logo text

Chapter 17 - White Rose

Julian kembali dari Illenoire bersama Selia. Dirinya kini sudah bersiap untuk melepas Luna, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan semua itu, perceraian. Dipandangnya Selia. Ya, dia memilih wanita berambut hitam dengan kilauan biru muda itu sebagai wanitanya yang terakhir. Dengan Luna mengasingkan diri ketempat lain, memudahkan Julian ‘merelakan’ Luna, setidaknya Julian tidak melihat Luna kemudian merasa iba. Orangtua Julian marah besar dengan keputusannya. Terutama Ayahnya yang tidak terima dan akan mengalami pemisahan perusahaan. Julian tidak membalas sepatah kata pun, Ibunya menghampiri Julian.
“Lian.., apa kau yakin akan bercerai?”
“Iya. Aku tidak menceraikan Luna. Tapi dia yang membuangku”Julian berdalih.
“Lian kau tidak bisa berkata seperti itu, sementara dirimu bersenang-senang dengan wanita lain”sanggah Ibunya.
“wanita lain? Ibu sebut Selia wanita lain?...sebenarnya dari awal kalian yang memaksaku untuk menikah dengan Luna. Kalian tahu, itu adalah awal dari sakit hati yang Luna alami”
“Jadi. K-kau tidak pernah mencintai Luna bahkan seujung kuku pun?”
“..... ..”Julian tak bisa menjawab.
“Kau mencintainya-kan?.. tapi kau selalu denial akan hal itu”Ibunya mengambil kesimpulan.
“.. aku tidak mencintainya. Aku tidak punya perasaan seperti itu”
“Jadi kau lebih memilih Selia sekarang?”
“Bukankah Selia sebenarnya yang pertama?”Julian melempar pertanyaan balik.
“Lian...”
“Aku pernah menggugat Luna, tapi surat cerai itu tidak pernahku buat. Dia yang melakukannya. Biarkan saja, itu sudah keputusannya, dan aku menghormati dengan pilihannya”jelas Julian panjang.
Ibunya kemudian pergi keluar kamar tanpa respon apapun dengan wajah kecewa.
Sebelum hari H perceraian,
Drey dan Luna tengah makan siang bersama.
Mata Drey sibuk dengan tabnya mengulas dan mengecek semua pekerjaan kantor.
"Drey, sangat sibuk sekali ya.. sampai makanannya menjadi dingin"
"Oh, maaf Nona.... banyak sekali outstanding task yang harusku selesaikan... maafkan aku.."
Luna tersenyum tipis lalu melanjutkan, "Besok, kau sebaiknya tidak perlu menemaniku"
"apa? tidak mungkin aku membiarkan Nona sendirian disana, aku sudah mencicil beberapa pekerjaanku hari ini, jadi aku sudah pastikan besok bisa menemani Nona"
"Drey.. aku tidak ingin kau mengasihaniku akan hari esok.."
"..tapi Nona.. i-itu akan menjadi hari yang be...."Drey dengan berat hati tak bisa melakukan yang dia inginkan.
Luna langsung memotong, "selesaikan saja urusan kantor dahulu, tidak perlu mencemaskanku"Luna memberikan senyuman tipisnya.
".. b-baiklah kalau begitu, mari besok kita pergi makan malam bersama setelah pekerjaanku selesai"
"aku tidak janji Drey.. tapi akanku usahakan"
“apa dia membutuhkan waktu sendiri?”batin Drey.
"um...baiklah, jangan lupa hubungi aku, ok?"ucapnya kemudian.
"pasti"jawab Luna lagi dengan senyum tipis.
"Drey.. kau orang baik, kalau saja kita lebih cepat bertemu.. aku tidak mungkin mencintai Julian.., Selamat Tinggal Drey.."Ucap Luna dalam hati sambil menatap Drey.
Drey yang sadar membuyarkan lamunannya, "ada apa Nona?"tanyanya.
"tidak ada, ayo kita lanjut makan" Mereka melanjutkan makan bersama.
Saat hari sidang perceraian tiba, sebelum memasuki ruangan tak sengaja Julian dan Luna berpapasan. Tanpa banyak berbicara Julian melanjutkan langkahnya, namun saat itu Luna memeluknya tiba-tiba.
“10 detik saja.. biarkan aku ..melepasmu dengan tenang..”bisiknya di punggung Julian pelan.
Kalimat itu mengguncang Julian menjadi ragu. Tapi langkah mereka sudah berada disana dengan keputusan masing-masing. Palu diketuk, perpisahan rumah tangga mereka terjadi. getaran palu itu terus-menerus bergetar di kepala Luna, hari itu menjadi hari yang tak terlupakan baginya. Hatinya hancur namun tak berbunyi, tak berpenghuni, rasa ikut mati menyelimuti dirinya. Bagi Luna hari esok sudah tidak ada dalam kalender hidupnya.
Luna menginjakkan kakinya di Danau,
Sebuah tempat dimana dirinya dan Julian pertama kali bertemu. Tempat yang menjadi awal mula kisah ini terjadi, manis dan pahit di rasa secara bersamaan. Senyum Julian kala itu diingat kembali ketika dia memberitahu namanya pada Luna di bawah atap halte bis saat hujan.
Bayang itu memudar, Langkah demi langkah, perlahan ia berjalan menuju tepian danau. tempat itu tertutup salju tebal, dengan permukaan danau yang telah membeku. Tatapan Luna kosong, "Apa yang aku lakukan disini.." Tak punya tempat tujuan untuk ‘pulang’, Luna duduk disana selama beberapa menit, menikmati tempat nostalgia itu.
"Ini yang terbaik. aku akan melanjutkan yang tak bisa ku lakukan dulu..karena orang itu muncul dan menolongku. seharusnya kau tak pernah ikut campur.... kau tak perlu masuk ke kehidupanku.. "pikirannya kini dibawa kembali akan memori-memori dirinya dengan Julian. Hatinya terasa sesak akan kenyataan yang begitu pahit, tapi tak bisa menangis.
---------------------------------------------
Drey menerima pesan masuk dari Luna.
"Terima kasih?? .. kenapa pesannya seperti salam perpisahan....."karena merasa ada yang janggal, Drey langsung keluar dari rapatnya dan menghubungi Luna.
Nomor tujuan yang anda tuju tidak dapat dihubungi, Silahkan coba beberapa saat lagi.
"apa-apaan ini?! kemana dirimu?!"Drey mencobanya sekali lagi dan berulang-ulang.
Namun tetap tidak ada jawaban. ia mengecek track yang ada di ponselnya, namun sayangnya sejak hari dimana Luna mengetahui Drey memasang track di ponselnya, track tersebut sudah dicabut. Jejak terakhirnya berada di apartemen Drey sendiri.
"Sial, Luna kau ada dimana?!"dengan perasaannya yang tidak enak, Drey segera turun dari gedung kantornya untuk segera menuju gedung persidangan itu. Masih terngiang kata-kata Luna terakhir saat makan siang kemarin. Drey sudah menduga bahwa ada yang tidak beres dengan Luna.
"Apa yang dipikirkannya, .. sebentar...," Drey menghentikan mobilnya dan berpikir.
"dia tidak mungkin masih disini.."Drey sampai dilokasi. kemudian memutar balik mobilnya ketempat Luna pernah mengatakan tentang tempat ia pernah ditolong oleh seseorang.
"Benar, Danau itu!!"Drey langsung menuju kesana dengan jarak yang lumayan tidak begitu dekat namun tidak begitu jauh pula.
-----------------------------------
"Lian!? Kita akan kemana?? Ada apa denganmu?? kau menyetir cepat sekali! Hati-hati!"Selia panik. Julian tidak menjawab apapun, tangannya menggenggam setir mobil begitu kuat dengan kecepatan mobil yang terus meningkat pada meterannya.
"Aku harap firasatku tidak benar, aku harap kau tidak melakukannya Luna!"Julian berseteru dalam hati.
----------------------------------
BRAKKKKKKKK! BRAAK BRAKK!!
Suara pukulan dengan batu besar, hantaman itu berkali-kali.
.....
KREK........... KREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK!!!!!!
Permukaan Es pecah dan retak menyeluruh mengikuti alur yang rapuh.
“akhirnya..pecah juga”
"Di dalam sana.. pasti sangat dingin dan gelap... tapi Ibu dan Ayah.. kalian juga menunggu ku di ujung sana, bukan?"ucapnya dalam hati melihat ke dalam isi danau yang gelap tersebut.
....
....
....
BRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUSSSSST!!!!
Luna menjatuhkan dirinya ke air, rasa dingin es mulai menusuk kulitnya hingga mati rasa.
Julian tiba disana, ia memakirkan mobilnya diluar area danau.
"Danau??. untuk apa kita kemari.. ada apa sebenarnya Julian?"tanya Selia.
Tanpa menjawab, Julian meninggalkan Selia dan berlari secara terburu-buru masuk ke area Danau, Selia ikut turun dan mengejar Julian.
Disana, Selia melihat Julian terdiam membeku di depan danau dengan mimik wajah sedih dan takut.
"...Luna!!... Luna!!..."nama itu keluar dari mulut Julian, ia memegang cincin pernikahan Luna bersamaan dengan kalung milik Luna. Tanpa banyak pertanyaan, Selia melihat ekspresi Julian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Lian. dia.."
Selia mematung bingung ingin menolong atau mengacuhkan. Tanpa pikir panjang, Julian melepaskan mantel tebalnya, juga sepatu dan juga syal yang ada di tubuhnya yang bisa memberatkan dirinya di dalam air.
"Lian!! jangan bilang kau mau lompat kesana!"
Tak menjawab, Julian melompat ke dalam air tanpa aba-aba.
Selia terkejut parah, "....Haa...mph.."ia menutup mulutnya sangking tak percaya yang ia lihat. Julian masih memiliki riwayat trauma akan air yang dapat menenggelamkannya. Selia panik, takut jika Julian juga ikut tenggelam. Ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi kegawat-daruratan dengan tangannya yang gemetar dan napasnya yang mulai tidak terkontrol karena serangan panik, saat itu Drey tiba disana sambil berlari dengan tergesa-gesa.
"Huf..Huf"napasnya mengeluarkan kepulan asap karena hawa musim dingin.
Drey langsung menuju ketepi danau, melihat kedua mantel yang tergeletak. Mata Drey tertuju pada Selia,
"apa ini.. punya Luna dan Julian?"tanyanya menunjuk dua benda berbulu tebal itu.
"i-iya, aku mohon, selamatkan Julian. d-dia.., dia tidak bisa berenang!! dia .. trauma dengan air!"
Drey dengan cepat pun tanpa aba-aba, melepaskan mantelnya tapi, ketika hendak menyelam, Ia sudah melihat sosok Julian yang berhasil naik dengan membawa Luna. Kulit mereka berdua sangat pucat, kombinasi dari suhu dan musim membuat tubuh menggigil, secarik kain yang menempel di tubuh mereka kini basah, lengkap sudah hawa yang semakin menusuk epidermis mereka. Selia menghampiri Julian yang masih di bibir danau.
“Lian! Kau tidak apa-apa??”tanya Selia yang sangat panik. Julian meletakkan Luna pelan, tanpa menjawab apapun dan naik. Selia melepaskan mantelnya dan memberikannya pada Julian, tapi Julian mengacuhkannya.
“haa...ha.....haa..”Julian mengatur napasnya, masih memperhatikan Luna yang tidak membuka mata. Dengan sigap Drey menutupi tubuh Luna dengan mantel hangatnya, Drey hendak melakukan CPR namun, Julian langsung menghalangi dan mengambil posisi untuk memberikan Luna CPR sambil menekan-nekan dadanya agar air bisa keluar.
"Ayolah Luna, sadarlah!" Julian melakukan CPR berkali-kali.
Selia dan Drey hanya mematung melihat Julian melakukan hal itu dengan spontan. Tak bisa berkomentar, Selia hanya diam memandangi kekasihnya ‘menolong’ mantan istrinya. Begitu pula dengan Drey yang tidak bisa berbuat banyak karena Julian tidak akan mendengar apapun.
"Ayolah ku mohon.."CPR terus dilakukan. Air rambutnya yang basah turun menyatu dengan air matanya yang mulai mengalir. Julian merasa putus asa tidak bisa menyelamatkan nyawa mantan istrinya itu.
"Luna ayo sadarlah!!"
Luna masih tak sadarkan diri, mereka segera melarikan Luna ke rumah sakit terdekat. Setiba disana, Luna dibawa masuk ke ruang ICU dan segera dilakukan penanganan. Julian mengganti bajunya di restroom rumah sakit dengan pakaian kering yang hangat dengan luaran mantel kulit hitam.
***
Setelah melewati masa kritis, Luna akhirnya dipindah ke ruangan rawat inap. Julian, Drey dan Selia menunggu di luar ruangan. Dokter keluar dari sana, Drey dan Julian berdiri dan menanyakan kondisi Luna.
Melihat mereka berdua membuat dokter bingung,
"Siapa walinya disini?"tanya dokter. Julian dengan cepat menjawabnya,
"Aku. Aku suaminya, biarkan aku masuk" Ia berjalan lebih dekat ke Dokter, dan Dokter itu pun langsung mengajak Julian masuk kesana ke ruangan. Drey dan Selia melirik Julian tak habis pikir apa yang barusan di katakannya.
"S-suami?..apa yang Lian pikirkan..."Selia sedih mendengarnya tapi apa boleh buat.
---
Julian melihat Luna masih terlelap tidur dengan wajah pucatnya.
"Istri anda mengalami hipotermia. syukurlah anda cepat menolongnya keluar dari danau.."
".. apa dia.. akan baik-baik saja?"
Dokter mengangguk, "istri anda baik-baik saja dengan perawatan intensif selama beberapa hari tubuhnya akan normal kembali..., tapi”jelas Dokter menggantung.
Julian menghela napasnya. “tapi apa Dok?”
“kalau sampai terlambat sedikit saja.. saya rasa nyawa istri anda dan janinnya akan....tiada"ucap Dokter jelas.
"Syukurlah.. aku bisa cepat.." Julian terjeda dan baru sadar akan sesuatu,
"J-janin? apa maksudnya??"
Dokter keheranan, "anda tidak tahu istri anda sedang hamil?"
"H-hamil??"Julian shock.
"Usia janinnya sudah memasuki 3 minggu, saya harap anda dapat menjaga istri anda agar tidak mengalami keguguran"Jelas Dokter kemudian.
Dokter setelah itu keluar dari ruangan,
Julian terduduk lemas disebelah Luna yang belum siuman,
"kau bahkan tidak memberitahuku tentang kehamilanmu.."Julian menggenggam tangan Luna. Ia teringat akan hari dimana Drey tiba-tiba datang membawa barang bawaan Luna.
“Apa Drey juga tahu tentang kehamilanmu....”Julian agak kecewa karena mengetahui hal ini tidak pada waktu yang tepat. Drey dan Selia kemudian masuk ke ruangan setelah Dokter keluar,
"Julian"panggil Selia.
"Tugasmu sudah selesai bermain sebagai suami Luna, sekarang kau bisa keluar dari sini"kata Drey tegas namun tidak dengan suara lantang.
Julian tetap diam memegang tangan Luna, "beri aku waktu.., sedikit lagi.."
"Lian.. apa yang kau lakukan?, ayo kita pergi!"ucap Selia.
"Untuk sekarang jangan pernah muncul di hadapan Luna lagi"sambung Drey.
".... aku tidak bisa melakukannya."Julian menolak keras.
“Kau.. selama ini hanya diam. Tidak memberitahuku..”Julian menatap Drey dengan penuh amarah.
“itu semua keputusan Luna, bukan aku. Sekarang keluar dengan pilihanmu”Drey mengarahkan kepalanya ke Selia.
"Lian!!.. apa maksudmu?! ayo kita pergi!"Selia menarik tangan Julian dengan paksa.
------------------------------
..
Takg!
Takg!
Pintu mobil ditutup. Julian dan Selia kembali ke mobilnya. Julian terdiam lesu. Mobilnya dinyalakan supaya penghangat dapat hidup namun, Ia enggan bergerak dari sana, hal yang menganggu pikirannya ingin dikatakan pada Selia.
"Ada apa denganmu?.. aku salut sekali kau bisa tahu dia bunuh diri hanya karena mawar putih. dan apa maksudnya tadi!"Selia bertanya tentang hal yang masih abu.
"aku dan Luna pertama kali bertemu disana, saat dia ingin bunuh diri..."jawabnya lemas tanpa melihat Selia.
"Lalu, apa maksudmu tadi? tidak bisa melakukannya? apa maksudmu? kau tidak bisa meninggalkannya? apa kau kasihan padanya karena dia bunuh diri? ha, Kalau begitu bagaimana jika aku..." Julian memotong pertanyaan Selia yang bertubi-tubi.
"Luna hamil"ucapnya singkat, menghentikan Selia berbicara.
Selia terdiam sejenak mencoba berpikir jernih, lalu melanjutkan
"h..ha? A-apa kau bilang?.. tidak mungkin.. kau berjanji padaku tidak melakukan hubungan ‘itu’ dengannya.. pernikahan itu pengaturan dari wanita itu.. kau juga menjaga batas.. kau berjanji padaku Lian.. kau hanya becandakan?"
"Aku melakukannya.. secara sadar"jawabnya singkat lagi.
Selia terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca. Ingin dirinya percaya apa yang dikatakan Julian saat ini hanyalah kebohongan belaka.
“Jangan berbohong padaku.., kau hanya berbohong. Ini tidak lucu Julian..”
"Selia.. kau boleh memukulku dan marah semaumu.., tapi aku...... anakku...."Julian menundukkan kepala mengutarakan maksud keinginannya.
"..Tidak, aku tidak akan mengizinkanmu! kali ini aku tidak mengizinkanmu! Dia masih punya pria tadi!! Biarkan pria itu yang bertanggung jawab!! kau tidak perlu turun tangan! kau dan Luna sudah usai! Aku tidak mau kau mengasihani wanita itu lagi!"
"Pria tadi katamu?, itu anakku. aku tidak mungkin membiarkan Drey menjadi ayahnya!"
"kita juga bisa punya anak! kau tidak boleh kembali dan terikat dengan kepalsuan, ingat tujuan kita. kita akan menikah Lian"Selia memegang pipi Julian dengan kedua tangannya penuh harap.
“Jadi..., jangan kembali pada Luna hanya karena dia mengandung anakmu.. kau benar-benar mencintaiku kan? Hm?”ucap Selia lagi.
Julian terpaku menatap Selia dengan mata berkaca-kaca tanpa menjawab apapun.
-------------------------------------------------------------------
Aku mendengar sayup-sayup suara Julian memanggil namaku. Julian kembali menolongku, uluran tangannya menyentuh kulitku yang sudah mati rasa, dipegang erat tubuhku hingga ke atas. Apa itu hanya mimpi?
Kenapa masih Julian yang terpikir dibenakku. Kenapa harus dia lagi.., apa aku memang tidak bisa lepas dengan pria itu. Tidak. Kau hanya mimpi Luna. Itu bukan siapa-siapa. Kau tidak perlu mencari tahu.
Mata Luna perlahan terbuka pelan, dilihatnya silauan lampu kamar rumah sakit, kepalanya bergerak ke samping, Drey tidur disebelahnya.
“aku masih hidup.....?”Luna menggerakan tangannya.
“Kenapa aku bisa disini..”dilihatnya jarum infus di pergelangan tangannya. Luna melakukan gerakan kecil yang membuat Drey tersadar dan terbangun.
“Nona.. sudah siuman.. syukurlah..”Drey menggenggam tangan Luna erat.
“........”Luna tak memberikan respon apapun dan kembali tidur karena tubuhnya yang masih lemah.
“ternyata Drey disebelahku.. pikiran bodoh ini, masih saja mengingat pria itu”
“Lupakan dia Luna, ku mohon”batin Luna dalam hati.
-----------------------------------
Waktu berlalu, Julian tidak bisa sembarangan menjenguk Luna karena larangan dari Drey dan juga Selia. Julian memerintahkan detektif pribadinya untuk mengikuti perkembangan Luna. Proses pengobatan Luna jalani hingga dinyatakan sembuh total. Drey membantunya saat kembali ke apartement. Luna meminta Drey agar dirinya kembali ke kos dekat kampusnya untuk beraktivitas disana. Drey tentu saja melarang Luna, tapi Luna tetap bersikeras dengan kemauannya. Drey mengizinkan dengan satu syarat, track gps harus aktif di ponsel Luna. Dengan menyetujui hal itu, Luna pun kini tinggal di lingkungan dekat kampusnya, Drey tidak setuju jika Luna harus kembali ke kos sempit itu. Rumah dengan halaman luas telah Drey beli sebagai tempat tinggal baru Luna.
Proses pemindahan barang Luna yang tidak begitu banyak dilakukan dengan cepat. Drey melakukan segalanya dengan terstruktur dan ligat. Sesampainya dilokasi, Luna terkesima melihat rumah yang indah seperti rumah neneknya. Nuansa rumah dengan warna coklat muda dikombinasikan dengan warna maroon membuat penampakan rumah tersebut semakin manis. Luna sangat menyukainya. Drey senang melihat ekspresi Luna yang baru saja dirinya saksikan. Membuat dirinya tak sabar ingin menyatakan perasaannya yang sudah lama terpendam. Hari berlalu, Drey sibuk dengan rutinitasnya mengurus kerjaan di kantor. Luna menyibukkan dirinya membuat projek baju di rumahnya dengan berbagai macam kain yang telah Drey pesan dari luar.
Ting-Dong..~ Ting-Dong~
Suara bell rumah terdengar di pintu masuk, Luna segera berlari kesana dan membuka pintu berharap Drey datang berkunjung membawa beberapa aksesoris untuk baju miliknya. Namun, mata Luna terbelalak melihat orang yang mengunjunginya adalah mantan suaminya, Julian.
“Luna. Aku sudah lama ingin bertemu dan mengajakmu berbicara, apa kau punya waktu hari ini?”tanya Julian to the point yang masih berdiri di depan pintu.
Luna masih mematung, perasaan yang dikiranya sudah menghilang hari itu kini muncul kembali. Melihat wajah Julian secara langsung membuat dirinya seakan tenggelam dalam danau itu.
“Luna, apa kau baik-baik saja?”Julian bertanya lagi, melihat Luna yang tak bergerak sejak kehadirannya.
“A-aku.. a-aku..”Luna terbata-bata tak bisa mencerna kata yang harus dikatakan.
“Ikut aku”Julian menarik Luna pergi dari sana. Pintu rumah tertutup dan terkunci otomatis. Kunci tersebut sudah dilengkapi teknologi canggih menggunakan smart-lock yang hanya memerlukan sidik jari Luna untuk membukanya kembali.
Julian mengendarai mobilnya menuju pusat kota yang tidak terlalu ramai dan duduk di sebuah restoran sup yang terkenal.
“karena masih musim dingin, aku ingin kau mencoba sup disini.. cocok sekali untuk dinikmati saat musim seperti ini”kata Julian sambil duduk dengan kursi pilihannya.
Luna duduk di depannya, “kau ingin membicarakan apa?”tanya Luna yang tak ingin berbasa-basi terlalu lama dengannya.
“kita makan siang dulu. Aku yakin kau juga belum makan”ucap Julian lembut.
Luna menatap Julian yang sedang melihat daftar menu. Struktur wajah yang sempurna, alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, matanya yang tajam serta bibirnya yang pernah mengecup dirinya. Betapa rindunya ia, tapi tak ingin mengatakan yang sebenarnya, karena itu hanya menurunkan harga diri pikir Luna.
“Luna kau pesan yang mana?”tanya Julian kemudian melihat Luna.
“aku ikut dengan pilihanmu saja”jawab Luna yang masih on point menatap Julian.
“baiklah, ah! Bibi! Permisi aku mau pesan sup sapi rumput laut ini 2 ya! berikan kami minuman hangat juga”seru Julian memanggil pelayan.
“Ditunggu pesanannya Tuan”pelayan itu kemudian mengambil menu-menu dimeja dan pergi mengorder pesanan.
“apa kabarmu Luna?”Julian bertanya menghindari suasana canggung jika berdiam-diam terlalu lama.
“aku... baik-baik saja”Luna mengatakannya masih terpaku dengan kehadiran Julian. Seakan seperti mimpi di siang bolong. Luna merasa dirinya melangkah mundur ke masa lalu.
“syukurlah kalau baik-baik saja..”ucap Julian menatap Luna.
“aku... sebenarnya juga ingin bertanya sesuatu”Luna mulai membuka pembicaraan.
“apa itu?”
“hari itu di danau... apa kau datang lagi menolongku?”tanya Luna dengan mata berkaca-kaca. Julian memandang Luna lumayan lama, sebelum memberikan respon.
“Pesanan 2 sup sapi rumput laut tiba, dan juga minuman hangatnya Tuan dan Nona silahkan dinikmati”pelayan datang menaruh pesanan Julian.
“a~ Terima kasih”
Julian dan Luna memandangi sup yang baru saja tiba di depan mata mereka, tampilan dari makanan itu menguggah selera serta aromanya yang menambah rasa lapar.
“Kita makan dulu ya”ucap Julian mencicip sup miliknya.
Luna pun ikut makan dan mencicipi sup yang katanya enak ini, ternyata benar. Rasa dari sup ini diluar dugaannya. Julian mengambil daging yang ada di supnya dengan sumpit, menaruhnya di atas nasi Luna. Perilaku yang tidak pernah dirinya lakukan untuk Luna sebelumnya.
“Makan yang banyak..”ucapnya kemudian, menyadarkan Luna akan sesuatu.
“kau.. perhatian padaku begini.. apa karena kau mengetahui sesuatu?”
Julian menghentikan aktivitas makannya, “... kenapa kau tidak memberitahuku?”
Luna tersenyum pahit, “karena kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengatakannya”jawab Luna jelas.
“...”Julian kini terdiam lesu, menyesali tanda tangannya yang sudah terbubuh di surat perceraian itu.
“saat aku diambang kematian, aku.. hanya mendengar suaramu.. suaramu selalu muncul dikepalaku.. hari itu dalam danau.. aku mendengarmu..”
“aku memang memanggilmu”Julian mengatakannya secara perlahan, takut jika Luna berpikir bahwa dirinya mencampuri kehidupan Luna.
“Aku juga menyelam kesana untuk membawamu kembali, Luna”jelas Julian lagi.
“. . . . karena kau menginginkan anak ini?”tanya Luna.
“aku baru tahu semuanya saat kau sudah dirumah sakit.. aku menolongmu karena aku.... karena aku..”Julian berhenti dengan perkataanya.
“kau tidak perlu merasa bersalah karena semua ini murni kesalahanku”ucap Luna menyambung maksud yang Julian utarakan.
“mawar putih”Julian menyebutkan sesuatu diluar topik.
“kau memberikan Selia mawar putih hari itu..”sambungnya lagi.
“...”Luna tercengang, menangkap apa yang akan dikatakan Julian selanjutnya.
“mawar putih itu yang membawaku ke danau Luna..., mawar putih itu yang membawaku..padamu..”ucap Julian berkaca-kaca.
Luna terkejut dengan ucapnya, semakin sulit dirinya melepas pria di depannya, perkataanya barusan membuat Luna tak kuasa menahan tangisnya. Luna membenci kondisi saat ini, Luna membenci dirinya yang terus terikat karena Julian.
“Julian, kau... kau akan menikah dengan Selia”Luna mengatakan fakta yang tidak bisa dielakkan, kemudian melanjutkan, “Terima kasih sudah mengatakannya, membuatku lega kalau di detik terakhirku, kau masih mengingatku..”
“aku tidak bisa menikahinya, aku akan bertanggung jawab”jawab Julian.
“hentikan Julian. Hentikan..”
“kau ingin menikahiku karena anak ini? Bukan karena kau mencintaiku??”Luna meneteskan air matanya.
“I..itu..”Julian tak bisa berkata apapun.
Luna mengusap air matanya, “tenang saja Julian, ketika anak ini lahir kau boleh memilikinya, kau bisa merawatnya dengan Selia. Ah, dengan seizinku, katakan saja kalau Selia ibu kandungnya. Aku mengatakan ini bukan tanpa perasaan, tapi aku ingin lepas darimu.. jangan memaksakan tindakan yang tidak berbanding lurus dengan perasaan”jelas Luna panjang.
“Luna! .. a-aku tidak ingin melakukan hal seperti itu, mau bagaimanapun, itu tetap anakmu juga”
“...ku harap kau mengerti Julian”Luna pergi dari sana, menghampiri taksi yang kebetulan lewat di depan restoran itu dan menaikinya.
“L..luna..”Julian melihat taksi Luna yang sudah berlalu.
***

Komentar Buku (75)

  • avatar
    HasanahFebi

    Vidio ya sangat bagus dan seruu akuu jadi sukaa menonton di aplikasi ini

    28/05

      0
  • avatar
    chilladilla

    sangat bagus😍

    25/01

      0
  • avatar
    Itsmetata

    Bagusss

    25/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru