4

Jam sudah menunjukkan pukul 16.22 waktu setempat. Aku teringat dengan kata ayah yang mengatakan dia akan kembali ke kantor untuk menemui seseorang lagi dan akan mengajak ku turut serta menemaninya. 
"Andrew, kau sudah siap? Tanya ayah dari balik pintu kamar.
"Sudah ayah, Andrew sudah siap"
"Kalau begitu mari kita bergegas tampaknya ini akan sedikit mendung"
"Baik ayah"
Kami berdua bergegas menuju mobil kantor yang di pakai ayah setiap hari dia pergi ke kantornya. Di barengi dengan berpamitan kepada ibu dan Jack mobil pun melaju dan luput dari pandangan mereka berdua. 
"Ayah sebenarnya ada urusan apa ayah ke kantor lagi? Sudaha sore begini dan sebentar lagi akan turun hujan!"
"Ayah tiba-tiba ada klien yang ingin memasang saham di perusahaan kantor ayah bekerja."
"Lantas apa yang akan ku lakukan di sana ayah?"
"Kamu akan ayah kenalkan kepada manager ayah, sekaligus kamu akan ayah tawarkan kerja di sana juga. Mungkin kamu bisa cocok toh juga kamu bilang kau ingin bekerja dulu sampai adikmu tamat sekolah bukan?"
"Iya Ayah, Andrew senang mendengarnya. Andrew akan berusaha untuk mengumpulkan pengalaman dan bisa bekerja di perusahaan seperti ayah."
"Itu tergantung kamu, tapi ayah sarankan jangan sampai kamu tidak berniat kuliah lagi! Ayah sarankan kamu tetap dalam menjejaki pendidikan karena ini penting bagimu untuk membuatmu lebih dewasa!"
"Baik ayah, Andrew akan berusaha semampu dan sekuat tenaga"
Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang dari 1 jam akhirnya samapi di pusat kota Moldomor. Persimpangan jalan menuju kantor ayah sudah cukup dekat. Hingga 7 menit kemudian dari persimpangan menuju kantor ayah sudah di depan mata. Terlihat jelas bangunan megah bertingkat. Itu adalah gedung kantor ayah. Mobil akhirnya di berhentikan di depan pintu masuk dan ayah menyuruh pak satpam untuk memarkirkannya. "Pak, tolong di parkiran ya" sambil keluar dari mobil dan di ikuti dengan aku yang juga keluar dari mobil. Pak satpam itu memarkirkan mobil ke tempat parkiran. Kemudian kami melangkah dan menapaki tangga depan menuju lantai dua. "Ayo Andrew kita dari tangga ini saja, ayah ingin menjumpai seseorang di sana yang nanti bisa mengajari mu beberapa hal!"
"Baik ayah, mengapa tidak dari lift saja ayah?" Tanya ku.
"Sudahlah nak, jangan mengeluh ini tidak seberapa!"
"Baik ayah," namun dalam pikiranku aku hanya tidak ingin ayah terlalu cape menaiki tangga.
Sambil menaiki dan menapaki tangga. Akhirnya sampai juga di ruangan L2-031.B.
Kemudian kami masuk untuk bertemu dengan seseorang yang ayah maksud kan.
Terlihat dari jarak yang tidak cukup jauh dari pintu ruangan ada seorang pria berkisar umur 40 tahun-an. Memakai baju berwarna biru muda berbahan Katon.
"Hey, selamat sore tuan Alex Paxly?"pria itu memanggil nama ayah dan menghadap ke arah kami.
"O hai" jawab ayah dan menuju arahnya. "Ayo Andrew itu pria yang ayah maksud!"
"Baik ayah," sesampainya tepat di depan pria itu mereka berdua bersalaman dan ayah memperkenalkan aku kepadanya.
"Perkenalkan ini anak ku Andrew yang ku bicarakan beberapa hari lalu! Andrew ini perkenalkan ini om Frans!"
Di ikuti dengan aku meraih tangannya dan bersalaman. "Andrew om"
"Om, Frans."
"Oh iya, Andrew om ini sebagai kepala staf keamanan di kantor ini" kata ayah.
"Iya benar yang ayahmu katakan om menjabat sebagai kepala staf keamanan di kantor ini"
"Kali begitu, pak Frans tolong di ajak bicara ini anak saya. Saya akan menjumpai klien di lantai tujuh. O iya Andrew ayah tinggal kamu di sini sebentar dengan om Frans nanti ayah akan kembali lagi ke sini!"
"Baik tuan, Alex" jawab pria berusia empat puluh tahunan itu.
"Baik ayah" sambil mengangguk meng iyakan perkataan ayah.
"Ya sudah, ayah tinggalkan kalian ya! Frans titip anak saya ya beritahu dia apa yang akan menjadi pekerjaan yang akan dia lakukan!"
"Baik tuan" kemudian ayah pupus dari pandangan kami berdua keluar dari ruangan menuju lantai tujuh yang di maksud ayah.
"Om Frans, ijin bertanya apa saja yang sudah ayah katakan kepada om?"
"Oh mengenai hal itu. Kita di ruangan dalam aja ya ngomong"
"Baik om"
Kami berdua masuk ke dalam ruangan di dalam seperti ruang kontrol keamanan berisi layar berisi rekaman cctv. Dia mempersilahkan aku duduk. Kebetulan di ruangannya sedang kosong hanya ada kami berdua.
"Silahkan duduk!"
"Baik om"
"Mengenai hal yang kamu tanyakan tadi, sebenarnya ayah mu hanya mengatakan bahwa kamu ingin bekerja di sini. Jadi om meng iyakan perkataan ayah mu dan memberikan mu kesempatan untuk bekerja di sini!"
"Benarkah om?"
"Ya, benar. Hanya saja apakah kamu mau bekerja sebagai petugas keamanan ?"
"Saya mau om"
"Baiklah kalau begitu, om terima kamu menjadi bagian staf keamanan di kantor ini hari ini"
"Tapi, apa memang tidak perlu berkas untuk mendaftar ke sini om?"
"Tidak usah, ayah mu sudah banyak membantu om. Mengapa tidak jika om membantu anaknya. Om senang jika bisa membantu ayah mu."
"Terimakasih banyak ya om. Akhirnya saya
 bisa memiliki pekerjaan sendiri"
" Memangnya nak Andrew tidak mau lanjut?"
"Tidak dulu kalau saat ini om. Saya masih nunggu adik saya Jack. Lebih bagus aku dan dia berbarengan kuliahnya. Lagipula aku biar bisa menjaga dia juga disaat yang bersamaan."
"Kalua begitu, itu adalah ide yang bagus. Om hanya ingatkan, alangkah baiknya kamu melanjutkan saja sih, tapi jika kamu menginginkan seperti ini tidak apa-apa. Itu adalah keputusan yang cukup berat juga bagi mu"
"Iya om, Andrew sudah pikirkan matang-matang juga. Setidaknya bisa menambah pengalaman dulu. Supaya nanti bisa terbiasa dengan dunia perkuliahan atau apa pun itu."
"Kamu memang orang yang baik"
"Terimakasih om"
"Satu hal, apakah jika nanti om suruh di bagian sif malam Andrew setuju?"
"Setuju om, itu tidak jadi masalah. Nanti jika harus sif malam Andrew akan bicarakan juga dengan ayah dan ibu agar tidak khawatir"
Begitulah sebagian dari perbincangan kami yang cukup lama. Suara kamu berdua mengisi ruangan itu dengan di selingi beberapa candaan dan tawa. Ternyata om Frans juga orang yang baik dan enak untuk di ajak bicara. Karena dalam otakku terlintas sedikit mengenai sejarah keluarga Paxly akhirnya ku coba menanyai om Frans.
"Om boleh bertanya tidak?"
"Ya, silahkan jangan sungkan-sungkan"
"Om, jadi begini dalam benak ku sempat terlintas mengenai sejarah mengenai kota ini dan juga penduduk awalnya. Apakah itu benar adanya om, jika dulu ada empat pemimpin utama di kota ini?"
Sepertinya om Frans sedikit heran mengapa anak semuda aku bisa tahu mengenai hal itu. 
"Om, hanya tahu beberapa saja tidak tahu seutuhnya. Memang benar dulu ada empat pemimpin utama setiap marga dari keluarga yang sudah lama mulai hilang dari kota ini. Termasuk keluarga Paxly hanya tinggal sedikit saja yang masih mau bertahan di sini."
Belum juga dia melanjutkan lagi aku memotong pembicaraan dari om Frans. 
"Om maaf sebelumnya, kalau om sendiri bagaimana. Om berasal dari keluarga apa?"
"Oh om sendiri adalah keturunan keluarga Edward. Meskipun begitu sama juga halnya dengan keluarga Paxly tetap saja tidak begitu banyak yang mau tinggal di kota ini. Cukup ketat persaingan di kota ini. Kebanyakan dari keluarga Morgan yang mengambil alih setiap kepemimpinan di kota ini."
"Memang sekejam itu kah mereka om?"
"Mereka sebenarnya dahulu dikatakan tidak seperti itu. Namun setelah mereka menguasai semuanya karena kepintaran yang melebihi dari ke tiga marga utama itu mereka menjadi semena mena akan semua kekuasan dan hak"
Sepertinya om Frans seperti tersulut emosi membicarakan mengenai keluarga Morgan. Akhirnya ku sudahi saja, karena takut bisa membuat dia bersedih mengingat akan hal kelam di masa dulu.
"Om Frans maaf ya sudah bertanya jadi buat om Frans emosional begini"
"Tidak apa-apa nak, om teringat juga dengan kisah ayah om dulu pernah bilang keluarga Morgan tega menghabisi nyawa siapa yang menghalangi setiap pekerjaannya."
Aku merasa kasihan, namun tidak ada yang bisa ku ucapkan hanya sepatah kata, "om harus bersyukur juga kita masih bisa hidup tenang di sini"
"Iya nak, om sangat senang sekali dan merasa bersyukur akan hal itu."
Lama- kelamaan akhirnya pembicaraan mulai kembali tenang dan sudah beralih.
"Oh iya om, tugas ku di sini mengawasi lantai berapa? Karena ini kan ada banyak sekali lantainya?"
"Iya, sampai kelupaan. Kamu mau di lantai berapa? Soalnya ini ada lantai tiga belas dan sembilan belas satpamnya kebanyakan tidak tahan dan merasa takut kalo bertugas disana!."
"O begitu ya om, boleh juga sih menantang juga mau tugas di lantai tiga belas"
"Boleh, tapi hati-hati saja nak Andrew kalau tidak kuat minta sama om untuk pindah. Om pasti akan gantikan kamu dengan posisi di lantai lainya!. Dari cerita satpam yang bertugas katanya aura di lantai tiga belas lebih kuat di bandingkan lantai sembilan belas."
"O, begitu ya om. Tidak apa-apa lagian masih muda harus banyak tantangan-tantangan" sambil tertawa kecil.
"Ya sudah kalau kamu se yakin itu paman izinkan kamu di lantai tiga belas! Tapi ingat jangan sampai membahayakan diri sendiri kalau tidak kuat katakan langsung kepada om!"
"Beres om"
"Kalau begitu mari om antar kamu keruangan lantai tiga belas dulu. Siapa kamu tau kondisi mana yang akan kamu jaga juga biar nanti adaptasi dengan satpam di lantai tiga belas dan lantai di bawah atau di atas nya!"
"Boleh om, Andrew penasaran juga"
 Kami berdua Beranjak dari ruangan menuju lift. Didalam lift berdiri hanya kami berdua tidak ada satupun orang yang ikut lagi di dalamnya. Seketika aku mencium aroma yang sama dengan aroma dari roh gadis malang yang mendatangi aku untuk membantu ayahnya. 
"Om, apa kau mencium aroma ini?" Tanya ku kepada om Frans tanpa menyadari itu adalah aroma roh.
"Aroma? Tidak ada aroma ayang tercium selain wangi parfum mu dan parfum om"
"Benarkah om?" Secara langsung aku sadar dan teringat gadis itu. Bunyi lift ber denting di angka tiga belas itu adalah ruangan yang kami tuju.
"Nah, ini dia lantai tiga belas yang om maksudkan kepadamu untuk menjaga di area ini"
Kami menjalani dan mengelilingi setiap sudut ruangan mengetahui titik mana saja yang akan di jaga.
Sepertinya ada aroma asing yang hampir mirip dengan aroma roh gadis malang itu. Saat mengelilingi bagian demi bagian ruang dari lantai tiga. Aroma yang tadi ku cium sepertinya semakin kuat dari area ruangan L13.012.C.Rpt. Namun om Frans tidak membuka pintunya karena di dalam sedang ada rapat dengan klien. 
Kejanggalan yang ku rasakan semakin membuatku penasaran. 

Komentar Buku (52)

  • avatar
    Sitimusyirah Imran

    Cerita ini sangat memuaskan hati kerana pada plotnya ia sangat menarik ,kita ini mempunyai pengajaran yang hebat demi menyelamatkan seseorang

    28/04/2022

      0
  • avatar
    GodAkil-

    bagus banget

    26/04

      0
  • avatar
    Jahra Nabila

    bagus

    18/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru