Chapter 39. Maafkan Aku Tuhan, Telah Mengkhianatinya
Tangan Revan merengkuh tubuh Dinda dari belakang. Dinda membuka matanya, hatinya pun perlahan terbata “Maafkan aku Tuhan, aku telah mengkhianatinya.” Pelukan Revan semakin kuat. Kehangatan makin meraja di tubuh Dinda. Kehangatan yang lama kelamaan, berubah jadi panas. Revan menciumi wangi shampo yang melekat di rambut Dinda. Ia kembali mengenal wangi rambut itu. Kemudian turun ke tengkuk Dinda, ia pun kembali mengenal parfum kesukaan Dinda yang ternyata setia digunakanya sampai detik ini. Wangi tubuh yang dulu sering ia sentuh. Rasanya seperti memakai kembali sweater lama favorit masa kecil saat di luar sedang ada hujan badai. Hangat lembutnya akan tetap beda dengan sweater keluaran terbaru. Tidak ada kata-kata yang keluar. Perasaan Dinda pun tidak dapat dijelaskan. Revan memutar tubuh Dinda. Mereka berhadapan sekarang. Tidak sering Dinda berani kembali menatap Revan. Tapi kali ini kedua mata mereka beradu. Walau tidak sampai hitungan menit Dinda kembali menurunkan matanya, membuat wajahnya setengah menunduk di hadapan Revan. Rasa itu masih sangat kuat. Dinda tidak pernah tidak salah tingkah di depan Revan. Membuat pikirannya kosong. Revan membelai rambut Dinda. Masih tetap panjang, sama seperti dulu. “Aku enggak tahu ini akan seperti apa. Tapi, toloong... kasih aku satuu kesempatan lagi.” Revan setengah berbisik. Kedua jemari Revan memegang wajah Dinda. Sekilas Dinda dapat melihat sorot mata Revan penuh dengan keyakinan. Mendengar perkataan Revan, Dinda makin tidak bisa berkutik. Baik hatinya ataupun tingkahnya. Makin ditundukan wajahnya. Matanya kembali terpejam. Mungkin ia hanya berharap bahwa kegalauan ini hanya sekedar mimpi belaka. Revan sekarang perlahan menarik tubuh Dinda maju. Membuanya terjatuh di dalam pelukan Revan. Tangan Revan terus membelai rambut Dinda lembut. Bibirnya menciumi benda ikal, berwarna hitam panjang itu, sembari hidungnya menikmati wangi yang dulu sering cium. Perlahan jemari Dinda tergerak merengkuh pinggang Revan. Hatinya masih galau. Ada dosa yang seakan memagari hatinya untuk kembali dalam pelukan cinta Revan. Tubuh mereka saling memeluk sekarang. Ciuman Revan perlahan pindah dari rambut menuju kening Dinda. Dinda membuka matanya kembali, berusaha menyadarkan dirinya bahwa ini bukan mimpi. Berharap dapat menutup semua kegalauanya. Lalu sontak hatinya melupakan semua dosa dan khianatnya. Seperti mengambil kesimpulan seketika. Ini hanya sekali dan tidak akan ada pengaruh apa-apa terhadap tunanganya. Karena tunangannya tidak akan pernah mengetahuinya. Lalu ia menganggap ini bukan sebuah kesalahan mutlak dirinya. Ia pernah sangat mencintai Revan. Dan kini rasa itu masih ada. Walau entah seberapa besar sisa rasa itu bisa mempengaruhi perasaanya terhadap tunangannya. Bibir Revan turun ke mata, pipi lalu bibir Dinda. Dengan setengah ragu Dinda menyambut perlakuan itu. Bibir mereka bertemu. Rasa keduanya tidak bisa dibohongi, mereka berdua rindu akan hal itu. Mereka saling berpagutan, perlahan, agak cepat dan kemudian makin cepat. Jemari Dinda makin kuat memeluk Revan. Kemudian berjalan-jalan di tubuh Revan. Membelai rambut Revan, mengusap pipi Revan, menyentuh dada Revan yang terbalut polo shirt putih. Revan lantas mendadak menggendong tubuh Dinda ke atas meja. Membuatnya duduk di atas meja kerja Revan. Menyingkirkan berkas kerja Revan yang tidak sampai lima sentimeter dibelakangnya. Dinda duduk di atas meja membuat tubuhnya sama tinggi dengan tubuh Revan yang berdiri tegap dihadapannya. Kegiatan intim mereka semakin memanas. Sesekali terdengar suara desahan dari mereka berdua. Kerinduan itu membuncah menjadi adegan vulgar yang beberapa tahun lalu mungkin biasa mereka lakukan. Tidak peduli kini status mereka milik siapa. Yang penting adalah ekspresi rasa yang masih mereka berdua miliki. Tangan mereka berdua saling berjalan meraba setiap inchi bagian tubuh lawan jenisnya. Dinda yang mengenakan tank-top terusan dan membalutnya dengan cardigan dapat dibuka dengan mudah oleh Revan. Sekarang bahu dan punggung mulusnya terbuka begitu saja. Tangan Dinda terus menelusuri leher, dada dan pinggang Revan sambil terus berpagutan. Tanganya masuk lewat bawah ke dalam polo shirt putih Revan, terus menikmati setiap inchi hangat tubuh Revan. Lalu perlahan, Dinda menarik polo shirt itu ke atas, Revan membantu membuka satu kancing dekat kerahnya dan menariknya ke atas. Dinda dapat merasakan dada dan perut Revan yang kekar. Seakan bagi Dinda setiap inchi tubuh Revan masih tetap sama seperti yang dulu. Kemudian Revan kembali menggendong Dinda ke atas kasurnya. Sesekali bibir mereka dilepas dan keduanya saling tersenyum. Persis saat mereka berdua bercumbu di kantor Revan sesaat sebelum tragedi 2007 siang itu. Seakan sudah menjadi gaya mereka, suka menertawai aksinya sendiri. Tertawa kecil pada satu sama lain, sama-sama mabuk asmara. Dinda mendorong badanya mundur bersandar di dinding kasur. Dinda tidak tahu sampai mana aksi ini akan berakhir, yang pasti ia sangat menikmatinya. Revan sekarang mulai mencoba menurunkan tali Tank Top yang menggantung di pundak Dinda. “Enggak sekarang, Sayang...” Ucap Dinda sambil melebarkan senyumanya. Seperti pawang yang sedang memainkan daging di hadapan singanya. Revan membalas senyuman itu, “Terus kapaaan, doong??” Ucapnya manja. Revan makin mendorong tubuh Dinda ke sudut kasur. Menindih setengah badan Dinda. Ada ketakutan yang kemudian mulai membuat Dinda kagok. “Yaa, pokoknya ini belum saatnya.” Dinda kembali mengutarakan sebuah kalimat. Mendadak ada yang aneh diarasakannya. Bukan tentang Bowo. Bukan tentang tunangan dan dosa-dosa khianatnya. Tapi sebuah mood yang berubah tiba-tiba. Entah karena apa. Entah karena paksaan halus Revan atau Dinda sudah risih melakukan perbuatan yang sudah lama tidak pernah ia lakukan. Karena tunanganya tidak pernah sejauh itu menyentuhnya. Pikirnya tidak secepat ini kita harus melakukanya kembali, Revan. Tapi Revan tetap menurunkan tali Tank Top nya sambil terus menciumi bahu Dinda. Sekarang suasana sudah tidak dinikmati berdua. Perlahan Dinda menarik tubuhnya dari dekapan Revan. Tapi ia tidak bisa, pelukan dan posisinya yang tersudut membuatnya kehilangan ruang. Kemudian ia mencoba mendorong tubuh Revan untuk berhenti melakukan kegiatan intim itu. Pikirnya, ini tidak harus selalu berakhir dengan adegan ranjang. Kita bisa saja mengakhirinya dengan obrolan santai atau hanya untuk berbaring dikasur menikmati TV kabel. Karena seharusnya Revan tahu, rasa itu masih ada disini. Tapi Revan tidak menggubris insting Dinda. Revan sudah terlanjur nanggung dengan niatnya. Dorongan Dinda semakin kuat. Revan sadar Dinda mulai aneh menurutnya. “Kamu kenapa sih, sayang?” Ujar Revan. Dinda masih dengan senyum, memaksa berucap, “Enggak harus selalu berakhir seperti ini, Van..” “Terus harusnya seperti apa??” Revan mulai kesal niatnya ditunda-tunda dengan obrolan yang menurutnya tidak penting. Dan ia merasa, ini bukan hal biasa Dinda lakukan. “Kita bisa kan ngobrol atau sekedar santai dikasur... or, whatever, but not making lov.” Bisik Dinda mencoba memperbaiki suasana. “Udah, deh. Kamu tuh nggak biasanya kan, kayak gini, Din.” Revan masih berusaha menjaga mood nya. Sekarang keduanya terdiam. Revan dengan telanjang dadanya dan Dinda dengan bajunya yang sudah berantakan. Revan mencoba mengembalikan suasana mesra yang tercipta diantara mereka berdua. Sejenak rasa bersalah yang tadi hilang di benak Dinda kini muncul kembali. Kini mereka sama-sama dalam posisi duduk dipinggir kasur. Revan kembali menggeser duduknya mendekati Dinda. Mengusap-usap rambut Dinda. Menaruh dagunya di bahu Dinda. “Maafin aku, ya.” Dinda menganggukan kepalanya. Bayangkan hanya dengan tiga kata yang Revan ucapkan bisa membuat hati Dinda luluh. Menyadari suasana sudah mulai damai, sisi laki-laki Revan mulai kembali beraksi. Dagunya yang tadi diletakan manis mulai kembali menciumi bahu Dinda. Tapi sekarang mood Dinda benar-benar hilang. Tidak ada respon apa pun dari Dinda. Revan melingkarkan tangannya di pinggang Dinda. Dinda tetap tidak merespon. Kemudian Revan mencoba naik menciumi pipi Dinda, mencoba kembali memulai semuanya dari nol. Tapi rasa risih makin merajai fisik maupun batin Dinda.
***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (14)
RizkiaAlwin
oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂
oh i am not sure to check out my heart Will i yang paling sering ditemukan adalah got to believe me to the moon that to believe me inside menyesal dan itu apa lagi kalau di teteh di teteh yang topi yang ggs temen gue dan wajah pengobatan dan wajah pengobatan di teteh aku dong k dan wajah tips makeup dan wajah pengobatan yang dilakukan adalah bagaimana aku suka sekali yang topi dan seru sekali tidak 🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂↔️🙂
03/08/2025
0bagus banget kakk 😍
09/07/2025
0baguss eui
17/03/2025
0Lihat Semua