“Makanya kamu kemarin sakit. Kamu stress, Van.” Nana melanjutkan ceramahnya di mobil. Di jalan pulang ke rumah Tantenya. “Yaa... bingung aja. Mau liburan ke mana? Sendirian?” “Lho, kenapa memang? Apa yang salah dengan sendirian?” Selalu, dengan Nana selau ada topik obrolan. Selalu ada hal yang didebatkan. Selalu ada cerita untuk dijelaskan. “DIH? Males, lah! Kayak nggak punya temen aja.” Jawab Revan, setengah sinis. “Itu perasaan kamu aja, kali. Memang, setiap kamu jalan sendirian, setiap orang yang berpapasan sama kamu, bilang seperti itu? Aku aja kemarin Umroh sendiri. Papa kamu, juga sendiri.” Kalimat Nana yang ini, kemudian membuat Revan berpikir. Betul juga, ia hanya sendirian saat di dalam apartemen, dengan botol minuman beralkohol di tangannya. Menurutnya, tidak ada yang boleh tahu keterpurukannya. Ia malu, untuk terlihat sendirian dan bersedih. “Kamu nggak perlu merasa sedih kalau sendiri, Van.” Lanjut Nana. Revan langsung menoleh seketika pada Nana. Bagaiamana bisa Nana tahu apa yang barusan ia pikirkan. “Kapan-kapan main ke Singapore, yuk! Malah bisa low budget. Kamu bisa nginap di rumah keluargaku. Gantian, Papa dan keluarga kamu kan, sudah baik sama aku di Indonesia.” Ringan. Kalimat itu terasa ringan mengalir dari mulut Nana. Perempuan berhijab, setinggi telinga Revan, berhidung mancung, bermata bulat. Revan belum menjawab. Walau ajakan Nana terasa menggiurkan untuknya. Minimal, ia terbebas dari kemacetan ibu kota Jakarta dan angka-angka yang harus ia hitung. “Kamu bisa ambil cuti?” Nana terasa kembali mendesak. “Bisa.” Revan menjawab singkat. Saat ia belum yakin untuk bisa berangkat. “Hal di notaris itu, kapan selesainya?” “Belum aku follow up lagi, sih.” “Sambil nunggu, gimana kita ke Singapore dulu, yuk?” Revan melirik Nana. “Nggak usah lama-lama, tiga hari aja.” Nana tahu, Revan sudah mulai tergoda dengan ajakannya. Kedua kali, Revan kembali melirik Nana. Tapi kali ini lebih lama, keadaan jalanan kebetulan sedang berada di lampu merah. Revan perlahan lantas menyunggingkan bibirnya. Dia menganguk. “Nanti aku bilang dulu ke kantor, ya.” Lembut jawab Revan. Bak seorang suami yang sedang dipaksa liburan oleh isterinya. ***
Agar tidak memakan waktu cuti yang lama, akhirnya Revan berangkat kamis malam sehabis pulang kantor dan berencana akan pulang kembali ke Jakarta pada minggu sore. Berdua bersama Nana ia menuju bandara Soekarno Hatta hari ini. Bak dua anak mandiri, tidak perlu ada yang dimintakan ijin untuk keberangkatan mereka kali ini. Pesawat mereka terbang jam delapan malam lewat sepuluh menit. Mereka naik kelas ekonomi. Entah, Nana tidak mau diajak naik kelas bisnis oleh Revan. Jadi terpaksa ia yang menuruti Nana untuk duduk bersebelahan lagi dengan orang lain di bangku yang berjejer tiga itu. “Kamu kenapa sih, nggak mau naik bisnis aja?” “Boros! Cuma satu jam aja, kan.” “Aku ini, yang bayar.” “Justru itu, aku nggak mau ngerepotin kamu.” “Padahal kalau kamu mau, kamu bisa pesan satu bisnis buat kamu, Van. Toh, kita juga nanti sampainya sama. Tinggal ketemuan di gedung arrival nanti.” Lanjut Nana. “Ya nggak gitu juga, Na. Masa dari Jakarta bareng, di pesawat pisah.” “Ya nggak apa-apa. Kamu terlalu banyak boundaris, deh.” Revan tidak menjawab lagi. Ia hanya mengatupkan bibirnya dan memalingkan wajahnya dari Nana. Menghadap satu penumpang lain di sebelah kirinya. Yang lebih “Na, aku nanti di sana di hotel aja, ya.” Ucap Revan di dalam pesawat. “Ngapain? Lebih ribet nanti. Kita kalau mau jalan harus ketemuan dulu. Makan waktu lebih.” “Ya masa, aku laki-laki nginap di rumah perempuan, baru kenal lagi!” Nana diam sebentar. Dalam hati, ia membenarkan juga omongan Revan. Ya sudah, nanti aku antar ke hotel dekat rumah, ya. Jadi besok kamu tinggal jalan kaki ke rumahku. Gimana?” “COCOK!”
Mereka mendarat sekitar pukul sepuluh malam waktu Singapore. Nana langsung memimpin jalan menuju pool taksi. Setelah menyebutkan alamat, taksi tersebut pun jalan. “Besok kita mau ke mana nih, Bu Guide?” Tanya Revan di dalam taksi. “Kamu pasti sudah sering ke Singapore, ya?” “Baru tiga kali, kok.” “Ke mana aja waktu itu?” Nana takut itenary yang ia berikan nanti akan membuat Revan bosan. “Ya biasa lah. Main di Universal, belanja di Orchard, beli oleh-oleh di Bugis.” Revan mengingat-ingat pengalamannya terakhir ke Singapore yang sudah lebih dari lima tahun lalu. “Mau coba traveling, nggak?” Nana kemudian menyuguhkan senyum menantang. “Ke mana? Naik Ferry di Marina?” “Bukan. Ke Johor!” “Loh, udah sampai Singapore kok malah ngajak ke Malaisya?” “Hehehe... biar lebih menantang aja. Naik bis, cepat, kok.” “What? Ada bis yang ke Johor dari Singapore??” “Baru tahu kan, kamu? Hihihi...” “Boleh, lah... siapa takut!”
Obrolan mereka kemudian terus berlanjut tentang jadwal hari pertama hingga hari ketiga di Singapore. Tanpa terasa mereka akhirnya sampai di hotel yang Nana maksud. “Ini bukan hotel mewah sih, Van. Boutique Hotel gitu. Tapi comfort, kok.” Nana kembali memimpin Revan membuka dua daun pintu kaca itu. Dengan logat Singlishnya, Nana kemudian memesankan kamar untuk Revan selama tiga malam. “Murah, kan?” Revan langsung membayar tagihannya dengan kartu debitnya, sambil angguk-angguk. Bersama Nana, uanganya akan terasa terus banyak, tapi tidak kalah seru juga. Setelah menunggu Revan menaruh barang di kamarnya, Revan dan Nana berjalan kaki ke rumah Nana yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari hotel tersebut. “Nggak kerasa, sudah jam sebelas malam, ya. Tapi, di sini aman, kan?” Revan agak paranoid juga, memikirkannya nanti harus jalan kaki sendiri kembali ke hotel. “InsyaAllah, aman!”
Mereka berdua sampai di rumah tanpa pagar, bertembok abu-abu. “Besok, aku tunggu jam tujuh, ya di rumah!” “Pagi, amat?” “Kita akan naik MRT dulu ke stasiun bus, lalu naik bus nyebrang ke Johor. Supaya sempat srapan dulu dan sampai Johor sekitar jam sepuluh-sebelas. Pas, Legoland baru buka. Nanti kita pulang dari sana jam empat-jam lima-an sore, biar bisa makan malam lagi di Singapore.” “WOW! Seru juga, ya! Makan pagi di sini, makan siang di negara yang berbeda, makan malam di sini lagi!” Mata Revan membelalak. Mendadak ia tidak sabar menantikan hari esok.
***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (14)
RizkiaAlwin
oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂
oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂
03/08/2025
0bagus banget kakk 😍
09/07/2025
0baguss eui
17/03/2025
0Lihat Semua