Akhir Penantian

POV Muhammad Ali Khan
AlhamduLILLAH TabarakALLAH atas semuanya, aku sangat senang karena malam ini akan melamar Zia. Sedari tadi Papa dan Mama terus saja menggoda.
"Jantung kamu dari tadi suaranya terdengar sampai ke sini," kata Papa.
"Mana dari tadi berkaca dulu, Pa."
Duh, Mama sama Papa menggodaku terus. Azan Magrib berkumandang dengan syahdu, aku dan Papa pamit untuk ke masjid. Mama juga salat, beberapa pakaian juga kain khas Pakistan juga cincin seperti yang kuberikan pada Zia saat itu. Bedanya cincin tersebut lebih mungil dan imut, pasti jari Zia sangat cantik.
Aku tidak menyangak Zia memakai cincin itu, ada rasa bahagia di hati melihatnya. Sebelum kerumahnya tidak lupa mengambil Hp, benar saja gadisku mengirim pesan. Tetapi, di sini aku heran kenapa bisa memblok FBnya. Sedangkan dari tadi pagi aku tidak membuka FB, sepertinya ada yang ingin menghack akun.
Kujelaskan secara singkat juga mengatakan kalau sekarang sudah mau kerumahnya. AlhamduLILLAH perjalanan kami lancar, saat sampai kami duduk basa basi sebentar kemudian makan.
Aku bertanya sambil berbisik padanya, tentang masakan itu. Benar saja dia yang masak Ma Syaa ALLAH Zia.
Usai makan kami mengobrol santai, sampai azan Isya berkumandang. Ayahnya Zia memintaku menjadi imam, belum nikah juga sudah diminta jadi imam.
Ada ragu menyeruak ke dalam hati, tapi saat aku melihat ke arah Zia dia mengangguk. Lafaz BismILLAH kugumamkan dengan lirih dan memulai salat berjamaah, Zia tersenyum saat ketika mata kami bertemu. Senyum yang selalu menjadi candu setiap harinya.
Setelah selesai salat ini acara yang membuat panas dingin, apa lagi saat ayahnya Zia memintaku menyatakan niat itu langsung. Dengan perasaan gugup kuyakini hati untuk mengatakan kalau ingin melamar Zia. AlhamduLILLAHnya Zia menerima meski pun dirinya butuh waktu, aku akan memberinya waktu meski pun harus seluruh hidup ini.
"Kalau lama gimana?" tanyanya.
Itu bukan hal masalah buatku, sebab Zia memang butuh waktu. Dan aku akan selalu memberikan padanya, sampai dia siap. Bahagia sekali hari ini rasanya sulit diungkapkan dengan kata-kata, tidak kusangka akhirnya lamaran ini diterima semua terasa bagai mimpi. Dulu Zia terasa mustahil untuk kugapai, tapi jika ALLAH sudah menakdirkan tidak ada yang tidak mungkin.
Kalimat AlhamduLILLAH selalu kusebut dalam hati, atas nikmat yang selalu diberikan-Nya. Rasanya ingin menangis karena terharu, tapi malu karena aku adalah laki-laki pantang untuk menangis.
Senyum Mama terus menghiasi wajah cantiknya yang kini tidak muda lagi, saat pulang Mama mengatakan kalau beliau sangat menyukai Zia.
"She is very good," ujar Mama berka-kaca.
"Right, Dear. Ali, are you happy?"
"AlhamduLILLAH, Pa."
"Apa kamu tidak masalah menunggunya?"
"No problem, Pa. Zia butuh waktu bahkan jika harus memberikan seluruh waktu. Aku rela."
Mereka berdua tersenyum dengan bahagia dan mengatakan kalau aku sudah dewasa. "Semoga kalian selalu bersama," kata Mama.
"Aamiin Yaa ALLAH," kami pun meg-Aamiini bersama.
Terimakasih Yaa ALLAH.
"Papa dan Mama bahagia?"
"Kami merasa ini mimpi, Nak."
Aku tertawa mendengar ucapan mereka, bukan hanya Mama dan Papa. Aku juga merasa ini bagai mimpi, begitu indah rencana-Mu Yaa ALLAH.
"Akhirnya kamu akan menikah juga, Nak."
Sesampai di rumah aku langsung ke kamar mandi berwudhu dan merebahkan diri, usai mengganti baju sembari menatap langit-langit kamar. Jujur ini bagai mimpi, kutepuk pelan pipi ini, ternyata sakit berarti ini bukan mimpi.
ALLAHUAKBAR! Sebaiknya ini harus dipastikan, agar tidak menjadi ilusi. Menelpon Zia adalah pilhan utamaku agar jelas, tapi kenapa wajahnya seperti habis menangis.
"Zia are you okey?"
"AlhamduLILLAH," jawabnya lengkap dengan senyum bahagia.
"Kenapa seperti menangis?"
"Aku terlalu senang, Kak. JazakALLAHU Khair untuk semua," katanya menahan laju air mata.
"Zia, don't cry please," pintaku.
Aku tidak ingin dia menangis entah kenapa rasanya sakit melihat air matanya jatuh.
"Aku menangis bahagia, Kak."
Sekarang gantian aku yang melongo, wanita itu ternyata unik. Pantas saja mama suka menangisi hal sepela, juga tertawa dalam waktu bersamaan. Zia ... Zia.
"Besok saya tidak bisa menemui kamu," kataku.
"Zia mengantarkan makanan bagaimana, Kak?"
"Besok saya sibuk di kantor dan menyiapkan untuk kepulangan."
"Hati-hati dan semangat, Kak."
Mendengar kata-katanya hati ini langsung menghangat dan kembali semangat, dia itu memang mood yang terbaik. Aku beruntung sekali memilikinya Yaa ALLAH. Aku akan berusaha menjaga titipanmu dan menbuatnya bahagia.
"Kalau kita sudah menikah kamu ingin tinggal di mana?" tanyaku padanya.
"Kakak mau di mana?"
"Boleh saja mau di mana, Indonesia atau Pakistan asal bersama kamu."
Wajahnya pun merona mendengar ucapan tersebut, gemas sekali aku melihatnya ingin sekali mencubitnya.
"Dasar cowok aneh."
Panggilannya itu mengingatkan saat pertama kali kami kenal, sekarang malah sudah lamran bahkan dalam waktu singkat. Mungkin Zia baru mengenalku, tapi tidak denganku yang sudah lama memperhatikannya. Sayangnya hanya beberapa waktu ini berani mengirim pesa kemudian melamarnya.
"Kak, besok Zia antarkan ke rumah saja, ya makanannya."
"Baik, In Syaa ALLAH siangnya saya akan pulang buat makan masakan isteri."
"Ka Ali!"
"Yes, Dear."
Dia makin cemberut saja, duh manisnya gadisku ini. "Istierahat, ya. Saya juga mau istirahat."
"Iya, Kak."
Usai mengucapkan salam panggilan pun berakhir, Zia good night. Rasa kantuk ini menyerang membuatku terlelap.
-----
Pagi ini sibuk sekali jadinya Mama di rumah, aku dan Papa ke kantor. "Nanti Zia akan ke sini, Ma," kataku sebelum berangkat.
Entah apa yang akan dibicarakan wanita beda generasi itu nanti. Waktu terasa berjalan begitu cepat, saat aku dan Papa baru balik ke masjid sudah ada Mama di ruangan.
"Mama sama siapa ke sini?" tanyaku heran.
"Sendiri, ini kalian makan dulu."
"Mama yang masak?"
"Iya dong sama Zia," jawab Mama bangga.
"Wah sudah masak sama menantu saja nih," goda Papa.
Mama tersenyum bahagia. "Ayo di coba."
Ada masakan Indonesia juga nasi briyani dengan gulai kambing. "Ini ..."
"Mama dengan Zialah yang masak, dia penasaran sama masakan Pakistan. Kebetulan briyani masi ada dan dia tadi membawa bahan mentah, jadinya kita masak menjadi masakan dua negara."
Ada sayur yang kata Mama capcay, tapi dengan daging kambing jadi lapar melihatnya. Rasanya sudah tertebak kalau ini adalah olahan Zia.
"Enak?"
"Enak, Ma/Dear."
Masakannya pas dilidah dan selalu membuatku suka, setelah kami selesai makan Mama pamit pulang. Sedagkan aku dan Papa malamnya baru pulang.
Memberi kabar Zia hanya sempat saat mau salat tadi, rasanya badan ini remuk jadi sehabis Isya kuputuskan istirahat. Tidak lupa menelpon Zia entah siapa yang mematikan panggilan, saat bangun sudah Subuh saja.
"Jam berapa keberangkatan kita, Pa?" tanyaku pada Papa.
"Pagi jam ini sembilan dan eluarga Zia nanti menunggu di bandara," jawab Papa.
"Zia ikut?"
"Duh ada yang mau berpisah ini," goda mereka.
Aku hanya menggelengkan kepala saja, setelah menitipkan lagi rumah pada yang menjaga kami menuju bandara. Kami diantar oleh yang menjaga rumah, saat sampai keluarga Zia juga sampai di sana.
Zia tampak cantik dengan gamis merahnya, membuatnya terlihat makin bersinar. Senyumnya itu selalu menjadi candu, aku meminta waktu berdua dengannya pada mereka.
Para orang tua pun masuk menuju ruang tunggu, kukeluarkan kotak dari saku celana.
"Zia, aku ingin kamu memakai ini. Semoga kamu suka."
"I-ini apa, Kak?"
"Buka saja," pintaku padanya.
Dia pun membukanya dan terbelak kaget melihat kalung dengan liontin berlian berbentuk hati, ditatapnya aku dengan terharu. "Simpan, ya." Tidak lupa kuusap lembut kepalanya.
Gadisku ini mungil sekali. "Kakak banyak sekali memberiku hadiah sedangkan Zia?"
"Dengar, Zia. Kamu itu calon isteriku jadi jangan pikirkan hal itu, ya."
Dia menghela napas dan mengucapkan terimakasih, kemudian mengambil sesuatu dari tasnya. Dari kotaknya sudah tertebak kalau itu jam. "Simpan ini juga, ya," katanya.
"Zia ini ..." Aku tidak sanggup melanjutkan ucapan ini, sebuah jam mahal dari merek ternama. "Semoga Kakak suka," katanya.
"JazakiLLAHU, Zia," ujarku senang.
Dia mengangguk dan langsung mengajak masuk, saat akan memasuki pesawat mama memeluk Zia dengan erat. Sebenarnya aku juga mau memeluk dia, tapi belum sah jadinya mama saja.
----
Suasana di Pakistan ini terasa begitu berbeda, mama dan papa yang paham menyemangatiku. Kemudian memberikan foto Zia yang mengenakan gaun berwarna biru, tampak pas dan indah ditubuhnya.
"Kirim, Ma."
Mama langsung mengirimkan foto itu, kami hanya berkirim pesan tadi pagi. Setelah dapat foto Zia aku siap-siap ke kantor, tidak lupa membawa foto kami berdua saat di panti tabg sudah kucetak.
Foto itu akan kupajang diruanganku, sebagai penyemangat bekerja. Kini semangatku semakin bertambah.
Saat pulang aku langsung membersihkan diri, mendekati Mama yang sedang masak. Papa sudah jelas pasti diruang olahraganya, lebih baik melihat pesan dulu siapa tahu Zia mengirim pesan.
"Ma, kenapa Zia tidak aktif, ya?"
"Mungkin dia sibuk, Ali," kata Mama mencoba memberi pengertian.
Aku hanya mengangguk saja dan kembali ke kamar, tapi ada yang janggal dari pesannya.
[Selalu semangat apa pun yang terjadi, kalau nanti Kakak tidak kuat menunggu semuanya Zia kembalikan pada Kakak.]
Pesannya itu kubalas dan mengatakan kalau akan menunggunya, sayangnya pesan itu hanya dibalas seperti ini.
[JazakALLAHU Khair, Kak untuk semuanya. Kita sama-sama berdoa semoga ALLAH merestui.]
Pesan itu kubalas Aamiin dan sejak saat itu dia tidak aktif lagi, membuatku bingung sendiri.
Ini sudah satu bulan dia tanpa kabar, akhirnya aku meminta izin pada Mama dan Papa untuk ke Indonesia. Mereka yang paham mempersilahkan dan menyuruh hati-hati.
Indonesia aku datang dan Zia kamu di mana? Rumah Zia sama sekali tidak berubah, aku datang ke sini saat malam. Ada Danu kakaknya Zia yang menyambutku dengan wajah kaget.
Mereka tampak senang melihat kedatanganku, tapi Zia sama sekali tidak terlihat. Betapa terkejutnya aku saat tahu dia tidak ada di rumah lagi.
"Kemana, Zia, Om?" tanyaku penasaran.
Om Sandi dan Tante Fira hanya diam dan terus menghela napas, membuatku jadi penasaran ada apa dengan mereka.
"Zia pergi ke pondok untuk belajar agama," kata Danu.
Untuk beberapa saat aku terdiam mendengar perkataan itu, jadi Zia pergi tanpa memberi tahu ini semua.
"Dia ingin belajar agama agar saat menikah bisa membimbing anak-anaknya kelak menjadi baik, juga ingin anaknya menjadi penghafal Al-Qur'an."
Pikiranku yang bukan-bukan tadi langsung berganti, Zia kamu memang gadis yang baik. Aku beruntung sangat beruntung memiliki kamu. Mungkin dia tidak ingin aku khawatir, jika itu yang dilakukannya maka diri ini juga harus seperti.
Setelah acara kangen-kangen selesai, Om Sandi dan Tante Fira meminta untukku tinggal di rumah mereka. Jadi selama dua hari di Indonesia aku tinggal sana, saat pulang kukatakan pada Mama dan Papa kalau Zia pergi belajar agama.
"Itulah alasan dia meminta waktu," tebak Papa dan Mama.
"Kamu akan terus menunggunya'kan, Nak?"
"Iya, Pa. Ali akan tetap menunggu Zia sampai dia mengabari," jawabku mantap.
Mereka semua bernapas lega mendengar jawaban itu, sejak hari ini kala rindu menyapa. Kenangan dengan Zia akan kuingat selalu.
Satu tahun lebih sudah berlalu, perasaan ini tetap sama dan makin besar meski pun tanpa kabar. Karena doa selalu kulangitkan dan mengingat kenangan serta membaca pesan dulu menjadi candu.
Malam ini saat aku akan tidur ada sebuah notifikasi masuk, membuat mataku terbelak tidak percaya.
[Datanglah ke rumah bersama keluarga, Kak. Untuk melangsungkan pernikahan kita.]
Zia ... Ini bukan mimpi. ALLAHUAKBAR!
"Mama, Papa!"
Mereka yang kaget melihatku yang tampak bahagia, langsung menatap dengan pandangan heran. Segera kutunjukkan pesan dar Zia, membuat mereka berdua berpelukan bahagia. Membuat iri saja, AlhamduLILLAH akhirnya penantian ini seperti ini. Terimakasih Yaa ALLAH.

Komentar Buku (111)

  • avatar
    XieYueLan

    Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?

    13/08/2022

      0
  • avatar
    CristinaAna

    eu gostei muito

    04/09

      0
  • avatar
    riana sari

    critanya oke banget

    23/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru