“Masalahnya adalah apakah dia mengusikku lagi? Kalau tidak bagaimana aku bisa menangkapnya?” jawab Anthony. “Ehmm!! Susah juga ya ternyata!! Kira-kira siapa pelakunya?? Apa motivasi dia melakukannya?” “Apa tetanggamu ada yang tidak suka denganmu, Ton?” tanya Sean, mereka sedang menyantap makan malam sambil membahas pelaku perusakan kandang Anthony. “Aku rasa tidak ada, Sean. Mereka semua baik kok, bahkan mereka memberiku masukan bagaimana cara menernak ayam,” timpal Anthony, dia sudah selesai makan. Anthony berjalan ke dapur untuk mencuci piring kotor, ketika dia membuka keran air. Sean berteriak, “Biar aku yang mencuci piringnya, Ton!” Tidak lama kemudian Sean datang menghampiri Anthony, lalu menyambar piring yang di pegang Anthony. “Sudah serahkan kepadaku!! Mulai sekarang, aku bagian mencuci piring kotor dan semua perabotnya. Karena kamu sudah bagian yang memasak, Ton,” terang Sean sambil sibuk mencuci piring. Anthony tersenyum sambil menepuk bahu Sean, lalu dia berkata, “Baiklah, jika itu maumu. Yang bersih ya, Bik. Hihiii.” “Siap, Nyonya,” timpal Sean. Mereka pun tertawa bersama, momen seperti ini sangat Sean rindukan. Dia sudah lama tidak melihat Anthony sebahagia ini. Setelah selesai di dapur, mereka bersantai di teras rumah sambil menunggu kantuk menghinggapi mereka. Sean sedang asyik main game di ponselnya, sedangkan Anthony hanya menikmati semilir angin malam yang sesekali membawa hawa dingin. “Ton, aku jadi kepikiran. Apa jangan-jangan yang menyuruh mereka adalah suami Vanya?” ucap Sean tanpa menoleh dari layar gawainya. “Aku juga sempat berpikiran seperti itu, Sean. Tapi jika iya pun, aku tidak takut. Aku tetap akan maju mendapatkan hatinya Vanya,” timpal Anthony mantap. Sean menggaruk-garuk kepala, dia sedang kesal karena game yang dia mainkan kalah. Dia menaruh ponsel, lalu tertarik dengan pernyataan Anthony. “Kenapa harus Vanya? Apa kamu tidak ingin mencari wanita lain yang masih single?” tanya Sean tidak habis pikir dengan niat Anthony yang kekeh pengen merebut Vanya. “Tidak Sean, aku pun tidak tahu. Rasanya ada dorongan dalam diriku untuk merebut Vanya dari pernikahannya yang tidak bahagia. Lagi pula dia juga orang yang memberikanku semangat hidup waktu itu,” beber Anthony. Sean hanya menghela napas, sebagai teman dia sudah mengingatkan Anthony. Dan semua kembali ke Anthony sendiri yang menjalani. “Jangan dipaksakan jika itu membuatmu sulit, Ton. Kini semua terserah kepadamu, jika butuh bantuanku jangan sungkan untuk memintanya,” ungkap Sean. “Iya, makasih, Bro,” sahut Anthony. Anthony mengerti dengan kecemasan yang dirasakan Sean, tapi dia juga tidak bisa membohongi hatinya. Sean menguap begitu lebar, dia merasa sudah sangat capek ketika seharian bekerja melayani pelanggan, lalu dia berkata, “Ton, aku tidur dulu ya!!” Anthony mengangguk, dia melihat Sean yang sudah berjalan masuk rumah. Anthony sendiri belum merasa ngantuk, dia jadi ingat Vanya. Anthony mengambil ponsel diatas meja, lalu dia mencari nama Vanya dan mengiriminya pesan. [Vanya, apa kabar?] Anthony melihat jam masih menunjukkan pukul 21.45, dia berharap Vanya belum tidur dan membalas pesannya. “Vanya!! Bagaimana harimu di restoran tanpa diriku?” gumam Anthony sambil melihat kendaraan yaang berlalu-lalang di hadapannya. Anthony mengalihkan pandangannya ke ponsel, tiba-tiba ada suara tabrakan yang sangat keras di jalan depan rumahnya. Anthony segera berlari untuk membantu korban kecelakaan tabrak lari. Karena hari sudah hampir larut malam, aktivitas pengguna jalan semakin berkurang. “Mas, tidak apa-apa?” tanya Anthony sambil membantu memindahkan motor yang menimpa korban. “Iya, Mas. Aku hanya mendapatkan luka gores di kaki saja,” timpal korban. Anthony memindahkan motor, mengambil sepatunya yang terlepas, lalu dia menaruhnya di trotoar depan rumahnya. Setelah sedikit mendapatkan cahaya dari lampu teras rumah Anthony, mereka baru bisa melihat jelas satu sama lain. “Loh!! Kak Anthony!!” seru korban. “Kamu?? Siapa ya?? Seperti aku pernah melihatnya,” sahut Anthony sambil mencoba mengingat wajah korban tersebut. “Bondan, Kak. Orang yang bekerja di restoran ibu Vanya,” timpal Bondan, dia sangat senang bisa berjumpa dengan Anthony, seolah kecelakaan tadi sebuah anugerah baginya. “Oia!! Bondan, ayo mampir ke rumahku dulu. Kita lihat seberapa parah luka gores yang kau dapat,” saran Anthony. “Jangan kuatir Kak, aku baik-baik saja,” ucap Bondan sambil meringis memandangi Anthony. “Syukurlah!!! Bagaimana bisa tertabrak?” tanya Anthony. “Aku tadi sudah mengendarai dengan pelan, bahkan sudah hampir mepet di tepi trotoar, tapi ada mobil melaju begitu kencang sampai menyerempet sepeda motorku, Kak,” terang Bondan. “Berarti mobil itu yang salah!! Haduh!!! Seenak jidatnya saja kalau memakai jalan. Dikira jalan ini milik nenek moyangnya!!!” gerutu Anthony kesal. “Terimakasih ya, Kak. Sebelum pulang boleh tidak minta nomor WA-nya?” tanya Bondan, dia senang dikawatirkan oleh Anthony yang dia kagumi. “Ohh!! Boleh,” sahut Anthony sambil mengeja nomornya. Bondan segera mengambil ponsel, lalu dia segera menyimpannya. Setelah selesai dia pamit untuk pulang. Di tempat lain, Vanya duduk di ruang tamu. Dia sedang senang mendapatkan pesan dari Anthony, ketika dia mau membalas pesannya tiba-tiba ponsel dia dirampas oleh Purnomo. “Mas, kembalikan!!” seru Vanya sambil berusaha merebut ponselnya. Namun, Vanya gagal mendapatkannya. Dia sangat kuatir jika Purnomo membaca pesannya, tapi itu sudah terlanjur. Purnomo membaca pesan dari Anthony, dia juga membaca balasan yang belum Vanya kirim yang bunyinya, ‘Baik, aku kangen’. Purnomo segera naik pitam, lalu dia melotot sambil berteriak, “Vanya, jangan pakai ponsel ini lagi!!”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan bagus ga ribet pokoknya manyus deh😉
08/07
0knzbgsggs
06/07
0bagus sekali
16/02
0Lihat Semua