AKU tidak pernah merasa seperti ini seumur hidupku. Entah bagaimana cara mengatakannya. Rasanya seperti aku adalah larva yang akhirnya keluar dari kepompong yang telah begitu lama mengukungku dan secara ajaib merasa begitu lepas seperti kupu-kupu. Tidak ada lagi beban yang menyelimutiku, yang menghentikanku untuk terbang. Pengandaian yang menjijikan. Aku tahu, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkannya lebih baik dari pada itu. Aku tidak mau berharap banyak, namun tiba-tiba roda hidupku menggelinding begitu mulus seolah tanpa hambatan, karena hambatan yang sebelumnya kukira hambatan ternyata bukan hambatan. Metafora yang membingungkan. Aku tahu. Intinya, jika penjabaranku tadi terkesan menjijikan dan membingungkan, kalian hanya perlu tahu bahwa aku ..., bahagia? Entahlah. Saat ini, bagiku kebahagiaan adalah kata yang memiliki begitu banyak makna. Apakah aku bahagia? Mungkin. Namun, perasaan bahagia ini berbeda dengan yang pernah aku rasakan. Rasanya seperti ada yang dicabut dari diriku, namun daripada kehilangan, aku merasa lega. Sedangkan, perasaan bahagia yang biasa kurasakan, seringnya disebabkan oleh Mark, terasa seperti meluncur di atas pelangi, kemudian jatuh langsung di atas awan-awan. Aku selalu mengira bahwa begitulah perasaan bahagia seharusnya terasa: ringan, indah, dan kekanak-kanakan. Namun, setelah pergi ke pesta ulang tahun Dylan, aku tahu bahwa untuk merasa bahagia, aku hanya butuh mendengar bahwa Dylan merasa beruntung memiliki Mark dari mulut orang lain, orang yang notabene baru kukenal saat itu juga. Sesederhana itu. Aku pun tidak yakin kenapa aku begitu mudah mempercayai Caleb, orang yang notabene baru kutemui. Mungkin karena aku sudah lelah menyangkal, dan mungkin karena aku lelah mencari alasan kenapa. Kenapa Caleb mengatakan itu, dan kenapa aku harus menyangkal. Sederhananya, aku hanya ingin percaya. Menanam sedikit harapan tidak akan begitu menyakitkan. Begitu Anna Lee sering berkata. "Ada apa denganmu?" Aku menoleh, pikiran terbuyarkan. Di sampingku Derek sedang berjalan, namun tetap sempat melayangkan tatapan heran kepadaku. Aku menaikan alis, tidak mengerti. "Kenapa?" Dia menggeleng. "Tidak, hanya …." Dia menatapku, seolah menilitiku, kemudian tersenyum tipis. "Harimu menyenangkan kemarin?" Aku mendengus. "Pertanyaan apa itu?" "Baiklah, lupakan. Hanya saja kau terlihat begitu senang." Aku berusaha terkekeh geli untuk membuatnya merasa konyol dengan pengamatannya sendiri. "Hei, aku sudah melihatmu datang sejak pagi dan kau sudah tersenyum seperti itu." "Aku tidak tersenyum." Tatapan yang Derek berikan selanjutnya seolah mengatakan, “terserah apa yang kau katakan.” Kemudian percakapan berhenti. Kami terus berjalan menuju parkiran, seperti biasa, berniat untuk keluar mencari makan siang.
Saat kami keluar gedung, udara otomatis lebih hangat. Musim panas belum lama berakhir. Matahari masih terasa begitu terik. Aku menarik Derek menuju mobilku ketika pria itu bertanya mobil siapa yang akan kami pakai. "Biar aku yang menyetir," ujar Derek. "Oke." Aku merogoh saku jaket, memberikan kunci mobil pada Derek tepat ketika kepalaku diguyur cairan hitam pekat berbau menyengat. Kopi. Otakku berhasil mengidentifikasi setelah rasa kagetku reda. Aku berbalik untuk melihat si pelaku, tapi satu gamparan telak justru diterima pipiku. Rasa perih menyengat yang kurasakan di pipi tidak lebih mendominasi daripada keterkejutan dan kebingunganku. "Hei!" Derek berseru. Dia maju ke depanku. Ada seorang perempuan berambut pirang di hadapannya yang tidak kutahu siapa. Yang kutahu dengan pasti, dia sangat marah. Cup kopi kosong di tangannya di lempar ke arahku. Derek menghalaunya sebelum benda itu mengenaiku, dan pria itu kembali menyerukan peringatan. “Hei, hentikan! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila!” Sebelum aku sempat memahami apa yang terjadi, Derek maju, mungkin mencoba menghentikan perempuan itu. Tapi, tak berapa lama, Derek kembali mundur. Aku pun ikut didorong mundur. Ketika aku mengintip dari balik tubuhnya baru lah aku tahu kenapa. Yang ada di tangan perempuan itu sekarang adalah pisau lipat. Bilahnya yang tajam mengkilap memantulkan cahaya matahari. Sementara aku membeku, Derek kembali berseru. "Apa yang kau inginkan? Hentikan!" Perempuan itu terus maju. Dia memegang pisaunya dengan posisi siap menusuk. Selanjutnya, alarm mobilku meraung-raung, berpadu dengan suara nyaring menyayat hati yang terdengar ketika perempuan tadi, dengan pisau lipatnya, menggores badan mobilku. Dengung telingaku melengkapi harmoni. Aku bisa melihat dua orang petugas keamanan berlari menghampiri dari kejauhan. Setelah selesai dengan mobilku, wanita tadi menodongkan pisaunya ke hadapanku. "Jika sekali saja kau dekati Justin—lepaskan aku! Berengsek! Jalang bangsat tidak berguna!" Perempuan itu memberontak dan mengeluarkan lebih banyak umpatan ketika dua orang penjaga keamanan tadi merebut pisau lipat darinya, kemudian menyeretnya pergi. "Kau baik-baik saja?" Derek memegang pundakku. Aku mengangguk, seluruh tubuh gemetar. "Ayo."
*** Tak terkira berapa kali aku harus menyakinkan Derek bahwa semua ini bukanlah salahnya. Bukan salah dia karena mengenalkan Justin padaku. Tanpa perlu diragukan lagi, sebagian besar dari kekacauan ini merupakan salahku, kecerobohanku dalam mempercayai seseorang yang hampir tidak kukenal sama sekali. Sebagian kecil sisanya tentu saja adalah salah Justin. Dari yang diketahui Derek, perempuan tadi adalah tunangan Justin yang akan menjadi istrinya dalam beberapa bulan lagi. Sang perempuan tengah hamil dua bulan, yang berarti ketika dia hamil, hanya selang beberapa minggu sebelum pertemuanku dengan Justin. Fakta itu membuatku mual. Justin tidak tahu menahu tentang itu, itu kenapa dia bisa dengan leluasa menghabiskan banyak waktu bersamaku, meskipun itu tetap tidak megubah fakta bahwa dia telah berselingkuh dari wanita itu dan menipuku dengan secara sadar dan sengaja. Sampai beberapa minggu yang lalu, aku menduga itu adalah saat Justin tiba-tiba menghilang tanpa kabar, sandiwara itu terkuak, sang tunangan datang ke kantornya setelah mengetahui apa yang Justin perbuat selama ini dan dia melakukan seperti halnya yang dia lakukan padaku tadi. Tapi, daripada mencaci maki dan merusak mobil, dia mencaci maki dan membuat pria itu babak belur, disaksikan seluruh koleganya. Derek menyembunyikan semua fakta itu dariku meskipun dia sudah tahu jauh-jauh hari, dengan asumsi bahwa aku sudah tidak lagi berhubungan dengan Justin dan tidak memiliki urusan apapun dengan pria itu. Yang tidak dia ketahui, Justin masih sempat menghubungiku setelah semua masalah itu muncul. Itu kenapa perempuan tadi datang padaku. Itu kenapa ini semua menjadi salahku. Andai aku tidak percaya begitu saja. Andai aku berkata tidak dari awal. Sekarang, Derek sedang membawa mobilku ke bengkel setelah aku gagal melarangnya. Pria itu masih juga berpikir bahwa ini semua merupakan salahnya. Namun, pada akhirnya, aku sadar, membiarkannya membawa mobilku ke bengkel adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan waktu sendiri, menjernihkan pikiranku. Setelah kejadian tadi, aku perlu lebih banyak waktu untuk memenangkan diri. Kulingkis lengan cardigan rajut Derek yang kebesaran di badanku. Hanya itu lah satu-satunya pakaian yang bisa kukenakan sementara kaos dan jaketku dikotori noda kopi. Bau kopi beruntung sudah tidak terlalu menyengat dari suraiku setelah aku membilasnya dengan air, mengeringkannya dengan hairdryer, baru kemudian memakai dry shampoo. Akan sangat aneh jika sampai ada perempuan yang memiliki rambut merah, dan memakai baju kedodoran, yang menguarkan bau seperti kopi. Aku memikirkan Mark, bagaimana aku akan menjemputnya dan menjelaskan kenapa rambutku berbau seperti espresso dan buah-buahan. Untuk seseorang yang tidak memiliki masalah dengan indra penciuman, perpaduan itu jelas mengerikan. Aku bisa saja naik bus untuk menjemput Mark, atau memesan taksi, atau meminjam mobil Derek, aku yakin pria itu tidak akan keberatan. Namun itu akan membuatku menghadapi pertanyaan-pertanyaan menyelidik Mark. Kuraih ponsel di samping mouse. Aku berpikir untuk menghubungi Anna, memintainya tolong untuk menjemput Mark. Aku tahu perempuan itu tidak keberatan. Dengan begitu aku bisa menghindari sesi tanya jawab Mark. Tapi tidak tahu kenapa, mungkin karena diguyur kopi di tengah siang hari yang terik telah menyebabkan sesuatu terjadi pada cara kerja kepalaku, aku memilih opsi alternatif. Yang aku hubungi bukanlah Anna ataupun Joshua. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
cerita nyampe sangat bagusss
18/05/2022
1yess bagus
21/07/2025
0assalamualaikum
03/06/2025
0Lihat Semua