Mereka bilang, 'Waktu' akan meringankan rasa sakit... Namun hari-hari tetap berlalu.. dan emosi itu masih ada... Seribu katapun tidak cukup untuk membawa mereka kembali, Aku tahu, karena aku sudah mencobanya.. Begitu pun dengan air mata yang mengalir melinang. Demikian hal itu karena tangisanku mengering. Rasa ini semakin tidak adil, Waktu berlalu, hari, jam, menit, detik.. tapi Rasa kehilangan itu tidak. rasa itu abadi. Bahkan seminggu, sebulan bahkan setahun pun berlalu, Kesepian itu terus-terusan muncul tanpa diundang. Dalam sekejap mata, kalian menghilang.. yang tersisa.. hanya kenangan masalalu.. tertutupi debu dan waktu.. Jika waktu bisa diputar ulang, aku akan menghalangi kalian pergi kesana. Hari itu Luna depresi sejak Orangtuanya meninggal dunia. Pelariannya hanya pada sebuah danau di dalam Hutan kota yang jarang tersentuh tangan manusia. Angin berhembus melewati ranting-ranting pohon yang rindang menambah suasana kesendiriannya didalam sana. Luna seorang penyendiri, tak banyak bicara namun jika itu orang terdekatnya, Luna dapat berubah menjadi orang yang terbuka. Dalam kesendiriannya, ia mengingat masa-masa hangat yang ia alami namun berubah menjadi dingin karena tiupan angin kencang. Awan mendung mulai menutupi dirinya, Hari itu Luna berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri menenggalamkan dirinya ke dalam Danau. Luna tak sanggup lagi menjalani hidupnya tanpa siapapun. Luna bekerja di mini-market dengan gaji pas-pasan, biaya sewa rumah orangtuanya terlalu mahal membuat dirinya pindah ke tempat tinggal yang lebih murah nan kecil. namun dengan gajinya yang pas-pasan terkadang Luna harus berpuasa untuk hemat makan. tak ada tujuan yang ingin digapainya, tak ada mimpi yang terbesit. Luna hampa akan kenapa dia masih berada di dunia ini? kenapa bukan dia saja yang meninggal.. kenapa harus Orangtuanya. Kehilangan sosok pendukung dalam kehidupannya membuat Luna hilang arah dan tersesat dalam kabut duniawi, bukan tentang harta benda, tapi tentang seseorang yang peduli, tentang sahabat yang mengasihi. namun, dirinya hanya seorang diri, duduk di sudut memeluk lutut, berharap sesuatu yang tak dimaksud, dan hanya mengundang ingatan masa lalu yang pilu. sampai sekarang, aku masih mencari... sesuatu yang dapat menghentikan tangisanku, seseorang yang dapat menghilangkan rasa takutku, dan orang yang akan menghapus air mata ini.. Rintik hujan perlahan turun membasahi bumi, Luna terus melangkah maju dengan tatapan kosong ke arah Danau tanpa suara. tak ada yang memanggilnya datang, Luna berjalan dengan sendirinya. Ketika ia sampai di bibir Danau, seseorang dari belakang menarik tangannya dengan keras. "JANGAN LOMPAT!!"teriak orang tersebut lantang. "ada yang peduli padaku?" tanya dirinya dalam hati. Luna menoleh kebelakang penasaran dengan sosok yang menyelamatkannya. Seorang pria tampan berambut hitam tinggi, berkulit putih dengan tubuh atletis berpakaian kasual memandangnya penuh amarah karena tujuan bunuh dirinya. Hati Luna berdebar, menatap mata tegas pria itu. belum pernah ada orang yang menegurnya dengan ekspresi seperti itu. "Apa yang kau pikirkan!"tanya pria itu. Hujan pun turun dengan lebat. Mereka berteduh di bawah atap halte bis. "Terima Kasih"ucap Luna melihat wajah pria itu lagi, fisiknya yang rupawan membuat wanita manapun pasti langsung tertarik dengannya, perasaan aneh menghinggapi diri Luna, ingin sekali rasanya ia memeluk pria ini tapi tidak mungkin takut akan sikap kurang ajar yang mungkin akan dikatakan oleh pria itu jika terjadi. "Hidup ini kadang tak sejalan dengan yang kau inginkan, tapi jangan menyerah. jangan lakukan hal itu lagi"ucap pria itu mengelus kepalanya seraya meninggalkan dirinya. "Hei!!"Panggil Luna. Pria itu menoleh kembali ke belakang ia menegadahkan tangannya di atas kepala agar menghalau air hujan tidak langsung menghujam kepalanya. "S-siapa Namamu?"tanya Luna ragu. "Julian" pria itu menjawab dengan tersenyum kemudian pria itu permisi dan pergi. Senyuman yang ditinggalkannya membuat Luna merasakan sekali lagi perasaan aneh, dadanya seperti terbakar namun ini bukan marah, pikirannya dipenuhi oleh bayangan dan senyuman Julian yang menghangatkan dikala hujan turun. "Ini... apa ini cinta?"Luna bertanya pada dirinya sendiri tentang keraguannya. Hari itu, Luna jatuh cinta pada Julian tanpa alasan. dirinya terus memandangi Julian hingga bayangannya menghilang. Perasaan ini terasa aneh, ini bukan tentang baru pertama bertemu tapi tentang hati yang memilih. Aku yang tidak pernah kenal pria sebelumnya bisa langsung jatuh hati pada Julian tanpa harus tahu alasan apa dibalik itu. Ibarat Sang Ibu yang selalu mengasihi anaknya tanpa imbalan begitu pula yang ku rasakan. cukup aneh tapi cukup unik. terkadang sembari merenung aku berpikir akankah Julian memiliki perasaan yang sama? tentu saja belum, semua butuh proses. aku selalu memikirkan dari sudut positif. tak ingin memaksa kehendak, tapi ingin selalu mencoba selagi aku mampu. benar. tidak salah bukan? langkah pertama adalah percobaan yang harus diiringi dengan tekad yang kuat. tanpa itu semua, aku sudah pasti tidak akan pernah bertemu dengan Julian lagi. aku harus mencari dirimu, kemana pun kau berada, aku pasti akan menemukanmu. lagipula, akhirnya aku menemukan 'seseorang' yang bisa membuatku terjaga di kehidupan yang fana ini. "Aku.. harus bertemu dengannya lagi.."ucap Luna. Setiap orang memiliki hal-hal yang tidak ingin diingat, namun didalam kehidupan, Hujan memang harus turun. Ketika aku memilih hidup, aku merasa keluarga-ku ada disini bersamaku, untuk membangun kembali hidupku yang hampa, dan membantu langkahku demi mencapai dirimu.. Kali ini aku akan terbang tingga, tertawa dan tersenyum, aku akan kembali ke suatu waktu, sebelum Kau datang, Mengetuk pintu-Ku.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (75)
HasanahFebi
Vidio ya sangat bagus dan seruu akuu jadi sukaa menonton di aplikasi ini
Vidio ya sangat bagus dan seruu akuu jadi sukaa menonton di aplikasi ini
28/05
0sangat bagus😍
25/01
0Bagusss
25/01
0Lihat Semua