logo text

Chapter 90. Turbine and Put the Ring In

“Kamu udah baca penawarannya, Van?” Tanya Nana di telepon siang ini di hari kerja.
“Sorry, belum sempat, Na. Nanti malam aku baca, ya. Ini kerjaan di kantor lagi banyak soalnya.” Kini Nana dan Revan tidak hanya sekedar berkirim pesan. Tak jarang mereka pun kerap saling bertelepon. Walau topik utama yang dibahas tentang bisnis mereka.
“Aku simpulkan sekilas, ya. Jadi mereka itu di bawah payung PT. Simon Indonesia. Tapi karena untuk produksi turbin mereka tergolong baru, makanya mereka pasang harga miring. Mereka tawarkan harga 5 Miliar sudah dengan turbin sesuai megawatt kita, mobilisasi, instalasi, commissioning dan maintenance. Jauh di bawah harga yang waktu itu kamu kasih, kan?” Nana menjelaskan tentang rekanannya yang ingin menjadi sub kontraktor yang menyuplai turbin dan pekerjaan pemasangannya itu.
“OH YA? Termin pembayarannya kapan?”
“Lima kali. Jadi, termin pertama enam puluh persen, termin kedua sampai ke lima masing-masing sepuluh persen.”
“Wow, besar di awal, ya?”
“Ya tapi secara harga total kan jauh, Van. Gimana?”
“Besok aku kabari, ya. Aku baca dulu detailnya.”
“Oke.”

***

Hari ini, Nana ikut kembali dengan Revan ke daerah Sukabumi. Nana ingin melihat lokasi proyek kembali, katanya. Revan pun dengan senang hati mengiyakannya. Mereka bisa menghabiskan waktu bersama seharian, melihat pemandangan, pula.
Revan akhirnya mengiyakan subkontraktor yang Nana tawarkan waktu itu. Berhubung pembangunan rumah turbin dan gedung operasional sudah sembari berjalan, maka pengiriman turbin sebaiknya dilakukan secepatnya. Karena mengingat proses mobilisasinya pun yang tidak cepat.
“Kita harus secepatnya ketemu sama PT. Simon Indonesia itu kayaknya, Na. Nanti aku buatkan dulu kontraknya ke notaris supaya bisa cepat dikirim barangnya.” Ujar Revan disela-sela Nana melihat pemandangan alam Sukabumi, selepas mereka keluar dari pintu Tol.
“Iya, boleh. Cuma kayaknya dia bisanya hari kerja aja, Van. Kamu kayaknya harus cuti, deh.” Nana melihat ke sekeliling, matanya tidak pernah tidak membelalak jika sudah sampai daerah sini. “Eh, waktu kita rafting kemarin, beloknya ke sana, ya?” Nana menginterupsi topik bisnis mereka.
“Iya, betul! Kamu cepet juga hafal jalan, ya!” Revan manggut-manggut.
“Duh, harus hari kerja, ya? Kerjaanku juga lagi banyak, nih. Mmh, sampai dua bulan lagi susah buat cuti. Sedangkan bulan depan harusnya turbin udah di mobilisasi.” Sambung Revan tentang topik bisnisnya.
“Kamu bikin dulu aja kontraknya, nanti kalau sudah jadi kabari aku. Nanti aku yang antar ketemu mereka, gimana? Waktuku kan free.”
“Nah, ide bagus, tuh!”
Nana tersenyum, Revan menyetujui idenya. Seperti biasa, perjalanan mereka ke lokasi dilakukan di hari Sabtu pagi. Dengan cukup membeli burger di Drive Thru tadi, membuat perjalanan mereka lebih sampai.
Jam sebelas siang mereka sudah ada di lokasi. Tidak perlu lagi datang ke rumah Pak Dusun untuk minta ijin, Nana dan Revan langsung berjalan menuju lokasi. “Awas, hati-hati.” Revan beberapa kali menjulurkan tangannya kepada Nana ketika melintas di tanah yang basah akibat hujan semalam.
Nana menyambut uluran tangan Revan karena ia pun tidak mau terjatuh. Pertama kali Nana kemari dalam keadaan sebasah ini. Track menuju lokasi jadi lebih sulit menurutnya, karena beberapa tanjakan tanah yang menjadi lebih licin dari biasanya.
“Kotor, ya?” Ujar Revan.
“Hehehe... Nggak apa-apa.”
“Nanti kalau sudah selesai semua bangunan utama dan sudah running. Kalau masih ada budget, perlu sih ini kita bikin jalan masuk mobil sampai ke gedung operasional.”
“Semoga ada budget nya, ya. Karena, kayaknya dengan hujan semalam saja, aku udah kerepotan, nih!” Jawab Nana sambil mengatur nafasnya. Revan memperhatikan tingkah Nana yang berkali-kali menjinjitkan kakinya, melompat bagai kelinci. Membuatnya tertawa kecil. “Pekerjaan ini memang bukan perempuan sih, Na. Makanya, beberapa kali aku nggak ajak kamu ke sini kalau hanya sekedar mengecek pekerjaan sipilnya aja.” Mendengar penjelasan Revan Nana hanya tersenyum.

Mereka akhirnya sampai di bangunan pintu air. Deras suara aliran air di bawah cuaca yang masih mendung di jam dua belas siang ini, membuat Nana dan Revan tidak banyak bicara lagi. Pohon-pohon besar dan rindang menjadi pemandangan mereka di empat meter ke depan yang dibatasi oleh arus air yang kencang dan berwarna bening itu. “Mau lihat rumah turbinnya yang lagi di bangun, atau mau pulang?” Tanya Revan kemudian.
“Pulang aja, yuk?”
“Hehe... Ayo!” Revan paham, Nana pasti tidak nyaman dan kelelahan. Berdua, mereka kembali track menurun di tanah yang basah itu. Menembus ilalang-ilalang yang berdiri setinggi pinggang mereka.

***

“Kamu mau makan siang apa?” Tanya Revan yang melirik jam di mobilnya sudah hampir pukul satu siang.
“Terserah kamu.” Jawaban itu. Jawaban yang dulu suka ia dengar dari Dinda. Terserah kamu. Dua kata pasrah yang Dinda sering ucapkan ketika apapun mau ia lakukan, asal sudah bersama Revan.
Revan spontan menoleh kepada Nana. Memperhatikan tingkahnya yang sibuk menurunkan celana jinsnya yang ia lipat dua kali setengah betis. Selain telapak tangan dan wajah, sepertinya bagian tubuh itu yang Revan baru lihat dari Nana selama ini. Sebagian kakinya yang putih. Nana lalu mengambil tisu basah dan mengelap kedua telapak tangannya dan betisnya yang terkena bercak tanah. Tingkah yang lucu, di mata Revan.
“Kita makan masakan Indonesia lagi di rumah makan terdekat searah pulang, ya?” Revan akhirnya memberikan masukan.
“Boleh.”

“Na,” Revan mencari topik agar bisa terus dekat dengan Nana.
“Ya?”
“Thank’s, ya.” Revan menoleh ke Nana. Andai tidak ada hijab yang menjadi pemandangan Revan saat ini. Andai wanita yang disebelahnya itu adalah Dinda atau Nita, telapak tangannya sudah sangat ingin ia landaskan di telapak tangan Nana.
“Buat?”
“Buat nggak nge-judge aku lagi. Buat, kesempatan kedua yang kamu kasih.”
“Hehehe... Sama-sama, Van. Aku pikir-pikir, people change. I can’t judge the wheel while it’s spinning.” Nana melirik Revan sesaat lalu menundukkan pandangannya. (“Hehehe... Sama-sama, Van. Aku pikir-pikir, orang pasti berubah. Aku nggak bisa menilai seseorang, saat rodanya masih sedang berputar.”)
“Oh iya, aku tuh mau nanya ini sama kamu dari dulu, Cuma suka lupa. Mmh, kamu kan ada keturunan Arab, ya. Apakah itu mengartikan kamu... harus menikah juga dengan... laki-laki yang juga keturunan Timur Tengah?” Berusaha mengkamuflasekan niatnya, Revan sok sibuk menoleh ke kanan ke kiri di pertigaan kecil yang ada di jalanan depan.
“Ooh... nggak, kok. Setahu aku, orang tuaku bebas. Mereka saja beda menikah beda budaya, kan.”
“AH! Ya... ya, I see.” Setelah mendapatkan jawaban yang membuatnya lega, Revan kembali tersenyum dan menatap Nana, sambil manggut-manggut.
“Mmh... Kamu... sedang punya... teman dekat laki-laki lain lagi kah, sekarang Na?” Walau terasa berat, tapi kali ini Revan tidak menyibukkan dirinya. Ia mencari dua bola mata Nana di balik bulu mata hitamnya yang tebal dan hitam.
Kaget, Revan juga tidak mendapati Nana melarikan pandangan darinya. Dengan mudah Revan bisa mendapati mata itu, mata yang kemudian menggeleng diikuti senyuman.

Revan mencoba melancarkan aksinya. Aksi yang sudah dari tadi ditahannya. Walau perlahan, ia memindahkan tangan kirinya, dari stir, menuju telapak tangan Nana yang dingin tersembur AC mobil. “May I put the ring in, on it?” Revan mengusap jari manis Nana yang lentik dan putih itu dengan Ibu Jarinya. (“Bolehkan aku memakaikan cincin di sini?”)
Nana, langsung bengong. Matanya membesar menatap Revan. Ada sedikit kerutan di dahinya. “Van...?” Nana tidak membalas genggaman jemari Revan. Tapi, juga tidak menarik jemarinya dari genggaman Revan.

***

Komentar Buku (14)

  • avatar
    RizkiaAlwin

    oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍

    03/08/2025

      0
  • avatar
    NadaQotrun

    bagus banget kakk 😍

    09/07/2025

      0
  • avatar
    Syifa Aulia Kusuma Wardani

    baguss eui

    17/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru