logo text

22. Kemurkaan Abah

“Baah, Rimar mau pulang ....”
“Kenapa pulang? Gak betah di sana?”
“Rimar mau pulang aja, Abaaah ....” Air mataku terus berderai. Aku berbaring dengan posisi miring dengan ponsel di antara telinga dan bantal.
“Ya, sudah. Rimar di mana sekarang? Abah jemput ke rumah si Gio itu, ya?”
“Rimar ... Rimar di rumah sakit, Bah.”
“Astagfirullahal’adzhiim!” Suara Abah memekakkan telinga. “Kenapa di rumah sakit?! Siapa yang bikin anak Abah dirawat di sana?!”
“Dokterlah, Baah.”
“Terus si Gio ke mana?”
“Hm ...?”
“Tuh, kan! Pasti gara-gara anak gila itu. Sudah, sekarang Abah jemput ke rumah sakit, ya?”
“Iya, Bah.”
Aku terpaksa melepas jarum infus yang menempel di lengan walaupun sakit dan menyebabkan beberapa tetes darah bercucuran.
Melihat situasi rumah sakit yang sangat ramai pasien dan wali, aku segera mengambil kesempatan untuk keluar. Semua dokter pasti sedang sibuk dan beberapa dokter lain sudah di luar tugasnya. Sebelum sekretaris Mas Gio datang, aku harus pergi secepatnya.
Aku duduk di ruang tunggu pengunjung sambil menunggu kedatangan Abah. Di sana tempat yang paling tepat karena banyak orang yang baru berdatangan dan cocok untukku berkamuflase dari sekian banyak pengunjung, apalagi tubuhku yang kecil pasti takkan terlihat.
Benar saja, sekretaris Mas Gio datang bersama seorang sopir. Mereka terus berjalan dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh ke mana pun.
Setelah mereka lewat, aku memutuskan untuk pergi dan menunggu Abah di luar.
Sebuah motor matic Abah keluaran tahun 2010 berhenti di halaman rumah. Akhirnya, aku sampai di rumah yang sudah lama kurindukan. Aku berdiri di ambang pintu, menghirup udara bekas kenangan masa kecil sampai beberapa saat sebelum harga diriku dirusak.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Aku mencium tangan Bang Umar dan istrinya, anak-anak mereka sudah tidur rupanya. Setelah itu, aku melangkah ke tengah, ke sebuah ruangan tempat di mana aku menghabiskan mimpi-mimpi. Kamar lamaku yang tak terlalu keren, tak mewah seperti di rumah Mas Gio, tetapi lebih nyaman dari kamar mana pun. Kamar dengan bantal kesayangan yang masih tercium bau iler dan guling yang tak pernah lepas dari pelukanku.
Saku celanaku bergetar terus-menerus karena suara panggilan telepon. Aku penasaran dan ingin melihatnya, ternyata panggilan dari Mas Gio.
Hmm ... aku ingin menghirup udara segar rumah Abah untuk sementara waktu sebelum akhirnya aku kembali menjadi macan detektif. Jadi, kuputuskan untuk mematikan ponsel dan menyimpannya di laci nakas kamarku.
Sampai pagi berlalu, Abah tak bertanya apa pun. Mungkin beliau ingin memberi aku waktu untuk menenangkan diri. Biasanya, memang aku akan bercerita panjang lebar pada Abah atau Bang Umar karena hanya merekalah yang menjadi pelindungku.
Suasana rumah di pagi hari sudah tercium aroma pisang goreng dan kopi panas. Aku mendatangi dapur tempat Teh Ira—istri Bang Umar—sedang menyiapkan sarapan.
“Waah, ada bala-bala juga.” Mataku berbinar mendapati beberapa menu makanan tersaji di meja. Sudah lama aku tak menikmati sarapan pagi terlezat dan semenenangkan di rumah semasa kecilku itu.
“Jangan comot-comot! Cuci tangan dulu sana! Tunggu Abah ke sini baru boleh makan,” semburnya.
Teh Ira memang ketus terhadapku. Dia seperti cemburu kalau melihat Bang Umar memperlakukanku sebagai adik. Ya, wajarlah. Aku, kan adik bungsu tercantik selain Teh Risa.
Keramaian terdengar di depan rumah saat keluargaku tengah menyantap sarapan. Awalnya, kami tak menghiraukan, tetapi suara makin ricuh di luar dan itu membuat penasaran Abah. Akhirnya, Abah bangkit dari kursi setelah membabat habis pisang goreng terakhir.
“Ada apa, sih, ribut-ribut?”Abah berjalan untuk melihat kondisi di luar rumah. Sementara, aku dan yang lain tetap di meja makan.
“Rimaar?” Suara Abah memanggil dengan kencang.
“Iya, Abaah?” Segelas air kuteguk habis, lalu berlari kecil menghampirinya.
Suara kaki berdecit menahan langkah. Aku langsung melipir ke kamar ketika melihat siapa yang datang. Sedang apa mereka? Bagaimana mereka tahu kalau aku ada di rumah?
Aku segera mengambil kerudung dan memakainya, lalu menghampiri keluarga Mas Gio yang datang bersamaan.
Keramaian itu ternyata dibuat oleh tetangga yang terheran-heran karena melihat dua mobil mewah bertengger di halaman rumah. Mereka bertanya-tanya siapa yang datang dan ada keperluan apa? Sepertinya, aku akan menjadi sasaran empuk para biang gosip kampung.
Keluarga Mas Gio sudah duduk di ruang tamu, di sofa usang bermotif bunga-bunga jaman dulu, kecuali Lisa dan Mbak Sari yang berdiri di dekat pintu. Mereka berdua mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah dengan ekspresi mencela.
“Silakan duduk,” ucap Abah pada Lisa dan Mbak Sari.
Mbak Sari mengambil satu kursi kayu lalu duduk di samping Mas Gio, sedang Lisa hanya berdecak dan mengerlingkan mata saat Abah berbicara. Dasar Anak Tidak Tahu Sopan Santun!
“Neng, kenapa tidak duduk?”
“Tak usah. Saya takut gatal-gatal.”
“Oh, Abah kira Neng ambeien.”
Mama Mas Gio menahan gelak tawa. Padahal, tadinya kulihat Mama sudah siap untuk menegur kelakuan putri bungsunya itu.
“Rimar, kenapa pulang tak kabari kami? Kalau kamu pulang, kan, Mama bisa ikut silaturahim sama Abah kamu. Apa terjadi sesuatu sampai kamu mendadak pulang?”
Aku dan Mas Gio saling bertukar pandangan.
“Iya, Ma.”
Mas gio beringsut mendengar jawabanku. Dia yang tadinya tak acuh, jadi melempar tatapan tajam padaku.
“Betul ada sesuatu?” Mama memastikan sekali lagi.
“Semalam, Rimar belum cerita apa-apa sama Abah. Coba sekarang Abah mau dengar ada apa sampai kamu nangis-nangis dan minta pulang dari rumah sakit?”
“Rumah sakit? Kenapa di rumah sakit, Rimar? Kamu sakit atau terjadi sesuatu sama kandungan kamu?” Mama terlihat sangat mengkhawatirkanku.
“Rimar pingsan di jalan, terus Mas Gio bawa Rimar ke rumah sakit.”
“Nah, kemarin Abah ke sana, kok, dia tidak ada?!” Abah penasaran.
“Gio, coba jelaskan ada apa! Kenapa kamu tidak kasih tahu Mama kalo Rimar kenapa-napa!”
“Itu ... Rimar cuma terlalu kelelahan. Jadi, kandungannya lemah.”
“Terus kemarin ke mana? Kok Rimar bisa sendirian di rumah sakit?!” Abah menghardiknya.
“Saya masih banyak pekerjaan di kantor, Abah.”
“Gio—“
“Ooh, jadi kamu menyepelekan anak saya! Kamu lebih mementingkan kerjaan daripada istri sendiri? Iya?!” Abah memotong ucapan besannya.
“Tapi dia cuma istri di—“
Mas Gio menahan ucapannya saat melihat tubuh Abah yang tinggi besar itu bangkit dari kursi, lalu berdiri berkacak pinggang.
“Lanjutkan ucapanmu!”
“Kenapa saya harus memperhatikan Rimar? Dia, kan, cuma istri kedua di atas kertas. Dia yang seharusnya bisa menerima saya yang seperti ini karena dia yang awalnya bersedia menjadi istri kedua saya.”
“Kamu boleh bilang begitu kalau kamu bisa jaga tuh burung kerdil!” Abah menunjuk ke bawah perut Mas Gio.
“Saya, kan, sudah bilang itu kecelakaan saat mabuk.”
“Terlepas itu kecelakaan atau bukan, kamu tetap harus bertanggung jawab. Apalagi di situ, tuh!” Abah menunjuk perutku, “ada kloninganmu! Kamu pikir saya rela kalau anak saya yang berharga ini jadi istri kedua penjahat kelamin kalau bukan karena ada bibit yang ditanam di sana!?”
“Saya, kan, sudah minta maaf, sudah memberinya uang juga. Lalu, apa lagi?! Lagi pula, Rimar cuma kelelahan dan lemah kandungan. Istirahat sebentar juga pasti sehat lagi!”
Mata Abah begitu membesar dan bulat sempurna karena terhenyak dengan ucapan menantu yang tak diharapkannya itu. Ia menaikkan kaki hendak melangkahi meja.
“Gio!”
Dua kali tamparan menyerang pipinya.

Komentar Buku (253)

  • avatar
    Man Ai

    Best banget jln ceritanya.. Gue minat dngn watak si adit & si Rimar.. Smoga sukses selalu penulisnya.. Aaamiin

    18/05/2022

      0
  • avatar
    Fitri Ajeng

    terima kasih atas karyanya... ending nya sesuai dengan khayalan q.. tapi kasian juga si Sergio...

    14/05/2022

      0
  • avatar
    trisanyMaria

    keren ceritanya

    10/08

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru