Beranda/Andrew Still Paxly/
6
Bab . Akhirnya
Fajar sudah menyingsing dari ufuk timur, cahaya nan indah menyinari dunia. Kicauan burung dan hembusan angin pagi sangat menyejukkan. Hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang bagi ku untuk melakukan aktivitas bekerja di kantor ayah sebagai staf keamanan kantor. Meskipun ini akan menjadi hari pertama bagi ku ini akan sangat menyenangkan. Aku berharap dapat memberikan kesan yang baik di awal perkejaan ku. Tidak terasa akhirnya aku sudah ada di depan dunia kerja. Meskipun begitu ini bukan lah tantangan yang sesungguhnya bagiku. Aku masih mempunyai misi yang lain, yaitu menolong ayah gadis malang itu dari maut yang akan menjemput dirinya.
Aku akan memulai hari yang sangat penuh dengan perjuangan. Tak lupa aku membawa kitab itu bersama ku, karena aku berharap saat nanti ada waktu senggang akan bisa membaca dan memperkuat ingatan ku untuk menghafal mantra yang ku butuhkan. Barang kali ada lagi arwah penasaran yang membutuhkan pertolongan dari ku agar semuanya bisa dengan mudah kulakukan dan memperkuat dan membuktikan apakah mantra ku berhasil atau tidak. Kemudian jam sudah menunjukkan di arah jam 07.00 pagi tidak terasa aku begitu lamanya di kamar Jack menceritakan mengenai kedatangan kakek moyang di mimpi ku. Hal itu sangat membuat Jack sangat antusias dan semakin penasaran akan hal apa yang akan terjadi padaku. Begitu banyak gurauan dan juga candaan keluar dari mulut kami. Hubungan kami sebagai Abang adik sangat dekat bahkan bisa di bilang dia terkadang seperti Abang bagi ku dan dia menganggap ku sebagai adik baginya. Hal semacam ini tidak membuat kami merasa canggung bahkan apa yang menjadi masalah ku akan menjadi masalah nya juga begitulah sebaliknya. Setiap masalah yang dia hadapi dia juga akan menceritakan kepadaku lebih awal dari pada bercerita kepada ibu. Kami berdua memang Abang adik yang sangat akrab sekali. Sampai terkadang ayah dan ibu cemburu dengan keakraban kami sebagi abang adik. Meskipun sagat akrab sama halnya pasti ada masalah pertengkaran kecil-kecil an dikarenakan keusilan kami satu sama lain.
"Andrew, ini sudah jam 07.00 kau tidak mandi bukan kah hati ini kalian akan berangkat kerja? Ini hati pertama mu bukan cepatlah mandi!" Suruh Jack kepada ku.
"Oke, oke. Kalau begitu aku akan pergi mandi dulu. Jika kau tidak keberatan masukkan barang yang ku butuhkan untuk hari ini dan jangan lupa untuk memasukkan kitab itu kedalam ransel ku! Mana tahu nanti aku memiliki waktu senggang atau istirahat aku akan membacanya untuk melatih kembali kemampuan mantra yang telah ku pelajari selama ini!"
"Oke baiklah Abang"
Kemudian aku mengambil langkah untuk pergi ke kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk pergi bekerja di hari pertama ku sebagai staf keamanan. Kuambil handuk, ku nyalakan keran air dan aku mandi di bawah air mancur sungguh segar rasanya. Beberapa menit kemudian mandi dan juga persiapan ku telah selsai. Ayah, ibu Jack dan juga aku sudah berada di meja makan yang sama. Kemudian alami sarapan dan menikmati waktu kebersamaan yang indah sebelum kami berangkat kerja dan meninggalkan rumah dan ibu sendirian. Memang ibu memilih untuk berhenti setelah aku mendapatkan penglihatan ini dan juga dia merasa ingin membagi waktunya kepada kami saat di rumah maka dia tidak lagi bekerja di kantor yang sama dengan ayah. Bagi ayah ibu adalah partner kerja yang sangatlah berharga setiap pekerjaan ayah pasti akan di handel dengan baik oleh ibu. Juga ayah sekarang tidak lah begitu sibuk lagi karena ayah juga ingin segera mengundurkan diri dan pensiun dini untuk menikmati masa-masa bersama kami. Memang ayah sudah mengidap penyakit, namun dia tetap gigih dan juga masih mau bertahan untuk bekerja. Kemungkinan besar ayah akan mengundurkan diri dari kantornya dua tahun lagi.
"Andrew, kau sudah siap hati ini?"
"Sudah ayah, Andrew jadi tidak sabar ingi segera bekerja di kantor sebesar itu. Andrew akan mengambil pengalaman yang begitu berharga dari hal ini."
"Tumben kau begitu semangat bang? Ada apa gerangan dengan mu?"
"Jack, kau tidak boleh begitu kepada Abang mu sendiri!"
"Aku hanya bercanda Bu, dia terlihat sangat semangat sekali hari ini"
"Iya Bu apakah aku terlihat begitu semangat?"
"Coba tanya ayah mu!?"
"Benar begitu kah ayah?"
"Menurutmu bagaimana? Kau sangat beda hari ini. Ada sesuatu yang kau ingin katakan atau sembunyikan dari ayah?"
"Sungguh ayah tidak ada, aku hanya ingin memberikan kesan pertama yang sungguh bagus untuk ini"
"Waw, kenapa tidak dari dulu. Abang, apakah kau tidak mau kuliah lebih awal? Haruskah kau menunggu ku tunggu lulus dari sekolah?"
"Menurut ku ini hal yang baik, aku ingin menambah pengalaman dulu supaya sat kita masuk di universitas yang sama aku bisa menjaga mu!"
"Anak ibu sudah mulai bijak sana"
"Ah ibu bisa saja, Andrew jadi malu"
"Kenapa mesti malu sayang, kan bagus"
"Sudah-sudah ini sudah jam 07.30. Kita harus segera bergegas. Nanti akan mengurangi kesan pertama mu untuk bekerja hari ini!" Kata ayah menyudahi perbincangan singkat kami.
"Iya ayah baiklah. Ibu, Jack kami pergi dulu ya" sambil menyalami tangan ibu dan berpamitan meninggalkan meja makan dan menggendong tas ransel yang ku pesankan kepada Jack untuk di siapkan tadi"
"Hati, hati ya sayang, ayah nanti jagain Andrew ya" sahut ibu.
"Hati-hati ayah, dan Abang"
"Iya Bu. Lagian dia kan sudah dewasa!"
"Ah, ibu aku tidak akan menghawatirkan ayah nanti saat bekerja. Nanti malah jadi beban kalian. Aku pasti bisa menjaga diriku"
"Kalau begitu kami pergi dulu ya Jack, ibu" sahut ayah sambil mengusap kepala Jack"
Mobil pun di pacu dan berjalan menuju tujuan. Beberapa jam kemudian akhirnya kami sampai di depan gedung kantor tempat aku bekerja. Ayah memberikan kunci mobil dan menyuruh tukang parkir untuk memarkirkan mobil itu.
"Andrew kau sudah tahu bukan ruangan om Frans?"
"Iya ayah sudah"
"Kalau begitu ayah langsung saja ke ruangan ayah nanti kalau kamu perlu datang saja nanti ke lantai empat di ruangan L4. CP. Reg. Nanti tanya saja kepada petugas di sanna pasti dia tahu jika kamu tidak menemukan ruangannya."
"Baik ayah," akhirnya kami berdua naik lift, ayah memencet di angka nomor dan nomor dua. Dan akhirnya kami berpisah ayah ke lantai berikutnya dan aku di lantai dua menemui om Frans.
Aku mencari ruangan tempatnya kemarin. Ku tapak i dan ku jejak i setiap ruangan akhirnya baku menemukan ruangannya dan mengetuk pintu. Tok, tok, tok.. "permisi?"
"Ya, silahken masuk"
"Pagi om,"
"Selamat pagi, eh kamu nak Andrew? Sudah siap hati ini?"
"Sudah om, apa saya bisa langsung ke lantai tiga belas sekarang menggantikan petugas yang sudah sif malam?"
"Boleh, boleh. Apa om perlu menemani kau lagi kelantai tiga belas?"
"Tidak usah paman biar saya saja sendiri. Yang penting saya sudah mendapat izin dari om untuk segera bertugas"
"Baiklah kalua begitu, ini ganti lah baju mu dengan pakaian staf di kantor ini agar kau terlihat sebagai staf!" Sambil om Frans memberikan sebuah bungkusan berisi setelan baju formal untuk staf keamanan.
"Baik, om. Andrew bisa pinjam toiletnya sebentar untuk mengganti baju?"
"Ya, silahkan!"
Aku menggantikan baju yang ku pakai dengan seragam yang di berikan oleh om Frans. Setelah berganti aku keluar dari toilet dan segera menemui om Frans untuk segera bertugas.
"Om, saya izin ke sana langsung ya om"
"Ya silahkan, nanti mereka pasti tahu kalau kamu adalah staf keamanan yang baru"
"Baik om, terimakasih ya om. Oh iya ini baju gimana om?"
"Tidak usah di bayarkan. Ini khusus buat kamu. Sudah di pesan oleh ayah mu lebih awal jadi tidak usah sungkan-sungkan untuk memakainya!"
"Baik om, kalau begitu saya bertugas dulu pak,"
"Tidak usah panggil pak, panggil saja om"
"Tidak apa-apa pak, di luar saya memanggil om saja di sini saya adalah bawahan bapak."
"Ya sudahlah lalu begitu nak Andrew"
Perasaan gembira menjalani tugas pertama begitu adanya. Aku menuju lift dan memasuki serta menekan tombol lift lantai tiga belas. Orang-orang yang bersama ku di dalam lift begitu ramahnya saat aku menatap ke arah mereka, terutama karena dinas kerja yang ku pakai. "Waw, beginilah yang dinamakan kerja pasti semua orang saling menghargai satu sama lain akan profesinya" pikirku dalam hati.
Kemudian ada seorang wanita menanyai ku.
"Pak, apa bapak baru kerja hari ini?"
"Iya benar Bu, kenapa ya. Maaf kalau kurang sopan ya Bu"
"Tidak, justru kami salut bapak baru bekerja langsung mau ke lantai tiga belas. Itu hal yang sangat keren si pak"
"Hehehe ibu bisa aja. Makasih ya Bu. Semoga betah kerjanya di sini"
"Sama-sama pak,"
"Ibu di lantai berapa?"
"O kebetulan saya di lantai tiga belas juga pak"
"Sama dong,"
"Iya pak," kemudian lift berhenti dan menunjukkan di angka tiga belas. Kami keluar dan menuju tempat kerja masing-masing.
"Mari pak," sahut ibu itu kemudian kami berpisah.
"Iya ibu, semangat kerja nya ya!"
"Iya, pak makasih. Bapak juga semangat"
Aku menuju pos jaga di sebelah kanan delapan meter dari pintu lift. Disana aku melihat ada seorang penjaga juga, namun tampaknya dia juga anak baru di sini. Aku menyapa dan bertanya kepadanya. "Permisi pak, perkenalkan saya staf keamanan baru di sini dan saya di tugaskan di sini juga."
"Iya pak, saya juga anak baru ko Disni. Oh iya tadi petugas sif malam sudah pergi deluan jadi dia langsung saja sekalian pulang. Oh iya nama kamu Andrew kan. Aku Tommy" sambil dia menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan ku.
"Iya benar aku Andrew, salam kenal ya. Kenapa langsung pulang. Apa aku terlambat ya?"
"Tidak juga, seharusnya jam ganti tugas jam 08.20 dan ini baru saja jam segitu"
"Oh, untunglah saya kira saya terlambat ha-ha-ha""
Kemudian kami berdua berbincang menjalin keakraban antara sesama rekan kerja. Panjang lebar kami berbicara sambil memantau dari layar cctv. Sungguh belum ada kesibukan di sini.
MakanUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (52)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Cerita ini sangat memuaskan hati kerana pada plotnya ia sangat menarik ,kita ini mempunyai pengajaran yang hebat demi menyelamatkan seseorang
28/04/2022
0bagus banget
26/04
0bagus
18/02
0Lihat Semua