“Ohh!!! Jadi kalian bersekongkol menjatuhkan aku ya!!” seru Purnomo sambil menunjuk muka Anthony dan Avan secara bergantian, dia melotot sampai terlihat bola matanya seperti mau copot.
Anthony masih tidak menanggapi, dia hanya menatap tajam lurus ke Purnomo. Avan pun tampak sama, dia juga tidak habis pikir dari sekian banyak restoran kenapa harus bertemu dengan Purnomo di waktu yang tidak tepat saat ini.
“Bawalah semua pasukanmu, aku tidak akan mundur dan pasti menang!!! Hahaa!!!” ucap Purnomo dengan sangat yakin, dia merasa hebat ketika berhasil lolos waktu kasus tentang penggelapan pajak itu.
Purnomo melihat Vanya yang masih berdiri di dekat Fully, dia menarik tangan Vanya untuk diajaknya pergi.
“Ayo pergi, Vanya!!!” teriak Purnomo, dia dengan kasar menarik Vanya yang menahan beban tubuh agar tidak terseret Purnomo.
“Aku tidak mau!! Lepaskan aku!!” teriak Vanya mengibaskan tangannya.
Anthony segera mencengkeram tangan Purnomo dengan raut wajah yang sangat menyeramkan, “Lepaskan Vanya atau aku habisi kau disini juga!!”
“Hei!!! Lepaskan dulu pak Purnomo!!” geram ajudannya yang sudah bersiap untuk mendengar perintah apa pun yang keluar dari mulut Purnomo.
“Diam kau!!!” teriak Anthony lantang sampai yang mendengar jantungnya hampir meloncat.
Sialan!!! Kuat sekali cengkeramannya sampai tanganku sakit, batin Purnomo sambil menahan rasa perih, linu saat tulang tangannya hampir menyatu.
Purnomo yang sudah tidak tahan dengan cengkeraman Anthony terpaksa melepas tangan Vanya, dia berkata, “Aku akan merebutnya cepat atau lambat!!! Camkan itu baik-baik!!”
Perkataan Purnomo yang terdengar sangat kesal itu diikuti langkah cepatnya kembali ke mobil, dia bersama dengan 1 ajudannya.
“Yang sakit sebelah mana, Vanya?” tanya Anthony cemas sambil mengangkat tangan Vanya bekas genggaman Purnomo. Sedangkan Vanya tampak menggelengkan kepala.
“Ehem!!! Ton, kita pergi dulu ya!! Jika kau masih berniat menjatuhkan Purnomo segera hubungi aku,” kata Avan sambil berdeham untuk menyela pembicaraan Anthony dan Vanya.
“Aku pasti hubungi!! Aku ingin melakukannya dengan cepat!!!” jawab Anthony mantap.
Avan mengangguk, lalu dia dan istrinya mengucapkan salam perpisahan. Setelah itu dia pergi meninggalkan Anthony serta Vanya.
Kemudian Anthony masih mengangkat tangan Vanya untuk memeriksanya lagi, dia ingin memastikan jika tidak ada luka di tangan Vanya.
Anthony meletakkan tangan Vanya, lalu dia tersenyum lebar ketika Vanya memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’.
“Syukurlah!! Ayo!!” sahut Anthony yang ekspresi sudah berubah tenang, tanpa ada guratan kemarahan di wajahnya.
Mereka berdua langsung menuju mobil, sebelum Anthony masuk, dia mempersilahkan Vanya untuk masuk terlebih dahulu dan barulah dirinya sendiri.
“Mulai sekarang kamu nggak boleh pergi sendiri, Vanya. Aku takut jika kamu lagi-lagi direbut Purnomo,” kata Anthony yang sudah duduk dibalik kemudi sambil mengarahkan mobil ke jalan raya.
“Iya, aku tadi juga sempat takut. Hah!!! Orang tua itu tidak bisa berpikir apa, aku kan bukan istrinya lagi, main paksa saja!!!” gerutu Vanya.
Anthony sangat kesal jika mengingat kelakuan Purnomo tadi, mata dia masih awas melihat jalan yang ada di depannya. Mobil yang dia kemudikan berhenti menepi di pinggir jalan.
“Loh!!! Ton!! Kenapa berhenti disini?? Kamu mau ngapain?” tanya Vanya penasaran.
Anthony menyembunyikan amarahnya di depan Vanya dengan ulasan senyuman yang indah. Dia segera mencari ponsel untuk menghubungi Danang.
“Hallo!! Nang, luncurkan sekarang juga!!” perintah Anthony sembari menunggu jawaban dari Danang.
Kemudian Anthony berkata lagi, “Dipercepat dari rencana awal. Baiklah, aku serahkan kepadamu, tunggu 30 menit lagi aku aakan sampai rumah.”
Anthony menutup telepon untuk melanjutkan mengemudinya, dia terus menyunggingkan senyum di tengah rasa penasaran Vanya.
“Ton!! Apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya Vanya yang tidak berkedip memandangi Anthony, dia merasa ada satu rencana yang belum Anthony sampaikan kepadanya.
“Aku ingin memberi pelajaran ke Purnomo karena telah menyakiti kekasihku,” jawab Anthony tanpa menoleh.
Ya ampun senang sekali rasanya bisa dilindungi oleh orang yang terkasih, batin Vanya.
Vanya segera mengecup pipi Anthony, dia terlihat malu-malu dengan mengalihkan pandangan ke jalan depannya. Sedangkan Anthony justru sebaliknya, dia menoleh ke arah Vanya yang tampak menyembunyikan perasaannya.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Anthony sambil sesekali melirik Vanya.
“Aku hanya memberi hadiah kekasihku saja karena sudah membuatku bahagia,” jawab Vanya tanpa ekspresi itu membuat Anthony semakin gemas.
Lampu merah menyala, Anthony menginjak pedal rem, dia memanggil, “Vanya!!”
Ketika Vanya menoleh menjadi kesempatan Anthony untuk mencuri ciuman bibir Vanya, gairah keduanya saling melengkapi hingga saling balas ciuman sudah tidak terelakkan lagi.
“Vanya, aku sangat mencintaimu,” ungkap Anthony di sela dia mengambil napas setelah berciuman cukup intens.
Vanya tersenyum, dia menimpali perkataan Anthony, “Aku sangat sangat mencintaimu, Ton.”
Mereka berdua saling pandang dan berencana untuk mengulangi ciuman manis sebelumnya. Sayangnya gagal ketika suara klakson mengagetkan mereka berdua.
“Hahaa!!! Lihat lampau rambu sudah berwarna hijau!!” ucap Vanya salah tingkah, Anthony ikut tertawa untuk menutupi rasa kaget yang sempat membuat jantungnya copot.
Dalam batin Anthony menggerutu, sialan!! Pengemudi tidak tahu apa lagi bermesraan, mengganggu saja!!
Rasa bahagia mereka bersambut seolah dunia ini sudah jadi miliknya, dua insan memadu kasih dengan berhiasan bunga bermekaran di suasana hati mereka. Akankah rasa bahagia itu bisa bertahan selamanya atau masih ada kerikil yang harus mereka lalui?
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
lumayan bagus ga ribet pokoknya manyus deh😉
08/07
0knzbgsggs
06/07
0bagus sekali
16/02
0Lihat Semua