Beranda/Suamiku Orang Pakistan/
Kenapa, Kak?
Baru saja aku ingin membuka buku tadi, Bunda memanggil ke depan dan Kak Danu menjemput.
"Dedek ngapain kok lama?" tanyanya penasaran.
"Tadi lihat ada yang nelpon, Kak. Pas ditelpon balik engga diangkat," kataku berbohong.
"Siapa?"
"Engga tahu, Kak. Yuk, ke depan," ajakku sambil berlalu.
Banyak pertanyaan dibenakku atas apa yang dilihat barusan, buku tadi tulisan Kak Danu. Apa itu artinya dia mencintaiku? Pikiran ini bercabang entah kenapa aku malah tidak fokus, saat Ali datang dia menatap heran diri ini.
Sesekali aku melirik Kak Danu yang tadi diam saja, bahkan memalingkan wajah saat melihat keakraban dedek dengan mamanya. Setelah basa basi kami pun menuju ruang makan, Ali yang berjalan di sisiku berbisik.
"Kamu yang masak?"
"Iya dong," ujarku bangga.
Ali hanya tersenyum mendengar itu dan langsung duduk, kami makan bersama dengan nikmat sesekali bercanda. Cuma Kak Danu yang menanggapi dengan singkat seadananya saja, kecurigaan ini makin jadi tentang perasaannya. Yaa ALLAH jika Kak Danu mencintaiku apa yang harus dilakukan?
Belia sudah kuanggap seperti Kakak sendiri, memikirkan itu membuatku bingung sendiri. Usai makan kami duduk berkumpul semua, sembari menunggu azan Isya Papa Ali bertanya siapa Kak Danu.
"Dia Kakaknya Zia," jawab Ayah.
Yah, sejak dulu kalau ada yang bertanya pasti Ayah akan menjawab beliau Kakakku. Azan Isya berkumandang, kami bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan salat di rumah saja.
Ali dipinta Ayah menjadi imam salat, tentu saja dirinya kaget mendengar permintaan ayah. Setelah menghadap ke arahku yang tersenyum dia pun langsung mengiyakan, suaranya begitu merdu membuat hati ini nyaman. Begini rasanya diimami, eh kan belum halal sabar Zia.
Sehabis salat aku membantu Bi Inem membawa cemilan, saat semua sudah berkumpul inilah pembicaraan membuat hati deg-degan.
"Sebelumnya terimakasih atas jamuan ini, Ma Syaa ALLAH kami merasa tersanjung. Kami ke sini untuk silaturahmi sekaligus melamar Zia," kata Papa Ali tegas penuh wibawa.
Mendengar itu Ayah hanya tersenyum menggoda, pasti pipiki sekarang sudah merah. Bunda yang di sampingku menggenggam erat tangan ini, memberikan keyakinan atas keputusan nanti.
"Ma Syaa ALLAH jujur kami tersanjung akan apa yang kamu katakan, tapi untuk masalah lamar bisakah kami dengar langsung dari Ali?"
Duh Ayah kenapa harus ribet, aku tahu beliau ingin melihat kemantapan niat Ali. Jujur aku takut Ali tidak berani dan malu, tapi dugaan itu salah.
"BismiLLAH, Om. Kedatangan kami ke sini bukan hanya silaturahmi semata, melainkan ingin menjalin hubungan menjadi keluarga. Saya ingin melamar Zia menjadi istri," kata Ali mantap dengan suara tegas.
Jantungku makin berdetak kencang mendengar ucapan Ali, berbeda dengan Ayah yang tampak santai dan berwibawa.
"Kami tidak bisa memutuskannya, hanya Zia yang memutuskannya," ujar Ayah.
Tuhkan Ayah kenapa tidak dari tadi saja bilang begitu. "Zia, saya tidak tahu apa alasan mencintai kamu. Saya hanya punya keyakinan akan perasaan ini, Zia will you marry me?" tanyanya dengan menatapku lembut.
Ye akhirnya nikah, eh bentar masih harus ke pondok dulu. "Apapun keputusan Dedek kita akan dukung," kata Bunda lengkap dengan senyum lembutnya.
Kualihkan pandangan ke arah Ayah yang tersenyum, begitupun dengan Mamang dan Bibi. Berbeda dengan Kak Danu yang sedari tadi hanya menunduk, sadar kuperhatikan beliau tersenyum mengangguk lemah.
Kuambil napas sambil menyiapkan kata-kata, semoga jawaban nanti tidak mengecewakan.
"BismiLLAH semoga jawaban Zia tidak membuat terluka ..." Kuambil napas untuk merangkai kata-kata selanjutnya.
"AlhamduLILLAH Zia senang sekali Kak Ali berani membuktikan perkataannya, tapi Dedek ada satu pertanyaan buat Kak Ali. Seandainya Dedek menerima lamaran ini, tapi minta waktu untuk menikah apakah Kakak akan mengabulkan permintaan itu?"
Mendengar jawabanku Ali langsung tersenyum dan dengan mantap menjawab iya.
"Saya tahu kamu butuh waktu untuk itu, saya tidak masalah akan hal tersebut. Saya In Syaa ALLAH akan menunggu sampai kamu meminta untuk meneruskan lamaran sekarang."
Ma Syaa ALLAH mungkinkah ini jawaban atas doaku selama ini? Dengan mengucapkan BismiLLAH kuanggukan kepala dengan mantap, lafaz AlhamduLILLAH menggema diruanga tamu. Sebagai bentuk ucapan syukur atas jawaban yang sudah kuberikan, ada lega di hati ini Ali berhasil menyakinkanku . Kak Deva mungkin hanya sebatas pelajaran saja, untuk menguatkan hati sampai bertemu yang pasti.
"JazakILLAHU Khair, Kak atas apa yang sudah Kakak lakukan untuk buat Zia sampai saat ini."
"Berapa lama kamu menginginkan waktu sampai siap?"
"Kalau lama gimana?" tanyaku menggoda.
"In Syaa ALLAH saya akan menunggu sampai kamu siap," jawabnya mantap.
"Jadi Zia minta jangan tanya kapan siap, karena saat Zia siap pasti akan memberi kabar," kataku tegas.
Mereka semua pun akhirnya setuju dan sebagai simbol pengikat kami, Mamanya Ali memberikan cincin berlian yang bentuknya lebih imut dari yang diberikan Ali kala itu.
Saat memasangkan cincin di jari manisku, Mamanya terpaku pada jari tengah yang memakai cincin juga. Sesaat kemudian senyum beliau terbit melihat yang kupakai.
AlhamduLILLAH akhirnya pertemuan ini selesai, mereka juga mengatakan akan pulang lusa. Ayah dan Bunda sepakat akan ikut mengantarkan mereka.
"JazakiLLAHU Khair, Zia untuk semua," bisiknya sambil terus tersenyum manis.
Setelah mereka pergi aku langsung memeluk Ayah dan Bunda yang sedang duduk.
"JazakumuLLAHU Khair untuk semuanya, Yah, Bun," kataku menahan tangis.
Mereka membalas pelukanku tidak kalah erat. "Kalau Dedek nikah pasti jauh nanti," kata Ayah lirih.
"Dedek akan ada selalu di hati Ayah dan Bunda," jawabku cepat.
"Rencana kamu mondok gimana, Dek?" tanya Ayah mengalihkan pembicaraan.
"Setelah Kak Ali berangkat Dedek juga akan ke pondok, Yah."
Bunda yang mendengar itu hanya bisa menghela napas, aku tahu beliau berat melepaskan kepergian anaknya yang cantik ini. "Kalau Bunda rindu berkunjung saja ke pondok," kataku menenangkan.
"Berapa lama kamu di sana, Nak?"
"Setahun atau juga bisa lebih dari sana, Bun."
"Lalu Ali?"
"Dedek percaya, Yah. Dia akan menunggu," ujarku yakin.
Mereka langsung memelukku dan mengatakan kalau sekarang dedek makin dewasa. Aku teringat Kak Danu, segera pamit mau cek beliau dulu. Benar dugaanku dia ada ditaman.
"Kak," panggilku pelan membuatnya terkejut, dengan cepat menghapus air matanya. Sayangnya aku sudah melihat dia menangis.
"Kakak kenapa?"
"Tidak apa-apa, Dek. Kamu kenapa ada di sini?"
Kuhela napas memberanikan diri untuk bertanya. "Kak, boleh Dedek bertanya?"
"Kenapa tidak?" jawabnya lembut.
Ma Syaa ALLAH Kak Danulah orang yang selalu tegas dan berlaku lemah lembut padaku setelah Ayah. "Kakak janji akan jawab jujur?"
Dia pun mengangguk dengan cepat. "Tadi Zia tidak sengaja melihat tulisan Zia ..."
"Zia I Love You," ujarnya menyambung ucapanku yang sengaja terjeda.
Kudongakkan kepala menatapnya. "Bisa Kakak jelaskan maksudnya apa?" tanyaku lirih.
Kak Danu hanya tersenyum seperti menahan luka dan menatap ke arah langit, dipejamkannya mata kemudian menatapku dengan sorot mata tegas.
"Yang tertulis di buku itu benar, Dek. Kakak menyukai kamu."
Apa? Jadi selama ini Kak Danu menyukaiku bagaimana bisa?
"Kenapa, Kak?"
Hanya pertanyaan itu yang mampu kulontarkan karena tidak menyangka akan apa yang dia ucapkan.Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (111)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
13/08/2022
0eu gostei muito
04/09
0critanya oke banget
23/07
0Lihat Semua