logo text

Chapter 57. I Think You Need a Vacation!

Mereka kembali pulang mengarah ke Jakarta sekitar pukul tiga sore. “Capek, ya?” ucap Revan di balik kemudinya. Tidak enak hati, Nana hanya tersenyum dan mengangguk.
“Tapi worth it sih, dengan pemandangannya. Kenapa dengan pemandangan di sana nggak dibangun macam resort gitu aja, Van?”
“Jangan, dong. Nanti bisa merusak ekosistem yang ada. Di sana kan daerah resapan air. Kalau dirusak, Jakarta nanti bisa tenggelam.” Jawab Revan. Seolah, bicara dengan Nana ini terasa begitu nyambung baginya. Tidak seperti dengan Dinda, jarang bicara, lebih banyak bertindak.
“Tenggelam?” Nana kaget.
“Hahaha! Kamu harus lihat Jakarta pada bulan Desember sampai Maret. Itu adalah bulan paling hujan di negara ini. Beberapa titik di Jakarta pasti banjir. Walau, nanti ya akan surut lagi.”
“How come?” Lanjut Nana penasaran.
“Kenapa? Nggak pernah lihat sebuah kota kebanjiran ya, kamu?” Revan terkekeh sendiri. Sedangkan Nana tidak. Raut wajah Nana lebih ke penasaran. Semakin Revan tertawa, semakin banyak kerutan di dahi Nana.
“Pertama, karena sistem drainase di Jakarta kurang baik. Kedua, ya karena sudah banyak daerah resapan air yang jadi resort, kayak kamu bilang. Di daerah Bogor itu, dulunya hutan, dataran tinggi, pegunungan. Tapi sekarang sudah mirip kota. Semua ada di sana. Dari hotel bintang satu sampai bintang tujuh, ada.”
“HAHAHA!” Nana baru spontan tertawa mendengar label hotel bintang tujuh yang Revan ucapkan barusa. Sebuah analogi yang sangat lucu untuk Nana dengar, sekaligus sangat tepat untuk menggambarkan situasi yang ada.
Mendengar Nana terbahak pada kalimatnya yang terasa biasa saja, membuat Revan menoleh ke kiri, ke arah Nana. Perempuan dengan hijab yang mulai berantakan itu tertawa lepas, setengah menutupi mulutnya yang terbuka sampai mengeluarkan sedikit air mata. Revan pun perlahan ikut tertawa ringan. Bukan karena kalimatnya yang lucu, tapi ia menertawakan tingkah Nana yang lucu saat terbahak seperti itu.

“Kita makan malam dulu nanti di Rest Area, ya.” Ajak Revan. Dan betul, mobil Revan terparkir di Rest Area sekitar pukul enam sore. Mereka makan di sebuah restoran cepat saji. Ketika makanan sudah siap di meja, tetiba terdengar suara Adzan Magrib berkumandang. Revan yang sudah lapar, langsung menyuapakn nasi dan ayam tepung itu ke mulutnya. “Eh, aku Shalat Magrib dulu, ya. Sekalian tadi Ashar juga.” Ucap Nana seketika.
Membuat mulut Revan yang tengah siap mangap melahap makanan di jarinya, terhenti. Tanpa kata, Revan hanya mengangguk. Kikuk. Tidak pernah ia mendapati pengalaman macam ini. Harusnya, dengan agama yang sama. Ia, sebagai laki-laki yang memimpin ajakan itu. Tapi kini, dia malah diam saja di meja, dan memilih makan duluan.
Namun, alih-alih menyusul Nana, Revan tetap menyuapi nasi ke mulutnya. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Pikiran yang sudah dua mingg ini tidak pernah melayang lagi, karena hanya terfokus pada kerjaannya. Kali ini, ijin Shalat Nana barusan, berhasil mengetuk pintu hatinya. Entah, pintu hati yang menuju ke mana.

Tidak sampai setengah jam, Nana kemudian sudah kembali duduk di hadapan Revan. Makanan Revan sudah habis. Ia sudah sedang menghisap rokok Amerikanya. “Shalat di mana?” Tanya Revan.
“Di mushola. Deka situ tadi ada mushola.” Tanpa perawakan yang aneh, Nana langsung membuka bungkusan plastik nasinya. “Udah dingin, tuh. Mau aku belikan yang baru?” Tanya Revan kemudian. Entah kenapa pula, Revan mendadak ingin membuat nasi itu tetap hangat untuk Nana.
“Oh, nggak usah. Nggak apa-apa.” Nana langsung menggigit nasi dan kulit ayam itu. Revan mendadak tersenyum. “Kenapa?” Tanya Nana dengan mulut penuh.
“Pasti kamu suka kulit ayam, ya?” Nana spontan tersenyum dan mengangguk. Di sela suapannya, Nana berkata, “Kamu tahu nggak, nasi yang dingin itu lebih rendah gula, lho.”
“Oh iya?” Revan tidak percaya.
Nana mengangguk. “Jadi, kalau nasi dingin itu, gulanya suah ikut menguap bersama uap panas yang ada sebelumnya.” Mendengar penjelasan Nana, Revan hanya manggut-manggut sambil terus menghisap batang itu. Untung mereka sekarang di area smoking. Restoran cepat saji yang disambangi mereka di jam makan malam ini lumayan padat, membuat mereka mendapatkan meja dan kursi di area smoking tadi.
“Gimana? kamu suka sama rencana bisnis kita?” ucap Revan. Nana yang tengah makan, kembali tersenyum dan mengangguk.
“Eh iya, aku sampai lupa. Maaf ya, aku ngerokok gak ijin dulu tadi.” Revan mendadak merasa tidak sopan. Walau terlambat, ia langsung segera mematikan rokoknya dengan menginjaknya. Nana hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Kamu udah kena denda kalau begitu di Singapore.”
“Iya... maaf.” Gantian, Revan yang tersenyum.
Makanan Nana sudah habis. Ia pun sudah menggelontorkan mulutnya dengan air soda berwarna hitam itu. Bermaksud tidak ingin membuat Nana buru-buru. Revan hanya diam, melemparkan pandangan ke sekliling, sambil menunggu Nana siap kembali melanjutkan perjalanan pulang.

“I think you need a vacation!” Celetuk Nana seketika, dengan lantang. Sontak membuat Revan menoleh padanya. “Me?” Telunjuk revan menunjuk pada dirinya sendiri, heran.
“Iya. Kamu!” Jawab Nana lagi. Masih lantang. Revan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kenapa? Coba aku tanya, kapan kamu terakhir liburan?”
“Liburan?” Jujur kata itu terasa asing untuk Revan. Buatnya, bersama Dinda satu malam itu sudah menjadi hiburan yang cukup baginya, untuk menjadi mood booster di hari-harinya berikutnya. Tapi ia lupa, sudah cukup lama ia tidak bermalam dengan Dinda. Terkahir, hanya saat menonton bioskop itu. Dan, kejadian sore hari di apartemennya yang berakhir dengan keributan.
Nana benar. Seiring dengannya yang sudah tidak pernah lagi menghabisan waktu dengan Dinda, ia sudah lama tidal liburan. Air wajah heran Revan perlahan berubah menjadi pembenaran.
Nana masih menunggu jawaban Revan. Matanya yang bulat membelalak di hadapan Revan. Ia menagih jawaban dengan mengangkat kedua alisnya. Revan kembali menggelengkan kepalanya, perlahan. “Heheh... lupa.”
“NAH! You really need a vacation!” Nana mengulang lagi kalimatnya. Kali ini tidak selantang tadi. Ia tertunduk, seraya melempar tisu ke plastik bekas nasinya, namun diikuti keyakinan seratus persen.

***

Komentar Buku (14)

  • avatar
    RizkiaAlwin

    oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍

    03/08/2025

      0
  • avatar
    NadaQotrun

    bagus banget kakk 😍

    09/07/2025

      0
  • avatar
    Syifa Aulia Kusuma Wardani

    baguss eui

    17/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru