POV Jesi Benar kata Zia cinta itu butuh perjuangan, tapi tidaj selamanya apa yang kita cintai menjadi milik sendiri. Saat masa itu tiba tidak hanya keikhlasanlah yang akan membuat lega, berulang kali aku mencoba mengikhlaskan Kak Deva. Ternyata itu sulit untuk kulakukan, tapi aku kembali teringat perkataan Zia. Jika ingin melupakan bersikap biasa saja, yah. Kak Deva memang bersikap biasa saja, bahkan mengatakan kalau rasanya hanya untuk Zia. Sayangnya aku tidak terima dan egois membuat dia kesal. Sekarang aku hanya bisa termenung sendiri di kamar, mengingat moment saat bersama kak Deva juga Zia. Zia gadis yang baik wajar kalau yang mencintainya banyak. Pertemuan di cafe tadi saat dia bersama bule yang bernama Ali, membuatku semakin minder dengannya. Dia begitu anggun dan elegan, salah apa mereka sampai aku tega memisahkan dua orang yang saling mencintai. Aku bertekad akan menyatukan mereka lagi, biarlah perasaan untuk kak Deva ini tersimpan rapi. "Maaf, Zia," gumamku sambil menatap foto kami ketika bersama dulu. Dia tidak marah bahkan malah menyuruhku mencintai kak Deva dengan tulus, sedangkan saat itu dia juga mencintainya. Kenapa aku tidak bisa sesabar dan seikhlas dia dalam mencintai? [Kak, maaf untuk semuanya.] Entah kapan pesan itu akan di balas Kak Deva, yang jelas kali ini aku tulus berniat menyatukan mereka. Ternyata hanya diread saja oleh beliau, tidak apa ini memang resiko untukku. [Bisa kita bertemu, Kak?] [Aku sibuk.] [Sekali ini saja.] [Baik, di cafe tadi.] Jika kak Deva memaafkan semua yang kulakukan, maka ikhlas akan terus kucoba. BismiLLAH semoga semua baik-baik saja, aku tidak peduli sekarang sudah jam empat lebih. Bergegas kuganti baju dan mencuci muka, agar tidak ketara kalau habis menangis. Mama dan Papa sudah pulang aku izin untuk menemui teman, mereka mengingatkan agar tidak pulang malam. Segera kupacu mobil menuju tempat yang sudah dikatakan. Ternyata kak Deva belum sampai ke sana, sabar adalah yang bisa kulakukan saat ini. Setelah hampir lima belas menit lebih akhirnya dia datang juga. "Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Kak Deva dingin usai ucapkan salam. "Maaf, Kak. Maaf untuk semuanya," ujarku tulus. Sayangnya Kak Deva hanya bersikap acuh dan biasa saja terhadap apa yang kukatakan, helaan napas terdengar berat sekali. "Percuma! Maafmu tidak mengembalikan suasana, sekarang kamu puaskan Zia tidak percaya padaku?" tanyanya sambil tertawa sumbang. AstaghfiruLLAH aku benar-benar merasa makin bersalah atas semua, tidak menyangka jika Zia akan sekecewa ini padanya. "Maafkan aku, Kak." "Sudahlah, Jes. Dramamu hebat menghancurkan dua orang dalam satu waktu, tidak ada lagi'kan yang perlu dibicarakan. Aku permisi," pamitnya sambil mengucapkan salam. Lidah ini terasa kelu hanya sekedar menjawab salamnya, Ya ALLAH kenapa aku bisa setega ini. Air mata yang sedari tadi kutahan pun luruh, perasaan bersalah itu terus menyeruak dalam hati. Karena tidak ingin orang lain tahu kesedihanku pulang adalah pilihan terbaik, ternyata penyesalan memang belakangan. Maaf ini pun mungkin tidak akan mengembalikan keadaan, tapi aku akan berusaha untuk menembus kesalahan ini. Zia, maafkan Kakak yang egois dan tidak mengerti. *** Hari aku berusaha menghubungi Zia, tapi entah kenapa sulit sekali menghubunginya. Saat ini hanya ingin jalan-jalan ke cafe, AlhamduLILLAH ternyata saat aku selesai memesan makanan dia datang. Dengan Bundanya juga dua orang di sana, ada rona bahagia di wajah Zia saat salah orang ditemuinya tadi memeluk dirinya. Kukirim pesan padanya, tapi dia belum memegang Hp. Sepertinya dia meminta izin untuk membuka Hp, benar saja tidak lama kemudia Zia mengambil Hpnya. Gadis ini begitu Ma Syaa ALLAH, wajar kak Deva menyukainya. Dirinya mulai bangkit menuju arahku, senyumnya masih terus menghiasi wajah cantik itu. Ya ALLAH kenapa aku bisa tega menyakiti orang yang selama ini sudah baik. "Maafkan, Kakak." Dia mengangguk dengan cepat , tanpa berpikir panjang memaafkanku. Setelah mengehela napas mengumpulak keberanian, kukatakan sebenarnya tentang undangan tersebut. "Dedek kecewa sama, Kakak," ujarnya dengan nada menahan tangis. Ya ALLAH rasanya aku ingin menangis saat ini juga, tapi tangan Zia menggenggamku dengan lembut. Embun di matanya terlihat hampir menetes, membuat Zia harus berulang kali mengerjapkan mata. "Sekecewa apapun Dedek, semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali seperti semula, Kak." Ungkapnnya itu benar-benar memukul hatiku, andai saja ego ini bisa ditekan. Sayangnya itu hanya andai yang telat kusadari. "Zia, maafkan Kakak." "Dedek sudah memaaf'kan semua, Kak. Hanya saja tidak menyangka kalau Kakak ..." Ada ragu dia mengucapkan itu, tapi kemudian dia tersenyum tanpa beban. "Lupakan, Kak. Dedek sudah maaf'kan semua." Kenapa hatinya begitu tulus dan baik, padahal aku sudah menyakitinya. "Maaf, Dek. Kamu mau'kan memberikan kesempatan pada Kak Deva, dia benar-benar mencintai kamu." Genggaman ditangaku lagsung dilepaskannya dengan cepat, Zia pasti masih kecewa dan sulit percaya. Ini semua gara-garaku membuatnya begini. "Kak, kesempatan itu selalu terbuka. Tetapi ... maaf Dedek saat ini tidak ingin terluka lagi." Telak sudah kata-katanya membuatku terdiam. "Maafkan, Kakak." Entah sudah berapa kali kalimat itu kuucapkan. "Semua sudah terjadi, Kak. Biarlah takdir membawa ketetapan, kita hanya berencana selebihnya ALLAH yang mengatur." Lihatlah betapa bijaknya dia dalam menyikapi semua, kami diam larut dalam perasaan masing-masing. Sampai akhirnya dia pamit menemui bundanya lagi, aku hanya bisa megangguk dan mengucapkan maaf lagi. Dia hanya tersenyum manis kemudia pergi. Zia tampaknya masih lama di sana, aku memutuskan pulang saja. Kini aku paham kenapa Kak Deva mencintainya, sebab hati Zia begitu lembut dan baik. Huft, akhirnya sampai juga ke rumah. Setelah membersihkan diri kuambil Hp, kemudian mengirim pesan pada Kak Deva mengatakan kalau Zia akan memberi kesempatan. [Berhenti ikut campur urusanku, Jesi.] Yaa ALLAH sakit sekali rasanya hati saat membaca itu, apa salahnya aku membantu dan ingin meluruskan tentang mereka. "Sebegitu bencinya kakak?" Entah kenapa rasanya sekarang merumitkan, memang ini bermula dariku yang salah. Apa aku tidak punya kesempatan untuk memperbaiki? Zia saja memaafkan, tapi kenapa kak Deva sulit memaafkan? Apa kecewanya sangat dalam, sampai memaafkan pun dia sulit? "Kak, maaf kalau sudah membuat hati kalian terluka. Jesi benar-benar minta maaf dan berharap semoga Kakak tetap semangat perjuangi Zia, dia selalu memberikan Kakak kesempatan semangat." Pesan suara itu akhirnya terkirim, huft. Legalah sudah mengatakan itu semoga Kak Deva semangat memperjuangkan Zia, mereka pantas bersama karena saling mencintai. Kak Deva sama sekali tidak membalasnya, tidak apa mungkin butuh waktu baginya. Zia, Kakak berharap kamu bisa bersama Kak Deva lagi. Kamu berhak bahagia, Dek.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (111)
XieYueLan
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
13/08/2022
0eu gostei muito
04/09
0critanya oke banget
23/07
0Lihat Semua