Beranda/Suamiku Orang Pakistan/
31. Kagum
Pov Mohammad Ali
Malam pesta perusahaan tiba, Mama dan Papa tidak bisa datang. Mereka masih lelah katanya, bagaimana tidak lelah pulangnya sudah Magrib. Mereka seharian penuh menghabiskan waktu bersama, keliling kota Palembang berdua.
"Pulang jangan malam-malam," pesan Mama saat akan pergi.
Kuangguk'kan kepala tanda mengerti, kemudian pergi ke tempat yang tertera diundangan. Pesta ini mewah menurutku sepertinya yang punya acara adalah orang terpandang, tapi tunggu gadis yang memakai dress berwarna biru itu seperti Zia.
Kupandangi dia yang mengikuti lelaki itu, sepertinya ayah dia. Untuk meyakinkan aku berusaha mendekat ke sana, ternyata benar aku tidak salah tebak. Dia benar-benar Zia itu nama yang disebutkannya saat mereka bertanya.
Untuk sesaat aku terpana oleh wanita itu, dia sangat menjaga diri. Saat ini banyak yang memakai drees membentuk tubuh dan memperlihatkan bagian sesitif mereka, dengan cara memasukkan jilbab ke dalam baju. Tetapi, Zia tidak. Dia memakai dress yang tidak terlalu membentuk tubuh, dengan jilbab yang menutupi sampai ke perut. Ini entah kali ke berapa dia membuatku terpesona, bukan hanya itu saja dapat terlihat jelas kalau dia tidak memakai make up.
Meski pun begitu kecantikannya tetap saja bersinar, auranya membuat mata menatapnya. Tetapi, dia acuh dan menunduk. Aku terus memperhatikannya yang tengah duduk memainkan Hp, dengan cepat kutanya untuk memastikan kalau itu dia. Ternyata benae tebakanku itu adalah dia, entah kenapa setiap melihatnya membuat rasa ini nyaman.
Namun, saat kulihat dia tersenyum dan ada laki-laki medekatinya. Hati ini rasanya tidak terima, apa lagi saat mereka berdua mendekat ke arah tante Rena. Apa mereka kenal, ya?
Seperti besok akan kutanyakan, tidak berapa lama laki-laki itu pergi dari sana. Baguslah jangan dekat-dekat dengan Zia, kuikuti lagi langkahnya. Dari tadi setiap aku menatap Zia ada wanita yang menatap dia dengan pandangan tidak suka, saat dia berjalan wanita tadi dengan sengaja menabrak gadisku.
Dengan cepat aku berlari menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, kali ini aku tidak menyangka bisa menatap dia dengan jelas. Wajahnya yang oval dengan pipi kemerah-merahan, bibir sensual membuat siapa pun ingin menciumnya. Sadar Ali itu tidak baik, dia yang sadar kalau tidak terjatuh langsung membuka matanya. Untuk beberapa saat kami bertatapan, tapi dengan cepat dia menguasai keadaan.
Setelah dia berdiri aku langsung melangkah pergi meninggalkan dia, sempat kudengar kalau wanita tadi mengatakan tidak sengaja. "Dasar penipu," desisku kesal. Berani sekali dia menabrak Zia.
Dari kejauhan aku terus memperhatikannya, kenapa laki-laki tadi datang lagi sih. Wajah Zia terlihat kaget saat wanita tadi berbicara dan menatap laki-laki itu mesra, tidak lama kemudian Zia keluar tanpa suara. Matanya terlihat menahan tangis, rasanya ingin kuhabisi mereka yang berani-beraninya membuat Zia bersedih.
Namun, saat keluar tidak ada dia di sana. Kemana Zia, arghh. Laki-laki tadi ikut juga keluar, tapi aku memilih acuh dan tidak memperdulikan makhluk itu.
Tidak lama kemudian wanita tadi keluar juga mendekatinya, mereka terlihat bertengkar. Laki-laki tadi diam dan langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat ini, diikuti wanita pencari masalah itu juga.
Karena Zia tidak ketemu aku memilih masuk, barangkali dia ada di dalam sedang berkumpul dengan tante Rena. Sayangnya dia tidak ada, saat kutatap pintu dia baru masuk dengan wajah seperti habis menangis. Apa dia menangis?
Saat dia sibuk menatap sana-sini, dengan sengaja aku menabrak bahunya. Membuat dompet yang dia pegang terjatuh, kalau kalian ingin bilang modus atau apa terserah. Aku hanya ingin berbicara padanya.
'Dasar ceroboh.'
"Maaf ... maaf," katanya tanpa melihat.
"Tidak apa-apa," jawabku sambil berusaha menahan senyum.
Dia pun dengan cepat mengambil dompetnya tadi dan langsung menatapku. Kuberikan senyuman manis seperti saat kami sering VC agar dia mengenali.
Matanya menatap seakan tidak percaya melihatku. "Ali," gumamnya seperti tidak percaya.
Kuangguk'kan kepala dengan cepat dan tersenyum. "Surprise."
Tetapi, dia malah melihat ke arah lain. Kutanya apakah dia terkejut, Zia malah menjawab dengan kesal membuatnya terlibat begitu lucu.
Dia juga mengatakan menyebalkan, ternyata sedekat ini dengan Zia membuat hati ini berdetak kencang. Kuikuti langkahnya yang menemui Tante Rena, ternyata yang di sampingnya adalah Bunda Zia yang menatap begitu intens.
Tentu saja rasanya senang bisa bertemu langsung dengan orang tuanya, sekarang tinggal mencari ayahnya untuk di lamar. Tante Rena yang kaget melihat kami bersama bertanya kepada Zia, tapi dengan cepat kujawab kalau dia adalah calon istri.
Langsung saja jawaban itu mendapat pelototan dari Zia, tapi ada pertanyaan Bundanya yang menagtakan apakah aku cowok yang ditunjukkaan. Apa itu artinya Zia sudah mengenalkanku dengan orang tuanya?
Kupandangi Zia dengan tatapan menggoda, tapi dia malah memalingkan wajah. Menggemaskan sekali wanita ini ingin rasanya kucubit pipinya, tapi dia bukan pulang malah mencari orang yang bernama Danu. Aku hanya mengikuti saja langkahnya.
Begitu bertemu yang namanya Danu dia berkata akan pulang, tapi aku tidak suka caranya menatap Zia dengan pandangan penuh cinta. Makanya dengan sengaka aku mengatakan kalau Zia adalah calon istriku.
Zia tampak jengkel mendengar itu, tapi aku acuh saja dan benar saja dia lebih memilih pulang denganku. Dari pada si Danu atau Janu itu.
Sepanjang jalan mengantarnya pulang aku meliriknya, sembari menggoda Zia dari oada detak jantung ini terdengar. Saat sampai di rumahnya pun aku terus menggoda dirinya, melihat dia menutup mata muncul ide di kepala mendekati seperti akan mencium.
Namun, dengan cepat kujitak kepalanya membuat diri ini dapat hadiah pukulan, karena sudah malam dia masuk setelah mengucapakan terimakasih.
Hari ini aku benar-benar bahagia karena bisa bertemu dia, sepertinya besok saja menyerahkan cincin berlian yang sengaja kubelikan untuknya.
***
Semalam ada hari yang indah, pagi ini dengan semangat aku pamit pada Mama dan Papa untuk menemui tante Rena. Alhamdulillahnya saat sampai di sana tante Rena sudah ada.
Aku bertanya tentang Zia tentu saja beliau dengan senang membantu, setelah dapat apa yang dicari segera pamit pulang. Cincin untuk dia tinggal di kamar.
"Kamu dari mana?" tanya Mama heran.
"Ingin temu Zia, Ma," jawabku senang.
"Kamu sudah bertemu gadis itu?" tanya Papa tiba-tiba membuat terkejut saja.
Kuceritakan kejadian semalam pada mereka, hal itu langsung mendapat selamat dari Mama dan Papa dan ingin segera bertemu Zia. "Semoga hari dia mau ikut, Ma," kataku.
"Aamiin. Rasanya Mama tidak sabar ingin bertemu calon menantu, Pa," kata Mama memeluk Papa membuatku yang melihat itu langsung melengos.
Tidak bisakah mereka bermesraannya nanti saja, tidak tahukah mereka kalau hati anaknya ini merana. "Iya, Ma. Apa lagi Papa rasanya tidak sabar, soalnya kasian anak kita ini sudah lama jomlonya. Takutnya nanti jadi akut."
Allahuakbar kenapa pada kompak membahas hal itu sih. "Ali, mau ke atas dulu siap-siap," pamitku dari pada nanti terus dibuly. Mereka hanya mengangkat bahu cuek, awalnya di sini mau tiga hari. Tetapi Mama dan Papa malah mau seminggu di sini. It's oke suka-suka mereka, lagian CCTV aktif jadi kalau ada yang ingin berbuat curang pasti ketahuan.
Balas pesan Zia dulu baru ajak dia VC, tentu saja rasanya tidak lengkap kalau tidak menggodanya. Benar saja layar panggilan video langsung berakhir. Zia ... Zia.
Kemeja biru dan celana hitam tidak lupa cincin, sekarang saatnya pergi dan langsung menuju alamat butik kemarin. Ternyata Bundanya ada di sana, sebagai laki-laki aku langsung meminta izin untuk mengajkanya jalan-jalan sekaligus menemani dia.
Izin jalan-jalan sudah kukantongi, sekarang tinggal izin menikahi. Saat dijalan dia meminta berhenti di ATM dan supermarket terdekat, Zia tampak cantik dengan jilbab birunya, sama seperti kemejaku. Apa kami jodoh, ya? Doakan saja semoga kami berjodoh.
Setelah berjalan dan memasuki kampung kumuh, dia meminta berhenti dan memberikan uang pada beberapa pemulung di sana dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak kulihat.
Ma Syaa Allah gadis ini benar-benar luar biasa, tanpa rasa jijik dia memeluk bocah perempuan di sana dan memberinya roti kemudian menyelipkan uang ditangannya.
Melihat pemandangan itu tentu saja aku kagum, betapa mulia hati gadis ini. Saat dia akan masuk aku pura-pura memainkan Hp.
"Tadi kenapa turun?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Menyapa mereka," jawabnya ceria. "Yuk, putar," lanjutnya.
Aku hanya patuh dia membuka kaca mobil dan melambaikan tangan pada mereka. Sosok wanita ini benar-benar membuatku kagumUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (111)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
13/08/2022
0eu gostei muito
04/09
0critanya oke banget
23/07
0Lihat Semua