"Aarrgh!" Sebuah terikan terdengar di malam hari, sehingga membuat seisi pondok terbangun. "Ada apa, Pak?" "Dia mengamuk lagi. Sepertinya ngelindur, Buk." "Ayo dilihat dulu, Pak! Kasihan." Anung berjalan ke arah sumber suara dan mendapati Kamandanu berteriak sambil memegang kepala. "Sadar, Panglima! Sadar!" Laki-laki paruh baya itu mencoba menenangkan. Namun, tubuhnya malah tersungkur karena tendangan yang cukup keras. Perutnya terasa ngilu dan berdenyut terus. Kamandanu terbangun dan mengusap peluh di wajah. Lalu dengan cepat dia membantu Anung berdiri. "Maaf, Paman," katanya. "Tidak apa-apa, Panglima." "Aku bermimpi yang sama," katanya sambil terduduk di pinggir ranjang kayu. "Dibunuh Raden?" tanya Anung. Sejak Kamandanu tersadar dari pingsan setelah dia menemukannya di pinggir sungai, panglima itu sering bermimpi buruk. Itu terus saja terjadi hingga sekarang. "Iya. Selalu itu yang aku mimpikan. Entah mengapa. Apa ada hubungannya dengan penculikan dan pembuanganku di sungai?" Dia menatap Anung dengan hati gamang. "Ndak mungkin Raden yang melakukan itu. Beliau sangat terhormat," jawab Anung. Wijaya adalah pangeran yang terkenal baik dan berbudi luhur. Jika dibandingkan dengan pangeran yang lain, sikapnya patut menjadi teladan. "Tapi calon istriku telah direbut dan menjadi miliknya," sesal Kamandanu. Dia tak dapat berbuat apa-apa, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat pesta pernikahan itu berlangsung. "Bukan jodohnya, Panglima." "Semua orang menganggap aku sudah mati." Setiap mengucapkan kata-kata itu air mata Kamandanu akan menetes. Lalu, dia mengusapnya dengan ujung baju. Anung memeluk tubuh besar itu. Dia sedang ke sungai mencari ikan. Keluarganya miskin, hidup hanya mengandalkan alam. Mereka mencari lauk di sungai dan juga sayur di hutan. Saat itu, Anung tidak menyadari bahwa ada sosok mengapung di pinggir sungai. Saat hendak pulang, tak sengaja kakinya tersangkut pada sebuah ranting dan terjatuh menimpa tubuh Kamandanu yang pingsan. Anung langsung menepikan tubuh itu sekalipun kepayahan. Tubuh rentanya tak mampu membopong Kamandanu sendirian. Lalu dia berlari ke hutan dan memanggil putra sulungnya. Mereka membawa Kamandanu hingga tiba di pondok dan berusaha untuk menyadarkannya, lalu mengucap syukur saat mata sang panglima terbuka dengan batuk berdarah. "Apa Panglima tidak ingin kembali ke kerajaan?" tanya Anung. Kamandanu menggeleng. "Justru aku bisa dibunuh lagi jika menampakkan diri." "Lalu apa rencana Panglima?" "Sementara bertahan disini. Aku sudah mengambil uang yang aku tanam di suatu tempat," katanya. "Terima kasih, Panglima." Anung mengucap syukur karena sejak ada Kamandanu di sini, beras mereka selalu ada, juga telur dan tepung untuk membalut tempe. "Aku akan menyelidiki siapa dalang penculikanku. Lalu menemui Sekar." "Untuk apa? Dia sudah berbahagia dengan Raden. Lebih baik Panglima mencari yang lain." Kamandanu mengerti maksudnya. Anung ingin menjodohkannya salah satu putrinya. Hampir 6 bulan dia tinggal disini dan menjalani pengobatan, dia sudah merasa mereka seperti keluarga. Namun, cintanya yang begitu besar kepada Sekar belum bisa tergantikan oleh siapa pun. "Ada yang bilang dia menikah karena terpaksa. Istri pertama Wijaya tak bisa memberikan keturunan. Aku mendengar kabar itu saat berkunjung ke sebuah tempat makan," jawabnya. Separuh wajahnya rusak karena terhantam bebatuan saat dibuang. Sehingga luka yang tercipta meninggalkan bekas yang tak bisa dihilangkan. "Tapi wanita jika dimanjakan dengan harta, maka cintanya akan yang lama akan memudar," jelas Anung. Kamandanu menghela napas dan berjalan mengambil kendi, kemudian meneguk isinya karena rasa haus yang melanda sejak tadi. "Saya permisi. Sebaiknya Panglima beristirahat. Hari masih gelap." Anung keluar dan menutup tirai. Sejak adanya Kamandanu di rumah ini, dia menyekat ruang tamu menjadi kamar kecil. Sekalipun sempit, keluarganya tak berkeberatan menampung sang panglima. Mereka memang miskin, namun masih memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi untuk membantu sesama. Mereka diasingkan oleh penduduk sekitar. Hanya Handaru, putranya yang keluar dan ke kota sesekali untuk menjual ikan, sayur atau jamur yang didapat dari hutan untuk ditukar dengan beras. Sepeninggalan Anung, Kamandanu termenung seorang diri sembari menatap langit-langit pondok yang hendak rubuh. "Kar. Aku masih hidup. Kangmas masih hidup. Aku akan datang menemuimu jika waktunya tiba. Aku merindukanmu, Kar." Kamandanu memejamkan mata dan menarik kain batik tipis sebagai selimut. Udara dingin membuat tulang kakinya terasa ngilu. Dia pincang dan tak dapat berjalan normal seperti dulu. Wajahnya yang tampan kini menjadi buruk rupa. Namun, keinginannya untuk hidup dan membongkar semua pelaku sangatlah kuat. Dia ingin menangkap mereka agar tak mencelakai orang lain. Kamandanu tak tahu bahwa dalang dibalik semuanya adalah Wijaya sendiri. *** Sudah tujuh hari Sekar menikah dan selama itulah dia berada di dalam kamar. Wijaya tak memberikannya kesempatan untuk keluar, dengan alasan dia harus segera mengandung, agar penerus laki-laki segera hadir di keluarga mereka. "Apa aku ndak boleh keluar sama sekali, Kangmas?" Dia bertanya sebelum suaminya pergi. Wijaya akan datang di sore hari dan bermalam, lalu paginya melakukan tugas seperti biasa. Dia membantu raja mengurus banyak hal, mulai dari mengatur pajak, mengecek berbagai macam biaya yang harus keraton keluarkan untuk kebutuhan sehari-hari. "Jangan dulu. Kamu di dalam saja." "Tapi aku bosan," keluhnya. "Aku akan memanggilkan guru supaya kamu lancar membaca," katanya. "Aku ingin ke taman. Ketemu Bapak sama Ibu juga." Air mata menggenang di pelupuk mata Sekar. Rasanya dia ingin nekat keluar, tetapi urung karena Wijaya melarang dengan keras. "Diajeng." Laki-laki mengangkat tubuh mungil Sekar dan memangkunya. "Apa?" "Jangan begitu," bujuknya. "Terserah Kangmas." "Kangmas ndak mau kamu celaka. Ada banyak orang yang ndak menyukai pernikahan kita. Jadi, Kangmas akan berusaha menjagamu semampunya," jawab Wijaya. "Tapi aku bosan." "Bersabarlah. Kangmas sedang membantu Romo menyelesaikan beberapa hal. Nanti kalau semua sudah beres, kita pergi jalan-jalan. Kangmas bawa kamu ke kota." Mata Sekar berbinar mendengar itu. Rasanya seperti mimpi jika akan pergi ke kota. Keraton ini dibangun agak ke pinggir wilayah karena panembahan yang lalu membutuhkan lahan yang luas. Sedangkan pasar berada di tengah agar memudahkan perdagangan. Dengan posisi seperti itu, penduduk dari daerah manapun lebih mudah menjangkaunya. Sekar sendiri jarang pergi ke kota karena tidak punya biaya. Lagipula penghuni sekitar keraton dilarang keluar. Raja menjaga ketat orang yang masuk dan keluar dengan alasan keamanan. "Benar?" "Benar. Tapi ada syaratnya," kata laki-laki itu menggoda. "Apa?" Wijaya menunjuk pipi dan mengedipkan mata. Sekar menunduk malu dan hendak turun dari pangkuan. Namun, sebelum dia melakukan itu, Wijaya sudah bergerak cepat. Sekar sudah tak dapat mengelak. Dia pasrah dan memejamkan mata, karena masih merasa janggal jika Wijaya memesrainya. *** "Aku mau keluar," titah Prameswari kepada salah satu pelayannya. Sudah satu minggu ini dia berkabung dan memutuskan untuk tegar. Wanita itu meminta pelayan menyediakan berbagai macam bedak agar wajahnya kembali segar. Prameswari ingin saat keluar nanti, orang-orang tak memandang remeh, sekalipun hatinya masih berduka. Wanita itu tak mau dikasihani karena dia adalah seorang putri dari kerajaan ternama. "Ndoro Ayu mau kemana?" "Taman." Pelayan itu mengikutinya dari belakang. Sepanjang perjalanan banyak bisik bisik yang terdengar. Prameswari berusaha untuk mengabaikan tapi hatinya terasa ditusuk dengan belati tajam. Teganya mereka menggunjingkan langsung di depan matanya. Jika diizinkan untuk pulang, maka dia akan melakukannya sejak dulu. Kanjeng ratu mengatakan bahwa dia harus kuat menerima ini. Semua wanita di keraton ini akan mengalami nasib yang sama, dimadu cinta. "Tinggalkan aku sendiri." "Tapi, Ndoro--" "Aku ingin sendirian. Kamu kembalilah ke dalam dan siapkan makan siang untukku." "Baik, Ndoro." Prameswari menatap bunga-bunga yang tumbuh di taman. Dia menyentuh kelopaknya dengan lembut. "Diajeng." Prameswari seketika terdiam saat mendengar suara itu, lalu berpura-pura tak tahu dan kembali melihat bunga-bunga. "Apa kabarmu?" "Kangmas." Wanita itu berbalik dan mendapati Wijaya sedang menatapnya ... canggung. "Kamu sehat?" "Sehat." Mereka berbicara seperti dua orang yang tak saling mengenal, padahal selama enam bulan pernikahan begitu mesra. Prameswari menduga bahwa ilmu pelet atau guna-guna yang diberikan Sekar kepada suaminya begitu mumpuni, sehingga Wijaya begitu mudah lupa dan berpaling. "Syukurlah." "Kangmas tak usah mengkhawatirkanku. Aku bisa hidup sendirian," katanya pahit. Mata Prameswari berkaca-kaca, lalu dia memalingkan wajah agar tangisnya tak terlihat. "Kangmas pergi dulu. Nanti Kangmas akan menjengukmu," janji Wijaya. Janji yang entah akan dia tepati atau tidak, karena setiap kali bertemu Sekar, laki-laki itu kehilangan akal sehat dan larut dalam lautan asmara. Air mata Prameswari tumpah ruah saat Wijaya berlalu. Kesedihan yang dia rasakan begitu menyayat hati. Diam-diam tanpa disadari, ada seseorang yang sejak tadi melihat mereka secara tak sengaja dan ikut meneteskan air mata.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
sangat bagus
11/04
0bagus banget
19/07/2025
0bagus banget
03/05/2025
1Lihat Semua