Bab 22 Licik

Dua pengawal istana itu menatap Kamandanu dan Handaru dengan lekat. Itu membuat jantung mereka berdetak lebih kencang. Penyamaran tak boleh terbongkar, karena hanya itu satu-satunya cara.
Kamandanu bahkan melatih Handaru untuk memanggilnya dengan sebutan kangmas. Dia juga mengatakan apa yang menjadi makanan kesukaan, juga kebiasaan tertentu. Mereka sudah sepakat tentang banyak hal, agar tak menimbulkan kecurigaan. Sehingga jika suatu hari ada yang bertanya, jawabannya akan sama.
"Apa benar ini adikmu? Mengapa wajah kalian berbeda?" tanya pengawal dengan penuh selidik.
Kamandanu berbadan tegap dengan otot-otot yang tercetak jelas. Kulit tubuhnya gelap dengan ranbut panjang tak terurus. Luka sayatan di pipi membuat wajah lelaki itu terlihat menyeramkan. Ditambah dengan suara serak yang sengaja diucapkan agar tak ada yang mengenali.
Sementara itu, Handaru memiliki postur yang lebih kemayu. Anak itu sekalipun tinggal di hutan tetapi kulitnya bersih. Tubuhnya sedikit berisi tanpa otot karena Daksa, ayahnya lah yang selama ini menebang kayu. Dia tak banyak bekerja berat dan membantu menjaga keluarga daei seragan binatang buas.
Tampilan yang berbeda dari kedua orang itu tentu saja terlihat jelas. Hal.itu membuat siapa saja tak percaya jika mereka mengaku bersaudara.
"Kami ... berbeda ayah," ucap Kamandanu cepat.
Ucapannya itu membuat Handaru hampir saja tergelak. Untungnya, anak itu cepat menguasai diri. Jika tidak, maka mereka akan ketahuan.
Napas Kamandanu memburu karena kini kedua pengawal itu mulai memeriksa tubuh mereka untuk mencari senjata tajam. Untungnya Kamndanu tak membawa pedang karena miliknya telah dirampas oleh si pembunuh pada malam itu.
"Apa itu benar?: tanya pengawal itu sembari menatap Handaru dengan garang. Matanya penuh selidik
"Benar! Kami berbeda ayah dan satu ibu," jawab Handaru tegas. Lalu, dalam hatinya berkata, satu ibu pertiwi.
"Jika kalian berbohong, maka hukuman gantung adalah hadiahnya."
Kedua pengawal itu saling berbisik karena tak yakin. Sementara itu Handaru mencengkeram lengan Kamandanu karena ketakutan. Hingga tiba-tiba saja ada pengawal lain yang datang dan menghampiri mereka.
"Ada apa ini?"
"Mereka ingin masuk dan bertemu Raden. Dia orang yang menaklukkan kuda liar waktu itu," bisik pengawal yang tadi kepada temannya.
"Lalu kenapa tak kau biarkan dia masuk?"
"Apa memang benar dia orangnya?"
"Tentu saja. Aku melihat sendiri wajahnya saat menghadap Kanjeng Gusti. Ada bekas luka di wajah," tunjuk pengawal itu.
Kamandanu dan Handaru menarik napas lega lalu saling berpandangan dan tersenyum senang. Setelah hampir satu jam ditahan di pintu gerbang, akhirnya ada jalan agar mereka bisa masuk.
"Kalau begitu, silakan masuk, Kisanak. Maaf kami menahanmu tadi. Kau membawa adik sehingga kami menjadi ragu."
Pengawal itu membukakan pintu gerbang. Sebelum masuk Kamandanu menegakkan tubuh dan berusaha terlihat gagah. Lelaki itu berharap akan bertemu dengan Sekar entah bagaimana caranya.
Salah satu pengawal membawa mereka ke pendopo untuk melapor. Ketika Kamandanu menyebutkan nama Adiguna, pengawal itu langsung membawanya ke suatu tempat.
"Raden Adiguna tinggal di sisi barat keraton bersama permaisuri dan selir-selirnya. Kalian bisa langsung bertemu tanpa harus menunggu lama," jelas si pengawal ketika mereka berjalan menuju ke tempat yang dimaksud.
Kamandanu melirik Handaru dan memberikan kode agar anak itu tak banyak bicara, saat mereka bertemu dengan Adiguna nanti. Dia sendiri masih sangsi apakah putra tertua dari raja itu bisa dipercaya atau tidak.
Untuk sementara mereka harus mengabdi kepada salah satu petinggi keraton. Lalu, secara perlahan mulai menyelidiki siapa dalang dari rencana pembunuhannya. Kamandanu sudah mengetahui seluk beluk tempat ini, hanya saja mereka harus lebih berhati-hati.
"Ada apa?" tanya Adiguna ketika rombongan prajurit tiba.
"Si penakluk kuda liar ingin bertemu dengan Raden."
Adiguna langsung mengangguk diiringi dengan senyuman licik. Selama ini dia selalu merasa khawatir jika ada yang mencoba menggeser kedudukannya sebagai penerus utama keraton.
Adiguna memang merupakan putra pertama dari Raja, tetapi lahir dari rahim seorang dari selir. Begitu pula dengan Abimana, adik keduanya. Hanya Wijaya yang lahir dari pernikahan yang sah antara Raja dan Ratu.
Setelah menikah cukup lama dengan Raja, Ratu tak kunjung hamil. Padahal tabib mengatakan bahwa mereka berdua sehat. Setelah satu tahun menunggu, akhirnya Raja memutuskan untuk mengambil selir, hingga lahirnya putra pertama yaitu Adiguna.
Raja yang sekarang memiliki banyak selir. Sikapnya yang ramah kepada kawan dan disegani lawan, membuatnya kerap mendapat hadiah dari kerjaan lain. Juga dari para adipati sebagai ucapan terima kasih.
Empat tahun menunggu, akhirnya Ratu mengandung. Wijaya lahir di saat hujan deras dan banjir melanda sebagian daerah. Ada yang mengatakannya sebagai pertanda buruk. Namun, ada juga yang percaya bahwa itu adalah anugerah. Anak itu diramal akan membawa perubahan besar bagi keraton apabila menggantikan ayahnya.
Selir pertama yaitu ibu dari Adiguna, meminta kepada raja untuk memberikan titah agar putranya menjadi penerus utama keraton. Atas bisikan itu, Raja akhirnya setuju. Namun, Adiguna tetap waspada dengan membentuk pasukan sendiri untuk membangun kekuatan. Bisa saja suatu hati ratu mengajukan keberatan atas keputusan itu. Walaupun hingga saat ini belum ada sanggahan.
Adiguna membutuhkan kaki tangan yang banyak. Sejak bertemu dengan si penaklukkuda liar, dia yakin akan mendapatkan abdi yang setia. Saat mendengar cerita lelaki itu menaklukkan kuda, rasa kagumnya semakin bertambah. Oleh karena itulah, sejak pertama kali bertemu, dia langsung menawarkan kerjasama.
Di keraton hanya dua orang yang sanggup mengurus istal, yaitu Kamandanu dan Daksa, ayah Sekar. Kemunculan 'Handaru' cukup membuat gempar. Banyak yang menyebutnya sebagai reinkarnasi dari Panglima Kamandanu. Padahal mereka tak tahu bahwa itu adalah orang yang sama.
"Hamba menghadap Raden dan memberikan hormat," ucap Kamandanu sembari berlutut dengan diikuti oleh Handaru.
"Bangunlah, Handaru. Kau tak perlu terlalu formal," ucap Adiguna.
"Baik, Raden."
"Siapa yang datang bersamamu?"
"Andar. Adik hamba," jawab Kamandanu.
Adiguna menatap kedua orang itu sembari memegang dagu. Pandangan matanya begitu tajam dan penuh selidik. Selama ini lelaki itu selalu berhati-hati setiap menerima tamu yang datang. Tak jarang ada mata-mata dari pihak musuh yang dikirim dan menyamar sebagai pengawal baru.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Adiguna berterus terang.
"Bekerja untuk Raden. Mengabdi kepada keraton," jawab Kamandanu tegas. Dia harus meyakinkan sang putra tertua agar bisa diterima.
"Baiklah kau diterima."
Kamandanu dan Handaru saling berpandangan dan tak dapar berkata. Di bibir kedua lelaki itu melengkung sebuah senyum kemenangan.
"Tapi ... dia tidak!" tunjuk Adiguna kepada Handaru.
Kamandanu terbelalak karena tak percaya. Padahal jika mereka bersama, penyelidikan akan lebih mudah dilakukan.
"Mengapa--"
"Adikmu masih muda dan fisiknya terlihat lemah. Baiknya dia belajar menjadi pengawal baru di barak. Hanya kau yang boleh bekerja untukku," lanjut Adiguna.
Handaru mengangguk dan menerima titah. Baginya tak masalah jika harus menjadi pengawal, walaupun haris berpisah dengan Kamandanu. Paling tidak dia mendapat upah untuk dikirim kepada Daksa. Itu adalah niat awalnya ketika meninggalkan hutan.
"Baiklah, Raden. Kami menerima titahmu."
Setelah berbincang beberapa saat dan membahas banyak hal, kini tibanya Kamandanu dan Handaru harus berpisah. Kedua orang itu berpelukan dengan erat dan merasa haru.
"Jaga dirimu baik-baik. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, cepat lapor kepadaku," bisik Kamandanu.
"Baik Pang ... eh kangmas," ucap Handaru meralat ucapannya.
Kamandanu mengikuti salah seorang pengawal ke sebuah ruangan yang akan ditempatinya atas perintah Adiguna. Sementara Handaru mengikuti pengawal lain menuju barak.
Ketika kedua orang itu sudah menghilang dari pandangan, tiba-tiba saja Adiguna berkata sesuatu kepada pengawal kepercayaannya.
"Suruh seseorang untuk mengikutinya."
"Siapa, Raden? Apa Handaru si penakluk kuda liar?"
"Bukan. Ikuti dan selidiki Andar, adiknya."
Setelah mengucapkan itu, Adiguna berjalan menuju kediamannya untuk bertemu dengan para selir. Kerjaannya setiap hari hanya bersenang-senang dan mnghabiskan uang ayahnya.
Sayangnya Adiguna tak tahu bahwa secara diam-diam, sang ratu telah merencanakan sesuatu untuk kejayaan putranya, Wijaya.

Komentar Buku (75)

  • avatar
    GantengTombro

    sangat bagus

    11/04

      0
  • avatar
    IlhamAndi

    bagus banget

    19/07/2025

      0
  • avatar
    NurhasanahJulia

    bagus banget

    03/05/2025

      1
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru