Mulut Revan menganga, namun tidak ada kata yang terdengar. Ia kaget bukan main mendengar solusi yang Nana berikan. Begitu spontan dan tegas. “Kamu... yakin, Na?” “Van, aku nggak tahu Bude Pakde akan maafin kamu atau nggak. Tapi, menurutku, effort kamu kurang. Apalagi, kamu sampai nggak datang ke pemakamannya.” “Ya aku juga nggak sanggup untuk dateng waktu itu, Na. Aku juga kehilangan banget. Aku merasa sangat sangat bersalah. I couldn’t handle it.” Revan mencoba membela diri. Mengutarakan apa yang ia rasa kala itu, sampai ia harus terkesan lari. (“Aku nggak sanggup menghadapinya.”) “Sekarang, sudah sekian tahun berlalu. You should can handle it!” Jawab Nana, masih dengan nada tegas. (“Kamu harus bisa menghadapinya!”) “HOW?” Satu kata tanya dari Revan, yang juga tegas sekarang. “Kapan kamu siapnya. But you better fast. Dengan aku atau tidak dengan aku, kamu datang, kembali minta maaf. Lalu tanya lokasi makamnya, kamu ziarah ke sana. Tanya sama Bude Pakde, apa yang bisa kamu berikan agar mereka tidak lagi membenci kamu.” “Terus?” Revan masih menganggap semua saran dari Nana itu, tidak masuk akal. “Kalau kamu sudah lakukan semua yang aku bilang tadi, dan ternyata Bude Pakde masih nggak bisa maafin kamu. Baru, itu semua bukan beban kamu lagi. Tugas kamu hanya terus berbuat baik dengan mereka. Dengan semua orang.” Nana melanjutkan sarannya. Revan diam mendengar saran tersebut. Detak jantungnya perlahan meningkat konstan. “Aku... pikirin dulu, boleh?” “Sure. This is your problem. Aku cuma bisa kasih saran.” “Thank’s, Na.” Kini perlahan mulai ada senyum di wajah Revan. Walau saran dari Nana masih terasa berat dan janggal di otak Revan, namun sesuai dengan saran Niko, sampai saat ini beban berat di dadanya berhasil berkurang. Mereka kemudian sama-sama menyesap cairan dingin berwarna kecokelatan itu. “Eh, kamu mau makan? Sekalian makan malam, mungkin?” Tanya Revan kemudian. Tak terasa langit sore mulai menggelap. Ini sudah hampir Magrib. “Nggak usah. Aku sebentar lagi pulang ya, Van. Supaya pas, sampai rumah nanti Magrib dan bisa makan malam bersama.” Jelas Nana. Revan mengangguk. Revan kemudian berjalan ke arah kasir dan membayar pesanan mereka berdua. “Ngomong-ngomong, maaf, aku... mungkin sekarang belum bisa antar kamu pulang. Ya... you know... mmh... I....” “Iya, Van. Nggak apa-apa. Aku naik taksi aja.” Jawab Nana. Kini senyum pun sudah muncul di wajahnya. “Aku janji. Aku akan pikirin saran dari kamu.” “Thank’s, Van. Kamu udah jujur. Udah percaya sama aku, untuk jujur tentang pengalaman hidup kamu.” Mereka berdua jalan bersama keluar kafe tersebut. Revan menilik jam di tangannya, pukul setengah enam sore. Satu mobil sedan berwarna biru, dari label taksi yang kerap Nana gunakan datang. “Nanti soal bisnis, aku kabari juga, ya.” Setengah berteriak Revan berkata pada Nana yang mulai melangkah menjauh ke arah taksi tersebut. Nana mengangguk dan tersenyum. Tetiba setengah berlari Revan mengejar langkah Nana. “Na,” Satu langkah menuju Nana membuka pintu taksi itu, Revan memanggil. “Iya?” wajah berhijab pink muda bermotif dengan warna kulit kegadingan itu, terlihat hadir dekat tepat di depan wajah Revan. “Tolong, jangan berubah sama aku...” Lirih, Revan mengucap, di jarak yang mereka yang tidak sampai satu meter. Air wajah Nana yang sempat terlihat bingung, sejurus berubah menjadi cair. Tanpa menjawab, Nana membuka pintu taksi, dan menyisakan senyuman dengan tawa tipis yang kemudian hilang dipandangan Revan. Seiring taksi tersebut langsung melaju, meninggalkan Revan yang berdiri mematung di senja yang remang ini.
***
Revan kembali menuju apartemennya. Sesaat sebelum melajukan mobilnya, ia menilik ponselnya. Ia melihat ada satu balasan dari Niko.
From : Niko Received : 17.10 “Gimana, sukses?”
Membaca satu pesan dari sahabatnya itu, Revan tersenyum lebar. Karena berkat Niko lah, satu beban berat yang kemarin terasa menghimpit dadanya, kini sudah berkuarang. Dengan cepat Revan membalasnya.
To : Niko Sent : 17.40 “Lancar. Tapi ada PR baru, nih. Butuh masukan lo lagi.”
Niko yang juga baru akan pulang dari kantor, sempat membacca balasan pesan dari Revan. Ia juga lantas membalas pesan tersebut.
To : Revan Sent : 17.45 “Konsultasi, mulu! Bayar! LOL”
Dua pria tersebut yang sudah bersahabat lebih dari lima tahun kemudian saling mengirim pesan.
From : Revan Received : 17.50 “Siap. Tagihan lo masukan aja ke slip gaji gue! LOL”
***
Besok siangnya. Seperti biasa, Revan mengajak Niko makan siang di sela jam kantor mereka. Menepati janjinya, minta masukan untuk masalah pribadi kepada sahabatnya itu. Jika kemarin mereka berdua mengisi perut dengan daging dan menghangatkan tenggorokan mereka dengan wine, siang ini mereka hanya mengisi perut dengan sajian dingin bertema Jepang, sushi. Menyantap sashimi dan ocha dingin yang minum gula dan kalori di salah satu Mall, Revan memulai kembali curahan hatinya.
“Ha? Nana bilang gitu?” Tanya Niko yang langsung kaget setelah mendengar saran dari Nana yang Revan sampaikan. Revan mengangguk. Ia sudah duga, Niko juga pasti akan kaget mendengarnya. “Itu... nggak salah sih, Van. Nana itu bener. Cuma... risky banget!” Ucap Niko setelah memasukan ikan Salmon mentah ke mulutnya. “Iya, ya... tapi, kalau gue nggak ngelakuin saran dari Nana, apa hubungan gue sama Nana bakal memburuk, menurut lo?” Jawab Revan uang juga sedang memasukan Baby Octopus bersaus merah itu ke dalam mulutnya. “Bentar, kita lurusin dulu, nih. Tujuan lo, mau nyelesain masalah Nita, atau mau mempererat hubungan lo sama Nana?” “Bisa dua-duanya sekaligus, nggak?” Revan lantas menyunggingkan senyum yang Niko paling hafal. “AH! Kebiasaan, lo! Serakah! Lo nggak lupa apa amnesia, sih? Lo kehilangan Nita dan Dinda, itu kan juga karena lo serakah, dulu.” Jawaban Niko selalu tepat sasaran. “Hehehe... becanda, kali! Untuk sekarang, kalau dilihat dari prioritas, karena gue ada bisnis sama Nana, kayaknya gue lebih mentingin hubungan gue sama Nana dulu, deh.” Revan, selalu mengedepankan logikanya dalam menyelesaikan masalah. Tidak aneh, banyak tumpukan beban di hatinya, walau secara logika, harusnya sudah selesai. “YAKIN?” Niko menegaskan pertanyaannya. Revan lantas diam. Ia tahu, Niko meragukan jawabannya tadi. “Menurut lo, gue harus selesain dulu masalah tentang Nita, Ko?” Revan mengalah. Ia berusaha menurunkan egonya. “YES!” Jawab Niko, yakin. “Why?” “Memang, lo ada bisnis sama Nana. Tapi, Nana kan satu keluarga sama Nita, secara nggak langsung. Lo nggak akan bisa mempererat hubungan sama Nana, kalau lo nggak beresin dulu masalah yang jadi penghambat antara lo dan keluarga dia. Paham, nggak?” Revan kemudian mengangguk-anggukan kepala. Bersama Niko, masukan-masukan pedas terasa bak sambal hijau di dalam menu nasi padang. Pedas, namun enak didengar dan nagih.
***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (14)
RizkiaAlwin
oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂
oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂
03/08/2025
0bagus banget kakk 😍
09/07/2025
0baguss eui
17/03/2025
0Lihat Semua