Sudah empat hari dan mobilku belum keluar dari bengkel. Sudah empat hari juga Dylan menjadi supir pribadiku, atau apapun sebutannya untuk orang yang mengantar jemputmu tanpa dibayar. Aku tidak meminta, tidak juga berharap Dylan datang setiap pagi mengantar aku dan Mark, atau muncul di kantorku bersama Mark untuk menjemputku. Namun, ketika pria itu melakukannya aku tidak menolak. Alasannya, kalau kalian tanya, sederhana saja. Mark punya jawabannya dan akan aku gunakan itu kali ini: “Bukan aku yang menyetir mobilnya.” Jadi begini, sekalipun aku menolak, itu tidak akan berarti karena itu kemauan Dylan. Dan kalian tahu apa yang bisa menghentikan Dylan untuk mendapatkan kemauannya? Benar! Jawabannya: tidak ada. Dylan hanya perlu berkendara ke rumahku, penolakanku sama sekali bukan penghalang kecuali penolakanku memiliki kekuatan dahsyat hingga mampu membuat lempengan bumi bergeser dan menyebabkan rumahku berada di belahan lain dunia, terpisah dengannya dan sulit dijangkau. Beruntung dari empat hari itu, serangan panikku hanya terjadi sekali. Aku tidak membicarakannya. Aku tidak pernah menceritakan serangan panikku pada siapapun, bahkan kepada Anna. Membiarkan seseorang tahu tentang itu sama saja dengan menyebar banjir kepanikan. Siapa yang hatinya bisa tenang setelah mengetahui bahwa ada seorang anak kecil yang tinggal dan diasuh oleh ibu tunggalnya yang mengidap gangguan stress pasca trauma? Aku pernah pergi ke ahli terapi beberapa hari setelah aku mendapatkan tiga serangan pertama, yang mana sudah lama sekali dan berhenti satu tahun kemudian karena aku mendapati bahwa kehadiran Mark, menghabiskan waktu dengan melakukan hal yang aku sukai seperti membuat musik, dan juga berada di sekeliling orang yang aku tahu akan selalu mendukung dan menyayangiku lebih membantu daripada duduk dan membicarakan apa yang kurasakan dengan orang asing. Sekarang, ketika aku sudah mulai terbiasa melihat Dylan, terbiasa bertemu dengannya, terbiasa dengan kehadirannya seperti dulu kala, tidak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan. Kurasa. Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk beranjak dari masa-masa itu. Toh, aku sudah lama menerima kenyataan bahwa gejolak ini tidak akan pernah sembuh secara total. Memori itu tidak bisa sepenuhnya kulupakan. Yang bisa kulakukan adalah berdamai dengan itu. Salah satu cara—yang baru saja terpikirkan olehku—adalah: "Kau boleh mampir kalau ada waktu," aku berkata pada Dylan sebelum keluar dari mobilnya. Jeda. Dylan menatapku dengan penuh tanda tanya. Kukira dia mungkin tidak menangkap apa yang barusan kukatakan, tapi ketika aku baru mau membuka mulut untuk mengulangi perkataanku, Dylan berujar dengan ragu-ragu, "Tentu." Dia tampak kikuk. "Tunggu sebentar. Aku akan memarkirkan mobilnya lalu menyusul kalian." Aku mengangguk, kemudian keluar dari mobil. Kugenggam tangan Mark yang keluar dari mobil sebelum aku, dan kami berdiri di depan pintu masuk gedung apartemen. Mark tentu menyadari sesuatu ketika mobil Dylan tidak berputar balik untuk pergi seperti biasanya, namun justru melaju terus hingga masuk ke area parkiran gedung. Mark mendongak. "Ke mana paman Dylan pergi, Mama?" Dia bertanya. "Apa paman Dylan akan mampir ke rumah?" Aku mengangguk, tersenyum ketika mendapatinya tersenyum begitu lebar dan begitu sumringah. *** Aku sadar apartemen dua kamarku tidak terlalu besar. Memiliki tujuh ruangan, dengan sedikit tempat untuk setiap ruangannya. Tapi, dengan hadirnya Dylan di sini, aku merasa rumahku semakin penuh dan sesak. Apakah selalu terasa begini setiap kami kedatangan tamu, dan aku, untuk suatu alasan tertentu, baru menyadarinya? Ataukah ini murni karena yang ada di sini adalah Dylan? Di ruang tamu kami, beberapa meter dari aku yang duduk di sofa depan TV, pria itu duduk melantai, membangun sesuatu bersama Mark yang Mark sebut sebagai tembok Cina, dari mainan berupa balok-balok kayu. Aku menonton tayangan National Geographic bersama Ace, awalnya. Kini, aku telah menggantinya menjadi acara bincang-bincang, sebab Ace tidak bisa berhenti menyalak pada ular-ular Taipan yang muncul di layar TV, meskipun ular itu berada jauh di daratan Australia dan berkemungkinan minus seribu persen akan menyakiti kami. Baru beberapa menit berlalu dan aku telah dibuat bosan dengan tema dan bintang tamu di acara itu. Aku jarang menonton TV. Seringnya, aku bermain dengan Mark di jam ini, tapi sekarang itu menjadi pekerjaan Dylan. Jika aku terpaksa menonton TV, Mark selalu ada di sampingku. Kami selalu menonton Phineas and Ferb di jam ini, tapi aku tidak bisa melakukan itu karena Dylan ada di sini. Apa yang akan pria itu pikirkan saat dia tahu bahwa aku menikmati menonton serial animasi anak-anak? Apapun yang dia pikirkan, aku tidak ingin mencari tahu. Aku menghela napas karena bosan. Kulirik Mark yang suasana hatinya berbanding terbalik dengan yang kurasakan. "Kau mau Mama buatkan susu?" tanyaku. "Aku bisa buat sendiri," jawab Mark sambil berusaha berdiri. Aku menghentikannya. "Biar Mama buatkan. Tetaplah di sini dan bermain bersama paman Dylan." Mark kembali duduk. Dia mengucapkan "terima kasih Mama" Dengan senyumnya yang sempurna. Aku membalasnya dengan senyuman sebelum pandanganku beralih pada Dylan. "Apa kau mau teh atau kopi?" tawarku. "Teh, terima kasih," sahut Dylan. Aku mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan ke dapur, berharap sedikit kegiatan bisa membunuh kebosanan. Aku ambil satu cangkir dan satu mug dari lemari bagian atas, meletakkannya di meja dapur, mengisi cangkir dengan teh celup, sedangkan mug dengan dua sendok susu bubuk berkandungan lactobacillus. Aku isi teko listrikku dengan air, kemudian duduk dan menunggu. Aku masih bisa mendengar suara dari TV, mendengar seorang pembawa acara membuat guyonan. Kemudian suara tawa penonton terdengar, tak luput suara Mark dan Dylan. "Sebentar ya." Itu suara Dylan. Sekarang aku mendengar suara kaki melangkah mendekat. Lantas Dylan muncul di ambang pintu dapur. "Hei," katanya. Dia menarik kursi bar di sampingku dan duduk. Aku berusaha untuk bertingkah normal meskipun benakku seperti persimpangan jalan yang dilewati banyak orang. Kenapa Dylan duduk di sini? "Terima kasih sudah mengundangku mampir," katanya lagi. Aku tahu dia tidak duduk di sampingku hanya untuk mengatakan itu, jadi aku bersiap-siap untuk apapun yang akan dia katakan selanjutnya. Dan benar saja. Dylan kembali membuka mulutnya. "Lexa." Aku bergumam. Dylan melanjutkan, "Maaf tidak memberitahumu soal Caleb lebih awal." Itu bukanlah sesuatu yang kukira akan dia katakan. Aku masih belum berani berkomentar, masih menunggunya mengatakan sesuatu karena Dylan tampak seperti itu. Dylan mengernyit seakan-akan sesuatu yang ingin dia katakan itu sudah menunggu di ujung lidahnya, siap dilepehkan. Tetapi untuk beberapa saat, yang terasa seperti berjam-jam, Dylan tidak berkata apapun. "Kami—" Dia memulai dengan suara yang sedikit gemetar. "Kami—Aku … kehilangan kontak dengannya setelah saat dia tamat SMA." Aku tergugah untuk bertanya apa yang terjadi, namun kemudian tersadar itu mungkin bukan ranah yang bisa kucampuri. Meskipun semuanya telah berjalan dengan baik, terlalu baik malah, aku masih tidak tahu bagaimana Dylan melabeliku. Siapa sebenarnya aku di matanya saat ini. Bisa jadi dia hanya melihatku sebagai seseorang yang secara terpaksa harus berurusan dengannya. Maka tidak sepatutnya aku tahu hal-hal seperti itu tentangnya. Aku tidak ingin melewati batas yang semu ini. Namun jika memang begitu, kenapa Dylan duduk di sini dan membahas tentang ini denganku? Kembali Dylan terdiam. Lalu dia melanjutkan, "Dia menolak untuk masuk militer seperti keinginan orang tua kami, kemudian dia pergi dari rumah. Kau tahu, orang tua kami jarang berada di rumah. Hanya dia yang selalu ada bersamaku, hanya dia yang kumiliki. Saat dia pergi aku benar-benar ...." Sedih? Aku menebak. "Marah," kata Dylan. Aku menatap mata coklatnya, tapi tidak menemukan sesuatu yang dia sebut sebagai kemarahan di sana. Dia menghela napas. "Aku seharusnya memberitahumu dari dulu, kau pasti terkejut." "Mungkin hubungan kita memang tidak seperti itu." Aku tidak bermaksud mengatakannya, tapi sedari tadi itulah yang aku pikirkan. Aku tanpa sadar telah mengatakannya. Kembali dahi Dylan mengernyit, kali ini lebih dalam. "Jangan mengatakan itu. Kau adalah temanku, aku seharusnya memberitahumu. Dulu aku terlalu malu. Aku malu jika kau tahu sekacau apa keluargaku, dan aku takut kau akan menjauhiku setelah kau tahu." “Aku tidak akan—“ “Aku tahu. Aku tahu kau tidak akan melakukan itu. Tapi ada sisi dalam diriku yang sangat menginginkan—“ Dylan menghentikan dirinya dan membuang muka. Dia terdiam, membunuhku dengan rasa penasaran sesaat, lalu dia kembali menatapku dan bersuara, “Kurasa aku hanya tidak mau kehilangan—lagi.” Saat Dylan menjelaskan itu, kurasakan dapurku menghangat. Atau sebenarnya hanya diriku? "Sekarang aku tidak akan melakukan itu. Aku akan terbuka padamu," ujarnya lagi. Kenapa? Benakku bertanya. Kenapa dia mau terbuka denganku? Siapa aku baginya? "Dan kuharap kau juga begitu. Kuharap kau mau lebih terbuka padaku terutama tentang Mark. Beritahu aku kapan pun kau butuh bantuan untuk menjaganya," imbuhnya. Benar. Aku hanya orang yang tanpa sengaja dan tanpa diharapkan telah menjadi ibu dari anaknya. Dylan menatapku, dan aku merasa seperti sebuah objek, diteliti. Dan seperti semua objek penilitian, aku ingin lari, ingin keluar dari kandang, atau dalam kasus ini, aku ingin Dylan berhenti menatapku seperti itu jika dia ingin aku mengatakan sesuatu. "Aku tahu kau tidak suka orang lain melakukan sesuatu untukmu. Tapi ini juga tugasku, Lexa. Biarkan aku membantu. Biarkan aku terlibat. Bagaimanapun aku akan selalu di sini untuk kalian." Malu, itulah yang kurasakan. Aku malu terhadap betapa sempitnya pikiranku terhadap Dylan dulu saat yang ingin dia lakukan hanya menjaga Mark, menjaga putranya. Dan aku sempat meragukannya. Meragukan bahwa dia bisa membuat Mark bahagia. Meragukan ketulusannya. Dan yang lebih penting, aku meragukan penilaian Mark terhadapnya. Jika aku menolak Dylan kali ini, sudah pasti itu akan menjadi keputusan paling bodoh yang pernah kubuat seumur hidup, sebab itu berarti aku mengabaikan kebahagian putraku. Aku merunduk, perlahan mengangguk. Diam. Aku tidak berani mengangkat kepala untuk melihat reaksinya, atau hanya sekedar memastikan apakah Dylan memperhatikanku. "Apakah kalian sudah selesai mengobrol?" sebuah suara bertanya di belakang kami. Aku dan Dylan menoleh beberengan, mendapati Mark dan wajah penasarannya berdiri di ambang pintu. "Yah," Jawab Dylan. "Bisakah paman bermain denganku sekarang?" "Tentu." Dylan bangkit. Kuperhatikan dua sosok itu meninggalkan dapur dengan dada yang menghangat. Setelah mereka pergi, mendadak aku teringat tujuan utamaku ke dapur. Kumatikan tekoku. Air telah mendidih entah untuk berapa lama. Obrolanku dengan Dylan barusan benar-benar membuatku tenggelam. Kutuang air ke dalam cangkir dan mug, saat itu lah kudengar suara statistik, seperti suara alarm pada jam digital. Kemudian suara itu berhenti. "Maaf sobat. Aku harus kembali bekerja." Kudengar Dylan berkata. "Tapi aku janji, besok kau dan aku akan bersenang-senang, oke?" "Oke," Mark menjawab pelan tanpa semangat. Kudengar derap langkah kaki kembali mendekat. "Aku pergi dulu," kata Dylan. Aku mengangguk. Pandangannya kemudian mendarat pada teh yang sedang kuaduk. Teh yang tadinya kubuat untuknya. "Boleh aku bawa tehnya?" Aku menatapnya, bingung. Tidak pernah seorang tamu pun yang datang ke rumahku membawa pulang minuman yang kubuat untuk mereka. Tapi Dylan tampak serius tentang itu. "Ya," jawabku setelah beberapa saat bengong. Dylan mengambil cangkir berisi teh yang kubuat. Aku memperingatkannya untuk hati-hati sebab teh itu mendidih, dan dia tersenyum. "Terima kasih, Lexa," ujarnya. Aku mengangguk dan bergumam. Dylan berbalik. Sebelum dia pergi, mulutku meluncurkan sebuah pernyataan yang membuatku diriku sendiri terkejut. "Kau boleh datang kapan pun kau punya waktu luang." Dylan berhenti dan kembali menghadapku. "Sungguh?" Dia tampak lebih terkejut daripada diriku. "Ya," ujarku terbata. "Mark pasti akan senang." Dylan tersenyum. Namun sebelum senyum itu menjadi begitu lebar, dia menggigit bibir bagian bawahnya. Tetapi, lewat binar-binar euforia di matanya, yang mengingatkanku pada Mark kapanpun bocah itu merasa antusias, aku tahu betapa senangnya pria itu. "Kalau begitu aku akan ke sini lagi nanti malam," tuturnya. Sekarang aku yang dibuat terkejut. "Nanti malam?" Dylan mengangguk. "Setelah shift-ku selesai." "O—oke." Aku tidak pernah terdengar lebih payah dari ini dalam mengucapkan satu kata yang tergolong sederhana. "Terima kasih, Lex," ucapnya untuk sekali lagi. Aku mengangguk. Sambil membawa mug berisi susu Mark, aku mengikutinya keluar. Di ruang tamu, Mark masih menyusun baloknya, tapi tidak dengan suka cita yang sama. Wajahnya muram seolah dia benar-benar seorang prajurit yang dipekerjakan secara paksa untuk membangun tembok besar China. Putraku yang malang. "Aku akan ke sini lagi nanti malam," bisik Dylan ketika dia berjongkok di hadapan Mark untuk mengucapkan salam perpisahan. Dan dalam sekejap, seperti membalikkan telapak tangan, ekspresi Mark berubah. "Sungguh?" Mark berkata. Antusiasnya kembali. Dylan mengangguk. Aku yakin jika bukan karena dia sedang memegang secangkir teh panas di tangannya, dia pasti sudah memeluk Mark. Alih-alih, pria itu hanya mengucapkan selamat tinggal lantas bangkit. Aku dan Mark berjalan bersamanya sampai di lorong pintu masuk. Dylan sudah memegang kenop pintu ketika mulutku yang tidak tahu etika memutuskan untuk memanggil namanya, "Dylan." Dylan berbalik seketika. "Ya?" Aku tidak menduga dia akan berbalik secepat itu. "J—jangan terlalu malam." Dia tersenyum, mengangguk, lantas keluar dan menghilang. Mark mendongak untuk menatapku, tersenyum sambil mengigit bibir bagian bawah. Dejavu. Apakah dia dan Dylan secara rahasia berkomplot untuk mempraktekan satu senyum yang identik satu sama lain, atau apa? Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka bisa tersenyum dengan cara yang sama? ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nyampe sangat bagusss
18/05/2022
1yess bagus
21/07/2025
0assalamualaikum
03/06/2025
0Lihat Semua