Mawar duduk di sebelah Purnomo, dia sudah pulang dari perumahan miliknya, seperti biasa dengan alasan bertemu teman yang Mawar gunakan agar bisa bercumbu dengan Arka. “Mbak Anita kemana, Mas? Rumah sepi amat!!” tanya Mawar sambil merasakan hawa sunyi di atmosfer rumah. “Anita sedang pulang ke rumah orang tuanya, penyakit ayahnya kambuh,” jawab Purnomo yang mencoba menggerakkan tubuhnya menghadap ke Mawar dengan susah payah. Mawar memperhatikan cara bergerak Purnomo seperti ada salah satu tulang yang hilang, sehingga terlihat kaku. “Mas Purnomo kenapa?? Apa habis jatuh? Kapan?? Kok aku tidak dikabari?? Sekarang bagaimana, apanya yang sakit?” tanya Mawar yang lebih perhatian dari sebelumnya, karena ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Purnomo sangat senang melihat Mawar yang menghawatirkannya, dia baru bisa tersenyum sejak 2 hari yang lalu setelah rentetan kejadian yang menimpanya. “Ini ulah Anthony si Kacung itu!!! Lihat saja kalau tertangkap akan aku siksa baru aku bunuh!!” geram Purnomo sambil mengepal tangannya, lalu ekspresi wajahnya berubah lembut ketika melihat wajah manis Mawar, dia berkata, “ Jangan kuatir, Sayang. Mas kuat kok!! Kata terapis tulang akan sembuh 2 atau 3 hari lagi. “Ohh, syukurlah!!! Aku lega mendengarnya,” timpal Mawar. Tapi dia mulai marah lagi ketika tahu bahwa Purnomo masih memikirkan Vanya. “Sudah deh, Mas. Tidak usah mengurusi yang tidak ada, jika tidak bisa dipertahankan kenapa harus pusing-pusing!!” “Ceraikan saja si Vanya sok berkelas itu!!! Kan ada aku, Mas,” ungkap Mawar sambil memeluk lengan Purnomo. Sedetik mereka berdua seperti terhanyut dalam belain rindu, akan tetapi Mawar ada sesuatu yang sudah menunggu di balik batu. “Oiaa, Mas. Aku ada kabar gembira!!” seru Mawar yang melepas pelukannya, dia tersenyum sambil melihat Purnomo untuk memancing rasa penasarannya. “Kabar apa itu?” tanya Purnomo sedikit antusias dalam jawabannya. “Aku hamil, Mas!!” pekik Mawar. “Ha...mil!!! Benarkah?” timpal Purnomo tidak percaya. Mawar mengangguk, lalu dia memeluk lengan Purnomo lagi, senyumnya hilang seketika ketika dia menundukkan kepalanya. Ekspresi wajah Purnomo yang terkejut, mengingatkan Mawar dengan wajah terkejutnya Arka beberapa jam yang lalu. “Aku telat haid selama seminggu, setelah cek test pack ternyata aku hamil, Sayang,” kata Mawar datar. “Hah!!! Hamil?? Kok bisa hamil sih?? Apa pil KB-mu habis?” tanya Arka terkejut, dia seperti tidak terima dengan berita omong kosong itu. “Masih!! Biasanya aku juga rutin meminumnya, setelah aku ingat lagi kayaknya ini hasil perbuatanmu deh!! Ingat sekitar seminggu yang lalu saat kita hampir mau putus, yang kita melakukannya di dalam mobil itu!!!” “Aku tidak minum pil KB-nya dan selama seminggu ini aku tidak berhubungan badan sama Purnomo, karena aku sedang marahan sama dia,” terang Mawar. “Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin,” sahut Arka sambil menggelengkan kepalannya, lalu dia kembali berkata, “Aku tidak mau tahu, aku belum bisa bertanggung jawab, jadi gugurkan saja!!” Mawar marah mendengar saran Arka yang jauh dari harapannya dengan cepat dia menampar pipi Arka sambil berdiri menunjuk wajah kekasih gelapnya itu. “Mulutmu itu jangan asal bicara!!! Kalau tidak mau bertanggung jawab ya sudah, tidak usah memintaku untuk menggugurkan bayi ini, walaupun aku wanita tidak benar, aku tidak tega untuk membunuh bayi di dalam rahimku ini!!!” murka Mawar terhadap Arka yang semakin syok setelah mendapatkan tamparan. Arka memegang pipinya, dia belum bisa berpikir jernih, lalu dia pergi meninggalkan Mawar begitu saja. “Hei kau!! Brengsek!! Pergilah dan Jangan kembali lagi!! Kalau berani muncul di hadapanku akan kubunuh kau!!” teriak Mawar frustrasi, tidak terasa airmata jatuh membasahi pipinya. “Mawar!! Sayang!! Kenapa menangis?” tanya Purnomo sambil mengangkat lembut dagu Mawar, ketika mata mereka sejajar, dia mengusap airmata istrinya yang kian deras. Seketika lamunan Mawar buyar, dia kembali menghadapi kenyataan di depan Purnomo yang sedang berpura-pura. “Tidak Mas, aku hanya terharu saja setelah 1 tahun ini belum juga diberi momongan dan akhirnya hari ini terwujud juga. Aku senang,” jawab Mawar berbohong. Purnomo ikut merasa haru, dia sendiri juga sudah menantikan momongan selama ini. Ketika bertahun-tahun Anita tidak bisa hamil, lalu Vanya yang susah sekali diajak tidur dan akhirnya Mawar bisa memberikan keinginan Purnomo. “Sayang, terimakasih sudah memberikanku seorang anak. Aku berjanji untuk menuruti semua keinginanmu dan lebih memperhatikanmu!!” ungkap Purnomo sambil mencium tangan Mawar lalu memeluknya, rasa sakit punggungnya seolah berkurang setelah mendengar kabar yang luar biasa gembira bagi Purnomo. Mawar tersenyum palsu, di dalam hati dia merasa lega karena Purnomo mempercayainya bahwa anak di dalam kandungannya itu adalah anak Purnomo. Saking serunya mereka mengobrol, mereka tidak tahu jika Anthony dan Asep baru saja keluar dari pekarangan rumah Purnomo dalam keadaan sepi tidak ada anak buahnya sama sekali. “Ayo Sep, kita meluncur ke daerah Legian!!” seru Anthony sambil menepuk bahu Asep. Asep segera menyalakan motor, dia tancap gas sebelum ada orang yang menyadari jika mereka berdua baru saja mengendap-endap ke rumah Purnomo seperti Maling. Anthony terlihat sibuk menghubungi Sean, setelah menunggu beberapa detik sambungan telepon pun tersambung. Dia meminta bantuan kepada teman di rumah. “Hallo, Sean. Segera ajak yang lain pergi ke Legian ya, tepatnya di hutan Legian!! Aku ingin menghabisi Jati beserta anak buahnya!!!”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan bagus ga ribet pokoknya manyus deh😉
08/07
0knzbgsggs
06/07
0bagus sekali
16/02
0Lihat Semua