logo text

Bab 119 Tolong Aku!!

Mobil taksi itu berjalan mengikuti perintah Vanya, dia menangis tanpa peduli dengan sopir taksi memperhatikannya. Teriakan Anthony masih terdengar di telinga Vanya, Vanya berusaha kuat untuk melawan hatinya.
“Duh!!! Nekat sekali orang itu!! Hei!! Menyingkirlah!!!” geram sopir taksi.
Vanya mencari penyebab apa yang membuat sopir taksi itu marah, dia berusaha melihat kaca depan mobil yang terhalang kursi.
“Vanya!!! Cepat keluar!! Kalau tidak suruh sopir taksi itu menabrakku!!!” ancam Anthony sambil berteriak lantang.
“Ton!! Apa yang sedang kau lakukan!!! Aku mohon menyingkirlah!!” gumam Vanya resah di sela tangisannya.
Sopir taksi membunyikan klakson agar Anthony mau menghindar, akan tetapi aksi sopir itu tidak digubris Anthony.
“Pak, mundur saja!!! Jangan hiraukan lelaki itu!!” seru Vanya yang sudah sedikit tenang.
Sopir mendengar perintah Vanya, dia mau mundur, sayangnya ada sesuatu yang mengganjal ban mobilnya.
“Wahh!!! Nggak bisa, Neng!!! Lihatlah di belakang ada motor lelaki itu!!” seru sopir taksi.
Sontak Vanya melihat kaca belakangnya sesuai dengan seruan Sopir taksi tersebut dan benar motor Anthony sudah tergeletak di jalan.
Sopir taksi terlihat semakin kesal, lalu dia menyarankan Vanya untuk turun, “Maaf, Neng. Sebaiknya turun disini saja, saya tidak mau dipenjara hanya menuruti perintahmu.”
“Hah!!! Keras kepala sekali dia!!” gerutu Vanya sambil menghela napas berat.
Mau tidak mau Vanya membuka pintu mobil taksi untuk turun. Anthony yang mengetahuinya segera bergegas menuju Vanya.
Vanya masih terus menghindar, bahkan dia berlari menjauhi Anthony. Ketika Anthony berhasil menangkap tangan Vanya, dia menggenggamnya erat.
“Lepaskan aku, Ton!! Kita sudah tidak ada hubungan lagi!!!” seru Vanya yang berusaha melepas cengkeraman Anthony.
Anthony tidak menghiraukannya, justru dia menarik tubuh Vanya sampai jatuh ke dalam pelukannya. Suasana di jalan itu terasa melambat ketika Anthony merasa bahagia bisa menyentuh Vanya, tidak ada obat yang mujarab untuk hati Anthony selain keberadaan Vanya.
“Vanya!! Aku mencintaimu!! Bunuh saja aku jika kau sudah membenciku. Itu lebih baik bagiku,” ungkap Anthony tanpa melepas pelukannya.
Vanya sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya, dia ikut larut dalam rasa rindu yang membalut hatinya. Dia berhenti memberontak ketika mendengar perkataan Anthony yang sungguh-sungguh itu menembus relung dengan udara hangat yang sangat nyaman mengaliri aliran darahnya sampai membuat Vanya tenang.
Tangisan Vanya pecah kembali, dia menggelengkan kepala sambil berkata, “Tidak, Ton. Aku tidak bisa melakukannya karena aku juga mencintaimu.”
Ungkapan hati Vanya diselingi dengan balasan pelukan darinya. Mereka berdua bertemu lagi dengan takdir yang sudah berpihak, seakan dua insan itu menyatu dalam rasa.
Anita ikut terharu, dia juga merasa senang melihat Vanya kembali. Airmata dia jatuh berlari menghampiri Vanya sambil berkata, “Vanya!!!! Kau memang anak yang bandel!!”
Vanya menoleh, lalu dia ganti memeluk Anita dan berkata, “Maafkan aku, Mbak.”
Di jalan raya kota pinggiran itu tidak begitu ramai, setelah mereka bertiga mengharu biru. Masuklah mereka bertiga ke rumah Anita untuk menenangkan diri.
Anita melihat mamanya yang berjalan keluar sambil memasang kacamata yang tergantung di lehernya untuk melihat siapa yang datang.
“Ternyata kamu, Vanya!!” seru mama Anita, lalu dia beralih memandang Anthony kemudian ke Anita dengan raut wajah penuh tanda tanya, “Siapa lelaki itu?”
Anita berjalan menghampiri mama sambil merangkulnya, dia tersenyum dan menjawab, “Kenalkan dia, Anthony kekasihnya Vanya, Ma.”
Sebelumnya Anita tidak memberitahu mama bahwa Vanya adalah istri muda Purnomo, dia mengenalkan sebagai teman yang sudah dia anggap seperti adiknya. Karena Anita lumayan sering mengajak Vanya ke rumah, sehingga mamanya sudah tahu.
“Ohhh!!! Ayo!! Silahkan masuk!!” ajak mamanya Anita yang akhirnya tersenyum lebar.
Mereka berempat duduk di ruang tamu sambil berbincang ringan, setelah cukup puas mama meninggalkan mereka seraya berkata,
“Haduh!! Orang tua seperti saya ini tidak bisa duduk lama, saya tinggal dulu ke dalam ya. Buatlah diri kalian nyaman.”
“Baik, Ma,” ucap Vanya.
Anthony menyunggingkan senyuman hormat kepada mama Anita. Anita menggeser duduknya mendekati Vanya.
“Vany!!! Aku merindukanmu!!! Kemana saja selama ini?” ungkap Anita sambil memeluk Vanya.
“Aku juga, Mbak. Maafkan Vanya jika tidak menghubungi mbak sebelumnya, karena ponselku hilang entah kemana!!” timpal Vanya yang sudah terlepas dari pelukan Anita.
“Sewaktu aku disekap oleh anak buah Pur ...,”
Penjelasan Vanya terpotong ketika mendengar Anita bilang, “Ssstt!!! Kecilkan suaramu!!! Jangan bahas Purnomo di rumah!!” Anita berbisik sambil memutar kepalanya ke kanan kiri untuk melihat keadaan.
Vanya bingung dengan perbuatan Anita, dia melihat ke arah Anthony yang sudah mengangkat bahu, lalu kembali menatap Anita dan kemudian bertanya dengan suara lirih, “Kenapa Mbak?”
“Aku ceritakan selengkapnya nanti malam saja, ketika semua orang sudah terlelap,” jawab Anita.
Vanya mengernyitkan dahi dengan banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya, tapi akhirnya dia mengikuti apa kata Anita.
“Sekarang bereskan urusanmu dengan Anthony. Kembalilah sebelum malam tiba,” saran Anita.
Vanya mengangguk dengan tampang meringis sambil menahan malu, meskipun begitu dia sangat senang ketika Anita memberinya kesempatan berbicara dengan Anthony.
“Baiklah, Mbak. Kalau begitu kami pergi dulu,” kata Anthony yang sudah berdiri.
Vanya ikut berdiri, begitu juga dengan Anita yang mengantar kepergian mereka dan berkata, “Iya, hati-hati di jalan, mungkin saja anak buahnya sedang berkeliaran di luar.”
Anita sengaja mengganti sebutan Purnomo dengan ‘nya’ untuk menyamarkan peringatannya kepada Vanya dan Anthony.
“Iya, Mbak,” jawab Anthony, sedangkan Vanya tersenyum sambil meletakkan jari telunjuk ke jempol yang artinya ‘Oke’.
Anthony dan Vanya sudah keluar rumah menuju motor milik Anthony yang sudah dia pindahkan ke pekarangan rumah Anita.
Mereka berdua sudah berada di atas motor menelusuri jalan mencari tempat yang kemungkinan tidak ada anak buah Purnomo.
Ketika mereka sudah jauh dari rumah Anita, Anthony menarik lembut tangan Vanya untuk diletakkan ke perutnya.
“Vanya!! Jangan lepaskan peganganmu!!” teriak Anthony.
Vanya tersenyum malu dengan hati berdesir tidak menentu, dia melihat punggung Anthony yang lebar itu, lalu meletakkan kepalanya untuk memuaskan rasa rindunya.
Anthony tersenyum senang memandang jalan yang ada di hadapannya, dia mengelus punggung tangan Vanya dan berkata di dalam hati, “Aku tidak akan melepaskanmu lagi, meskipun nyawa ini taruhannya.”
Bunyi klakson dari mobil Mercy bersahutan tepat di belakang Anthony merusak suasana manis mereka, tampak mobil itu terburu-buru untuk menyalip Anthony.
Vanya melepaskan pelukannya dengan tangan masih memegang erat pinggang Anthony, dia merutuki pengemudi tersebut, “Orang gila ya!!! Apa pikir ini jalan nenek moyangnya!!!!”
Anthony yang menepikan motor memberi kesempatan mobil mendahuluinya, ketika tepat di samping Anthony jendela mobil penumpang terbuka yang memperlihatkan Jocelyn memberontak dari pegangan anak buah Purnomo.
“Tolong aku!!!”
Mulut Jocelyn dibekap bersamaan jendela kaca itu naik menghalangi pandangan Anthony.

Komentar Buku (188)

  • avatar
    Pasaribujumaler pasaribu

    lumayan bagus ga ribet pokoknya manyus deh😉

    08/07

      0
  • avatar
    Eby Romansyah

    knzbgsggs

    06/07

      0
  • avatar
    KukCing

    bagus sekali

    16/02

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru