Pagi itu Julian mengendarai mobil SUVnya menuju kediaman Selia dengan menjaga ekspresi tanpa ada kejadian, hal itu dirinya lakukan agar terhindar dari banyak pertanyaan yang akan Selia curigai, Julian ingin perjalanan mereka berjalan lancar tanpa ada pembahasan pihak-pihak yang tidak ada di antara mereka. Sesampai di rumahnya, Julian dengan sigap langsung mengemas semua barang yang akan dibawa. Penyortiran barang mulai dimasukkan ke dalam mobil bagian belakang. Mereka juga mengenakan baju tebal karena hari mungkin akan menjadi semakin dingin. Berangkatlah mereka menuju tempat yang serba putih itu. sambil mendengarkan lagu yang menenangkan, suasana hening di dalam mobil. Selia ternyata tertidur karena saking nyamannya. Julian menatapnya sekilas, lalu melanjutkan pandangan ke arah depan. masih terbayang di benaknya ketika Luna emosi hebat terhadap dirinya. bahkan melemparkan surat cerai, surat itu disimpan didalam tas bawaannya bergabung dengan barang-barang penting Julian lainnya seperti dompet. Julian masih belum membubuhi sign di atas kertas penentu dirinya dan Luna itu. feelingnya masih belum bisa bergerak untuk menandatangi kertas itu. -------------------------------------------------------- "Drey, bisa jemput aku dari sini?"Luna menghubungi Drey satu-satunya figur keluarga yang ia punya.. "Baik nona, aku sedang di perjalanan" Kau kira dengan menambahkan pengawal disini aku tidak bisa keluar dari sini Julian? kau salah besar. Aku masih punya Drey dan Clementine Company. aku akan segera mengakhiri ini semua. Aku akan mencabut kerjasama antara CC dan perusahaanmu. ya, mari hilangkan semuanya. kau tanpa aku, aku juga demikian. Drey tiba disana, matanya melihat sekeliling rumah Julian yang di jaga ketat bak rumah yang memiliki tawanan penting. "Pantas saja nona memintaku datang, dia tidak pernah minta dijemput sebelumnya"senyum bibirnya menyeringai. "Kenapa Julian melakukan ini..?" Drey berdiri di pintu masuk, "Hi, aku disini ingin menjemput nona Luna"ucapnya pada seorang penjaga yang menunjukkan seperti bos kepala. "Maaf, untuk sekarang nona Luna tidak diperkenankan keluar oleh siapapun itu tanpa perintah tuan Julian" "Aku Daniel Grey, ketua CC Group. Aku harap kau mengerti maksudku"kata Drey dengan ekspresi yang berubah tegas. "... u-um.. t-tapi Tuan Daniel. .. Tuan Julian memerintahkan kami untuk menjaga Nona agar tidak kabur dari sini" Drey tersenyum, "Nona tidak kabur, beliau bersamaku. boleh aku masuk?" "..um b-baiklah tuan, Silahkan" Drey berhasil masuk kemudian segera melangkah menuju kamar Luna. dilihatnya sosok Luna yang berantakan dengan mata sembab. tanpa banyak berkata apapun, Drey memeluknya erat. "Tidak apa nona, aku disini..." "Drey.., terima kasih sudah datang"Luna pun ikut memeluknya erat sebagai keluarga satu-satunya yang ia miliki. "apa yang Julian pikirkan…" -------------------------------------------------------- Setelah 4 Jam perjalanan, Julian dan Selia berhenti sejenak di Rest Area untuk beristirahat dan makan siang. tempat itu rapi dan bersih, walaupun makanannya tidak terlalu flavoury masih terasa hambar. namun cocok dengan cuaca musim dingin, disajikan minuman manis seperti kopi dan coklat panas. "Lian, duduk sebentar disini saja rasanya nyaman sekali. hanya kita berdua. mengingatkanku pada memori masa lalu dulu"ucap Selia dengan pipi merahnya. "aku senang jika kau juga merasa bahagia disini"Julian senyum melihat pipi meronanya. "Penasaran juga rasanya apa yang dia katakan pada Luna kalau dia akan bersenang-senang denganku 2 bulan ini"pungkas Selia dalam hati. "Selia, aku ke toilet sebentar" "Ok sayang" Julian menelfon kepala penjaga di rumahnya, "Bagaimana kondisi disana?"tanyanya. "Anu maaf tuan Julian, tuan Daniel sudah membawa nona Luna keluar dari rumah" "Apa! aku sudah katakan untuk jangan biarkan siapapun membawanya dari sana!" "maaf tuan, tapi saya juga tidak punya pilihan. tuan Daniel mengatakan kalau dia adalah ketua Group CC..s-saya tidak berani membantah beliau.." "..haa..Daniel sialan"Julian menutup telfonnya, dengan cepat dan terburu-buru mencari kontak Daniel untuk di hubungi. Drey tengah berada di apartemennya bersama Luna pada beda ruangan. saat panggilan Julian masuk, Drey segera keluar dari apartemen untuk mengangkat telfonnya, ia tidak mau Luna sampai mendengar mereka. Drey mengangkat panggilan tersebut, sejenak ia hanya diam menunggu hingga Julian mengeluarkan suara. "kau membawa Luna dari rumahku?"intonasi Julian berat seperti marah. "Nona memintaku untuk datang" "Tetap saja kau harusnya tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku" "maaf sebelumnya, tapi.. Julian kau sendiri tidak mengurus rumah tanggamu dengan baik" "Jangan ikut campur Drey!" "ku dengar juga kau berliburan dengan pacarmu selama 2 bulan di Illenoire. bukankah itu keterlaluan" "......"Julian tak bisa mengelak. "Julian, padahal aku sendiri yang mengantar Luna kesana tanpa Luna yang memintaku. kali ini, aku tidak akan menyerahkan Luna lagi padamu" Julian masih terdiam, kemudian dilanjutkan. "kau mau apa? merebutnya dariku? kau kira bisa merebut orang yang cintanya bahkan lebih padaku daripada dirimu"ucap Julian dengan sarkasme. "Perasaanmu masih abu-abu, kau tidak tegas memilih. tapi hari ini, dengan perginya kau bersama Selia. aku anggap bahwa kau sudah memilihnya. biar aku yang menjaga Luna mulai sekarang. Luna juga mengatakan sudah memberikan surat cerai, bukan?” "...." "Ah benar juga, Luna memintaku untuk mencabut kerjasama dengan Perusahaanmu, bagaimana ini.. CC Group akan melepaskan diri" "A-Apaa??! Tidak mungkin Luna melakukan itu" "Investor pasti keluar dari perusahaanmu, karena 80% Investor berada di bawah CC Group" "...Keparat! Drey!! apa yang kau pikirkan!" "”kalau begitu silahkan nikmati waktunya tuan Julian"pungkasnya. Drey menutup telfonnya, Julian memukul tembok dengan tangan kosong. "SIAL!!!!" Ia membersihkan tangannya yang berdarah, dan memakai sarung tangan yang ada di sakunya untuk menghindari pertanyaan jika Selia melihatnya. Dipasangnya ekspresi palsu seakan tak terjadi apapun kala itu ketika ia kembali duduk di depan Selia. Tanpa bertanya apapun, Selia menyuguhkan makanan yang sudah tiba. Usai makan siang perjalanan mereka lanjutkan lagi. Tak terasa mereka pun kini tiba di lokasi. Julian dan Selia menginap di villa yang sudah mereka pesan beberapa hari lalu. Selia yang kegirangan melihat pemandangan putih bersih itu dari balkon villa tak berhenti melepaskan pandangan akan indahnya ciptaan Tuhan. Membuat pikirannya nyaman dan tenang. Julian memerhatikannya dari dalam ruangan, ia tengah membereskan isi kopernya untuk di pindahkan ke dalam lemari. Susunan demi susunan baju yang terlipat didalam koper itu mengingatkannya pada Luna, karena Luna yang menyusun bajunya tadi malam. Julian menyentuh perlahan satu per satu baju miliknya menghayati akan lipatan dari jemari Luna. Apa yang harusku lakukan. Kenapa pria brengsek sepertiku harus ada di hidupmu Luna…. Seharusnya bukan aku yang menyelamatkanmu..... "Lian! Ayo kita main keluar" panggilan Selia membangunkannya dari lamunan akan Luna. "emm baiklah!, aku harus cepat menyelesaikan ini dulu" ia bergegas mengambil susunan baju itu dan dimasukkan kedalam lemari. "Hahah Lian kau rajin sekali, kita bisa melakukannya nanti" "Nanti tidak ada waktu, nanti adalah saatnya kita bersantai bukan?" "kalau begitu aku kebawah duluan ya, aku sudah tidak sabar!" "Selia pakai penghangat ini, di luar dingin sekali, jangan lari-lari ok. Aku takut tak sempat membawamu ke rumah sakit kalau terjadi sesuatu" "Haaa! Kau ini masih saja memperlakukanku seperti orang yang akan mati. Tenang saja! Aku sudah cukup sehat"”Selia langsung pergi dari kamarnya. Julian terduduk lesu memikirkan langkah apa yang harus diambilnya kini. Memikirkan kecemasan tersebut, ponselnya berdering membuyarkannya sekali lagi, dilihatnya nama yang menelfonnya. Itu adalah ayahnya. Pasti ini tentang nasib perusahaan pikirnya. Tak punya pilihan lain, Julian mengangkat telefonnya. "DASAR KURANG AJAR! APA YANG KAU PIKIRKAN HA!"teriakan yang memekakkan telinga diterimanya. Julian hanya menghela nafas tanpa berbicara. "Daniel mengajukan pemisahan perusahaan!! Kau tahu apa akibatnya jika itu ia lakukan!! Kita akan kehilangan banyak income dan kepercayaan dari banyak pihak dan investor!! Apa yang kau lakukan pada istrimu sendiri ha!! Bisa-bisanya kau pergi dengan wanita itu!!" "….."Julian tidak bisa menjawab apapun. "Besok kau sudah harus kembali dan bertanggung jawab atas ini semua. 2 bulan???? Kau sudah gila, aku sebagai ayahmu tidak setuju jika kau harus cerai dengan Luna"telfon pun dimatikan. "Aku tidak menceraikannya, Luna yang melakukannya.." ========================= #Saat Luna melempar surat perceraian# ========================= "Aku tahu cepat atau lambat kau juga pasti akan menceraikanku! Selia yang mengatakan itu!! Tapi untuk mengurangi rasa malu itu, biarkan aku yang menceraikanmu, sebagai orang yang membuat hidupmu harus menikah dengan orang sepertiku, biarkan aku juga yang mengakhiri ini!!" ========================= "Ya.. kurang lebih seperti itu yang dia lontarkan padaku.., aku bahkan belum mengurus surat perceraian itu tapi ternyata Luna sudah menyiapkannya" Julian kembali menghela napasnya, kemudian melangkahkan kakiknya untuk keluar menyusul Selia. Julian melihat Selia yang sedari tadi tertawa senang di hamparan salju yang putih bak anak kecil yang sedang bermain. Bibirnya kini tersenyum tipis. Ia dekati Selia dan duduk di hamparan salju itu. Masih dengan wajah tersenyumnya, "Kau sangat suka tempat ini ya?"tanya Julian. "Lian, senyummu.. bukan senyum natural. Senyum palsu. Kau baik-baik saja?"tanya Selia. "A.., O..um.. Ya, a-aku baik-baik saja"jawabnya terbata-bata. "aku tidak menanyakan ini sebelumnya, tapi.. ketika ingin kemari apa kau berbicara jujur pada Luna? Kalau kita disini menginap selama 2 bulan?" "… aku mengatakannya semua. Aku tak pernah menutupi apapun padanya" "ternyata Lian masih tetap menjadi orang yang sama ya, kau masih tetap menjadi orang yang jujur"ungkap Selia. "Tapi Lian, apa kau benar baik-baik saja?" "…aku baik-baik saja, jangan khawatir"tangannya mengelus kepala Selia lembut. Selia memeluk Julian tiba-tiba, dan mengatakan "A-aku harap.. kita akan seperti ini selamanya.. Jangan tinggalkan aku" Julian hanya membalas pelukannya tanpa membalas ucapannya. ——————————————————————— "Luna mengenai perusahaan.. A-ayah ingin kau menunggu Julian kembali sehingga kita bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan.. ok?" Ibu dan Ayah Julian kini menemui Luna yang berada di Apartement Drey. "Maafkan aku Ibu, Ayah.. aku sangat ceroboh sehingga tidak memikirkan kalian disini.. maafkan aku"ucap Luna. "Tenang saja tuan James, Julian pasti pulang. Jika ini mengenai perusahaan dan melibatkan banyak pihak aku yakin dia tidak tenang disana"sambung Drey. "Luna, bagaimana kesehatanmu.. maaf ibu tidak mengunjungimu disaat-saat seperti ini. Ibu tidak mengerti Julian itu masih saja dia…"Ibunya malu terhadap tingkah yang dilakukan putra semata-wayangnya. "T-tapi.. aku sudah memutuskan untuk tidak bersamanya lagi" "A-apa?!"Kedua mertuanya terkejut. "maafkan aku Ibu, Ayah…" "Julian itu..! Ahk sial"racau ayahnya. ———————————————————————— Malam harinya, ketika Julian tengah mandi air hangat. Selia merapihkan barang-barang yang ia lihat masih berantakan, sebagai wanita yang perfeksionis Selia tidak bisa melihat suatu barang tidak berada pada tempatnya dengan kerapian yang terukur. Saat meletakkan tas bahu milik Julian di dalam lemari, dompet yang berada didalamnya terjatuh keluar, ia segera menaruhnya lagi kedalam dan melihat kertas yang ada di dalam tas tersebut. Matanya kemudian teralihkan dengan judul kertas tersebut, "Surat Perceraian" dengan hati yang meledak kesenangan ia langsung melihat isinya, namun ekspresi itu dengan sekejap hilang. Surat itu hanya di tanda tangani oleh Luna tapi bukan Julian. Julian keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya, sambil mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk diperhatikan kejadian itu didepannya. "Luna.. menceraikanmu?"tanya Selia tanpa basa-basi. "…K-kau melihat isinya?" Selia tersenyum senang, "jujur, aku senang akhirnya dia tahu dimana posisi dia seharusnya!.. tapi.. kenapa kau belum menandatangi ini?"tanya Selia dengan aura yang berbeda. "Itu terjadi begitu cepat,.. dia melempar berkas itu tadi pagi. Aku tahu dia hanya emosi saja" "hanya emosi saja? Lian.. kenapa kau seakan mempertahankan hubungan yang sudah jelas tidak ada masa depannya itu?" "Selia.. ku mohon jangan buat aku tambah pusing"ucapnya kesal. "tambah pusing?? Apa ada lagi yang kau sembunyikan dariku?" "seperti yang kau tahu, perusahaanku dan perusahaan milik Luna telah termerger, Daniel kini berniat untuk melakukan pemisahan. Itu akan berdampak buruk pada perusahaanku..karena banyaknya investor akan merugi jika ini terjadi, bukan investor saja.. brand nama perusahaanku juga akan menjadi jelek" "…. Dengan kata lain, ‘aku tidak bisa menceraikannya’ begitu kah yang kau maksud? Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk meninggalkannya" "Aku sedang berusaha Selia.."ucap Julian mengacuhkan ekspresi Selia dengan berbalik arah. "kalau kau bisa pergi denganku kemari dan berbicara jujur pada Luna mengenai itu, sekarang bisa kau jawab jujur padaku…? apa kau punya perasaan pada Luna?" "…"Julian tak menjawab apapun. "Lian!! Jawab aku!!"matanya kini mulai basah. "Selia, maafkan aku. Sepertinya kita harus kembali besok. Aku .. akan mengurus perceraianku.."ucapnya berbalik badan melihat Selia kembali. Selia yang tadinya menangis kini tersenyum bahagia akan fakta itu. Perasaannya begitu legah ketika mengetahui hal ini. Tak sabar keinginan hatinya untuk segera memulai kehidupannya yang baru bersama kekasihnya itu. ----------------------------------------------- Seminggu kemudian, Dengan berat hati Luna tetap membiarkan perusahaan mereka termerger. Hal ini Luna lakukan sementara, hingga projek kerja perusahaan mereka selesai agar tidak merugikan para investor, ketika waktunya tiba maka pemisahan pun dilakukan. Daniel pun ikut setuju apapun yang Luna inginkan. Dengan waktu yang berjalan begitu cepat, sidang perceraian mereka pun tiba. Sebelum sidang dimulai, Luna tak sengaja bertemu Julian yang keluar dari toilet di lobi gedung tersebut. Suasana canggung tersungut di udara. "A-aku… duluan m-menuju kesana.."Julian melangkah dengan cepat. "Julian.."panggil Luna. Julian menghentikan langkahnya, tanpa melihat Luna dibelakangnya. "untuk disaat-saat seperti ini.. aku bahkan masih berharap kau mengucapkan kata padaku ‘jangan pergi’....." Julian tak sanggup mengatakan apapun. "Julian. Terima Kasih sudah menjadi suamiku.."ucap Luna lalu memeluk Julian dari belakang dengan erat. "L-Luna.."Julian memegang tangan Luna hendak melepaskan namun, "10 detik.. hanya 10 detik....." Hangatnya pelukan terakhir itu Julian biarkan. Tak sadar dirinya menahan airmata yang sejak tadi ingin membasahi pipinya. Luna melepaskan tangannya yang melingkari tubuh Julian, dan segera menuju ke persidangan tanpa melihat wajah Julian serta tanpa sepatah kata apapun. Palu resmi diketuk, menandakan sahnya perpisahan rumah tangga mereka. Sebelum meninggalkan persidangan, Julian dan Luna wajib melakukan salam perdamaian. Salam dilakukan, Luna tersenyum tipis menatap Julian. Hal serupa pun dilakukan oleh Julian. Selesai persidangan, Julian menuju toilet untuk mengatur emosinya yang tak bisa diperlihatkan pada semua orang. Saat ingin meninggalkan tempat tersebut, Selia datang menghampiri Luna yang sedang duduk sendirian di luar gedung. Kala itu, Drey tidak punya pilihan lain karena harus mengurus perusahaan sehingga tidak bisa menemani Luna menjalankan persidangannya. "Akhirnya, kau melepaskan yang sudah seharusnya"ucap Selia tersenyum penuh kemenangan.. "semoga kau berbahagia dengan Julian.., Selia.."Luna mengeluarkan setangkai bunga berbalut kertas plastik transparan tipis dari dalam tasnya dan memberikannya pada Selia. "Terima Kasih"tanpa banyak interaksi kemudian Selia meninggalkan Luna dan masuk ke dalam gedung untuk menemui Julian. Luna kemudian pergi dengan menaiki taksi. —————————————————————————————— Julian dan Selia memasuki mobil dan beranjak pergi dari sana. Selia yang begitu senang karena telah berubahnya status Julian kini tak berhenti mencium bunga yang diberikan Luna. "Bunga dari siapa?"tanya Julian. "kau penasaran?" Julian mengangguk, "Dari mantan istrimu!! Hahah dia mengatakan agar kita berbahagia, ucapan yang sarkastik sekali, aku yakin dia masih sangat menyukaimu"pungkasnya Selia dengan tawa. Awalnya Julian ikut tersenyum, namun ditolehnya lagi ke arah bunga itu, "mawar putih?" "Iya, aku suka harumnya.., aku kira dia juga memberikannya padamu ternyata tidak hahaha, ahh aku senang sekali akhirnya hari ini datang!" "……." Ingatan Julian kembali disaat ia duduk di Danau melihat Luna meletakkan mawar putih, "Kenapa mawar putih?"tanya Julian kala itu. Luna tak membalas, yang pada akhirnya Julian tahu Danau itu adalah tempat dibuangnya abu orangtua Luna. bahkan saat pemakaman yang dilakukan keluarga Clementine pada madam juga dilakukan dengan mawar putih. Tidak mungkin… mawar putih … itu artinya… kematian. Luna!… dia akan melakukannya!! Dengan cepat Julian memutarkan mobilnya kembali dengan terburu-buru menuju tempat dimana mereka bertemu pertama kali. perilakunya membuat Selia terkejut, "Julian!! Ada apa!?" Julian tak menghiraukan apapun yang diucapkan Selia, pikirannya kini diliputi rasa takut akan kehilangan Luna. ======================= Curang sekali.., ini padahal hari yang cerah untuk bisa menikmati secangkir teh di cuaca yang dingin seperti ini...ditempat ini.. tapi hari ini sudah tiba. waktunya aku melepaskan segala kepenatan yang sudah tak terbendung.. Tidak.., bukan itu. Aku benci diriku yang sangat mencintai orang yang tidak memiliki perasaan yang sama.. pikiranku ini sungguh beracun.. Luna kembali ke Danau dan meletakkan buket bunga mawar putih di tepian, ia lalu melihat refleksi dirinya di air danau yang masih membeku itu. Ia pegang perutnya yang belum membesar tapi ada benih yang hidup disana, "Maafkan calon ibumu ini.." Luna mengambil batu besar disamping pohon tanpa dedaunan dan melemparnya ke atas danau untuk memecahkan air yang telah beku. Dalam sekejap dan cepat retakan itu mengalir keseluruh permukaan dan terpecah belah. Kini hanya ada air es yang sangat dingin. Dilepasnya Kalung yang diselipkan cincin pernikahan dirinya dan Julian, ia kemudian melepaskan alas kakinya dan merasakan getaran salju yang dingin di kaki telanjangnya, Luna meletakkan kalung itu di dekat sepatunya. ia juga melepaskan sarung tangannya, dan mantel tebal hangatnya. Dilihatnya langit yang cerah itu sekali lagi, kemudian Luna mengirim pesan teks untuk Drey. "Drey.. Terima Kasih sudah peduli padaku. Aku titip semuanya untukmu" usai menulis pesan itu Luna melemparkan ponselnya ke dalam danau. Langkah demi langkah dirinya berjalan menuju air danau yang dalam dan dingin tersebut. … … … … BURRRRRSSSSSSTTTTTTTTT!!! Luna menyeburkan diri dengan menghempaskan tubuhnya kedalam danau. Pemandangan yang ia lihat dari dalam air yang dingin itu, perlahan melahapnya, langit kemudian terasa begitu jauh, dirinya kini tenggelam ditarik oleh sepinya danau dan dinginnya suhu musim dingin yang membuat kulit dan sentuhan mati rasa, membeku dan mengeras. Pandangan Luna kini setengah kabur di dalam air, pasokan oksigen di paru-parunya pun hilang perlahan. Kesadarannya mulai tak terbendung. Matanya ia pejamkan, namun masih bisa dibuka sesekali…sampai akhirnya Luna tak merasakan apapun lagi dan berhalusinasi ada yang datang memanggil namanya, masuk ke dalam air serta mencoba meraih tangannya.. Menyedihkan, sampai akhir pun aku masih terngiang dengan suara Julian. . . Itu.... tidak mungkin terjadi........................................................ .......... .......... .......... .......... hingga akhirnya Luna kesulitan bernapas dan tak sadarkan diri. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (75)
HasanahFebi
Vidio ya sangat bagus dan seruu akuu jadi sukaa menonton di aplikasi ini
Vidio ya sangat bagus dan seruu akuu jadi sukaa menonton di aplikasi ini
28/05
0sangat bagus😍
25/01
0Bagusss
25/01
0Lihat Semua