“Jadi ini, kafe tempat kamu bekerja paruh waktu?” tanya Leo begitu sampai di kafe tempat Val bekerja. Gadis bersurai lurus itu mengangguk setelah keluar dari mobil. “Iya, Pa. Kafe ini punya anak temen mama,” jawab Val seadanya. “Masuk dulu, yuk! Val mau pamit sama owner-nya.” Leo mengikuti langkah Val menuju pintu masuk kafe yang tidak begitu luas. Pandangannya menyapu sekeliling. Meskipun bangunan tidak begitu besar, tapi kafe itu terlihat lumayan ramai. “Hai, Val. Kamu enggak sekolah? Tumben ke sini siang-siang,” sapa Mahen saat melihat Val memasuki kafe. “I’m so sorry, Kak. Aku dateng sama papa.” Val menghampiri Mahen yang berdiri di balik meja bar dengan rasa tidak enak karena dengan paksa harus meninggalkan kafe. “Oh, selamat siang, Om,” sapa Mahen kepada Leo ketika laki-laki itu muncul setelah Val. “Siang,” balas Leo singkat lalu memilih tempat duduk di dekat pintu. “Kak, aku minta espresso aja ya, buat Papa,” pinta Val pada Mahen yang kebetulan sedang berjaga di balik meja bar. “Oke, siap.” Mahen dengan cepat membuatkan minuman pesanan Val. “Kak Nadine mana? Apa enggak masuk?” tanya Val yang tidak menemukan keberadaan Nadine di sana. “Iya, dia izin ada keperluan. Kamu sendiri ... tumben banget siang-siang gini?” Mahen mulai membuat pesanan Val sambil berbalas kata dengan pegawai paruh waktunya tersebut. “Enggak enak mau ngomong dari mana. Tapi, Papa mau ajak aku pindah ke Jakarta, Kak. Karna mamaku udah enggak ada, jadi aku diminta tinggal sama Papa gitu.” Mahen manggut-manggut setelah mengetahui maksud kedatangan Val bersama ayahnya. “Maaf banget, ya Kak. Aku pamitnya dadakan banget karna Papa juga kabari kalau mau jemput aku tuh semalem waktu aku baru pulang kerja,” kata Val sambil menangkupkan dua tangan di depan dada. “Oke, enggak masalah.” Mahen menyiapkan satu nampan dan meletakkan espresso buatannya di sana. “Free aja. Sekalian ice mocha buat kamu,” katanya kemudian. Val mendadak merasa tidak enak. “Duh, jadi ngerepotin.” “Enggak apa-apa, santai aja.” “Thanks ya Kak,” ujar Val sebelum meninggalkan meja bar. “Kembali, Val. Tunggu ya, aku panggil yang lain dulu. Habis itu aku nimbrung sama papa kamu juga.” “Oke, Kak,” balas Val. Mahen segera melangkah menjauhi meja bar sedangkan Val mendekati Leo sambil membawa nampan berisi minuman. “Tunggu sebentar ya, Pa. Kak Mahen lagi manggil yang lain buat jagain bar. Yah, namanya kafe kecil, ya gini, Pa.” Val duduk di samping ayahnya setelah menyajikan minuman yang dipesan Leo. “Oke. Kamu kenapa dulu bisa memilih untuk bekerja di sini?” tanya Leo ingin tahu. “Pertama, karna kafe ini punya Kak Mahen, anak temen mama. Kedua, karna Val masih sekolah, Pa. Jadi milih kafe ini ya karna Kak Mahen mau mempekerjakan Val. Coba kalau kafe lebih besar, mana mungkin bisa terima Val yang bahkan belum punya identitas diri?” “Oh, jadi begitu.” Leo manggut-manggut. Val banyak bercerita pada ayahnya tentang pengalaman selama bekerja di kafe Mahen. Gadis itu begitu antusias dalam bercerita sehingga membuat Leo mau tidak mau harus menjadi pendengar setia. Sesaat kemudian, Mahen datang untuk bergabung dan saling sapa dengan ayah Val. Setelah mengutarakan maksud kedatangan mereka, Val dan Leo pun memohon undur diri untuk segera menuju kediaman Leo di Jakarta. *** Setelah beberapa jam dilalui dari Kota Bandung menuju Jakarta, akhirnya Val sampai di rumah barunya. Dia sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan saudara kembarnya, Violetta. Namun, melihat keadaan rumah yang sepi, Val berpikir, mungkin saja Letta belum pulang. “Welcome to your new home, Honey. Semoga kamu betah tinggal di sini sama papa, Mama Siska dan Letta.” Leo membuka suara setelah menghentikan mobilnya di halaman. Sedangkan di depan sana, seorang satpam kembali menutup pintu gerbang rumah mereka. “Kayaknya sepi, Pa.” Val turut membuka suara. “Sepertinya Letta belum pulang,” balas Leo. Tanpa ekspresi, Val mengedarkan pandang ke sekeliling. “Kira-kira, Letta pulang jam berapa, Pa?” Leo tampak berpikir. “Papa kurang tahu juga, Sayang. Biasanya jam segini papa baru keluar dari kantor,” jawab Leo sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan yang menunjukkan pukul 14.15 WIB. “Turun, yuk! Kita masuk dulu,” ajak Leo sambil membuka pintu mobil. Val pun mengikuti. Di luar mobil, satpam sudah menunggu untuk membantu sang majikan mengangkat koper dan membawanya ke dalam rumah. “Terima kasih, Pak Rudi. Oh ya, ini Valetta, saudara kembar Violetta. Mulai sekarang, Val tinggal sama kita,” ujar Leo kepada satpam di rumahnya. “Sayang, ini Pak Rudi, satpam di rumah kita. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan.” Val mengangguk dan memberi salam kepada satpam yang usianya tidak jauh dari Leo. Setelah itu, Val mengikuti langkah Leo menuju pintu utama. Pintu rumah terbuka, seorang wanita setengah baya terlihat muncul dari balik pintu. “Hai, Pa, Val. Gimana perjalanan kalian?” sapa wanita itu dengan ramah seraya berjalan mendekat. Val mendekat dan memberi salam. “Sore, Tante. Perjalanannya lumayan panjang sih,” katanya. “Kok Tante, sih? Saya kan mama kamu juga,” protes wanita itu sambil menyunggingkan senyum. “Panggil saya, Mama Siska,” lanjutnya sambil meraih kedua tangan Val, lalu mencium pipi kanan dan kirinya. Leo tersenyum melihat sambutan hangat dari sang istri. “Masuk, yuk!” ajaknya sambil menggandeng Siska dan Val di sisi kanan dan kirinya menuju ruang tamu. “Yuk, Pa.” Siska melingkarkan tangannya di pinggang Leo. “Kemarin Letta udah siapkan kamar untuk kamu. Semoga kamu suka, ya?” katanya sambil melihat ke arah Val. Bagi Val, Siska memang terlihat baik. Tapi entah angin apa yang membuatnya merasa bahwa ada yang aneh dari sikap ibu sambungnya tersebut. Namun, Val tidak begitu memusingkan hal itu dan tetap berusaha untuk berpikir positif dengan harapan supaya dia betah tinggal di rumah keluarga barunya. Leo dan Siska menunjukkan kamar Val yang berada di lantai dua. Kamar itu cukup luas dengan kamar mandi di dalamnya. Terdapat sofa yang menghadap ke arah TV LED yang menempel di tembok kamar, tepat di sisi kanan tempat tidur. Kamar itu didominasi dengan warna biru muda. Bukan hanya cat temboknya, tapi juga perlengkapan yang berada di dalamnya. “Gimana? Apa kamu suka?” tanya Siska sambil mendaratkan badannya di sofa, disusul dengan Leo yang duduk di samping wanita itu. Val melihat ke arah Leo yang tampak lelah, lalu duduk di sofa lainnya. “Suka, Ma. Thanks a lot,” balasnya. “Sama-sama, Val.” Siska melihat jam dinding di kamar sebelum akhir mengatakan, “Sepertinya Vio pulang sebentar lagi.” “Bagus lah. Jadi Val bisa cepat-cepat ketemu Vio.” Leo menimpali. “Tunggu, deh. Tapi, tadi Vio bilang mau ada acara bareng temennya sepulang sekolah. Jadi, mungkin dia pulang agak terlambat.” Siska teringat percakapannya dengan Violetta tadi pagi. “Ah, ya sudahlah. Mendingan Mama siapkan dulu makanan buat Papa,” lanjut wanita itu seraya beranjak dari duduknya. “Boleh aku bantu, Ma?” Val menawarkan diri. “Good idea.” Siska mengangguk setuju. “Tapi sebaiknya kamu ganti baju dulu, Val,” katanya sebelum melangkah menuju dapur. Val berdiri sembari menjawab, “Oke, Ma.” “Kamu enggak capek, Sayang?” Leo melihat Val yang membuka kopernya saat sedang mengambil baju ganti. “Sepertinya Papa yang kecapekan,” seloroh Val. “Iya nih. Sudah lama Papa enggak nyetir sendiri, jadi terasa capeknya.” Leo membenakan ucapan anak gadisnya. “Kalau gitu, apa Papa mau Val pijat dulu? Setelah itu Papa bisa istirahat.” “Pijat, ya? Boleh juga. Tapi nanti saja, Sayang. Papa mau mandi dulu, lalu tidur sebentar. Bangunkan papa setelah makanan siap, ya?” pinta Leo yang juga bangkit hendak meninggalkan kamar Val. “Ya udah. Oke, Pa.” Val membalas dengan mata yang masih tertuju pada baju-baju di dalam kopernya. “Aduh, duh, duh ....” “Kenapa, Pa?” Val refleks mendongak.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
ddg
06/08
0bagus banget
03/07
0Semangat💪🏻
12/05
0Lihat Semua