SEHARUSNYA aku tahu bahwa Dylan Buman akan selalu mengejutkanku. Seharusnya itu lah pelajaran hidup yang aku patri di dalam ingatanku, kucamkan baik-baik dan kuingat selalu, dengan begitu aku tidak akan lagi terkejut luar biasa ketika mendapati Dylan berdiri di depan rumahku pagi ini. "Paman!" Mark sudah berseru teramat sangat girang ketika aku masih tidak tahu harus berkata apa untuk menyambut tamu dadakan kami yang satu ini. Mark bangkit, serta merta menghentikan kegiatan mengikat sepatunya dan membiarkan sebelah sepatunya tidak terikat, lalu bocah itu berlari ke arah Dylan. Saat hatiku dihinggapi perasaan khawatir tali sepatu Mark akan membuat bocah itu terjerembab, Mark sudah berada di pelukan Dylan dengan selamat. "Hei, sob." Dylan mengacak rambut Mark yang baru beberapa menit tadi kusisir rapi. Tapi tidak ada yang bisa keluar dari mulutku untuk mengecam apa yang dia lakukan. "Dylan?" Ketika aku akhirnya bisa menemukan suara untuk bicara, satu pertanyaan retoris nan bodoh itu lah yang keluar. Maksudku, sudah jelas itu Dylan, kenapa aku perlu mengajukan pertanyaan. "Kenapa … Apa yang kau lakukan di sini? Kami akan berangkat sebentar lagi." Kepala Mark mendongak, menatap Dylan dengan penasaran seolah bocah itu juga memiliki pertanyaan yang sama denganku. "Aku akan mengantar kalian," tutur Dylan sambil menatap aku dan Mark secara bergantian. "Yey!" Kembali, Mark lah yang pertama bereaksi, sedangkan aku masih setia membisu, sebab jawaban Dylan hanya menjawab sedikit dari rasa penasaranku atas alasannya kemari. Sedang jika aku bertanya lebih lanjut kenapa Dylan mau mengantar kami, aku tahu jawabannya akan terdengar seperti: "karena aku mau." Dan walaupun aku tergugah untuk bertanya kenapa dia mau, aku tidak melakukannya. "Uber kami sudah menunggu di luar," jelasku. Beberapa saat yang lalu aku telah memesan Uber, dan aku yakin sekarang mobil yang kupesan sudah menunggu di luar. Mobilku baru akan keluar dari bengkel sekurang-kurangnya dalam tiga hari. Karena bus terlalu menguras begitu banyak waktu, Uber adalah pilihan paling efektif untuk mengantarkan Mark ke sekolah, sekaligus membawaku ke tempat kerja. Atau setidaknya kupikir begitu. Sampai Dylan datang dan menempatkanku di situasi dilematis ini. "Batalkan saja. Akan kuantar kalian." Mark kembali berseru antusias. Dylan menyadari ketika Mark melompat-lompat kecil di tempatnya, bahwa tali sepatu sebelah kiri bocah itu belum diikat. Dylan lantas berjongkok, menali sebelah sepatu Mark dengan simpul yang sempurna. Dylan menatapku dan tersenyum. "Ayo. Tidak ada yang ingin terlambat, bukan?" Aku benar-benar tidak memiliki pilihan. Bukan kah begitu? Aku menghela napas, kemudian masuk ke dalam untuk mengambil barang-barangku seperti dompet dan ponsel, dan tak lupa tas sekolah Mark. Di depan bocah itu aku berjongkok untuk membantunya memakai tas. Kugunakan momen itu untuk berbisik di telinga Mark. "Bisakah kau bilang padanya untuk tidak menjemput Mama nanti?" Mark menatapku dan mengedikan bahu. "Bukan aku yang membawa mobilnya." Dia tersenyum jahil. Luar biasa. Inikah rasanya pengkhianatan? *** Napasku terhenti ketika laju mobil Dylan berhenti. "Sudah sampai." Dylan menoleh ke belakang. Dari kaca tengah kuperhatikan Mark berjuang dengan sabuk pengamannya. Setelah berhasil membukanya, bocah itu bangkit dan memeluk leher Dylan dari belakang. "Terima kasih untuk tumpangannya, paman." Dylan menepuk-nepuk pipinya. "Sama-sama." Aku masih terpaku oleh perasaan yang tiba-tiba mencengkram dadaku, dan hanya mampu mengulas senyum tipis saat Mark mencium pipiku dan mengucapkan selamat tinggal. Setelah mengingatkan kami untuk berhati-hati di perjalanan, bocah itu melompat keluar dari mobil, melambaikan tangan singkat sebelum memasuki gerbang sekolahnya. Mobil Dylan kembali melaju. Dan ini lah dia, pikirku dalam hati. Di sini, di dalam mobil sendirian bersama Dylan rasanya begitu familier sakaligus asing. Perasaan itu mecekikku. Aku tidak tahu dengan pasti perasaan apa itu. Sebuah kecemasan yang murni mungkin. Aku punya ingatan yang kurang bagus tentang aku dan Dylan di dalam mobil, dan itu tidak membantuku tenang sama sekali. Malah sebaliknya. Mendadak mataku mulai berlarian. Jantungku berdebar dengan begitu cepat. Kepalaku berdenyut. Perlahan gambaran itu merayap keluar dari gudang ingatanku. Tidak, kami bukan remaja lagi. Aku berusaha mengatakan itu keras-keras pada diriku sendiri. Ini bukan malam itu. Dylan tidak di sini untuk menyakitiku. Dia tidak akan mungkin menyakitiku. Kenapa sekarang? Aku mengutuk. Kenapa saat keadaan berjalan dengan sangat baik di antara kami? Aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Kucoba mengenyahkan gambaran itu dari kepalaku dengan memikirkan Mark, memikirkan hal-hal menyenangkan yang aku, Mark, dan Dylan miliki, dan memikirkan betapa baiknya perlakuan pria itu pada kami. Aku mencoba berpegang pada kenyataan bahwa Dylan ada di sini untuk membantuku. Aku memejamkan mata dan menghela napas. Menghitung sampai empat kemudian menghela napas lagi seperti yang pernah terapisku dulu ajarkan. Kurasakan udara mengisi paru-paruku. Kemudian berangsur-angsur aku mulai kembali fokus. Aku dapat merasakan kakiku kembali berpijak dan mataku kembali awas dengan sekitarku. "Kau baik-baik saja?" Dylan bertanya setelah mendapati aku tengah menggenggam celana jins yang kukenakan terlalu erat untuk dikatakan normal dan juga terengah-engah. "Lexa?" "Ya." Satu kata itu menggelincir goyah dari lidahku. "Kau yakin?" Dylan kembali menoleh. Kekhawatiran dalam suaranya anehnya membuatku tenang. "Alexandra, apa kau yakin?" "Boleh aku minta air?" Dylan mengulurkan tangan ke belakang kursi pengemudi, meraih sebotol air mineral untuk diberikan kepadaku. "Kau mau aku mengantarmu pulang?" "Aku baik-baik saja, terima kasih." Aku mencoba tersenyum. “Kau kesulitan bernafas?” tanyanya. Aku menggeleng. “Tidak.” Dylan terdiam. Dia menatapku seakan sedang menelaah kejujuranku, hanya sesaat kemudian dia kembali memalingkan kepala ke depan sambil berdehem. Aku menyandarkan kepalaku ke kursi penumpang. Meminum dari botol yang Dylan berikan, lantas memeluk botol itu erat di depan dadaku. Tarik napas... "Jadi, Derek itu—" Dylan tidak menyelesaikan kalimatnya. Dua, tiga, empat, hembuskan. "Ya?" Dylan menoleh lagi sekilas. "Temanmu?" "Ya," jawabku. "Apa kalian dekat?" Aku menenggak air lagi sebelum menjawab. "Ya. Dia teman kerjaku." "Kau tidak pernah menyebut sesuatu tentangnya." Aku menatapnya sambil mengerutkan kening, kini keheranan, tidak mengerti intensi dari pembicaraan ini. Basa-basi? Mungkin. Meskipun kuakui, ini adalah pemilahan topik yang sangat aneh. Kenapa Dylan tidak menanyakan sesuatu tentang Mark? Kenapa Derek? "Dia hanya temanku," kataku sambil mengedikan bahu. Kucoba bertingkah kasual sembari mengatur napas. "Benar," gumam Dylan. “Kau yakin baik-baik saja, Lex?” Aku mengangguk dengan mantap dan itu tampaknya menyakinkan bagi Dylan karena pria itu kembali focus dengan jalanan. Sesekali dia menoleh padaku, mencoba menatap mataku setiap kali aku bicara. Sekarang, saat obrolan kami beku, dia lebih fokus pada jalanan. Dahinya berkerut, seolah ada sesuatu yang menganggunya. "Mark sepertinya menyukainya." Aku sedikit terhenyak mendengarnya tiba-tiba membuka suara, dan merasa aneh dia belum juga beralih dari topik awal, yaitu siapa Derek. "Mereka cukup dekat," jelasku. Mark dekat dengan semua temanku, dan Derek adalah salah satunya. "Oh," Dylan berkata lirih. "Kau tidak perlu menjemputku nanti," ujarku. Dylan lagi-lagi menoleh. Guratan di dahinya kembali muncul. "Kenapa? Apa kau akan pulang dengan Derek?" "Tidak." Aku menggeleng, lantas berubah pikiran ketika menyadari bahwa memang itu lah yang akan kulakukan. "Ya. Mungkin." Derek mungkin akan menawarkan tumpangan, dan aku tidak akan menolak karena menumpang mobilnya jauh lebih nyaman daripada duduk di bangku keras bus, atau di belakang taksi dengan sopir yang sama sekali tidak kukenali. "Aku akan menjemputmu, kau tidak perlu pulang bersamanya." Aku mungkin salah karena berpikir bahwa ada sesuatu yang posesif dari cara Derek mengatakan itu. "Aku akan menjemputmu," Ulangnya, memastikan kalau aku mendengar setiap katanya. Aku hanya bergumam. Sesuatu membumbung di dadaku. Sesuatu yang menggelitik.
***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nyampe sangat bagusss
18/05/2022
1yess bagus
21/07/2025
0assalamualaikum
03/06/2025
0Lihat Semua