Beranda/Comeback with you season 1/
Menikmati Liburan 1
Sania menghentikan mobilnya di sebuah hutan yang banyak sekali pepohonan tinggi disana.
"Kamu nggak salah memilih tempat ini? Memang rumah seperti apa yang kamu beli?" Laluna penasaran.
"Ketika kita memiliki kekayaan melimpah aku sudah berinvestasi ke rumah ini. Ini bukan sembarangan rumah La, mungkin Gerbang luarnya terasa seperti rumah berhantu tapi jika kamu sudah masuk ke dalam. Kamu akan betah," Sania menyingkirkan ranting kecil di sebelah gerbang yang penuh daun Kering itu.
Sania menekan tombolnya dan gerbang itu terbuka.
"Ayo masuk ke mobil!" ajak Sania.
Mereka berdua masuk ke mobil dan berjalan melewati gerbang itu. Tidak disangka halaman rumah itu begitu luas dan halaman masuknya dibuat seperti labirin.
"Mau masuk kerumah aja kita harus melewati labirin tanaman begini?" Laluna sedikit heran karena dia tidak suka sesuatu yang rumit.
"Inilah sistem keamanan, kalau nggak hafal ya nyasar. Kita ini penjahat kelas kakap, fasilitas berkelas dong. Sudah hampir sampai." jelas Sania.
“Jadi penjahat kok bangga sih, kita ini mau tobat, San!” Laluna mencebik sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.
“Iya, iya paham aku. Sekali-sekali bahagia nggak papa kan?Hidup kita bertahun-tahun penuh ketegangan, lo.” Sania memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah.
Sekarang mata Laluna cukup tercengang. Rumah itu sangat megah dan ada beberapa orang disana sebagai tukang kebun dan juga pelayan.
"Pantas saja uang kita lima puluh persen ludes. Ternyata kamu investasikan kesini, itu mobil, keren banget!" Laluna masih terheran-heran.
"Yups, itu mobilmu yang warna putih dan itu mobilku yang warna merah. Sekarang kita berdua sudah bukan pencuri lagi. Waktunya kita minta ampun kepada Tuhan, karena Laluna dan Sania atau Rula dan Tasya sudah mati. Jadi kita bisa hidup baru sekarang. Ayo masuk!" ajak Sania sambil keluar dari mobilnya.
“Laluna sama Sania belum mati, yang mati itu Tasya sama Rula.” Urvilla melirik gemas ke arah Sania.
“Oh, iya ding. Hehehe”Sania tersenyum tanpa rasa berdosa.
"Aku mengerti sekarang! Ternyata kamu membuat drama kematian dengan meledakkan apartemen cuma ingin membuat isu kematian kita, jadi sekarang semua orang di kastil dan di gedung putih menganggap kita berdua sudah mati. Benar kan? tidak kusangka Sania bisa secerdas ini." Laluna mulai menganalisa.
"Ah, ternyata kamu tetap wanita yang pintar, La. Sekarang kita bisa beristirahat sejenak dan melihat berita hari ini." Sania langsung menuju ke ruang TV di rumah itu. Laluna belum berhenti terbelalak melihat setiap ruangan di rumah itu dan akhirnya dia menyusul Sania ke ruang TV.
Berita Hari ini sebuah Apartemen di lantai tiga terbakar diduga akibat sebuah ledakan dan dua orang wanita tewas terbakar di dalamnya. Mereka adalah Sania yang memiliki nama samaran Tasya dan Laluna yang memiliki nama samaran Rula, mereka merupakan pencuri kelas kakap. Yang selalu lolos dari kejaran polisi, terdapat beberapa komputer dan berangkas yang sudah di lalap api. Berikut adalah Foto korban, ternyata korban bukan merupakan penduduk asli Nepal tapi mereka adalah kedua wanita dari Indonesia. Sekian laporan dari kami.
"Untung yang di temukan Foto KTP palsu kita ya dengan wajah berbeda. Tapi kita kehilangan nama asli kita San. Tunggu, Mayat itu?" Komentar Laluna.
"Itu sudah kurencanakan. Aku membeli mayat wanita di rumah sakit. Tapi kita jadi mencemarkan nama baik Indonesia ya, aku yakin orang-orang di gedung putih sangat berduka dengan kepergian kita." ucap Sania.
"Itu pasti sebenarnya didalam gedung putih banyak orang-orang baik. Aku berharap jika kita bongkar kedok Kastil, gedung putih tidak akan terseret. Ternyata perencanaanmu hebat juga San. Bagaimana reaksi mereka di kastil ya mendengar hal ini?" Laluna jadi penasaran.
"Entahlah, kita tidak bisa menjamin gedung putih tidak terseret karena kita mati dalam misi mereka kan? Ayo sekarang ke ruang kerja kita yang baru sepertinya harus melihat email lagi. Sudah lama kita tidak melaporkan apapun ke mereka, kan?" kata Sania yang sudah beranjak dari sofa.
"Baiklah, aku cukup penasaran bagaimana ruangan kerja kita yang baru?"
Sania dan Laluna sampai di ruang kerja mereka. Kali ini ruangan itu cukup luas dan seperti biasa ada tiga laptop disana dengan internet aktif.
"Ini buat kamu?" Sania melempar Handphone keluaran terbaru.
"Nggak salah, kapan kamu belinya? Keren banget ini." Laluna terlihat cukup bahagia.
"Aku juga sudah ganti handphone dan kedua handphone lama kita sudah terbakar di apartement. Sekarang tidak ada yang bisa melacak kita lagi." ujar Sania sambil menghidupkan komputer.
"Aku merasa seperti sosialita sekarang," Laluna memainkan handphonenya sambil mendekati Sania yang mulai sibuk di depan laptop.
"Lihat! Ada pesan dari Indonesia."
Laluna dan Sania membaca pesan itu.
Sudah lama kami telah mengirimkan utusan untuk menyelidiki perdagangan manusia di Nepal. Mereka terdiri dari tentara, polisi dan detektif tapi sampai sekarang tidak ada kabar, sudah habis beberapa tahun tapi mereka tidak kunjung mengevakuasi pekerja Indonesia di kastil itu. Bagaimana dengan kalian apa ada informasi lagi?
-Kantor Pusat Indonesia-
"Tunggu!! Pria yang aku temui di pesta Pora waktu itu. Apakah dia orang Indonesia? Tapi kulitnya dan wajahnya memang seperti orang dari Indonesia." Laluna mulai mengingat.
"Nah kan? Sudah kuduga jantungmu yang berdebar waktu itu pasti kamu habis terpesona dengan seorang pria, kan?" Sania mulai menggoda Laluna.
Wajah Laluna tiba-tiba memerah, Bodohnya aku, kenapa aku keceplosan sih?Laluna memukul mulutnya sendiri.
"Keceplosan, ya?" Sania masih terus menggoda Laluna.
"Ahh, San kamu ini!" Laluna sama sekali tidak pandai menyembunyikan rasa malunya. Dia berlari kecil keluar ruang kerja.
"Ganteng nggak, La? Ayo cerita dong! Sekarang mau jatuh cinta juga boleh kok, itu wajar kita udah gede juga kan, La." Sania terus mengejar Laluna.
"Jangan mendesakku!" kata Laluna masih melarikan diri dari Sania.
Mereka berdua akhirnya kejar-kejaran di dalam rumah.
***
Madam Lati merasa kakinya lemas melihat berita hari ini di kantornya. Bagaimana ini? Dua gadis itu benar-benar meregang nyawa? Mereka mati dengan mengenaskan. Kenapa mereka berdua memilih mati dari pada bekerja disini? gumam Madam Lati sepertinya menyesal telah mengijinkan mereka untuk bergabung menjadi pencuri.
Tangannya yang sedikit gemetar mengetik nomor pak Ramonta dan menghubunginya.
"Kring,Kring,Kring" Suara handphone pak Ramonta berdering.
"Iya, Ada apa?" .
"Ada kabar buruk."
"Kabar buruk apa?"
"Maafkan aku, ta-tapi La-Laluna dan Sa-sania terbunuh." bibir madam Lati tiba-tiba menjadi kelu.
Teriakan dari telpon cukup keras terdengar.
"Apa? Kamu jangan main-main Lati!" Pak Ramonta cukup terkejut mendengar hal ini.
"Itu benar, sudah masuk tv hari ini beritanya. Aku harus bagaimana?" Madam Lati terlihat cemas.
"Bungkam semua awak media yang terhubung ke Indonesia dan jangan sampai kedua mayat itu pulang ke Indonesia. Jika ada yang tewas aku bisa diusut habis oleh kepolisian, disini aku sudah dicurigai, aku memang ada usaha yang legal untuk ketenagakerjaan diluar negeri tapi di Arap Saudi sedangkan Nepal aku tidak melaporkan walaupun mereka sudah mendapatkan beberapa bukti karena usaha ini memang ilegal. Jika ada yang mati kemungkinan akan dikirim ke sini sedangkan aku dalam pengawasan pihak kepolisian, bisa ketahuan kalau aku terlibat dalam perdagangan ilegal ini.Jika kamu tidak membungkam berita hari ini dan jika mayat itu sampai ke Indonesia. akan kubunuh kalian semua!" Pak Ramonta terlihat sangat cemas.
"Ba-baik Pak."
Pak Ramonta dengan kasar menutup panggilan telpon itu.
Madam Lati sangat marah dan sangat kesal. Kejadian ini terulang lagi dan sangat membahayakan Agensi, Madam Lati bingung harus menyelesaikan masalah ini dengan cara apalagi. Akhirnya dia memerintah anak buahnya untuk pura-pura menjadi orang tua angkat jenazah itu dan berdalih biar mereka yang memulangkan Jenazah itu ke Indonesia.
***
Sania tiba-tiba mendengar bunyi alarm pertanda ada rekaman penyadapan telepon. Sania yang masih bercanda langsung berhenti dan berlari ke ruang kerjanya lagi. Laluna yang bingung akhirnya mengikutinya.
"La, ada percakapan terbaru dari Pak Ramonta dan Madam Lati." mereka berdua mendengarkan rekaman itu.
Mereka berdua tiba-tiba tersenyum.
"Kita mendapatkan bukti lagi, Sekarang akan aku kirimkan filenya ke Indonesia. Sepertinya bukti sudah semakin kuat dan peluang kita semakin besar untuk pulang." ujar Sania langsung Fokus di depan laptopnya.
Beberapa menit kemudian akhirnya File suara itu terkirim juga.
"Apa rencanamu besok La?" tanya Sania
"Aku ingin berlibur, aku sedikit lelah. Aku ingin jalan-jalan tanpa terikat sebuah pekerjaan. Lagian karena pesan email tadi, kita juga harus menemukan utusan dari Indonesia itu, kan? Boleh ya dua hari ke depan aku menikmati liburan dan aku akan jalan-jalan dengan mobil baruku?" jelas Laluna sambil menghela nafas panjang dan tersenyum.
Aku berharap bisa bertemu pria itu lagi. gumam Laluna.
"Boleh, tapi kamu tetap harus menggunakan penyamaran. Sekaligus headset, kamu tetap harus memakainya. Aku sudah membeli topeng silikon wanita cantik untuk kita berdua ini akan jadi identitas baru kita. Ini KTP palsu kita yang ke dua namamu Geni dan namaku Nina." Sania memberikan semua perlengkapan ke tangan Laluna.
"Astaga tetap harus begini ya?baiklah setidaknya besok aku bisa menikmati kehidupan normal. Apa aku tidak ada kartu atm atau kartu kredit?" tanya Laluna.
"Dompetmu ada di loker. Ingat jangan boros! Walupun kita sudah kaya oke! Aku tiba-tiba lapar." Sania beranjak dari tempatnya lalu bergegas menuju ke dapur.
"Dia memang genius untuk management kehidupan. Dia seperti kakak sekaligus managerku." Laluna menggelengkan kepala lalu membuka loker yang ada di depan matanya.
Setelah di buka mata Laluna terbelalak.
"Nggak salah nominal uang tunai yang ku lihat di dompet? Kartu kredit ada dua dan atm ada dua juga. Aku sudah seperti anak konglomerat. Aku tidak pernah berfikir aku dan dia cukup kaya sekarang. Astaga!Ingat Laluna ini semua hanya sementara," Laluna mengambil dompet dan semua perlengkapannya tadi lalu di bawanya keluar dari ruang kerja itu.
Dan malam itu juga mereka berdua istirahat.
***
Semua utusan dari Indonesia itu melihat berita hari ini. Mereka sangat bingung karena dua wanita yang mereka cari ternyata sudah meninggal dunia dengan sangat mengenaskan.
"Kali ini apa rencana kita Jika dua wanita itu sudah mati?"tanya Diyon
Aku cukup terkejut mendengar hal ini? Tapi kenapa wajah di tv itu berbeda ya dari wajah wanita yang kulihat? Jika aku lihat dari Foto masa kecilnya sangat berbeda. Sepertinya aku ragu jika mereka terbunuh. Aku ingin menemui wanita itu lagi. Pikir Dirga.
"Hei malah bengong." Diyon menggoyangkan badan Dirga.
"Ah, kita pikirkan besok saja. Ayo tidur!" kata Dirga yang langsung masuk ke dalam tenda.
"Aiss anak ini," Diyon akhirnya masuk juga ke dalam tenda.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (82)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
kak ayo keluarin S2 nya, udah pada nunggu ada yg dari 2022 lo kaka, ayo bikin lagi ceritanya tambah seru ditunggu segera yaa... 😄❤
05/12
0good, i like this
25/10
0baguss sekalii
26/09/2025
0Lihat Semua