Bab 14 Buah Hati 2

Edwin tidak lagi menahan hasratnya yang terus memburu membanjiri setiap liuk tubuh piona di malam itu. Piona menggeliat mendesah seolah tak ada lagi lampu merah yang menghentikannya. Tangan Edwin yang terus membelai piona yang sontak bergerak membuatnya semakin bergairah lagi. Pecah sudah desahan itu ketika puncak ruang itu membuat mereka lega dan berhenti dengan senyuman.

Keesokan harinya.....

Edwin masih tertidur pulas, piona terbangun dari tidurnya. Kali ini sudah tidak ada canggung dan malu pada dirinya. Piona sadar pada waktunya dia akan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan mau tidak mau dia harus siap.

Piona mengecup kening Edwin dan beranjak dari ranjang untuk membuat kopi panas untuk suaminya itu.
"Sayang... bangun!" Piona membangunkan Edwin perlahan di pinggir ranjang sambil membelai rambut suaminya itu.
Edwin mengusap matanya yang tidak mau terbuka karena mereka baru tidur subuh.
Edwin terpana melihat istrinya menyebutnya sayang dan membangunkannya.
" Kamu tahu nggak?"Kata edwin membelai wajah istrinya itu. " Apa?" Piona menjawab dengan senyuman manis.
"Ini pertama kalinya kamu bersikap manis setelah kita melakukan itu." Kata Edwin sambil tersenyum.
"Sebenarnya kamu senang apa meledek sih? Muka mu itu seperti menyindirku" Piona cemberut.
"Nggak kok aku bahagia sangat bahagia" Edwin mengecup kening Piona.
Piona tersipu dan memandang suaminya itu. Edwin pun beranjak dan terduduk di pinggir ranjang.
" sayang ini kopinya." Kata Piona sambil menyodorkan kopi panas buatanya.

" Makasih sayang."Jawab Edwin lalu menyerutup sedikit kopinya.

Piona memegang cangkirnya dan meminumnya sambil melihat keluar jendela. Piona hanya menggenakan kemeja tidurnya tanpa celana panjang. Edwin yang melihatnya hanya tersenyum seolah sadar istrinya sudah tidak ada rasa malu.
'Dia semakin berani berpakaian seseksi itu, apa dia sudah nggak malu lagi ya ? Aku jadi senang. Tapi melihatnya begitu membuat aku semakin tergoda. Eits tidak,tidak,tidak berhenti Edwin pagi-pagi kamu tidak boleh seliar ini.' Banyak pikiran yang berkecambuk dibenak Edwin membuatnya berulang kali tersenyum.
Edwin meletahkan cangkirnya di meja lalu mendekati piona yang asik menyerutup secangkir kopinya kemudian memeluk piona dari
Belakang.
"Sayang ..." Edwin berbisik manja di telinga Piona.
"Hemm..." Pioma menyerutup kopinya.
"Makasih ya sayang..." Edwin bergerak semakin manja.
" Makasih buat Apa Sayang ?" Tanya Piona.
"Karena sudah mencintaiku dan menerimaku
sekarang."Jawab Edwin.

Piona tiba-tiba berbalik menghadap ke Edwin. Edwin sedikit terkejut ketika tangan Piona meraba tengkuk lehernya dengan kuku panjangnya. Paha yang telanjang itu menyentuh paha Edwin yang terbuka juga. Tanpa sadar membawa hawa panas yang seolah membangkitkan gairahnya.
'Dia bisa seberani dan seagresif ini?' Edwin heran.
Bibirnya mendekat ke bibir Edwin berjarak satu centimeter dan Piona tiba-tiba menjawab dengan lembutnya.
"Sama-sama sayang." Piona tersenyum
Edwin tertegun dan hampir bengong melihat gelagat istrinya yang hampir di luar dugaan. Piona tiba-tiba berlalu dan meninggalkan Edwin yang masih bengong di tempat. Piona membawa cangkirnya untuk diletakkan dimeja.
" Aku mandi dulu ya saying! " Kata Piona dengan tatapan yang begitu seksi.
Jantung Edwin seperti berlari dilandasan pacu. Tubuhnya tiba-tiba lemas seperti kehabisan daya. Kemudian dia baringkan tubuhnya sebentar di ranjang.
'Sepertinya dia kesambet, iya kayanya kesambet? Tapi kok seperti ada setrumnya ya? Aku nggak bisa bayangin kalau Piona sampe kaya gitu terus. Ya Tuhan dia terlihat lebih Ganas dari yang aku bayangkan.' Edwin masih terheran-heran.
Piona yang masih dikamar mandi tertawa sendiri melihat ekspresi suaminya itu.
'Nggak papa kali ya sekali-sekali ngerjain Edwin, ini akibatnya kalau sering menggodaku.' Batin Piona sambil menyalakan shower untuk membilas rambutnya.
Piona selesai mandi.
Tatapan Edwin tak berhenti memandang Piona yang hanya mengenakan handuk sampai menutupi setengah pahanya
memandangnya dari atas sampai bawah.
'Aku rasa tidak ada yang aneh, kok bisa ya?' Edwin menggelengkan kepala masih menatap Piona.
Piona yang risih karena dilihat terus sama suaminya itu, mulai menggodanya lagi.
Piona bergerak merayap ke ranjang, mendekati Edwin yang terbaring menatapnya. Belahan dada itu malah membuat Edwin semakin gugup memundurkan tubuhnya perlahan, wajahnya memerah dan terlihat masih melongo karena terlalu heran.
"Sayang dari tadi kamu menatapku terus ada apa?" Piona bertanya lembut sekali setengah mendesah sambil memainkan jarinya ke wajah Edwin yang memerah itu.
'Oh Tuhan, tahan Edwin kamu harus tahan. Dia kok semakin menakutkan. Apa dia minum sesuatu yang salah ya ? Aku merinding' Edwin sedikit kebingungan.
"E-enggak kok, tadi itu aku ... e-ma-mau bilang kamu cantik. Iya mau bilang itu. Dan A-a-aku mau mandi." Edwin tergagap dan beranjak dari ranjangnya.
'Kok begini kata-kataku terbata-bata nggak jelas.' Edwin melihat bagian bawahnya.
'Sial!! Sepertinya aku terpancing.' Edwin masih bergumam dalam hati sambil bergegas ke kamar mandi.
Piona semakin terkikih geli, melihat suaminya bertingkah seperti itu.
"Yesss. Berhasil!!"Kata Piona dengan suara pelan terlihat cukup senang.
Edwin yang sedang mandi masih terus memikirkan hal tadi.
'Dia bisa nakal juga ya? Aku bingung apa dia pernah belajar ya ?Tapi itu benar-benar membuatku merinding ya Tuhan' Gumam
Edwin sambil melanjutkan mandinya.
Edwin dan Piona selesai mandi.

Hari ini adalah hari dimana mereka akan menghabiskan waktu di Universal Studio. Edwin mengenakan kaos casual dan jaket jins biru ditambah sepatu sporty yang bikin Edwin terlihat keren pagi itu. Begitu juga Piona memakai hotpan dengan kaos putih casual dan jaket jinsnya dengan sedikit syal kecil melingkar di lehernya tak lupa rambut yang digerai dengan curly yang siap menambah daya tariknya. Mereka melenggang dari kamar menggunakan kaca mata hitam dan bersiap pergi ke Universal Studio.
Mobil sudah disiapkan Tour guide mereka. Sepanjang perjalanan ini mereka sangat ceria bercanda di dalam mobil dan sangat antusias untuk menikmati perjalanan mereka kesana.
Sesampainya disana Piona berfoto disetiap tempat, mencoba segala wahana yang ada. Mengajak Edwin ke Rumah hantu dan menaiki jet coaster yang menantang. Edwin turun dari wahana jet coaster sampai muntah-muntah. Piona tertawa melihat hal itu
'Edwin,edwin.' Kata Piona dalam hati sambil mengambilkan minum untuk suaminya itu.
Setelah mualnya reda mereka melanjutkan lagi ke Bianglala. Mereka masih bercanda sambil melihat pemandangan dari tempat yang tinggi. Edwin mulai iseng lalu mengecup bibir Piona dan memotretnya, wajah Piona sangat terkejut dan Piona mulai melayangkan pukulan. Edwin memegangi tangan Piona kemudian memeluknya.
Tiba-tiba ada telepon.
"Kring,kring,kring"
Edwin mengangkat Telpon ternyata yang menelpon Tante
Marta atau mama Edwin.
"Halo ma ... " Jawab Edwin dengan suara agak keras karena suasana yang cukup berisik.
Edwin terkejut ketika yang menelpon bukan mamanya tapi tante Ratna atau mama Piona.
"Nak Edwin, mama masuk rumah sakit."Kata mama Piona sambil menangis.
"Mama kenapa ma ?" Edwin bertanya cukup panik.
"Kalian bisa pulang sekarang? Kondisi mama kamu kritis
Edwin."Kata mama Piona.
Edwin kebingungan, wajahnya merah padam seakan hampir menangis. Handphone itu diserahkan ke Piona.
"Ma ada apa? Edwin kaya panik begitu?"Tanya Piona ikutan panik.
"Tante Marta masuk rumah sakit Piona, kondisinya kritis"
Kata mama Piona menjelaskan lagi.
"Apa ma?Kalau gitu kita bakal pulang hari ini ma." Piona langsung mematikan telponya.
'Ya Tuhan, bagaimana ini aku belum sempat menyampaikan ke Edwin tentang mamanya tapi kalau kondisi seperti ini. Edwin pasti akan semakin syok. Kalau aku bilang nanti aku pasti kena marah Tante Marta juga terus aku harus gimana ?' Piona menggigit bibirnya dan masih terus panik.
"Sayang, maaf untuk bulan madu kita. Kita harus pulang sekarang juga!"Kata Edwin dengan mata yang memerah dan terlihat sangat cemas.
"Nggak papa sayang, aku akan pesan tiket pesawat online sekarang juga. Kita turun dan berangkat ke bandara." Piona juga terlihat panik.

Piona menelpon pihak penginapan untuk minta tolong mengemasi barang-barang mereka dan membawanya ke bandara sekarang juga. Piona dan Edwin setelah turun dari Bianglala berlari menuju mobil mereka didepan. Wajah Edwin terlihat sangat cemas dan tidak fokus, Piona hanya bisa menggenggam tangannya untuk sekedar menguatkan hatinya.
Mereka langsung naik pesawat dan pulang kerumah. Dalam perjalanan yang cukup lama Edwin terlihat murung dan tidak bergairah, wajahnya begitu sedih. Membuat Piona khawatir.

" Sayang sudah cukup siang kamu belum memakan apapun dari tadi. Kita makan ya ?" Piona mencoba menawarinya makan.
"Maaf sayang aku tidak berselera, aku hanya ingin tidur."
Kata Edwin bersandar di tempat duduknya.
'Dia pasti sangat syok, aku harus bagaimana ? aku takut dia sakit.'Batin Piona.
Edwin dengan segera terlelap dari tidurnya. Piona masih terjaga pikirannya tidak tenang.
' Ma bertahanlah sebentar, aku mohon sembuhkan Mama Edwin ya Tuhan. Angkat semua penyakitnya dan biarkan Mama Edwin sehat kembali.' sejenak Piona berdoa dalam hati.
Sekitar pukul 20.00 Edwin terbangun dari tidurnya. Dia melihat Piona sama sekali tidak memejamkan matanya. Dia melihat raut khawatir di dalam wajahnya. Piona yang melihat Edwin terbangun langsung menyodorkan segelas susu yang masih hangat di mejanya.
" Sayang, aku mohon jika kamu nggak mau makan setidaknya minumlah susu ini untuk menambah energimu. Aku juga nggak mau kamu sakit kalau seperti ini"
Edwin mengecup kening piona dan meminum susunya sampai habis. Piona sedikit lega melihat hal itu. Edwin merangkul piona dan membuatnya bersandar di bahunya.

"Kamu belum tidur kan sejak tadi? Sekarang tidurlah!
Maafkan aku jika sikapku seperti ini."
Kata Edwin membelai rambut istrinya itu.
" Kamu nggak perlu khawatir sayang, aku mengerti."Piona memeluk suaminya itu.

Mereka akhirnya tertidur.

Beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai ke kampung halaman pada pukul 15.30 waktu setempat.

Mereka bergegas menuju Rumah Sakit di pusat Kota.

Beberapa menit kemudian mereka berdua tiba di Rumah sakit. Edwin dan Piona melihat sudah banyak keluarga yang menunggu di depan ruang operasi.
Edwin semakin bingung hatinya tidak menentu.
'Sebenarnya mama sakit apa?' pikir Edwin.
" Edwin, maafin papa ya?" Papanya menangis sambil memeluk edwin.

Edwin terkejut melihat papa nya menangis.
" Pah mama sakit apa ?" Edwin semakin penasaran.
"Mama kamu dari dua hari yang lalu sudah muntah darah tapi nggak bilang ke papa sampai akhirnya pagi tadi mama kamu cerita ke papa dia mengidap Kanker payudara stadium 4 waktunya hanya 3 bulan lagi lalu baru dua jam setelah itu mama kamu pingsan di dapur. Papa langsung membawanya ke Rumah Sakit dan kata dokter harus segera di operasi jika operasi ini berhasil kemungkinan mama akan kembali sehat tapi jika tidak maka..."penjelasan papa Edwin Terhenti.
Edwin mengerti yang dimaksud papanya. Edwin bingung matanya tiba-tiba kosong, air matanya mengalir.
"Kok mama tega nggak bilang ke kita sih Pah?" Edwin masih terus meneteskan air mata.
" Win, mama kamu nggak mau kita khawatir. Sudah tegarkan hatimu Win. Berdoa untuk kesembuhan mama."Kata Papa Edwin sambil menepuk pundak Edwin.
'Ma tolong bertahanlah! kenapa mama nggak jujur ke Edwin ma?' Edwin bergumam sendiri masih terus menangis dan menyeka air matanya.
Piona mendekati Edwin dan menggenggam tangannya. Piona menangis juga seperti tahu perasaan Edwin seperti apa, dia memberanikan diri untuk jujur kepada Edwin bahwa dia sebenarnya sudah tahu penyakit mamanya.
"Aku minta maaf sayang, aku selalu mengurungkan niatku untuk bilang tentang penyakit mama kamu. Karena mama kamu berpesan untuk tidak memberitahukan keadaannya ke kamu. Aku selalu ingin bilang tapi aku nggak sanggup untuk bicara. Maafkan aku." Piona menundukkan kepala.
Edwin tiba-tiba terdiam kemudian menggenggam tangan
Piona semakin kuat sambil terus terisak.
"Kenapa kamu terlalu patuh? Kenapa Piona? Aku bisa membawanya ke Amerika untuk ditangani disana jika kamu cerita." Edwin terlihat semakin terpukul Edwin perlahan terduduk dilantai, kakinya terasa lemas tanpa daya. Edwin juga belum memakan apapun dari tadi hanya meminum segelas susu.
Piona yang melihatnya seperti itu pun akhirnya memeluknya.
"Berdoa sayang, semoga mama nggak papa. Mama akan
baik-baik saja. Aku yakin." Kata Piona.
Beberapa menit kemudian Dokter keluar dari Ruang Operasi. Kata dokter operasinya berhasil namun mama Edwin terpaksa kehilangan payudaranya karena keduanya diangkat dan sampai sekarang mama Edwin. masih belum siuman. Mendengar hal itu dari dokter semua tetap bersyukur karena mama Edwin masih bertahan.
Tante Marta di pindahkan ke Ruang rawat.

Edwin menunggu di samping mamanya tapi hari itu masih belum siuman juga. Edwin terlihat cemas, Edwin sama sekali belum makan dan terus menunggu mamanya disampingnya. Piona selalu gagal membujuk Edwin untuk makan.
"Ma ini gimana? Edwin belum makan dari tadi pagi. Dia cuma meneguk segelas susu, Piona cemas ma."Piona terlihat bingung di luar kamar rawat inap.
"Coba kamu bilang papa Edwin mungkin dia bisa membantu."
Kata mama Piona memberi saran.
Piona berjalan menemui papa Edwin.
"Pah!" Panggil Piona ke papa Edwin.
"Iya sayang."Jawab Papa Edwin.
"Bolehkah Piona minta tolong untuk membujuk Edwin makan?Piona selalu gagal membujukknya pah."Jelas Piona.
"Ya udah biar papa yang bujuk ya."Papa Edwin langsung beranjak dari kursinya dan masuk ke ruang rawat.
"Edwin!" Panggil Papanya.
"Iya pah" Jawab Edwin masih terus menggenggam tangan mamanya.
" Sekarang kamu sudah punya istri. Jangan membuatnya khawatir, kamu juga harus jaga kesehatanmu. Jika nanti mama siuman dan kamu belum juga makan. Dia pasti akan sangat marah padamu."
Jelas Papa Edwin menasehatinya.
"Tapi pah! "
"Sudah pergi sana temui istrimu!! Papa akan menggantikanmu menjaga mama." Kata Papa Edwin.

Edwin yang sudah semakin lemah berjalan menemui Piona diluar kamar. Ternyata istrinya itu tertidur sambil membawa bekal makanan dipangkuannya. Edwin tidak melihat siapapun disana hanya istrinya.Edwin mengambil perlahan bekal makanan itu sambil bersimpuh didepanya. Tapi piona tiba-tiba terbangun.
"Edwin!!"Piona terkejut.
"Sayang makan dulu ya, aku sudah membelikan makanan ini buat kamu." Piona langsung menyiapkan makanan.
Edwin terdiam dia melihat Piona benar-benar
mengkhawatirkannya.
"Sayang mau aku suapin?" Tanya Piona.
"Kamu sudah makan belum?" Edwin kembali bertanya.
"Aku hanya mampu makan sereal sedari tadi perutku rasanya mual." Kata Piona sambil menyodorkan sesendok nasi dengan sayur dan lauknya.
Edwin membuka mulutnya dan memakan makanan itu.

"Sini biar aku habiskan sendiri sayang!"Kata Edwin mengambil seporsi rantang itu.
Edwin duduk disamping Piona.
'Dia cuma makan sereal apa sudah kenyang?' Gumam Edwin dalam hati.
"Sayang aku suapin ya, kamu kalau makan sereal aja nanti perutmu sakit lo?"Kata Edwin.
"Baiklah aku juga makan."Kata Piona Tapi baru membuka mulutnya dia langsung ingin muntah.
"Maaf sayang aku nggak bisa, baunya menyengat sekali masakan itu. Rasanya aku mau muntah."Kata Piona
Edwin bingung

Komentar Buku (159)

  • avatar
    MargaretClaudya

    sangat bagus

    21/05

      0
  • avatar
    Khairun nisaUlfa

    seru baca drama ini

    20/05

      0
  • avatar
    PutriDefina

    menarik sekali

    20/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru