logo text

Chapter 47. Think Twice

“Aku cuma mau kasih ini.” Dinda menyodorkan undangan pernikahanya ke meja Revan.
Revan memegang undangan itu, membukanya, membacanya. Lima hari lagi, di ballroom sebuah hotel di Jakarta Barat. Hampir semua teknis pernikahan Dinda dikerjakan oleh wedding orginazer. Mana sempat Dinda dan Bowo mengurusnya. Mereka saja sering berada di kota yang berbeda.
Revan manggut-manggut. “Kamu yakin?” Revan cukup kaget juga sebetulnya membaca undangan itu. Hanya saja ia tetap menjaga gengsinya.
“Yakin.”
“Mohon doanya, aku harap kamu bisa datang nanti” Kalimat itu tulus terdengar dari bibir Dinda.
“So... It’s all really over? And I really-really, lose?” Revan menaikan kedua alisnya.
“Di sininggak ada yang menang atau yang kalah, Van.”
“Bowo...” Revan tersenyum sinis. Sejujurnya ia masih tidak bisa menerima kenyataan itu.
“Aku ke sini cuma mau ngasih itu. Sekarang, aku pamit. Thank’s for everything.”
Dinda membalikan badanya. Ia buru-buru bukan karena takut kembali tergoda dengan cinta lamanya. Tapi ia hanya tidak ingin mengkhianati Bowo untuk berlama-lama bersama dengan Revan. Dinda sudah ijin dengan Bowo untuk mengundang Revan, dan Bowo mengiyakan dengan tegas. Dinda tidak mau hal itu disalahgunakan.
“Tunggu Din... Revan mengejar langkah Dinda.”
“Ada apa lagi ini?” Pikir hati Dinda.
Dinda membalikan badanya. Wajahnya sama sekali tidak terlihat tegang. Revan juga heran melihatnya. Biasanya ekspresi Dinda selalu dapat ditebaknya, tapi kali ini tidak.
“Mungkin kamu tidak akan percaya apa yang akan aku katakan. Tapi, jujur ini berat buat aku. Penyesalan memang teorinya, selalu datang belakangan, dan ini adalah wujud dari teori itu. Selamat, ya! Semoga kamu bahagia, Adinda Faramitha.” Berusaha tampak sekuat mungkin, Revan berucap.
“Amiin.”
“Maafin aku yang mungkin, pernah ngebuat kamu nunggu bertahun-tahun. Kisah saat kita bersama, selalu indah buat aku. Mungkin juga, buat kamu. Tapi, kamu sudah buat keputusan. Aku tahu... Aku benar-benar tahu Din, apa yang sudah pernah kamu korbankan buat aku.” Revan tertunduk.
“Andai aku bisa, aku mau jadi teman baik kamu. Aku cukup mengenal kamu. Kamu bisa sharing apa pun sama aku. But that’s impossible. Pasti, pasti ada wanita lain disana yang jauh jauh lebih baik dari pada aku, yang mencintai kamu lebih dari aku pernah mencintai kamu dulu. ” Jawab Dinda.
Tidak ada tetes air mata di momen itu. Seperti pembelajaran bagi keduanya. Pembelajaran tentang cinta yang tidak bisa didapat di manapun, kecuali mengalaminya sendiri.
“Aku usahain dateng. Semoga Bowo nggak mukul aku lagi.” Dinda dapat melihat wajah yang tegar di hadapannya.

Namun rasa kehilangan itu masih tetap ada. Bertahun-tahun mereka kenal, menjalin hubungan yang entah beratas nama apa, tidak pernah disangka akan berakhir seperti ini. Tidak lama kemudian Dinda beranjak dari ruangan Revan.

***

Niat awalnya ingin pulang cepat. Minimal belum melihat lampu jalanan menyala saat mengendarai mobil menuju apartemennya. Tapi, kabar yang Dinda berikan membuatnya kembali gamang. Ia sendiri sebenarnya sudah bosan untuk terus terusan seperti ini. Sedikit-sedikit gamang, sedikit-sedikit rapuh. Dan tampaknya malam ini rasa-rasa itu akan kembali terulang. Lalu, tetap harus dilewatinya sendirian. Mau mencari teman pun, tidak ada yang sreg di hati. Mau mencari wanita lain pun untuk apa, ini bukan masalah ranjang lagi. Entahlah, ia hanya ingin sendiri malam ini. Mungkin keliling Jakarta atau berdiam diri merenungin nasib dikamarnya akan menjadi obat yang ampuh, semoga. Mengenang semua kisah hidupnya sendiri, yang menurutnya sendiri aneh. Malang. Di saat-saat inilah ia tetiba merindukan Ibunya, yang sudah lama meninggal.
Laptopnya masih melantunkan tembang lawas yang tadi tidak sempat dimatikanya saat Dinda datang.

“Before you roll.... Those dice, baby think twice.”

Ternyata masih folder Celine Dion yang melantun di music player laptopnya. Suara merdu Sang Diva melantun lembut menyanyikan lagu berjudul, Think twice. Revan tertunduk, mengacak acak rambut pendeknya. Matanya terasa berat, namun sedari kecil, ia selalu diajarkan Papanya, bahwa laki-laki itu tidak boleh mengangis, tidak boleh cengeng. Itu yang membedakan wanita dengan laki-laki, jelas Papanya.
Tanpa sadar jam menunjukan waktu magrib. Revan sadar, ia tidak bisa terus diam disitu. Ini kantor dan ia tidak mungkin menginap di kantor. Ia memutuskan untuk pulang, walau tujuan utamanya tentu saja bukan apartemenya.
Mobilnya melaju merayap bersama mobil-mobil lain di daerah Jakarta Barat. Niatnya ingin membeli beberapa botol alkohol untuk ditenggaknya malam ini di kamarnya, sendirian. Namun jalanan yang macet makin membuatnya bad mood. Rasa kantuk, rasa lelah akibat kerjaan yang setumpuk dan semua target-target perusahaanya, rasa menyesal untuk tidak memiliki Dinda sedari dulu, padahal dahulu kesempatan itu terbuka sanga-sangat lebar. Rasa kehilangan, rasa jenuh, rasa ingin refreshing namun benar-benar tidak ada ide. Semua menjadi adonan gado-gado yang sempurna di dalam diri Revan saat ini. Semua yang dirasakanya campur aduk menjadi satu wujud rasa, dalam satu waktu. Ya, di malam ini. Saat jam belum menunjuk pukul tujuh malam.
Lalu tiba-tiba handphone nya berdering. Dari nomor Papnya. “What??” Revan mengerutkan dahinya. Bisa dihitung dengan jari ia melakukan kontak dengan keluarganya. Paling sering ia kontak hanya dengan kakak tertuanya, konsultasi tentang bisnis. Karena sempat ada rencana kedua kakaknya ingin membuat bisnis keluarga bersama. Mencari nafas baru dari usaha Papahnya yang sudah mulai menurun grafiknya, mengikuti pasar modern yang sekarang ada dengan harapan bisa menjadi proto type dalam bidang trading. Tapi itu pun bisa dibilang paling sering, sekitar dua minggu sekali dan hanya via telepon.
Sedangkan Papahnya, sepengetahuannya sedang umroh beberapa waktu yang lalu. Melihat telepon selulernya berdering pikiranya makin kusut “Papa? Ada apa nih?? Tumben...”

***

Komentar Buku (14)

  • avatar
    RizkiaAlwin

    oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍

    03/08/2025

      0
  • avatar
    NadaQotrun

    bagus banget kakk 😍

    09/07/2025

      0
  • avatar
    Syifa Aulia Kusuma Wardani

    baguss eui

    17/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru