Aku dan Mas Gio tiba di rumah beberapa menit sebelum Magrib. Aku mengambil langkah masuk lebih dulu. Mbak Sari ternyata sedang membuka pintu sebelum aku sempat membukanya. Dia keluar bersama Lisa sambil bertepuk tangan pelan. "Wow, ini dia pelakor kita. Sudah berani pulang berdua, ya, sekarang?" "Sudah putus urat malunya, tuh, Kak!" sambung Lisa dengan gaya bak seorang pem-bully. "Permisi, saya masuk dulu." Jujur aku sedang lelah hari itu. Aku menghindari perdebatan dengan mereka. Belum lagi perutku yang merasa sedikit sakit saat jatuh karena didorong Mas Gio. "Eeeh, enak saja. Nyonya pelakor sudah berasa jadi tuan rumah, ya?!" Istri tua Mas Gio menarik lengan dan sedikit mendorong tubuhku yang sudah lelah. "Jangan sok kecakepan dan istimewa di rumah ini, ya? Jangan mentang-mentang Mama juga menyukaimu jadi kamu bisa seenaknya bersikap!" sambung Lisa dengan ekspresi menyebalkannya itu. Dasar Anak Bawang! Masih kecil sudah punya sikap mem-bully. Padahal, aku ini kakak iparnya. Tidak masalah kalau dia tidak menganggapku seperti itu, tetapi seharusnya, dia bisa menghormati orang yang lebih tua darinya—siapa pun itu. "Kenapa? Marah? Tidak terima? Kalau tidak terima silakan pergi?! Tak masalah tidak pamit juga karena kamu bukan hal yang penting di rumah ini!" Lisa bertingkah lagi. Aku lihat Mas Gio masuk rumah begitu saja tanpa melerai kami. Huh ... Dasar Kolor Ijo! Aku membuang napas keras-keras, lalu berjalan maju mendekati mereka. Aku meluruskan telunjuk dan mendorong-dorong bahu kiri Mbak Sari hingga membuatnya mundur beberapa langkah. "Saya ... memang bukan siapa-siapa di rumah ini!" Ucapanku penuh penekanan, "tapi ... posisi saya dan kamu tidak jauh berbeda di sini! Sama-sama sebagai menantu dan hidup menumpang di rumah mertua. Kamu dan saya hanya berbeda urutan pertama dan kedua, jadi ... jangan sombong! Perlakukan suamimu sebaik-baiknya karena ... bukan berarti tidak ada posisi ketiga setelah kita?!" Aku mengangkat alis kanan dan menaikkan salah satu sudut bibir. Mbak Sari langsung menohok mendengar ucapan balasanku. "Dan kamu ... Anak Kecil!" Lisa menatap sinis dengan gaya belagunya, "bersikaplah yang baik kalau kelak tidak mau mendapat suami seperti kakakmu dan ipar seperti dia!" Aku menunjuk wajah Mbak Sari. Suara klakson di luar meminta agar pintu gerbang dibuka. Lalu, sebuah mobil sedan hitam berlogo kincir angin keluaran tahun 2010 memasuki pelataran rumah. Sang sopir keluar dari mobil, lalu membukakan pintu penumpang. Ia menunggu seseorang yang keluar dari seat belakang. Kemudian, mama mertuaku yang berpenampilan sederhana, tetapi elegan tengah berjalan ke arah kami berdiri. "Kalian sedang apa di sini? Tumben sekali?" Selalu dengan senyumnya yang hangat dan bijaksana. "Cuma sedang mengobrol, Ma," jawab Mbak Sari. "Mama, kok, baru pulang?" rengek si bungsu sambil bergelayut di lengan mamanya. "Iya, tadi pertemuannya agak lama, Lisa. " Mama menjawab sambil tangannya mengusap kepala anak bungsu yang sedang bersandar itu. "Ya, sudah ... teruskan saja. Mama masuk duluan, ya?" sambungnya. Lisa melepaskan tangannya sehingga sang mama berjalan masuk sendiri. Tinggallah kami bertiga lagi di teras. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Menyiapkan kekuatan, lalu berjalan menghantam bahu mereka sampai keduanya mengaduh. "Hei, Kak Rimar?!" Lisa memanggil dengan nada tinggi. "Ada apa, Adik?" "Adik, adik! Ish, jijai. Tidak punya mata, ya, sampai jalan menabrak?!" "Justru, karena saya punya mata." "Kalau punya mata lewat jalan lain, laaah ...." Suara Lisa semakin memekik. "Suruh siapa berdiri menghalangi jalan! Untung badan saya bukan terbuat dari besi." "Iiiiiiiihhhhhh ...." Lisa merasa berapi-api dan bola matanya seperti mau keluar. "Kenapa? Bahunya masih bisa gerak, kan? Gak ada yang lecet, kan?" tanyaku untuk menyindirnya. Lisa berniat menghampiriku, tetapi Mbak Sari dengan tangkas menahannya. "Sudah, Lis. Dia tidak bisa diajak bicara baik-baik sekarang. Dia sudah tidak waras." Aku menutup pintu dengan keras setelah memasuki kamar. Menjatuhkan diri ke atas ranjang yang mengampul. Tas kerja yang biasa diselempangkan, aku lempar ke sembarang arah. Apa?! Aku tidak bisa bicara baik-baik katanya? Mereka yang mulai dengan ucapan-ucapan kotornya, tetapi berharap aku menjawab dengan baik? Cih! Sekali dua kali, aku masih bisa sabar. Tapi kalau keseringan, keterlaluan juga. Apa mereka kurang piknik sampai harus mencaci makiku terus? Apa yang mereka lakukan selama sekolah sampai tidak bisa berbicara dengan baik dan belajar bagaimana caranya menghargai juga menghormati orang lain? Apa lagi bocah tengik itu! Kulihat keluarganya baik-baik saja. Terutama mama mertuaku yang kelewat baik. Padahal, baru mengenalku. Akan tetapi, beliau memperlakukanku tidak berbeda daripada yang lainnya. Kalau Mas Gio ... entahlah. Dia seperti amfibi yang hidup di dua alam: alam nyata dan alam baka. Aku menyeringai sendiri di kamar yang penuh dengan bermacam-macam buku. Aku terus memikirkan bagaimana harus mencari tahu tentang rahasia Mbak Sari? Sepertinya, dia menyembunyikan banyak hal dari keluarga Mas Gio. Aku harus membongkarnya satu demi satu sebelum waktuku habis di rumah itu. Pertama-tama, aku akan mencari tahu tentang kebenaran dia memakai IUD. Aku tidak mungkin bertanya pada Dokter Arin karena rekam medis pasien bersifat rahasia. Apa aku bertanya saja pada Mas Gio? Apakah dia merasakan sesuatu yang janggal sewaktu mencampurinya?Aah ... tidak mungkin. Menggelikan sekali kalau aku harus bertanya hal seintim itu. *** Setelah jam makan malam, aku pergi ke kamar lebih dulu. Sementara itu, keluarga Mas Gio masih bercengkerama di ruang makan dengan kompak. Sepertinya, memang benar kalau aku tidak pantas berada di keluarga Mas Gio walaupun aku memang tidak tahan menetap di rumah itu kalau bukan demi jabang bayi yang ada di rahimku. Aku jadi merindukan rumah, merindukan Abah, juga suasana di kampung. Aku merindukan makan bersama di atas karpet dengan Abah, keluarga Bang Umar, dan keluarga Teh Marisa. Tertawa dan bersenda gurau dengan keponakan-keponakanku dan aku akan sangat jarang berkumpul lagi seperti itu. Aah ... di malam yang dingin aku benar-benar seperti disayat sembilu. Perasaanku sedang down karena ingat hal-hal kecil yang tidak akan kudapatkan seperti di rumah Abah. Aku tak tahu kapan terakhir kali aku tertawa untuk hal sepele setelah tinggal di rumah mertuaku. Segera kuusap mata yang sudah lembab saat melihat pintu kamar Mbak Sari sedikit terbuka. Tiba-tiba saja terpikir ide brilian di kepalaku. Ini kesempatan yang bagus. Aku memperhatikan keadaan sekitar dan berharap tak ada yang melihatku masuk. Dengan langkah jinjit aku mengendap-endap di kamar yang lebih luas daripada kamarku. Aku melihatnya: benda pipih dan panjang tergeletak di atas nakas. Segera kuambil ponsel berwarna putih itu sebelum ada yang datang. Aku fokus mencari nama Dokter Arin di aplikasi pesan singkat berwarna hijau. Namun, tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan berdering kencang hingga membuatku terperanjat. Niatku ingin mematikan telepon masuk itu, tetapi ibu jariku malah salah menggeser. Akhirnya, telepon tersambung dan suara seorang lelaki memanggil "Beb". Kujauhkan ponsel untuk memastikan nama yang muncul di layar. Widuri? Bukannya itu nama perempuan? Aku mendekatkan telepon ke telinga lagi. "Halo, Beb? Gimana besok? Kok, diam saja?" Kumatikan sambungan, kemudian semua notifikasi dibisukan supaya aman.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (253)
Man Ai
Best banget jln ceritanya.. Gue minat dngn watak si adit & si Rimar.. Smoga sukses selalu penulisnya.. Aaamiin
18/05/2022
0
Fitri Ajeng
terima kasih atas karyanya... ending nya sesuai dengan khayalan q.. tapi kasian juga si Sergio...
Best banget jln ceritanya.. Gue minat dngn watak si adit & si Rimar.. Smoga sukses selalu penulisnya.. Aaamiin
18/05/2022
0terima kasih atas karyanya... ending nya sesuai dengan khayalan q.. tapi kasian juga si Sergio...
14/05/2022
0keren ceritanya
10/08
0Lihat Semua