Beranda/Selir Sang Pangeran/
Bab 32 Pewaris
Sekar menatap burung-burung yang sedang berkicau di dahan pohon. Pikirannya melayang entah ke mana. Sementara pipinya basah dengan air mata yang sejak tadi menetes. Wanita itu membalik badan dan menatap kamar yang sejak satu minggu ini tak boleh dimasuki siapapun, kecuali orang-orang tertentu. Dan dia termasuk salah satunya.
Ada Wijaya di sana, dengan kondisi luka bakar pada wajah dan beberapa bagian tubuh yang melepuh karena insiden malam itu. Dia sendiri terkena di bagian tangan dan dada, tetapi tidak parah sehingga tak memerlukan perawatan khusus. Sekar tak boleh merawat suaminya, hanya Prameswari yang diberikan amanat. Hal itu ditetapkan setelah banyak pertimbangan. Salah satunya adalah saat lelaki itu sakit dulu.
Selain itu, Wijaya terkena musibah saat bermalam bersama dengan Sekar. Jadi wanita itu dianggap sebagai pembawa sial. Apalagi pelakunya adalah Kamandanu yang hendak membalas dendam. Maka semakin lengkaplah tudingan yang dialamatkan kepadamya.
Ratih mencoba membujuk putrinya agar bersabar dan menerima, hingga permasalahan mereda dengan sendirinya. Untuk saat ini diam adalah pilihan yang terbaik, karena percuma saja jika Sekar berbicara. Tak ada lagi yang menaruh simpati kepadanya. Ratu bahkan meminta wanita itu berdiam di kamar dan tak mencampuri pengobatan suaminya.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Mau mencelakai suamiku lagi?" sindir Prameswari saat Sekar tak beranjak pergi setelah ditolak masuk.
Sekar menoleh dan mengusap air mata. Dia memang pernah marah kepada Wijaya, tetapi tak pernah berniat mencelakai suaminya. Kebaikan yang Wijaya berikan selama ini telah membekas di hatinya. Benih-benih cinta itu tumbuh tanpa dia sadari. Walaupun hampir layu setelah mengetahui dalang penculikan Kamandanu yang diceritakan oleh ayahnya.
Hari itu, ketika berada di pondok dan bicara berdua dengan Kamandanu, Sekar meminta satu hal. Lelaki itu tak boleh membunuh suaminya sekalipun menyimpan dendam. Dia meminta maaf atas perbuatan Wijaya yang telah memisahkan mereka dengan cara yang kotor.
Kamandanu menyanggupi permintaan itu dengan satu syarat. Jika terjadi sesuatu hal kepada Sekar, maka wanita itu harus meninggalkan keraton dan kembali kepadanya. Mereka membuat kesepakatan yang saling menguntungkan. Dan hari ini ini dia akan memenuhi janji.
"Aku ingin bertemu Kangmas, walaupun hanya sebentar."
"Dia tidak ingin bertemu denganmu. Apa kau masih pula malu?" tanya Prameswari ketus.
"Tolong, Ndoro Ayu. Hamba ingin bertemu dengan Raden sekali saja. Walaupun ini untuk yang terakhir," pinta Sekar sembari meraih lengan Prameswari. Sayang, tangannya ditepiskan dengan kasar.
Saat ini Prameswari yang berkuasa sepenuhnya atas Wijaya, setelah sekian lama diabaikan bahkan tak dianggap. Akhirnya kesabaran wanita itu membuahkan hasil. Suaminya memilih untuk kembali kepadanya walaupun dengan cara seperti ini.
"Sebaiknya kau segera pergi dari sini. Tempatmu bukan di keraton. Kau hanyalah hamba sahaya yang beruntung karena Raden telah dibutakan oleh cinta. Kau tak tak tahu tata karma kami, para kaum bangsawan. Sehingga kau tak pantas mendampingi Raden," sindir Prameswari.
Air mata Sekar kembali menetes. Ucapan itu sangat menyakiti hatinya. Sejak awal wanita itu memang sudah menolak saat diminta bekerja untuk mereka. Hanya saja Wijaya kerap memaksanya. Kini ketika sesuatu terjadi di luar kuasanya, justeru dia yang dituduh menjadi penyebabnya.
"Hamba akan pergi setelah bertemu dengan Raden," pinta Sekar.
Prameswari menatap Sekar dengan pandangan jijik, lalu mengangguk dengan malas. Wanita itu berharap setelah ini tidak ada lagi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangganya. Jikapun nantinya ada, harus dia yang memilih siapa yang layak menjadi selir Wijaya.
***
Sekar mendekati ranjang itu dengan hati berdebar. Entah bagaimana sikap Wijaya nanti, wanita itu memilih pasrah. Tubuh suaminya terlihat kurus karena kesulitan makan. Hal itu dia dengar dari dayang yang setiap hari mengantarkan makanan.
"Kangmas, aku datang," bisik Sekar.
Wijaya yang tadinya terlelap menoleh ke arah Sekar dengan kesulitan. Lelaki itu tak bisa berbicara karena setiap gerakan akan menimbulkan perih di wajahnya. Berbagai tabib sudah didatangkan untuk membantu pengobatan. Dia bisa sembuh, hanya memerlukan waktu yang lama.
"Kar...." lirih lelaki itu. Setelahnya dia mengernyitkan dahi karena rasa nyeri yang luar biasa.
"Aku ingin meminta maaf kepada Kangmas jika pernah berbuat salah. Selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik. Selalu menyusahkan Kangmas saja," ucapnya sembari tersenyum.
Sekar tak akan menangis di hadapan suaminya. Sudah cukup air matanya tumpah. Dia harus kuat agar Wijaya segera pulih, sekalipun itu tanpa dirinya.
"Kangmas. Aku hanya berharap satu hal setelah kau sembuh. Kau hidup bahagia selamanya."
Sekar mengecup dahi Wijaya, lalu meraih jemari sang suami dan menciumnya sebagai tanda bakti sebagai seorang istri. Dia menarik kain sutera dengan benang emas yang lelaki itu berikan kepadanya sewaktu menikah dulu.
Sekar meletakkan kain itu di tubuh Wijaya dan berjalan meninggalkan kamar.
"Kar. Jangan pergi--" lirih Wijaya yang tak didengar oleh istrinya. Lelaki itu mencoba menggapai tetapi tangannya tak sampai. Dia tak berdaya. Racun yang ditebar Kamandanu di sekeliling ranjang melemahkan tubuhnya.
***
Sekar memasukkan beberapa benda yang akan dia bawa ke dalam sebuah tas kain berukuran besar. Wanita itu membuka laci paling bawah, tempat di mana seserahan dari Kamandanu dia sembunyikan. Tangannya bergetar ketika membuka kotak yang berisikan seuntai kalung emas. Lalu dia kembali memasukkannya bersama dengan barang yang lain.
"Ndoro Ajeng mau ke mana?" tanya dayang ketika melihat Sekar berkemas.
"Aku mau pulang ke pondok. Kau baik-baiklah di sini."
Sekar menghentikan ativitasnya dan menatap dayang dengan lekat. Hatinya terasa berat jika harus berpisah. Namun, ini adalah keputusan yang terbaik. Prameswari sudah membuat pernyataan bahwa hanya dia yang berhak mendampingi Wijaya. Itu berarti kehadirannya sudah tak berarti.
"Tapi Ndoro ndak boleh meninggalkan keraton," cegah dayang.
Sekar menarik napas panjang lalu mengulum senyum dan berkata, "Raden sudah ndak membutuhkan aku lagi."
"Raden membutuhkan Ndoro Ajeng. Raden mencintai Ndoro Ajeng. Hanya saja dia sakit. Jadi ndak bisa berbuat apa-apa. Ndoro jangan pergi," ucap dayang sembari menangis.
Sejak Sekar diangkat menjadi selir, dayang itulah yang menemaninya hingga sekarang. Sehingga dia mengetahui kisah cinta mereka, yang tak selalu manis tetapi sangat kuat. Selama ini dia menyaksikan sendiri betapa Wijaya begitu mencintai selirnya hingga tak mau berpisah. Hanya karena kemarahan waktu itu, sehingga banyak yang menyalahkan majikannya.
"Aku titip kamar ini untuk selir yang baru. Doakan agar aku bahagia."
Dua wanita itu berpelukan dengan erat. Dayang bahkan meraung karena tak rela berpisah. Sekar adalah majikan yang paling baik selama dia bekerja. Mungkin karena sama-sama berasal dari rakyat biasa sehingga wanita itu tak pernah berbuat semena-mena.
"Hati-hati, Ndoro Ajeng," ucap dayang sembari mengusap air mata.
"Mulai hari ini aku sudah bukan Ndoro-mu. Ketika kakiku melangkah keluar dari keraton, maka statusku sudah sama sepertimu. Jika suatu hari kita bertemu di luar, maka kau tak perlu sungkan."
Sekar berjalan pelan meninggalkan keraton melewati pintu belakang. Ada sebuah kereta yang sudah menunggu untuk membawanya pergi. Di dalamnya terdapat Ratih dan Daksa yang sudah siap dengan barang-barang yang akan mereka bawa.
Ratu meminta mereka meninggalkan keraton agar selamat dari hukuman. Daksa terbukti telah membantu Kamandanu dengan mengobati lukanya. Keluarga mereka dianggap bersekutu untuk membalaskan dendam kepada Wijaya.
Raja tak akan menghukum kusir kesayangannya karena tahu Daksa tidak bersalah. Namun, berita di luar santer terdengar sehingga keputusan itu harus diambil. Sebagai imbalannya, sekantong uang emas diberikan kepada mereka untuk memulai kehidupan baru.
"Jalan, Pak," titab Ratih ketika Sekar memasuki kereta.
Daksa memacu si liar dengan sekuat tenaga. Lelaki itu harus rela mengorbankan kesetiaannya kepada keraton, demi putri semata wayang. Tujuan mereka adalah daerah pinggiran kota yang tak akan dilalui para penghuni keraton. Di sana telah menunggu seseonang yang telah berjanji akan melindungi mereka sampai mati.
***
Raja menatap ketiga putranya yang sedang berlutut dan menunggu perintah. Hari ini dia akan menentukan pewaris tahta karena merasa lelah mengurus pemerintahan. Usia yang sudah sepuh membuatnya sulit untuk berkonsentrasi dalam membuat keputusan.
Ada banyak musibah yang terjadi selama dua tahun terakhir, hingga raja merasa sudah waktunya untuk mengundurkan diri. Keputusannya itu didukung oleh ratu walaupun mendapat penolakan dari para petinggi dan tetua. Beberapa selir juga merasa keberatan karena mereka akan kehilangan kekuasaan.
"Anak-anakku. Ayahmu ini sudah tua. Rasanya sudah tak pantas mengurus keraton dan segala permasalahannya," ucap Raja memulai pembicaraan.
Ketiga pangeran mengangkat wajah. Adiguna terlihat senang karena sebentar lagi dia yang akan menggantikan posisi ayahnya. Abimana tampak tenang dan mendengarkan ucapan itu dengan khidmat. Wijaya yang terlihat berbeda karena wajahnya terdapat bekas luka. Lelaki itu terlihat tenang karena sejak awal sudah mengatakan tidak bersedia menggantikan ayahnya.
"Sudah saatnya kalian yang melanjutkan."
"Kami siap, Kanjeng Gusti," jawab Adiguna yakin.
Malam itu saat Wijaya diserang oleh Kamandanu, Adiguna sudah menyiapkan pasukannya untuk membantu penyerangan, jika ternyata rencana mereka gagal. Sayangnya, Arya juga sudah siap dengan prajurit khusus sehingga lelaki itu tak dapat bergerak. Hal itu diketahui oleh raja dan beliau sangat murka.
Pasukan Adiguna dibubarkan paksa dan diambil alih oleh Arya. Sementara Adiguna mendapatkan hukuman kurungan selama satu bulan dan cambuk sebanyak sepuluh kali. Lelaki itu tak diizinkan keluar dari area kamar dan berhubungan dengan selir. Setelah dia menyadari kesalahan, raja memberikan ampunan dan kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Anakku, Abimana."
"Dalem, Kanjeng Gusti."
"Kaulah yang berhak menggantikan aku menduduki tahta ini. Kau yang paling bersih dan bersikap lebih dewasa dibanding saudaramu yang lain."
Semua orang yang berada di ruangan itu tersentak tak percaya. Adiguna bahkan hendak protes, tetapi Arya langsung berdiri dengan memegang pedangnya, sehingga lelaki itu tak berani.
Wijaya memilih diam tetapi mengulum senyum atas keputusan ayah mereka. Dia sangat setuju jika kakak kedua yang mengantikan ayah mereka.
"Adiguna dan Wijaya. Kalian berdua harus membantu Abimana menjalankan pemerintahan," titah raja.
"Sap, Kanjeng Gusti," jawab mereka serentak.
Adiguna mengepalkan tangan karena tak terima. Namun, Wijaya menepuk bahu sang kakak agar menerimanya dengan lapang dada. Dia bahkan memaafkan lelaki itu karena telah bersekutu dengan Kamandanu untuk mencelakainya, walaupun sebenarnya ratu tak terima.
"Apa kau keberatan, Adiguna?"
"Ti ... dak, Kanjeng Gusti. Hamba menerima," jawab Adiguna lemas.
"Kalau begitu, dengan disaksikan oleh semua menteri, para tetua dan petinggi keraton. Aku menyerahkan mahkota dan kekuasaan kepada putra keduaku, Raden Abimana. Kelak dia yang akan memimpin kalian menuju kejayaan dan kemakmuran."
Suara riuh dan tepuk tangan bergemuruh terdengar seantero ruangan. Ratu menekuk bibir karena kesal, sementara selir kedua tersenyum bahagia karena putranya yang terpilih. Raden Ambawati, permaisuri Abimana berlari memeluk suaminya. Sementara Prameswari ikut senang mendengarnya.
"Minggu depan adalah acara pengukuhan Abimana menjadi raja baru. Buka semua pintu gerbang dan biarkan rakyat menyaksikannya."
Semua orang menyanggupi titah sang raja. Para menteri saling berbisik dan berdiskusi mengenai apa yang akan mereka siapkan untuk penyambutan.
"Arya, tempatkan pengawal terbaikmu di setiap sudut keraton. Tebar sihir dan mantra untuk melindungi wilayah kita dari serangan jahat."
Arya memberikan hormat sebagai tanda patuh atas perintah.
"Wijaya, panggil guru dan rekan seperguruanmu. Sudah saatnya prajurit kita mempelajari sihir untuk memperkuat pasukan."
Wijaya tertegun mendengarnya, tak menyangka jika ayah mereka begitu pemaaf. Selama ini raja cukup kejam dalam memutuskan hukuman. Mungkin karena usianya yang semakin sepuh sehingga sudah tak mau sembarangan mengambil keputusan.
"Untuk para selir dan kau Permaisuriku. Terima kasih karena telah mendampingiku selama bertahun-tahun. Mohon maaf jika ada kesalahan. Aku--"
Raja terjatuh dari singgasananya sembari memegang dada yang kesakitan. Ratu berteriak dan sehingga semua orang menjadi panik.
"Panggil tabib! Cepat!"
Suasana yang tadinya begitu membahgaiakan kini berganti duka. Raja tamapak kesulitan bernapas di pangkuan ratu, istri sahnya.
"Aku mencintaimu," bisiknya lembut.
Ratu meraung ketika suaminya mengatakan hal itu. Jika mereka masih muda tentu saja dia akan merasa bahagia mendengarnya. Namun, Raja mengucapkannya seolah-olah mereka akan berpisah.
"Maafkan aku karena telah menduakan cintamu. Aku butuh penerus yang layak untuk menggantikan tahta."
Mata raja tertutup disertai dengan isak tangis para wanita di ruangan itu. Beberapa selirnya berkerumun untuk menyaksikan kepergian suami mereka. Tabib datang dengan tergesa-gesa. Namun semua sudah terlambat. Sang raja telah berpulang kepada penciptanya.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (75)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat bagus
11/04
0bagus banget
19/07/2025
0bagus banget
03/05/2025
1Lihat Semua