logo text

Bab 116 Vanya Pulang?

Madiun adalah kota kecil yang terkenal dengan berbagai julukannya, ada yang bilang kota gadis, kota pecel, kota pendekar dan mungkin beberapa sebutan lain yang disematkan.
Hampir 2 minggu Vanya sudah menyesuaikan diri di kota Madiun, ketika dia bangun pagi di kamar kos selalu melihat antrean cukup panjang di depan gerbang untuk membeli nasi pecel.
Kebetulan ibu kosnya menjual sarapan di pagi hari yang larisnya bukan main. Vanya bangun dan segera mencuci muka untuk ikut mengantre membeli sarapan.
“Bu, saya nasi pecel satu pincuk ya,” ucap Vanya sambil tersenyum, seminggu ini dia sedang tidak bosan sarapan dengan nasi pecel, tidak tahu kenapa sayur mayur rebus itu kalau dipadukan sambel kacang pas.
Satu pincuk itu sebutan untuk alas pembungkus nasi pecel yang berasal dari daun pisang, kalau makan di tempat daun pisang bagian ujung atas dilipat kecil menyerupai trompet.
“Beres Vanya,” sahut ibu kos yang tangannya sibuk menyendok beberapa sayur rebus seperti daun pepaya, bayam, daun ketela, kecambah dan lain sebagainya.

Kemudian disiram dengan sambal kacang, tidak lupa tambahan lauk seperti kering tempe, serundeng, tempe goreng tepung dan rempeyek teri yang renyah menambah selera makan.
Kalau salad sayur semua sayurannya mentah, sedangkan sayur untuk pecel direbus semua. Buatnya sangat sederhana, apalagi sudah banyak usaha rumahan yang membuat sambel kacang. Sehingga kalau bikin sendiri tinggal rebus sayuran saja beres.
“Ini Vanya,” Ibu kos itu menyerahkan 1 pincuk nasi kepada Vanya, kalau ada pembeli yang makan di tempat biasanya dilayani terlebih dahulu karena kasihan jika sudah menunggu terlalu lama.
“Terimakasih Bu,” timpal Vanya sambil tersenyum sangat menawan, bahkan dia yang belum mandi saja tidak melunturkan kecantikannya.
Vanya menikmati nasi pecel untuk sarapan paginya, dia mulai menyukai makanan ini. Selama hampir seminggu Vanya belum bosan setiap pagi sarapan makanan khas kota yang sambalnya unik percampuran antara pedas, manis dan gurih itu.
Hah!!! Damai sekali kota ini?? Apakah seperti ini rasanya bebas? Batin Vanya sambil menikmati jalan raya yang masih jarang penggunanya, dibawah sinar hangat mentari pagi yang menyehatkan dengan makanan yang menyehatkan pula.
Setelah selesai sarapan Vanya berencana untuk jalan-jalan melihat kota, dia baru bisa menikmati hidupnya yang baru tanpa beban. Sebelum itu dia masuk kos untuk mengambil sweater dan dompet melalui lorong yang ujungnya disediakan TV.
Ibu kos sengaja menyediakannya untuk hiburan, jadi jika ingin melihat harus rame-rame bersama dengan penghuni kos lain. Dari situlah kami akan mengenal satu sama lain dan tidak jarang juga hubungan semakin dekat, menjadi teman akrab.
Acara berita pagi hari ini disiarkan oleh TV swasta yang sedang meliput kasus penggelapan pajak seorang pejabat negara, yaitu Purnomo.
‘Pebisnis sukses dengan karier yang cemerlang sebagai pejabat yaitu Purnomo terlihat santai saja saat petugas dirjen pajak membawanya ke pengadilan. Purnomo tidak memberikan komentar banyak, dia berkata tidak tahu menahu kasus tersebut dan kasus diserahkan oleh pengacara kondang tanah air untuk mengurusnya.’
‘Kasus tersebut masih didalami karena Purnomo tersandung masalah lain yang masih dicari titik terangnya. Kasus ini di laporkan oleh Pengacara Senior Jocelyn. Terus ikuti berita kami untuk mendapatkan kabar terbaru.’
Berita itu menarik perhatian Vanya, bahkan dia menonton layar televisi paling depan tanpa peduli 3 penghuni kos yang ikut menonton memprotesnya.
“Hei!!! Nonton yang benar dong!! Yang lain tidak bisa melihat tu!!” seru salah satu penghuni kos.
“Iya!! Kami hanya bisa melihat punggungmu saja ni!!” imbuh penghuni kos wanita berambut pendek.
Vanya masih tidak bergeming, dia fokus mendengarkan berita sambil melihat wajah Purnomo yang dia benci selama ini.
“Mampuslah kau, Purnomo. Semoga kau membusuk di penjara!!!” umpat Vanya, rasa senang dirasakan Vanya diungkapkan dengan sebuah senyuman puas tentang penangkapan kasus Purnomo tersebut.
Salah satu penghuni kos menghampirinya, lalu memegang lengan Vanya dan berkata, “Hei Mbak!!! Duduklah!!! Jangan menghalangi layar televisi seperti itu!!”
Vanya menoleh, dia baru sadar jika perbuatannya itu merugikan yang lain. Dia menjawab, “Maaf ya, Mbak. Aku tadi terlalu bersemangat mendengar beritanya.”
Segera saja Vanya beralih dari depan layar televisi, lalu mengumbar senyum kepada penghuni yang lain dengan muka menyesal dan minta maaf kepada yang lain.
“Hah!! Untung saja cantik, kalau tidak mungkin aku sudah sarapan orang pagi ini!!!” keluh seorang pria penghuni kos itu.
Di dalam kamar Vanya merasa sangat lega ketika mendengar berita tersebut. Namun, ada hal yang mengganggu pikirannya.
“Aku masih istri sah Purnomo, apakah nanti aku akan terseret kasusnya? Bagaimana dengan mbak Anita?” gumam Vanya cemas.
Semua pikiran buruknya memenuhi pikiran Vanya, rasa lega itu berubah seketika menjadi malapetaka yang berkecamuk di benak Vanya.
“Apakah aku harus pulang untuk mengetahui keadaan mbak Anita?” Vanya duduk sambil berpikir keras dengan risiko yang dia hadapi nanti.
Menurut Vanya, jika Purnomo benar di penjara tidak ada hal yang perlu dikawatirkan lagi saat dia kembali, satu masalahnya selesai dan jika memungkinkan dia ingin mengurus perceraiannya.
“Ahh!! Aku pulang sajalah!! Aku hanya perlu bersembunyi agar tidak ketahuan Anthony,” Vanya akhirnya memutuskan untuk pulang, bagaimanapun juga Vanya tidak bisa melupakan Anita begitu saja.
Apakah Vanya bisa bersembunyi dari Anthony?? Apabila gagal, bagaimana reaksi mereka ya?

Komentar Buku (189)

  • avatar
    Zian Naza

    mau coba aja blm tau bagus apa enga nya

    22h

      0
  • avatar
    Pasaribujumaler pasaribu

    lumayan bagus ga ribet pokoknya manyus deh😉

    08/07

      0
  • avatar
    Eby Romansyah

    knzbgsggs

    06/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru