POV Muhammad Ali Khan Mungkin kalian menganggapku aneh atas semua, punya perasaan lebih dengan mudah belum berjumpa. Setelah berjumpa malah makin cinta dengannya, senyumannya canda tawanya juga cara-caranya. Sejak datang ke rumahnya perasaan ini makin menjadi, aku tidak peduli dengan tatapan kesal Danu itu. Kalau dia memang mencintai Zia, maka aku ingin mengajaknya bersaing secara sehat. Zia memang bukan sebuah taruhan, tapi aku hanya ingin menjamin siapa pun dengannya dia harus bahagia. Aku bahagia kalau dia bahagia, meski pun bukan aku nantinya bersama dia. Dua hari lagi kami akan pulang ke Pakistan, rasanya berat sekali harus berpisah dengannya. Aku ingin menghabiskan waktu yang masih tersisa untuk bersama dia. Mama dan Papa akan mengurus untuk keperluan pulang nanti, sedangkan aku hari ini berniat menyatakan cinta dengan Zia. Apa pun tanggapannya terserah, yang penting sudah bisa mengatakan isi hati ini. Sesuai janji sehabis Zuhur kami akan pergi jalan-jalan, karena tadi ada kerjaan dulu di kantor Ayah akhirnya harus terlambat sedikit. Zia izin ke atas untuk berganti pakaian, padahal tidak usah ganti dia sudah cantik. "Ali," panggil Ayahnya pelan. "Iya, Om." "Boleh saya tanyakan satu hal?" Kuanggukan kepala sebagai jawaban, iya. "Why not ... What is that?" "Kamu mengajak anak saya kemana-mana padahal belum lama kenal, apa ada niat lain di hatimu?" Jujur aku tersentak mendengar perkataan tersebut, dengan malu kuanggukan kepala dan mengatakan sebenarnya. Mereka hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Tidak ada yang mereka resahkan atas rasa itu, hanya satu yang dipinta agar tidak mengecewakan Zia. "Saya tidak berjanji untuk itu, tapi saya akan menjaganya semampu saya." "Apa kami bisa mempercayaimu?" tanya Bundanya. "Jangan percaya pada saya. Tetapi, bagaimana saya menyakitinya sedangkan Zia merupakan orang yang saya cintai." "Jika Zia meninggalkanmu apa kamu masih mencintainya?" "Jika dia meninggalkan saya dengan orang yang dicintainya, tidak apa-apa asal Zia bahagia. Namun, saya tidak akan pernah berhenti menjaganya meski pun hanya dari kejauhan," jawabku lirih. Entah kenapa pertanyaan mereka bagai sebuah pemberitahuan, kalau ada orang yang dicintai Zia. Namun, aku tidak akan pernah berhenti mencintai dan akan terus menjalani hidup bersama kenangan dengan Zia. Jika benar ada yang dicintainya. "Kami percayakan Zia, jika kamu memang sudah siap menikahinya dan Zia tidak keberatan jaga anakku," pinta Ayahnya. Kuanggukan kepala dengan mantap sambip mengucapkan kata In Syaa Allah, karena semua itu atas izinnya. Aku akan terus berusaha menyeimbangkan antara dunia ini dan akhirat. Cinta pada-Nya membuat semangat meraih ridho, sedangkan Zia membuat semangat menggapai ridho-Nya secara bersamaan. Kami pun melanjutkan mengobrol sambil bercanda, tidak lama kemudian Zia turun dengan pakaian yang sudah ganti. Diperjalanan dia tidak banyak bicara seperti biasanya, entah kenapa aku teringat pertanyaan ayahnya tadi. Apa itu artinya Zia benar-benar memiliki kisah cinta dengan yang lain, tapi sebisa mungkin keterkejutan itu kupendam. Kutahu moodnya sedang tidak baik, maka lebih baik memperbaiki moodnya dulu. Saat disupermaret jujur aku bingung dia suka apa, tapi lagi-lagi percakapan dengan orang tuanya tadi. Membuat diri ini tahu sedikit banyak tentangnya, kuedarkan pandangan ke arah cemilan. Yah, di sana ada milkita cemilan favorit dia. Tidak lupa cokelat yang selama ini kata orang adalah pengembali mood. Kubawa dia ke cafe tempat biasanya dia suka nongkrong, jangan tanya dari mana aku bisa tahu tempat itu. Tentu saja melihat aktivitasnya dipostingan. Sayangnya acara ngedate yang harusnya bahagia, malah menjadi buruk karena orang bernama Deva. Hatiku merasa dialah orang dicintai Zia, apa lagi melihat tatapan mereka. Ternyata wanita bersamanya itu adalah orang yang sengaja menabrak Zia saat di pesta, apa mereka sepasang kekasih? Zia malah nengajakku pergi dari sana. Entahlah gadis ini mencintai Deva tadi atau tidak, tadi yang jelas badmoodnya sudah hilang. Dia kembali ceria lagi apa karena Deva itu? Kutepikan mobil setelah bertanya siapa Deva, sayangnya dia membohongi perasaan. Tanpa sadar aku mengungkapkan semua rasa selama ini, tentu saja dia kaget mendengar hal itu. Memang cukup aneh ini, bukan hanya untuknya tapi juga diriku. "Zia, kalau kamu mencintai laki-laki tadi ... kejarlah," ucapku lirih. Dia hanya tersenyum dan menatap lurus ke depan. "Kakak mau tahu cerita sebenarnya?" Kuanggukkan kepala meski pun tahu itu sangat menyakitkan nantinya. "Ceritalah," pintaku. "Kita mampir ke sana saja," katanya sambil menunjukkan warung bakso yang tidak jauh dari tempat kumenghentikan mobil tadi. Kami pun ke sana sambil memesan makan, kata Zia dia lapar dan ingin makan. Aku hanya tertawa melihat tingkah ajaib dia, dengan cepat dia memesan bakso dua porsi. Tidak lupa air hangat kuku, setelah bakso dan pesanannya tiba. Tidak kusangka dia mengambil sambal cukup banyak, apa gadis ini tidak waras mengambil sambal sebanyak sembilan sendok. "Cukup, Zia." Segera kutukar mangkok baksonya dengan punyaku. Kutambahkan sambal hanya tiga sendok, jujur aku tidak ingin dia sakit perut karena kepedasan. "Engga mau, Kak. Mau itu," katanya merebut bakso tadi. "Tidak boleh," kataku mengambil baksonya tadi. Dia tidak menyerah maka dengan cepat kumakan baksonya, memang tidak seberapa pedas karena aku sudah biasa. Tetapi, bagi wanita mungkin ini sangat pedas. "Ka-kakak,-" "Makam sekarang," titahku padanya cepat. Dia merengut kesal karena hal itu, tapi tidak juga membantah. Benar saja dia kepedasan padahal cuma tiga sendok, rasa bersalahku muncul harusnya tidak usah memberi sambal pada baksonya. "Zi-zia apa itu sangat pedas?" tanyaku khawatir. "Lumayan, Kak," ujarnya sambil terus menahan pedas. "Minum," kataku menyerahkan gelas berisi air hangat tadi. Bibirnya yang merah makin merah karena kepedasan, butiran keringat keluar di dahinya. "Kakak tidak pedas?" tanyanya masih dengan sisa kepedasan tadi. "Tidak ini biasa saja," jawabku enteng. Memang tidak pedas, tapi kenapa bibirku rasanya seperti dibakar. Dia dengan cepat menyodorkan air hangat. "Makanya jangan sokkuat," cibirnya. Allahuakbar keadaan berbalik sekarang, dia malah tertawa melihat aku kepedasan. Entah kenapa rasanya suka sekali melihat tawa itu. "Ayo kita ke panti," ajakku. "Zia mau cerita dulu," katanya. Dia pun bercerita tentang siapa Deva dan Jesi, jujur aku terkejut mendengar semua itu. Bagaimana bisa Zia tidak diberi tahu tentang hal itu, sedangkan mereka sama-sama suka. "Andai dia jujur dari awal mungkin aku bisa percaya," katanya sambil terkekeh. Apa itu artinya Zia masih memberi kesempatan pada Deva? "Apa kamu memberinya kesempatan?" "Kesempatan itu terbuka buat mereka yang berani melangkah, jika dia memang ingin membuat percaya atas semua. Silahkan, tapi aku tidak bisa akrab seperti semula," ungkapnya dengan raut wajah lega. "Kamu mencintainya?" "Dulu, hanya dulu," jawabnya mantap. Jawaban itu bagai angin segar untukku, senyumku pun terbit membuat dia ikut tersenyum juga. Bagaimana bisa ada orang menyia-nyiakan Zia, seandainya Deva mau berusaha lebih keras lagi. Mungkin Zia akan memberinya kesempatan memperbaiki itu, sayangnya orang itu tidak jujur dari awal. Kunci utama hubungan itu adalah kejujuran, mau sesakit apa pun itu fakta. Dan aku tidak mempersalahkan itu semua, malah dengan cerita Zia aku tahu dia sebenarnya. Dia gadis yang luar biasa dan aku tidak menyesal untuk terus mencintanya
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (111)
XieYueLan
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
13/08/2022
0eu gostei muito
04/09
0critanya oke banget
23/07
0Lihat Semua