Beranda/Kakak Kelas Jahat itu Suamiku/
Bab 18 Surat Ancaman 1
Keesokan harinya Piona meminta ijin Edwin untuk berangkat kuliah karena semalam dapat pemberitahuan ada pembagian jadwal sidang.
"Sayang aku berangkat dulu ya!"kata Piona.
"Tunggu!!" kata Edwin menghentikan langkah Piona.
"Ada apa Win?" kata Piona menghela nafas.
"Aku akan mengantarmu sekalian menjemput mama pulang dari rumah sakit! Tunggu aku ambil dompet dan kunci mobilku." kata Edwin.
"Aku tunggu di depan ya Win!"kata Piona berjalan ke ruang depan.
Sepertinya aku ingin keluar duluan. Piona membuka Pintu depan lalu merenggangkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam lalu membuangnya.
"Rasanya segar sekali." Piona melangkah maju ke depan dan menendang sebuah kotak hitam.
"Apa ini?" Piona menemukan kotak hitam tanpa nama dan alamat kemudian membukanya.
Setelah dibuka.
"Arrrrrhhhhhhhhhhh!!!" Piona berteriak dan membuang
kotak hitam itu.
"Edwin apa ini? Edwin!!" Piona berteriak makin histeris.
Didalamnya terdapat kucing mati yang membusuk berlumuran banyak darah ada secarik kertas di sana tapi Piona tidak berani membukanya.
"Sayang ada apa?"Edwin mendatangi Piona dengan panik.
"Itu!" Piona menutup matanya dan menunjuk kota hitam itu.
'Siapa yang mengirimnya?' Edwin bertanya dalam hati.
Edwin membuka secarik kertas yang ada di dalam kotak
hitam itu.
"AKU TIDAK AKAN TINGGAL DIAM, AKU TIDAK AKAN
MEMBIARKAN KALIAN HIDUP BAHAGIA!"
Edwin semakin penasaran siapa yang mengirimkan surat ini?
Edwin membawa kotak hitam itu ke dalam mobilnya.
"Kita berangkat dulu sayang, aku akan mengurusnya!" kata
Edwin menenangkan Piona.
"Isinya apa sayang?" Piona penasaran.
"Surat ancaman, katanya tidak akan membiarkan hidup kita
bahagia." jelas Edwin.
Edwin mengantar Piona ke kampus dan bergegas menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan hatinya sekarang penuh dengan rasa gelisah.
' Apa ini ada hubungannya dengan pesta reuni kemarin?Jika iya maka tersangkanya hanya ada tujuh orang. Aku harus mengirim orang untuk menyelidiki masalah ini.'
Edwin tancap gas dan segera menjemput mamanya di rumah
sakit.
Sampai di Rumah Sakit.
"Hei ma? Gimana sekarang kondisinya apa sudah lebih baik?" Edwin memeluk mamanya dengan erat.
"Anak mama selalu tepat waktu, mama sudah membaik sayang. Loh istrimu mana?" tanya tante Marta.
"Piona ada pembagian jadwal sidang ma, dia ke kampus barusan Edwin antar kesana!" jawab Edwin.
"Loh bukannya cutinya masih satu minggu lagi ya?" kata tante Marta.
"Mungkin Piona juga nggak sabar pingin lulus ma, keburu perutnya besar juga." jelas Edwin.
"Anak itu, tapi nggak papalah semakin cepat lulus semakin baik. Mama butuh bantuannya untuk mengurus perusahaan mama."kata tante Marta.
"Iya ma, sekarang nggak usah mikirin perusahaan dulu kan ada tante Loka yang ngurusin semua kan ma?" kata Edwin sambil membelai wajah mamanya itu.
"Ah dia kan cuma pegawai, aku ingin menantuku yang mengurusnya!" jelas tante Marta.
"Baiklah, sekarang kita pulang! Pah ayok kita ke mobil." Edwin mendorong mamanya itu menuju ke mobil dengan kursi roda.
Setelah itu akhirnya mereka pulang ke rumah.
Sementara itu Piona yang berada di Kampus, masih terlihat ketakutan ketika masuk kampus. Piona terkejut ketika Dina berteriak menggilnya.
"Hei Beb!" teriak Dina dari arah kantin.
' Anak ini mengejutkanku saja.' Piona menghampiri sahabatnya itu.
"Kamu pagi-pagi udah ke kantin aja beb?" kata Piona.
"Tadi aku nggak sempat sarapan beb, udah ambil jadwal sidang belum?" tanya Dina.
"Belumlah, aku baru aja sampe." kata Piona menjelaskan.
"Bagus kalau gitu, karena aku sangat baik. Sudah aku ambilkan jadwal sidangnya buat kamu. By the way kenapa mukamu kaya takut gitu?" kata Dina sambil mengambil amplop untuk di berikan ke Piona.
" Beb makasih ya, Kamu emang sahabat paling baik yang pernah aku punya. Aku pingin cerita tapi aku lapar beb!" Piona memeluk sahabatnya itu.
"Itu dedeknya laper ya, oke deh kode banget sih. Suruh aku kan yang pesen?" Dina peka dengan perkataan Piona.
"Seperti biasa ya Beb!" tambah Piona.
"Baik Tuan Putri."
Dia memesan kesukaan Piona, seperti capcay dan telur pedas.
"Mami, aku pesen capcay sama telur pedas ya jangan lupa pake nasi satu porsi aja" kata Dina datang ke konter satu
Dina kembali ke meja Piona.
"Beb aku mau cerita dikit, tadi pagi ada hal aneh di rumah Edwin." kata Piona masih merinding membayangkan yang dirumah tadi.
"Emang hal aneh apa-an beb?" tanya Dina Penasaran.
"Tadi pagi ada kotak hitam isinya kucing mati dan secarik kertas, aku yang menemukannya sebelum berangkat aku cuma berani buka kotaknya tapi nggak berani buka kertasnya. Cuma kata Edwin isinya Surat Ancaman. Intinya sih nggak mau biarin kita bahagia. Kira-kira yang dendam kesumat sama Edwin siapa ya? Pikiranku mengarah ke Desi. Menurut kamu gimana beb?" kata Piona dengan raut wajah sedikit takut.
"Serius beb? Kok ngeri banget ya? Tapi apa Desi berani nglakuin itu? Kayaknya sedendam-dendamnya Desi nggak akan ngasih hal mengerikan kaya gitu deh! Dia kan takut kucing nggak mungkin berani bunuh kucing kali beb." jelas Dina.
"Terus siapa dong? Kalau ke enam orang cowok yang keluar itu menurutmu gimana?" tanya Piona.
"Bentar beb, seingatku ada Tedi, febri, Rio, Ansa dan Aldo.
Yang paling dendam sih Aldo, soal orang tuanya sampe sakit gara-gara Aldo di scors waktu itu. by the way kotak hitam itu adanya kapan?" dugaan sementara Dina.
"Kita sih tahunya waktu paginya, kalau dilihat waktu kita pulang malem belum ada tuh kotak hitamnya. Apa mungkin tengah malam atau Dini hari ya Beb?" jelas Piona.
"Bisa jadi sih beb, tapi aku kok nggak yakin ya kalau itu Aldo yang lakuin? Sampai detik ini kan Aldo punya trauma kena pisau gara-gara Edwin. Masak dia bunuh kucing?" jelas Dina "Mungkin bunuhnya pake kater kan bisa? "
Kata Piona.
" Sama aja, itu juga benda tajam Piona. Kan Aldo trauma juga." jelas Dina gemes dengan Piona.
Makanan yang dipesan akhirnya datang juga. Piona makan dengan penuh antusias membuat Dina geleng-geleng kepala.
Setelah Mereka selesai ngobrol dan makan di kantin ceritanya mau jalan-jalan dulu ke Perpustakaan Sekalian cari bahan-bahan buat sidang. Ketika Piona dan Dina berjalan di lorong, tanpa sadar ada orang memakai masker, kaca mata hitam dengan jaket jins dan topi lewat berpapasan dengan mereka.
Tiba-tiba Piona Berteriak ketika tangan kirinya tiba-tiba tersayat benda tajam yang diduga dari orang yang berpapasan tadi. Darah segar mengucur dari tangan kirinya. Membuat Piona merintih kesakitan. Orang yang berpapasan dengan mereka tadi langsung kabur.
"Hei jangan lari!!Tolong kejar orang itu!" Dina panik meminta bantuan mahasiswa yang ada dilokasi.
Dengan segera Piona diantar ke Poly kampus. Darahnya tidak kunjung berhenti kebetulan ada dokter jaga disana jadi luka bisa ditangani dengan cepat.
Piona terduduk di tempat tidur Poly. Merasakan perih yang
tidak kunjung hilang di tangan kirinya.
"Beruntung tidak sampai ke pembuluh darahnya, tapi luka ini cukup dalam." kata dokter itu menjelaskan.
Dina langsung menelpon Edwin untuk segera datang menjemput Piona.
"Win, aku harap kamu segera ke kampus. Piona masuk Poly!"
Edwin mendengar hal itu segera berangkat. Kebetulan baru saja Edwin sampai di rumah. Edwin bergegas masuk lagi ke mobilnya dan berangkat.
Lima belas menit kemudian Edwin sampai ke Kampus Piona.
Perasaannya tidak karuan, dia berjalan langsung menuju Poly kampus.
"Din mana Piona?" tanya Edwin melihat Dina sedang diluar.
"Itu di dalam, aku mau beli minum dulu sebentar untuk
Piona." kata Dina.
"Ok, thanks" Edwin langsung masuk ke dalam Poly.
"Sayang kamu kenapa?" Edwin terlihat sangat cemas dengan nafas masih terengah-engah.
"Tadi tanganku disayat orang tidak di kenal. Kukira dia mahasiswa tapi kayaknya bukan deh." Piona masih memegang tangan kirinya yang sudah di perban karena masih merasakan perih.
'Kenapa jadi begini?' Edwin terlihat sangat khawatir.
"Masih sakit sayang?Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya
Edwin sedikit panik.
"Nggak usah Win setelah Dina memberikan aku minum kita
pulang aja, aku bisa istirahat di rumah."jawab Piona.
Beberapa menit kemudian Dina datang dengan minumannya.
"Ini beb di minum dulu!" kata Dina sambil memberikan
sepotol air putih kemasan.
"Makasih beb, aku pulang duluan ya?badanku rasanya
lemas" kata Piona.
"Iya Beb, hati-hati dijalan ya !" kata Dina yanh juga sangat khawatir melihat sahabatnya itu.
"Makasih ya Din, kita pulang duluan!" kata Edwin.
Edwin menggandeng tangan kanan Piona dan segera menuju ke parkiran mobil. Ketika sudah berada di dalam mobil terlihat seseorang dari jarak yang cukup jauh memperhatikan mereka berdua. Wajahnya tertutup masker dengan pakaian serba hitam, tatapan matanya seperti sangat membenci mereka berdua.
"Sayang, aku cuma berfikir kenapa setelah reuni kita mendapatkan ancaman seperti ini? Aku takut bukan cuma kita yang disakiti tapi orang tua kita juga." Piona sedikit cemas.
"Aku sudah menelpon polisi dengan beberapa orang kepercayaanku untuk menyelidiki hal ini dan dirumah aku sudah perketat penjagaan dimalam hari." kata Edwin.
Siang itu mereka sampai dirumah, Piona menyapa papa dan mama Edwin dan juga orang tuanya. Mereka begitu khawatir, Edwin menjelaskan semua kronologi kejadiannya kepada seluruh keluarganya.
Disisi lain sang peneror melihat rumah Edwin sudah di jaga satpam dan polisi dengan jumlah yang lumayan banyak. Peneror itu mulai gusar.
"Sial! Aku tidak akan gegabah. Akan kubuat mereka tidak tenang. Sekarang aku biarkan mereka lengah."
Sudah tiga bulan peneror itu menghilang bagai ditelan bumi. Tidak menampakkan batang hidungnya sekalipun. Keluarga Edwin masih terus waspada semenjak tangan Piona disayat orang yang tidak dikenal. Dari pihak kepolisian sengaja menarik lagi petugas dari kediaman Edwin untuk memancing peneror itu datang. Namun setelah seminggu ternyata tetap tidak menampakkan hasil sama sekali. Sampai suatu ketika ada seorang petugas ekspedisi memberikan surat untuk diberikan kepada Edwin.
"Pak Edwin, maaf ada surat untuk pak Edwin." kata salah seorang satpam sambil menyerahkan amplop berisi surat itu.
"Terimakasih pak, tadi siapa yang nganter surat ini?" tanya
Edwin.
" Yang mengantar petugas ekpedisi pak." kata satpam itu.
"Baik, Terimakasih." Edwin masuk kedalam rumah membawa
surat itu.
Edwin terperanjat ketika surat itu dibuka.
"KALIAN SUDAH CUKUP TENANG BEBERAPA BULAN
INI, KEJUTAN YANG KALIAN TUNGGU AKAN SEGERA DATANG DAN AKU YAKIN AKAN MEMBUAT KELUARGA INI MENANGIS
SEJADI-JADINYA. APA YANG TIDAK BISA KU MILIKI MAKA
ORANG LAIN TIDAK BOLEH MEMILIKINYA JUGA."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (159)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat bagus
21/05
0seru baca drama ini
20/05
0menarik sekali
20/05
0Lihat Semua