logo text

Bab 86 Pria Koboi

Kegelapan di rumah Anthony sangat mencekam, anehnya di rumah warga dan lampu penerangan jalan tidak padam. Vanya sangat takut ketika terdengar suara sepatu yang mendekatinya.
Gerakan tiba-tiba dari pemilik sepatu itu membekap mulut Vanya, serta membekuk tangannya ke belakang yang menyebabkan Vanya sempat berteriak di kala jeda sempit itu dan akhirnya dia menggigit tangan bandit.
 
“Aaaarghhh!!! Lepaskan aku!!!”
 
Teriakan Vanya bersamaan dengan lampu di rumah  Anthony menyala, dia sangat ketakutan ketika melihat Anthony sudah terikat tangannya dengan mulut yang sudah di lapban.
 
Anthony mengatakan sesuatu, akan tetapi perkataannya tidak bisa di dengar hanya mengeluarkan suara ’Ugh!!Ugh’.
 
Bangsat!!! Siapa mereka?? Cepat sekali gerakannya sampai aku tidak menyadarinya, batin Anthony geram, dia marah ketika Vanya dijadikan korban.
 
“Siapa kalian?? Cepat lepaskan Anthony!! Kalau tidak, aku akan berteriak meminta tolong!” ancam Vanya dengan tangan yang sudah dibekuk.
 
“Diam!! Aku tidak segan untuk menggorok leher pria ini!!” ancam balik pria misterius yang menggunakan jas lengkap memakai topi koboi.
Pria bertopi Koboi yang hanya terlihat setengah wajahnya dengan belati tertempel di leher Anthony.
 
Vanya menangis melihat Anthony terpojok, dan parahnya lagi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Teman pria bertopi koboi itu menghampiri Vanya dan membungkam mulutnya.
 
“Bawa wanita itu ke mobil sedan dan kirim ke tempatnya!!” perintah Pria bertopi koboi.
 
Anthony terlihat memberontak, dia ingin sekali menyelamatkan Vanya tapi apa daya tangannya sendiri saja diborgol.
 
Kemana Sean dan yang lain??? Aku tidak mendengarkan suara mereka, batin Anthony.
 
Padahal Vanya sedang diglendeng orang asing melewati teras rumah, tapi kenapa 3 teman Anthony tidak ada yang menolong Vanya.
Vanya pun sudah menghilang bersama mobil yang sudah melaju menjauhi rumah Anthony. Kini giliran Anthony yang diglendeng keluar.
 
“Cepat jalan!!” perintah pria bertopi koboi kepada Anthony.
 
Anthony berjalan dengan tangan yang sudah dipegang oleh 2 pria asing, ketika dia melewati teras rumah, Sean dan yang lain pingsan tidak sadarkan diri. Leher Sean terlihat ada jarum kecil, tidak salah lagi itu adalah obat bius yang cara kerjanya ditembakkan ke target.
 
 
Siapa mereka?? Rapi sekali rencananya?? Apakah ini orang-orang dari Purnomo juga? Batin Anthony.
 
 
 
Anthony masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan Vanya, pria tersebut menutup kepalanya dengan karung berwarna hitam menghalangi jalan menuju suatu tempat yang sudah mereka tentukan.
 
Sementara Vanya, kepalanya tidak ditutup sehingga dia tahu kemana tujuan pria asing itu. Vanya terus mengamati jalanan sekitar, dia terus mencari kelengahan orang-orang misterius itu.
 
Bukankah ini jalan menuju rumah Purnomo?? Ahh!!! Sial!!! Pasti si Bandot Tia itu sudah merencanakan semuanya. Pasukan ini batin Vanya.
 
Tidak butuh waktu yang lama, Vanya sudah berada di depan rumah Purnomo. Pria asing itu menyerahkan Vanya ke Purnomo.
 
“Bos!! Tawanan anda!!” kata pria asing, dia mendorong Vanya ke hadapan Purnomo.
 
 
“Bagaimana dengan si prianya?” tanya Purnomo menyelidik, yang dimaksud Purnomo adalah Anthony, siapa lagi.
 
“Beres!!! Dia sudah dibawa ke tempat yang direncanakan,” jawab pria asing itu yakin.
 
 
“Kerja bagus!!! Bawa dia ke dalam kamar dan kunci saja!!”  perintah Purnomo, lalu para anak buah tersebut dengan sigap menarik Vanya memasuki rumah.
 
 
Rumah Purnomo dalam keadaan sepi tidak berpenghuni, Anita dan Mawar tidak tahu kemana perginya. Vanya sangat ketakutan dan berkeringat, dia tidak mau kejadian yang sudah lama dia lupakan terulang kembali.
 
 
Setelah Vanya sudah berada di kamar, ikatan dan lapban tidak dilepas, dia dilempar ke atas ranjang begitu saja dan tanpa peduli dengan perasaan takut Vanya.
 
Purnomo ikut dengan pria asing itu menuju tempat dimana Anthony berada. Dia sangat amat ingin melampiaskan semua amarah yang dia rasakan selama ini.
 
“Akhirnya hari kemenanganku datang juga,” gumam Purnomo senang, dia tersenyum jahat membayangkan Anthony penuh luka sampai berdarah-darah.
 
 
Perjalanan yang ditempuh Purnomo sangat jauh, di dalam mobil dia mendapatkan telepon dari Asep. Asep menjadi agen rangkap, dia bekerja dan setia kepada Anthony yang merangkap menjadi anak buah Purnomo untuk memata-matai Purnomo.
 
“Hallo Bos!! Saya ingin melapor bahwa si cecunguk itu hilang dari pantauan kami,” kata Asep, dia sedang laporan kepada Purnomo.
 
“Aku sudah bebas tugaskan kalian dari mengawasi Anthony, dia sudah bersama orang-orangku yang lebih kompeten. Hahaa!!”
 
“Kelemahan yang kau bilang tidak berguna, katamu dia tidak bisa bertarung, tapi nyatanya 5 anak buahku sudah dia habisi dalam sekejap!!” ungkap Purnomo kesal.
 
“Tapi Bos!!” sangkal Asep.
 
“Tidak usah tapi-tapi!! Kamu sudah aku pecat  dan bayaranmu sudah aku kirimkan,” timpal Purnomo ingin mengakhiri masa kerja Asep dan Jon.
 
 
“Bos kita sudah memasuki Rawunan!!” kata pria asing yang berada dalam satu mobil dengan Purnomo.
 
Purnomo segera mematikan ponselnya, agar pembicaraan dengan anak buahnya  tidak didengar oleh orang lain.
 
“Percepat laju mobilnya!!” perintah Purnomo.
 
“Baik, Bos,” jawab pria asing.
 
Mereka berhenti di sebuah gedung yang pembangunannya terbengkalai, Anthony sudah duduk terikat di  sebuah kursi dengan kepala tertutup karung hitam.
 
Purnomo sangat senang sekali, dia menghampiri Anthony dan menarik karung di kepala Anthony dengan kasar. Dalam keadaan seperti itu tidak ada kesempatan untuk kabur.
 
“Hahahaa!!! Saatnya pembalasanku  dan nikmatilah siksaan yang aku berikan!!” ancam Purnomo sambil tertawa puas.
Apakah malam ini Purnomo berhasil membalas dendam yang sempat gagal berulang kali?
 
 
 

Komentar Buku (188)

  • avatar
    Pasaribujumaler pasaribu

    lumayan bagus ga ribet pokoknya manyus deh😉

    08/07

      0
  • avatar
    Eby Romansyah

    knzbgsggs

    06/07

      0
  • avatar
    KukCing

    bagus sekali

    16/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru