padukan dengan blouse putih berkerah rendah. Wanita itu ber'ah' ria. "Alex, ini Rebecca. Anaknya baru pindah ke sini kemarin," jelas Yolanda padaku. Aku tersenyum hangat, kendati aku merasa aneh mendengar penuturan ibu Clay. Ada anak baru? Bisakah sesuatu yang seperti itu terlupakan? Kenapa Mark tidak memberitahuku? "Oh, senang bertemu denganmu." Wanita itu, Rebecca, balas tersenyum. "Jarang-jarang aku menemukan seorang pengasuh bisa bergaul akrab dengan para ibu-ibu." Aku terlalu terkejut untuk bisa berkomentar. Aku hanya sanggup melayangkan tatapan pada Yolanda. Yolanda tersenyum canggung, begitupun ibu-ibu yang lain. “Dia ibu salah satu murid. Dia ibu Mark. Ibu muda, sama seperti kita dulu,” jelas Yolanda diselingi kekehan renyah. Sementara para ibu-ibu yang lain tersenyum kecil merespon penuturan Yolanda, yang bisa kulakukan hanya mengangguk-anggukan kepala dengan canggung. Rebecca ber’oh’ ria. Meskipun kelihatan sedikit terkejut, ekspresi keseluruhan yang ditunjukan wajahnya masih belum berubah, wanita itu masih tampak menilai. “Apa pekerjaan ayah Mark?” Satu pertanyaan itu menyambarku bak petir di siang bolong. "Hanya aku dan Mark," jawabku berusaha tetap tenang. “Aku produser lagu.” Aku memasukan tangan ke dalam kantong jaket. Sebuah gelagat yang menempati urutan pertama dalam daftar Tanda-tanda Jika Alexandra Lynskey Sedang Merasa Gugup. Rebecca tidak menangkap umpanku, dia tidak peduli dengan pekerjaanku. "Oh, jadi kalian bercerai atau ...." Wanita itu menggantungkan kalimatnya, namun tatapan yang dia berikan padaku justru lebih mengganggu daripada kata selanjutnya yang mungkin ingin dia katakan. "Tidak," kataku terbata-bata. "Tidak," ulangku. Aku melirik Yolanda, berharap wanita itu bisa membantuku terbebas dari situasi ini, entah bagaimanapun caranya. Kuharap itu sama mudahnya seperti saat dia melambaikan tangan, membujukku kemari. Tetapi yang Yolanda lakukan hanya melihatku dengan tatapan prihatin dan bersalah. “Kau seorang janda? Suami sudah tiada? Aku tidak akan menghakimi jika kau memang seorang janda, kau tahu kan?” katanya. Tidak, aku tidak tahu. Dari mana aku bisa tahu kalau aku baru saja bertemu denganmu, ujar sisi pesimis dari diriku. “Kenapa suamimu meninggal?” tanyanya. “Tidak. Aku bukan janda.” Rebecca malah terlihat semakin bingung. "Lalu, apa yang terjadi dengan ayah Mark?" Aku selalu takut seseorang mengajukanku pertanyaan ini. Ini lah ketakutan yang membuatku sempat berpikir bahwa mendidik anakku di rumah adalah pilihan yang terbaik. Akhirnya, sekarang, ketakutan itu menjadi kenyataan. Bayangkan, rasa puas yang mengerikan itu, tahu bahwa rasa cemas selama bertahun-tahun itu akhirnya terbayar. Aku menatap Rebecca. Rasa penasaran dalam mata birunya yang mencekam seperti lautan dalam, mata yang berpoles riasan mata bernuansa coklat itu masih menodongku seperti pistol. Jawabanku masih belum memuaskan wanita itu. Tertekan, aku mencoba merangkai kata untuk menjelaskan. "Aku .... Aku tidak tahu. " Aku menelan ludah, merasa sangat berat dan sulit mengatakan kebenarannya. Kupikir setelah tujuh tahun, aku sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Sudah terbiasa menjelaskan pada orang-orang siapa aku, siapa Mark. Tapi kali ini, aku serasa diadili. Fakta tentang melahirkan Mark tiba-tiba terasa begitu menggelisahkan hingga aku sungkan mengatakannya keras-keras. "Oh," kata Rebecca. Aku tidak tahu apakah harus merasa lega atau sebaliknya sebab dia menangkap apa yang kumaksud tanpa kujelaskan lebih lanjut. Wanita itu kemudian melanjutkan, "Pasti sulit sekali hidup yang telah kau lalui selama ini, apalagi sosok ayah sangat penting dalam perkembangan seorang anak laki-laki, kau tahu, kan? Kau harus tahu itu. Sosok panutan benar-benar penting dan anak laki-laki tidak pernah menjadikan sosok ibu sebagai panutan.” Dia menatapku dengan rasa iba yang dibuat-buat (percayalah, aku tahu cara membedakannya.) "Kau tidak mencoba mencari seseorang untuk menggantikan tempatnya? Maksudku, hei, kau masih muda, dan..., lumayan cantik, bisa dibilang. Apa yang membuatmu sulit, hm? Apa kau besar di keluarga yang tidak harmonis? Apa kau memiliki masalah dengan ayahmu? Ibumu? Memiliki trauma masa kecil, ya?" Aku merasakan lapisan keringat menguar ke permukaan kulitku. Cengkraman pada tas tanganku semakin erat. Aku mengusap bagian belakang kepalaku yang tidak gatal hanya untuk memberitahu semua orang bahwa aku benar-benar merasa tidak nyaman. Lama aku membiarkan pertanyaan Rebecca tidak terjawab, Yolanda akhirnya kembali mengambil alih percakapan. "Mark anak yang baik kau tahu. Dia berteman baik dengan Clay. Aku yakin mereka juga akan berteman baik dengan Tommy nanti." Dia mengalihkan topik, keputusan yang menurutku sempurna. Yolanda melempar sebuah senyum padaku. Dan, aku tidak pernah merasa begitu berterima kasih sebelum ini. Rebecca mengibaskan rambutnya sedikit, hanya untuk menunjukkan pada semua orang bahwa egonya sedang dilambungkan. "Tentu saja. Tommy-ku anak yang pintar dan tampan, tidak akan ada seorang pun yang tidak menyukainya." Aku menangkap salah seorang ibu memutar bola mata, dan aku merasakan kelegaan sekaligus kesenangan karena ternyata aku tidak sendirian dalam hal tidak menyukai wanita ini. "Kenapa kalian pindah?" Lagi, seorang ibu yang tidak kukenal (namun pernah kulihat) bertanya. Aku mendengarkan sebentar ketika Rebecca menjelaskan tentang pekerjaan suaminya yang membuat mereka harus berpindah-pindah, kemudian merasa cukup dengan semua itu. "Aku harus pergi," aku berkata pada Yolanda. Tanpa suara, wanita itu berkata, "Maafkan aku." "Tidak apa-apa," aku berucap lirih sambil memberikan senyuman 'aku sungguh tidak apa-apa' paling meyakinkan pada Yolanda. Padahal kenyataannya sebaliknya. Aku merasa bisa benar-benar mencakar wajah Rebecca jika aku harus mendengarkan sesuatu yang keluar dari mulutnya untuk beberapa detik lagi saja. "Hati-hati." Yolanda memelukku sebelum aku pergi. *** Aku mengintrogasi Mark ketika aku menjemputnya pulang sekolah karena aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak memberitahuku tentang teman barunya. Itu tidak seperti perjanjian kami. "Ada yang ingin kau ceritakan pada Mama, Mark?" Mark mengangkat kepala, menatapku lewat kaca tengah. Bocah itu nampak berpikir sebelum menggeleng. "Tidak." "Bagaimana dengan Tommy?" cercaku. "Kenapa kau tidak cerita pada Mama kalau ada anak baru?" Pundak Mark seketika luruh. Dia menyandarkan tubuh dengan lesu di kursi penumpang dan melempar pandangan ke luar jendela. "Itu tidak menyenangkan," dia bergumam yang masih dapat kudengar dengan jelas. "Bagian mana yang tidak menyenangkan? Bercerita pada Mama?" Lagi, Mark menggeleng. "Bukan." "Lalu?" Mark menggigit bibir, aku sendiri mulai resah. "Aku mau es krim, boleh tidak?" Aku tahu Mark mengindari sesuatu, menyembunyikan sesuatu. Aku tahu ada yang salah, sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi, aku mendorong pikiran itu menjauh dan mencoba membuat diriku sendiri percaya bahwa ini hanya satu hari di mana segalanya tidak berjalan sesuai kehendak yang kita inginkan. Anak tujuh tahun juga dapat mengalami hari seperti itu bukan? Mungkin nilainya hanya sedang jelek. Mungkin ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak baru yang ibunya luar biasa menyebalkan. Kuharap tidak. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nyampe sangat bagusss
18/05/2022
1yess bagus
21/07/2025
0assalamualaikum
03/06/2025
0Lihat Semua