Berbagai pertanyaan muncul di kepala, ada apa Kak Deva sepagi ini ingin bertemu? Membahas hal apa lagi, bukankah kemarin sudah kujelaskan bahawa untuk melupakan semua. "Dek ... Dedek!" "ALLAHUAKBAR, Bibi." "Dari tadi Bibi salam tidak ada yang jawab, ya udah Bibi masuk." "Maaf, Bi. Waalaikumusalam WarohmatuLLAHI Wabarokatuh Mamang mana?" "Itu masih turuni barang," kata Bibi menunjuk keluar. "Oh, ya Kak Danu ikut, Bi?" "Danu kemarin ke Baturaja kata Ayah kamu ada yang perlu di lihat." Kuanggukkan saja kepala tanda mengerti, Kak Danu sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Apa lagi usia kami hanya terpaut tiga tahun, dia anaknya sopan juga tampan. Sekarang sudah punya tunangan namanya Fika, pernah sekali aku bertemu dengannya orang sopan persis Kak Danu. "Bibi, angkat barang dulu, ya." "Yuk, Bi Zia bantu," kataku sambil meletakkan Hp. "Ga usah, Dek. Ada tamu kamu tuh," tunjuk Bibi sembari menggoda dan mengerlingka mata ke arah pintu. Aku langsung mengikuti pandangannya, Kak Deva benar-benar ke sini. "Assalammualaikum, Dek," ujarnya sembari mendekat, Bibi yang tahu segera keluar membantu suaminya. "Wa'alaikumusalam WarohmatuLLAHI Wabarokatuh, ke taman saja, Kak." Kak Deva pun mengangguk dan mengikuti langkah ke taman samping rumah. 1"Ada apa, Kak?" tanyaku to the point saat kami sudah duduk. "Kakak ingin serius denganmu, Dek." Pernyataannya yang begitu tegas membuatku terkesiap, kenapa masih membahas masalah ini. "Kak, Zia'kan sudah bilang kemarin." "Dek, kamu salah paham. Kakak dengan Jesi tidak ada apa-apa." "Kak, kita tidak boleh egois dengan perasaan ini. Jelaskan semua pada Kak Jesi tentang perasaan Kakak yang sebenarnya, agar tidak ada yang terluka." "Kakak sudah jelaskan semua, Dek." "Apa Kak Jesi tahu perasaan Kakak untuk siapa?" Kak Deva hanya menggelengkan kepala dan menyandarkan tubuh ke kursi taman. "Kalau itu permintaanmu, Kakak akan jelaskan kalau perasaan Kakak itu buat kamu," katanya mantap. Ada yang menghangat, tapi bukan air panas. Hatiku jangan tanya bagaimana, sudah pasti deg-degan. Tidak! Ini tidak boleh, kalau Kak Jesi tahu dia pasti membenciku. "Kak, tidak bisakah Kakak mencintai Kak Jesi?" tanyaku lirih. Saat bertanya itu hati ini menahan perih, seandainya saja aku tidak tahu tentang mereka. Yah, itu hanya seandainya saja. Nyatanya diri ini harus tahu dari masa lalunya. Mengikhlaskan dan merelakan itu mudah kalau diucapkan, nyatanya saat bertemu Kak Deva perasaan ini kembali utuh. Tetapi, perlahan semua pasti bisa. Aku ingin kisah seperti nabi Yusuf A.S dengan Zulaikha, dari kisah mereka kita bisa mengambil hikmah. Jika kita mengikhlaskannya karena ALLAH, apa pun yang sudah ditetapkan menjadi milik kita pasti akan menjadi kembali. La Tahzan InnALLAHA Ma'anaa janganlah engkau bersedih sesungguhnya ALLAH bersama kita. "Dek," panggil Kak Deva membuatku kaget. "A-apa, Kak?" "Apa jawabanmu untuk perasaan Kakak?" "Kakak udah tahu'kan perasaan Zia bagaimana? Sekarang Zia hanya ingin sendiri dulu," jawabku lirih. "Sampai kapan?" "Sampai Zia yakin kalau Kakak memang serius." Mendengar perkataanku Kak Deva langsung diam dan menatap lurus, sesaat kemudiam dia menatapku dengan intens. "Kakak akan buktikan kalau Kakak benar-benar serius, Dek." Rasanya lega akhirnya Kak Deva bisa menerima keputusanku. "JazakALLAHU Khair, Kak," ujarku sembari tersenyum. "Waiyyaki, apa pun nanti hasilnya Kakak akan terus berusaha, Dek," katanya mantap. Kuanggukan kepala dan tersenyum menatap dirinya, kali ini kami saling tatap dan sesaat kemudian memandang ke arah lain. Jantungku rasanya berdetak makin kencang karena tatapan tadi. Cukup lama kami canggung dan saat menoleh langsung buru-buru hadap ke arah lain. Sama-sama malu saat mata ini tak sengaja bertemu. "Emm ... Kakak, ke kantor dulu, ya," pamitnya. Dia pun bangkit dari tempat duduk dan berjalan, kuikuti langkahnya dari belakang dan mengantarnya sampai ke mobil. Persis seperti istri akan mengantar istri, AstaghfiruLLAH sadar Zia ... sadar! "Hati-hati, Kak," pesanku saat dia akan masuk ke dalam mobil. Dia pun mengangguk dan tersenyum, "Kakak berangkat, ya, Assalammualaikum WarohmatuLLAHI Wabarokatuh," pamitnya lagi. "Waalaikumusalam WarohmatuLLAHI Wabarokatuh, Kak." Setelah menatapku sekilas dia masuk ke dalam mobil dan membunyikan klakson, tidak lupa dia melambaikan tangannya. Mobilnya pun keluar dari halaman rumah. "Cie, Dedek," goda Bi Inem yang tiba-tiba muncul di belakang. "Bibi, ngagetin terus." Untung tidak jantungan, kalau jantungan di lamar boleh juga sih. "Persis kaya suami istri," goda Bi Inem lagi. "Apasih, Bi?" tanyaku malu. Lebih baik masuk dari pada terus di goda. Setelah masuk dan ke kamar, rasanya lebih baik keluar sebentar selagi masih pagi, ambil tas ambil kunci mobil. Berangkat dong. "Bi, Dedek berangkat, ya," pamitku pada beliau. "Hati-hati, Dek," katanya dari dalam. Saatnya jalan-jalan dulu, tapi sebelumnya nyalakan data di Hp dulu. Tidak ada yang chat, gabut aku. Kemana, ya enaknya? Nah, lebih baik ke kantor Ayah dulu deh. Setelah menempuh perjuangan dan perjalanan yang panjang, tapi masih panjang kisahku dengannya, ya. Akhirnya sampai juga. Seperti biasa kalau ke kantor Ayah pastinya menuju ruangannya, sepi sekali ruangan Ayah karena beliau sedang ke luar. Ruangan ini nyaman senyaman saat dulu aku belum tahu tentang mereka, dari pada gabut lebih baik asyikin saja dengan milkita. Kunyalakan komputer Ayah dan langsung membuka youtube, lagian tidak akan terdengae sampai ke luar. Kucari-cari dia di sana sini, eh maksudnya cari lagu yang cocok untuk jadi pendamping. Ya, maaf kalau banyal kepleset soalnya Dedek curhatnya suka colongan, tapi tenang tidak nyolong suami orang kok. Akhirnya pilihanku jatuh pada dia, eh maksudnya lagu Acha. Kuikuti lagu itu dengan penuh perasaan soalnya itu salah satu lagu favoritku. Mungkin ada yang kenal dengan lagu ini, yuk kita nyanyi sama-sama. Embun di pagi buta Menebarkan bau asa Detik demi detik ku hitung Inikah saat ku pergi Oh tuhan ku cinta dia Berikanlah aku hidup Takkan ku sakiti dia Hukum aku bila terjadi Aku tak mudah untuk mencintai Aku tak mudah mengaku ku cinta Aku tak mudah mengatakan Aku jatuh cinta Senandungku hanya untuk cinta Tirakatku hanya untuk engkau Tiada dusta sumpah ku cinta sampai ku menutup mata Cintaku sampai ku menutup mata Sama seperti lirik itu aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, apa lagi mengatakan cinta. Tetapi, saat sudah jatuh cinta maka kalimat iti akan terucap. Sayangnya hati ini harus terluka karena terlalu berharap pada manusia. Lirik jam tidak ada yang berubah, apa lagi status di KTP. Nah, kalau lirik rasanya sudah sama dong sekarang tinggal lihat perjuangannya. Kalau mengingat perkataan Kak Deva tadi aku bingung, dia seriuskah atau hanya ingin bermain? Menurut kalian bagaimana? Jujur ada rasa takut di hati ini, bagaimana kalau nanti ada rahasia baru lagi yang harus kuketahui? Entahlah pusing kepala dedek memikirkan ini, tapi hati ini sayang padanya. Sepertinya di kantor Ayah tidak ada ide, lebih baik ke butik Bunda sajalah. Setelah mematikan komputer dan melihat-lihat karyawan aku sekarang saatnya ke butik siapa tahu temu jodoh, hahaha.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (111)
XieYueLan
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
Wehehe gak bisa bayanginnya punya suami orang Pakistan. Putri Yue udah hadir disini. hayo ingat gak aku siapa?
13/08/2022
0eu gostei muito
04/09
0critanya oke banget
23/07
0Lihat Semua