logo text

Bab 33 Mulai Bekerja

Gelang Emas Untuk Emak part 33
Mulai Bekerja
Pagi sekali Farhan sudah rapi. Siap bekerja ditempat yang baru setelah berjuang membangun kembali surga dunianya. Ia ikhlaskan egonya untuk membiarkan pelaku yang membakar rumahnya bebas berkeliaran. Setelah banyak merenung bahwa setelah musibah yang menimpanya, begitu banyak kebahagiaan yang Allah beri. Dulu rumah yang sudah lapuk itu, kini sudah berdiri kokoh. Meskipun masih beralaskan ubin semen, Farhan sudah bersyukur. Keadaan ini jauh lebih baik dari rumahnya yang dulu.
Emak yang dulu harus hidup susah dengannya, kini sudah hidup bahagia bersama suaminya. Sebenarnya Farhan diajak emak untuk tinggal bersamanya, namun Farhan menolak. Biarkan emak dan suami barunya menikmati masa-masa indah mereka yang seharusnya ia habiskan sejak dulu. Beruntung Farhan sudah memberi yang terbaik untuk emak, sehingga tidak ada penyesalan saat harus hidup terpisah jarak. Tak bisa ia bayangkan betapa menyesalnya ia jika dulu terpengaruh teman sebayanya untuk lebih banyak menghabiskan waktu diluar.
"Far timbang bengong dirumah, yuk ikut nongkrong dikafe?! Disana banyak cewek cantik!" ajak Budi, teman sekolah Farhan dulu.
"Maaf, aku ga bisa. Capek habis nguli," jawab Farhan jujur.
Saat itu Farhan yang masih jadi kuli, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk istirahat setelah lelah bekerja dan mengikuti kajian di masjid ketimbang nongkrong ga jelas. Hanya nongkrong seperlunya saja, untuk agar guyub bersama teman-teman.
Setelah menyiapkan sarapannya sendiri, Farhan bersiap berangkat kerja. Menggunakan kemeja polos berwarna navy dengan celana bahan warna hitam. Rambut yang sudah dicukur rapi membuat penampilannya lebih cocok untuk pekerja kantoran. Tak lupa juga ia kenakan sepatu kets warna senada untuk membuat penampilannya tampak santai.
Motor pemberian bapak kini sudah siap menjadi kakinya selama menepuh perjalanan. Tak lupa juga ia baca doa sebelum menaiki kuda besinya, agar perjalannya selamat dan penuh keberkahan.
Farhan menempuh perjalanan kurang lebih sekitar 15 kilometer dari tempat tinggalnya. Berbeda dengan tempat tinggalnya yang masuk ke dalam gang, rumah pak Roni masuk ke dalam perumahan elit ditengah kota. Dengan pagar besi menjulang tinggi, membuat rumah didalamnya tampak hanya melalui celah-celah pagar. Setelah sampai didepan rumahnya, Farhan bergegas turun lalu meraih bel yang terdapat pada ujung pagar.
Setelah beberapa saat, tampak seorang perempuan berumur sekitar 40an, berlari kecil menuju pagar tempat Farhan berdiri.
"Cari siapa Mas?" tanya perempuan itu. Mungkin pembantu.
"Pak Roni nya ada Bu?" tanya Farhan.
"Ada Mas, ini Mas Farhan ya? Tadi Bapak pesan, kalo Mas Farhan datang langsung disuruh masuk saja," jelas perempuan itu. Tangannya membuka kunci gerbang, lalu mempersilahkan Farhan masuk.
Tak lupa ia kembali mengunci pintu gerbang setelah Farhan memarkirkan motornya didekat pos satpam. Mewah sekali rumah Pak Roni, semenjak kenal, baru dua kali Farhan menginjakkan kaki di rumah bosnya. Pertama dulu waktu acara syukuran menempati rumah baru ini, dan kedua saat ini.
"Mari Mas Masuk ke dalam, ikut saya," titah perempuan itu. Langkah lakinya menuju pintu masuk utama. Rumah besar dengan desain minimalis bercat putih itu tampak megah. Membuat Farhan kikuk berdiri diantara guci besar yang mungkin mahal harganya.
"Silahkan duduk Mas." Jari pembantu itu menunjuk ke salah satu kursi besar didepan Farhan. Lalu ia pergi meninggalkan Farham sendiri di ruang tamu yang tampak jauh berbeda saat ia datang pertama kali disini. Wajah Farhan tak henti mengamati foto keluarga yang dipasang didinding diatas kursi besar itu. Foto keluarga Pak Roni beserta istri dan anaknya terpajang dalam pigura berukuran besar.
Derap langkah kaki membuyarkan pandangan Farhan pada bingkai foto itu. Ia lantas menoleh ke sumber suara. Pak Roni sudah siap dengan kemejanya.
"Sudah siap Far? Yuk berangkat," ajak pak Roni. Ada banyak kerjaan baru yang akan ia tunjukkan pada Farhan. Bukan sebagai kuli lagi.
"Baik Pak, Mari." Farhan lantas berdiri. Mengikuti arah kaki sang bos melangkah menuju garasi mobil.
"Motor kamu taruh sini saja, kamu naik mobil sama saya," titah sang bos. Farhan hanya mengangguk lalu memindahkan motornya ke dalam garasi mobil yang sudah ditunjuk oleh bosnya. Setelah motor terparkir, segera Farhan menaiki mobil yang sudah siap untuk dikemudikan. Pak Roni lah yang menyetir sendiri. Tidak memakai sopir seperti orang kaya pada umumnya.
Tampak satpam sigap membukakan pintu untuk sang majikan. Berdiri disamping pagar yang terbuka, menunggu sang majikan berlalu untuk kembali menutup pintu gerbangnya.
Dalam mobil Farhan berdecak kagum dalam hatinya. Baru kali ini ia menaiki mobil mewah dengan pendingin didalamnya. Nyaman sekali.
"Gimana Far, sudah siap kerja hari ini?" tanya pak Roni semangat.
"Alhamdulillah Pak, setelah sekian tahun tidak bekerja sama Bapak, hari ini saya semagat. Semangat kembali mengaduk semen dan pasir," ucap Farhan dengan senyum. Raut wajahnya tampak bahagia. Setelah musibah yang menimpanya, baru kali ini ia kembali produktif.
Kembali bekerja menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Jika dulu, emak selalu menjadi penyemangat untuk bekerja keras, kini berbeda. Kehidupan emak sudah jauh lebih baik dengan suaminya. Kebutuhan yang selalu tercukupi, juga tak pernah kekurangan uang. Kini semangat Farhan hanya untuk meraih masa depannya sendiri. Meyelesaikan rumahnya yang masih belum sempurna, juga untuk menata masa depan.
"Buat apa mengaduk semen sama pasir? Saya belum bilang ya emangnya?" tanya Pak Roni heran. Lupa bila ia belum menyampaikan kabar bahagia untuk Farhan.
"Bilang soal apa ya Pak?" Bukannya menjawab Farhan malah kembali bertanya.
"Saya ngajak kamu kerja bukan untuk jadi kuli lagi." Berbinar wajah Pak Roni menyampaikan kabar itu.
"Lantas sebagai apa Pak?" lagi Farhan bertanya. Merasa belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Sebagai mandor," jawab pak Roni singkat.
"Mandor? Saya ga pernah punya pengalaman untuk jadi mandor Pak?! Bagaimana Bapak bisa langsung percaya begitu saja?" lagi-lagi ia bertanya.
"Saya sudah lama kenal sama kamu Far, saya sudah faham bagaimana karakter kamu. Saya tahu kamu mampu, makanya saya beri kesempatan ini," jelas Pak Roni. Namun penjelasan itu masih belum cukup untuk Farhan. Hatinya masih belum bisa menerima keputusan bosnya. Ragu dengan amanah yang diberikan. Mampukah diri menjalankannya dengan baik. Mandor bukan pekerjaan mudah.
"Tapi saya hanya lulusan SMK Pak?! Bagaimana mungkin langsung jadi mandor?" Terlihat dari ucapannya, Farhan tampak tidak yakin dengan keputusan pak Roni.
"Untuk saat ini bisalah tanpa kuliah, tapi nanti kamu bisa sambil kuliah untuk meningkatkan skill kamu. Sudah diterima saja, ini rejeki kamu. Tidak ada salahnya dicoba dulu," jelas pak Roni lagi. Wajah Farhan tampak berfikir. Memikirkan apa yang disampaikan barusan. Kuliah? Bukannya dulu Farhan pun berkeinginan demikian?
"Saya akan banyak bantu kamu, jangan khawatir! Tak mungkin saya begitu saja melepas kamu jadi mandor. Selama sebulan nanti, saya akan banyak ajari kamu." Lagi pak Roni berucap. Berusaha membuat Farhan yakin atas keputusannya.
"Harus kuliah ya Pak?" lagi-lagi Farhan menjawab dengan pertanyaan.
"Sebenarnya tidak harus. Tapi lebih baik lagi kalau kamu sambil kuliah. Untuk meningkatkan skill juga agar kamu bisa naik lagi ke jenjang yang lebih tinggi. Didepan kamu masa depan terbentang luas, tinggal bagaimana kamu mengambil langkah untuk meraihnya."
Farhan tak menyahut. Membenarkan apa yang diucapkan oleh bosnya. Bukankah dulu ia juga berkeinginan untuk sekolah kembali, namun terbentur dengan ekonomi keluarga yang harus ia tanggung. Kini emak sudah memliki kehidupan baru dengan suaminya. Tidak ada lagi beban yang harus ia pikul. Saatnya memikirkan masa depan diri untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Juga untuk menjemput jodoh dari Allah. Bukankah jodoh tak akan datang bila kita tidak berusaha mencarinya?
Bersambung 🌷🌷🌷

Komentar Buku (29)

  • avatar
    Sri Sunarti

    aku udah baca semua karya kakak yg keren abis 👍👍👍

    17/01

      0
  • avatar
    AidanFarid

    sangat bagus

    07/11

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    kok endingnya sedih sih 😭

    13/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru