logo text

Bab 4 Hospital

Sebenarnya aku sudah bersyukur saat Mark tidak pernah mengeluh tentang kehidupan sekolahnya selama ini.
Aku sudah menganggapnya sebagai keajaiban ketika Mark tidak meminjam ponsel wali muridnya untuk menghubungiku dan merengek pulang karena alasan sakit perut yang dibuat-buat ketika hari pertama sekolah.
Sejauh ini semua baik-baik saja. Bahkan sudah beberapa kali Mark memperkenalkan temannya padaku, yang jujur harus kuakui sebagai kemajuan besar.
Tapi keikutsertaannya dalam tim sepakbola bukan termasuk dari hal yang membuatku terkesan.
Jujur saja, aku bohong kalau mengatakan bahwa aku adalah orang tua sempurna yang tidak pernah memaksakan kehendak ku pada Mark karena kurasa aku boleh menjadi sedikit egois setelah apa yang terjadi lebih dari enam tahun ini.
Toh bukan masalah besar jika aku lebih mendukung Mark mengikuti paduan suara di gereja daripada berpanas-panasan menggiring bola di lapangan yang kotor.
Apalagi latihannya selama ini menyita kualitas waktu bersama kami sepenuhnya. Jadwal jalan-jalan bersama Mark di hari Minggu tergantikan dengan latihan sepakbola, begitupun dengan hari-hari yang lain. Walaupun aku mencoba untuk tidak memikirkannya, perasaanku tetap mengatakan jika kehadiran teman-teman Mark telah menggantikan peranku, yang mana sungguh kedengaran konyol. Aku tahu.
Bagaimanapun, setelah rangkaian acara yang sama-sama berat untuk kami berdua selama sebulan ini, aku tetap tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku setiap kali Mark mencetak gol. Dengan kakinya yang mungil Mark bergerak begitu lincah di atas lapangan hijau, bergerak mengelak, kemudian menggiring bola sebelum menendangnya ke dalam gawang dengan mulus melewati sang penjaga gawang.
Aku berteriak, menjerit dalam lautan euforia.
"Tidak terlalu buruk, kan?"
Ku tengokkan kepala, tersenyum menyetujui pada Joshua lantas pria itu kembali sibuk dengan kamera yang dia bawa. Di sampingnya, Anna menjerit tak kalah lantang dibanding seorang wanita di dekat sana.
Saat ku tolehkan kepala ku kembali ke arah lapangan ku dapati putraku tersenyum. Ada yang berbeda dari cara Mark tersenyum yang membuat darahku tiba-tiba berdesir dan bibirku melengkungkan senyum yang tak kalah lebar. Mungkin sesuatu itu ada di dalam matanya yang memancarkan binar ambisi, atau mungkin di senyumnya yang penuh akan rasa percaya diri.
Sesuatu itu untuk pertama kalinya membuatku percaya bahwa aku adalah orang tua terbaik, seperti apa yang selalu Mark katakan.
Katakanlah Tuhan sedang dalam suasana hati yang baik ketika menulis skrip ini dalam takdirku: duduk di depan perapian, di atas kursi goyang yang empuk dan nyaman ditemani segelas coklat panas.
Namun tiba-tiba dia dapati kucing betinanya sedang dalam masa kawin dan bercinta di atas karpet import nya yang mahal dengan kucing jalanan, maka begitulah dia membuat semua kebahagian juga runtuh dariku dalam sekejap ketika Mark jatuh.
Tentu ini bukan pertama kalinya Mark jatuh. Jika kalian ingat list yang akan aku sebutkan ketika kalian bertanya, "Berapa kali Mark terjatuh dalam enam tahun" juga menjadi salah satu informasi yang akan dengan senang hati aku bagikan dalam daftar tersebut.
Tapi ini bukan jatuh yang seperti itu. Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kaki seorang anak, yang tentu saja dari tim lawan, menjegal putraku saat dia berlari.
Mark jatuh, namun sebelum dia benar-benar menyentuh tanah satu kakinya refleks bergerak menahan, tapi aku tahu itu tidak berjalan baik karena Mark tetap jatuh diikuti suara teriakan kesakitan yang menghancurkan hatiku menjadi berkeping-keping.
Kami semua terkesiap. Suara peluit sang wasit seolah menjadi pukulan besar untukku lari tunggang langgang ke tengah lapangan, menghampiri Mark yang sekarang tersungkur sembari memegangi pergelangan kakinya.
"Mama..."
•••
Setelah perdebatan sengit antara Anna dengan Ibu si tersangka yang menjadi PR wasit dan Joshua untuk melerai mereka, kami akhirnya membawa Mark ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan yang diiringi lagu kesakitan berisi lirik keaduhan yang Mark ciptakan secara dadakan dan nyanyikan secara live di dalam mobil Joshua, diiringi backsound caci maki dari Anna, aku tidak pernah melepaskan kompresan ku pada pergelangan kaki Mark seperti perintah Joshua.
Tolong jangan dulu bertanya darimana asal kompres itu karena dari sini kalian akan tahu bahwa setelah ini aku akan meninggalkan hot espreso untuk minuman apapun yang menggunakan es.
Terimakasih untuk Anna yang sudah mengorbankan es Americano dan sarung tangannya.
"Kita sampai."
•••
"Jadi ... Siapa di antara kalian yang ingin menjelaskan apa yang terjadi?"
Aku mengangkat tanganku hampir secara spontan, kemudian menurunkannya secepat mungkin saat sadar bahwa itu tidak penting.
Dokter itu kembali membuka mulut. "Anda ...."
"Orang tuanya," jawabku tanpa keraguan.
"Jadi apa yang terjadi?"
Pria itu menarik sebuah pulpen di sakunya dan sebuah notebook, membuka beberapa lembar untuk mencari ruang kosong kemudian memberikan kedua benda itu pada seorang pemuda berjas putih, yang baru kusadari berlengan panjang, berbeda dengan dokter yang duduk di hadapanku sekarang, yang hanya berdiri dan diam di belakangnya sejak kami datang.
Pemuda itu memandangku dengan raut yang sama terkejutnya seperti kami bertiga.
"Catat, catat! Aku tidak mau kau hanya terus berdiri begitu. Kucing saja bisa mencuri ikan jika kubiarkan, apakah kau hanya bisa diam, Sam?"
Kuharap kami tidak salah membaca papan besar bertuliskan bengkel reparasi di depan sebagai rumah sakit.
Dan kuharap nama Adam Singh seperti yang tertera di meja ini tidak terdaftar dalam anggota geng mafia manapun.
"A-apa m...ma...m..ma...masalahnya, nona?" Sam, pemuda yang Nampak pucat itu bertanya dengan terbata-bata.
Aku tidak tahu jika seseorang bisa mengeluarkan keringat sebanyak itu secara tiba-tiba.
"Kurasa kakinya-"
Suara kursi yang berderit tiba-tiba memotong ku. Gerakan sang dokter yang bangkit dan berjalan ke ranjang Mark mengalihkan perhatianku. Perhatian kami lebih tepatnya.
Dipegangnya pergelangan kaki Mark yang otomatis membuat bocah itu mendelik. Satu gerakan kecil dan Mark berteriak.
"MAMA!"
"Bisakah kau berhenti menyentuhnya dan cepat obati?" Anna memaksa.
"Aku harus memastikan separah apa,” Dokter Singh menjawab.
"Sangat parah jadi cepat tangani!" Anna kembali meyakinkan.
"Oh, kalau memang separah itu, kami harus melakukan operasi."
Mark tampak hampir menangis.
"M-mungkin tidak seburuk itu. T-tolong periksa lagi," kataku cepat-cepat.
Dokter itu tersenyum, mungkin mengejek kami, aku dan Anna lebih tepatnya. "Ini hanya terkilir biasa, aku akan meperbannya."
•••
Sekarang kaki Mark terbalut perban elastis yang akan selalu melekat di sana selama 1-2 Minggu ke depan. Aku mencoba beradaptasi dengan itu. Dan, beradaptasi yang ku maksud di sini adalah memerhatikan kaki Mark terus menerus.
Dari gendongan Joshua, Mark menoleh padaku, menatapku sendu.
"Tidak terlalu buruk kok," aku memberitahu, berharap sedikit menenangkan perasaannya.
"Kau dengar apa yang dokter tadi katakan. Istirahat. Baru boleh olahraga setelah satu bulan," Anna menasehati.
Mark menghela napas namun tidak membantah. Walaupun begitu aku tahu kalau dia tidak senang terhadap semua hal yang terjadi. Turnamennya yang hancur dan kakinya yang terkilir. Jadi untuk menyenangkannya aku berujar, "Bagaimana kalau makan es krim sebelum pulang?"
Reaksi yang memuaskan pun aku dapatkan dari Mark. "OKE!!" Jawabnya.
Aku tersenyum hanya dengan melihat senyumnya.
"Alex!" Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara memanggil namaku.
Tidak bisa ku pastikan suara siapa atau dari mana tapi sepertinya bukan hanya aku yang mendengar itu.
Anna menoleh padaku. "Sepertinya seseorang memanggilmu."
"Mungkin Alex yang lain."
Mengingat betapa pasarannya namaku dikalangan pria maupun wanita.
"Alexandra!"
Saat itu jugalah kami serentak membalik badan.
Di antara orang-orang yang lalu lalang di rumah sakit, kutemukan seseorang yang ku yakini memanggil namaku. Persepsi itu sangat menyakinkan karena aku kenal betul siapa dia.
Dia yang membuat semesta seolah membeku di sekitarku saat dia mendekat. Yang membuat dadaku hampir meledak dan bisa-bisanya dia tersenyum lebar seolah tidak punya rasa malu.
"Benar ini kau."
Seharusnya aku mengenali suara itu lebih awal. Seharusnya tidak ku lupakan suara itu walaupun sudah lebih dari enam tahun lamanya. Seharusnya aku tidak merasakan desakan apapun di dadaku yang memaksaku menangis ketika ku tatap onyx itu.
Seharusnya aku sudah mati rasa sejak enam tahun lalu.
"Apa kabar?" Dia bertanya.
"Lebih baik saat aku belum bertemu denganmu."
Sungguh aku ingin mengatakannya, namun bibirku belum sanggup terbuka. Toh aku lebih fokus untuk tidak membiarkan air mataku jatuh.
Keterdiaman ku sepertinya cukup membuat dia jengah karena sekarang matanya tidak lagi terpaku padaku. Dia mengamati orang-orang di sekitarku tanpa melepaskan senyum di wajahnya. Saat manik itu kembali padaku kepercayaan diri itu memudar.
"Kau ..., masih ingat aku, kan?"
Lagi, aku mematung.
"Mama..." Suara lirih Mark tersebut seolah berhasil menyadarkan ku, membuat otakku bak mesin berpelumas yang siap dipakai.
Anehnya hal yang sebaliknya justru terjadi pada seseorang di hadapanku. Senyum itu pudar begitu saja, matanya menatapku tanpa berkedip sebelum pandangannya jatuh, dan aku tahu kemana dia akan memerhatikan jadi aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku sebagai alibi untuk menyembunyikannya.
"Aku harus pergi," kataku.
Dia mengerjab kemudian mengangguk, dengan begitu untuk kedua kalinya aku kembali menjauh darinya.
Dan kuharap Mark tidak menengok kembali ke belakang saat itu, karena aku belum siap dengan tatapan mengadili yang dia berikan, seolah semua kejadian yang terjadi sejauh ini belum cukup memukulku.
Andaikan aku tidak menyetujui turnamen sepakbola ini dari awal.
 ***

Komentar Buku (37)

  • avatar
    sinagaweni

    cerita nyampe sangat bagusss

    18/05/2022

      1
  • avatar
    mulianazahra

    yess bagus

    21/07/2025

      0
  • avatar
    AdjahArsyad

    assalamualaikum

    03/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru