POV Mohammad Ali Khan Tidak kusangka dia membawa ke sebuah panti asuhan, entah dia ini bidadari atau jelmaan malaikat. Hari ini aku dibuat terkagum-kagum akan sifafnya, apa lagi saat melihat anak panti yang begitu akrab dengannya. Saat bersama mereka Zia malah melupakanku, beruntung ibu panti itu menyadarkannya. Entah kenapa setiap berkenalan dengan orang yang mengenalnya, aku tanpa ragu mengatakan kalau diri ini calon suaminya. Tidak kuhiraukan tatapan tajam Zia. Semangat Ali ala bisa karena terbiasa, lama-lama juga nanti Zia akan suka dengan sebutan itu. Saat pemilik panti mengatakan ingin masak, dia dengan cepat mengikuti. Hal itu tentu saja membuatku ragu, apa iya zaman sekarang cewek masih bisa masak. Apa lagi dari kelas atas seperti Zia. Yah, tante Renalah yang menceritakan semua tentangnya. Jadi aku sedikit banyak tahu tentangnya, keraguanku itu malah membuatnya kesal. Kalau sudah halal ingin kupeluk dia ketika sedang kesal, konon katanya kalau wanita marah atau ngambek tidak jelas peluk saja kemudian puji. Dari pada mengganggu dia masak, kuajak anak-anak bermain di luar. Ternyata bersama mereka benar-benar bisa membuatku lupa, bagaimana pusingnya saat di kantor. Wajah polos mereka benar-benar menggemaskan membuatku ingin berlama di sini, tercium wangi masakan membuat perut menjadi lapar. "Kakak lapar, ya?" tanya salah satu anak tadi. "Tadi perut Kakak bunyi," katanya polos membuatku langsung tertawa. "Kata siapa, hmm?" Usai bertanya begitu dengan cepat kugelitiki dia, tanpa sadar temannya sudah ada di belakang. Malah ikutan menggelitikiku, aku yang tidak bisa digelitiki langsung menjerit menyebut nama Zia. Tidak lama kemudian dia keluar dengan segera "Hai, Zia." Napasku masih terengah-engah karena habis tertawa. "Kamu kenapa?" tanyanya sambil menatapku dari atas ke bawah berulang kali. Namun, aku justru tertarik pada centong kayu di tangannya, ternyata dia peduli juga buktinya keluar tanpa sadar membawa peralatan masak. "Tidak ada hanya saja tadi kami bermain," ungkapku jujur. "Bisa engga jangan buat orang khawatir." katanya tajam. Zia khawatir denganku karena teriakan tadi, apakah dia sudah mulai sadar perasaan ini. Wanita itu sulit dimengerti apa maunya, tapi selama kita baik dan tidak membuat hatinya terluka. Maka kepercayaannya pada kita tidak akan hilang, oleh karena itu janganlah mematahkan hatinya. Saat dia masuk ke dalam aku kembali melanjutkan bermain bersama mereka, tapi pandangan beralih ke arah Zia yang kembali keluar. Kudekati dia seperti ada yang dipikirkan, entah apa yang dipikirkannya. Ketika ditanya hanya menjawab tidak ada apa-apa. Memandangnya begini membuatku gemas sendiri dia sangat imut. Dia juga orangnya penasaran apa lagi ketika aku berbisik pada anak-anak. Zia tidak hanya lucu dia menarik dengan semua yang ada didirinya. Rasa ingin menjaga dan melindunginya, serta rasa sayang dan cinta ini semakin besar. Pertama kalinya aku mencintai seseorang dengan begitu besar setelah keluarga dan itu dia. Saat kami makan ibu panti itu menyuruhnya mengambilkanku nasi beserta lauknya, tentu saja hal itu bagai sinyal hijau menurutku. Setelah makan aku membantunya mencuci piring, saat selesai dia terlihat menelpon. Mendengar dia memanggil Bunda aku paham kalau dia mengabari keluarganya, benar-benar gadis yang tidak ingin membuat orang khawatir. Caranya bicara dan setiap apa yang dilakukan Zia selalu kusuka. "Kamu suka dia?" tanya Ibu panti yang tiba-tiba mengejutkanku. Aku hanya menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal, tapi sebagai lelaki kita harus jujur jangan pengecut. "Iya, Bu. Saya suka, Zia," akuku mantap. "Apa yang membuat kamu suka? Apa karena dia cantik atau kaya?" Dengan cepat kugelengkan kepala. "Saya tidak memandangnya dari rupa atau harta, saya hanya merasakan apa yang hati ini rasakan." "Itu artinya jika ada gadis lain yang bisa membuat hadir rasa di hatimu kamu akan mencintai juga?" Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Saya jatuh cinta dengan Zia tanpa alasan, bahkan sebelum berjumpa pun rasa ini sudah hadir." Mendengar ucapanku ibu panti itu diam. "Cantik bisa dirubah, materi bisa dicari. Tetapi, ketulusan dari hati tidak akan pernah berubah untuk orang seperti dia," lanjutku sambil menatap Zia. "Kalau kamu memang menyayanginya jangan buat kecewa." "Saya tidak berjanji karena takut akan melanggar, tapi In Syaa Allah saya akan berusaha untuk selalu jaga kepercayaannya," jawabku mantap. Beliau pun tersenyum dan menyuruhku mendekati Zia. Tepat saat dia usai menelpon, entah kenapa aku suka sekali dengan raut wajahnya yang terkejut. Jadi penasaran kalau kasih dia kejutan dengan lamaran ekspresinya bagaimana, jadi penasaran sepertinya ini patut dicoba. Rasanya waktu berlalu begitu cepat, tidak ingin terlalu sore pulang dia mengajak pulang. Kami pun pamit pada semuanya. Tetapi, sebelum mengantarnya aku ingin mengajaknya bertemu dengan Mama dan Papa dulu. Sekarang kami sudah ada nama panggilan, rasanya bagus juga dia memanggil Kak. "Temani saya dulu, ya," pintaku sambil fokus ke depan. "Kemana?" "Nanti juga tahu," kataku mengikuti caranya tadi. "Baiklah," katanya semangat. Syukurnya dia mau tentu saja hal itu membuatku semangat, terlihat dari matanya kalau sedang terkejut ketika sampai. "Kita di mana ini?" tanyanya panik. "Rumahku," jawabku pendek sambil membukakan pintu mobil, "Ayo turun." Dia terlihat ragu akan masuk, tapi setelah kujelaskan kalau ada Mama dan Papa jadi tidak perlu takut. Akhirnya dia ikut masuk, tapi Mama dan Papa tidak ada padahal pintu terbuka. Saat aku kebelakang ternyata beliau sedang melihat laporan dari Hp wajar tidak di dengar. "Ikut Ali, Ma," kataku sambil menggandeng menuju ruang tamu. "Ada apa?" "Sst," kataku menempel telunjuk ke mulut, karena penasaran Mama mengintip ke arah ruang tamu. Sayangnya Zia sedang memandang sekeliling rumah. "Who is she?" tanya Mamaa marah. "Zia, Ma ... Zia," kataku memelankan suara. "Really?" Kuanggukkan kepala dengan cepat membuat beliau segera menuju Zia. Zia yang sadar ada yang datang langsung menoleh, saat dia menoleh rasanya seperti dalam adegan film. Mama terpaku melihatnya Zia dengan sopan mengucap salam dan menyalimi Mama. Tiap hari begini rasa cinta ini pasti semakin besar. "This is Zia, Ali?" Zia mengangguk sambil tersenyum aduh manisnya anak orang. "Very beautiful," kata Mama memeluknya. Ma Syaa Allah seperti anak dan Ibu saja. Jadi pengen ikut dipeluk "You know, Zia. Ali always talk about you." "Ha? Really, Auntie?" Zia menatapku dengan pansangan menggoda, bisa malu ini Mama kenapa pakai acara cerita sih. Wait, ini dia bisa bahasa Inggris artinya dia mengerti hanya saja tidak ingin menunjukkannya. Aku rasa dia tidak ingin orang lain tahu kelebihannya, banyak sekali misteri anak ini Ma Syaa Allah. "Yap,-" "Mama Indonesia please." Mama mungkin yang terlalu bahagia bisa bertemu Zia sampai lupa, "Duh, lupa." "Tante, bisa bahasa Indonesia juga?" "Tentu saja dulu kami di sini lumayan lama, jadi bisa dan di sana juga membiasakan berbahasa Indonesia." Penjelasan Mama membuatnya tidak percaya. "Wait Zia. Darling!" Aku hanya bisa menutup wajah melihat kelakuan Mama, Zia yang mendengar itu langsung senyum-senyum. Papa keluar dengan Mama sambil bergandeng tangan bikin iri saja. Alhamdulillah Zia dengan mudah akrab dengan mereka, malah sekarang aku seperti orang asing. Mereka begitu perhatian sekali dengannya, saat azan tiba aku dan Papa pergi ke masjid sedangkan Zia di rumah dengan Mama. Biarlah mereka berdua akrab agar nanti tidak canggung kalau sudah serumah. --------
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (111)
XieYueLan
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
13/08/2022
0eu gostei muito
04/09
0critanya oke banget
23/07
0Lihat Semua