88 Tentang Tiga Pria “Sayang?” “Selamat siang, Tuan.” “Jangan formal begitu, Kenia.” “Kalau awalnya pura-pura enggak kenal, sekalian saja enggak usah kenal.” “Bukan begitu, Ken ....” “Sudah, pokoknya aku enggak mau dengar!” “Ini untuk kamu, belanjakan sepuas kamu, dan makan yang sehat agar tidak sakit, ya. Jangan marah lagi!” pria itu memberikan kartu kredit itu ke telapak tangan Kenia, lalu mengecup keningnya. Pintu lift terbuka, Denis dan Kala masuk dan melihat Kenia ada di dalam lift bersama tuan Edgar. Ya, pria itu adalah Edgar, yang sangat ditakuti di perusahaan ini, bahkan oleh pebisnis lain. “Apa yang kalian di lantai ini?” “Kami baru saja meminta tanda tangan direktur keuangan, Tuan.” Edgar mengangguk. Kala dan Denis melirik Kenia, sedangkan Kenia pura-pura masa bodo, padahal dalam hati sudah cemas. Tiba di lantai tujuh, mereka bertiga langsung keluar dari lift. “Tuan Edgar kenapa naik lift itu, bukan lift khusus?” tanya Kala. “Mana aku tahu, memangnya aku liftnya!” seperti biasa, jawaban Kenia suka ketus. “Ken, kamu tidak bermaksud menggoda tuan Edgar, kan?” tanya Denis, bermaksud bercanda, tapi itu membuat Kenia menghela nafas berat. Tangannya sejak tadi meremas kartu kredit yang ada di dalam kantong blazernya. “Enggak perlu aku goda juga, dia sudah kasih aku kartu kredit,” batin Kenia. “Kalian duluan, aku mau ke toilet.” “Toilet lagi?” Kenia tidak menjawab, langsung pergi ke toilet. Di dalam toilet, Kenia langsung mematahkan kartu itu, dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Dia tahu tadi Edgar pasti sengaja menunggunya di dalam lift. “Aku tidak mau lagi bergantung pada kekayaanmu!” Walaupun Keni dulu memang selalu memanfaatkan kekayaan yang Edgar miliki untuk gaya hidupnya agar terlihat mewah. Lalu ada Kala yang memberikan dia uang yang cukup dan membelikan kebutuhannya. Setelah dia pergi dari Kala, dia kembali harus berhemat. “Kapan kumpulnya uang aku kalau dipakai buat makan terus?” Masalah makan di kantor sudah teratasi. Kenia masuk ke ruangan itu, dan melihat Kala. Minta sama si culun? Kenia menggelengkan kepalanya. Minta sama Denis? Kenia langsung tersenyum. “Denis,” panggil Kenia dengan lembut. “Pasti ada maunya.” “Aku hanyalah anak kost yang hidup terkatung-katung di keramaian kota ....” “Anak kost apaan, tinggal di tempat mewah!” “Itu kan punya Marco,” ceplos Kenia. Kala dan Denis langsung menghentikan pekerjaan mereka. Jadi Kenia tinggal di apartemen milik Marco? Kenapa mereka baru tahu? “Kenken, jangan terima lagi apa yang Marco berikan, aku yang akan memberikannya padamu.” “Iya Ken, kamu juga bisa memintanya padaku.” “Aku bukan peminta-minta.” “Kami yang akan memberikannya tanpa kamu memintanya.” “Lihat bagaimana sikap kalian nanti, kalau kalian bersikap baik padamu, aku terima.” “Enak banget sih Ken, jadi kamu. Aku juga mau dong dibiayai hidupnya sama mereka,” ucap Dwina. “Ayahmu kan sudah kaya, minta sama ayahmu, lah!” ceplos Denis. “Ayahnya Kenia juga kaya, kan,” jawab gadis itu. Kenia terdiam, Kala melirik Denis yang salah bicara. “Kenia adalah tanggung jawab kami berdua.” “Kenapa begitu?” “Karena Kenken cantik.” “Aku?” “Jelek!” sahut Denis dan Kala. “Sialan, kamu enggak sadar diri Lun? Tampang minus saja belagu.” Kala hanya tertawa melihat Dwina yang sewot. Pletak Pulpen melayang ke hadapan mereka. “Kerja, bukannya ngobrol. Dasar anak magang enggak tahu diri!” “Dasar tukang iri.” “Apa kamu bilang?” Evi melotot pada Kenia, yang dibalas dengan senyum mengejek dari gadis itu. “Kala, kamu di panggil oleh Tuan Edgar.” Kala langsung keluar, dan berharap Kenia tidak mendapat masalah. Keesokan harinya, Denis yang dipanggil. Cukup lama Denis todak kembali. “Kala, kemarin kamu buat apa dipanggil?” tanya Dwina. “Hanya ditanya masalah pekerjaan, dan ditawarkan untuk bekerja di sini setelah lulus.” “Aku jadi galau,” sahut Dwina. “Kenapa kamu yang galau?” “Aku bingung, harus kerja di sini atau di tempat ayahku.” “Memangnya kamu bakalan diterima di sini? Jangan-jangan kalau dipanggil, kamu kau dipecat.” “Sialan kamu Kala, sejak kapan kamu jadi seberani ini? Hah?” “Kala, buatkan kopi!” “Culun, buatkan teh!” Kala menatap kesal orang-orang yang menyuruhnya itu. “Saya lagi sibuk, suruh OB saja.” “Kamu berani melawan?” “Kenapa saya harus takut? Pekerjaan saya di sini bukan sebagai OB yang membuatkan minum!” Setiap hari ada saja yang menyuruhnya melakukan hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kantor, tapi Kala tentu saja menolaknya. Dia bukan Kala yang dulu, yang akan diam saja diperintah hanya karena ingin kuliah dengan tenang. Lagi pula, dia tidak ingin Kenia berpikir dia adalah pria lemah yang tidak bisa membela diri sendiri. Kenia melihat meja sekretaris yang kosong, lalu dia mengendap-endap masuk ke ruangan yang di dalamnya sedang duduk seorang pria yang masih terlihat gagah dan tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi. “Minta uang!” “Kartu kredit yang kemarin mana?” “Hilang.” Edgar mengeluarkan kartu lain dari dalam dompetnya. “Belikan Keni mobil keluaran terbaru, dong.” “Pakai sopir, ya?” “Halah, pakai sopir juga pasti jadi mata-mata.” “Oya, aku juga mau beli cincin berlian, dong.” “Beli saja apa yang kamu mau.” Dalam hati, bukannya merasa senang justru Kenia merasa kesal dengan pria di hadapannya itu, yang dengan mudah memberikannya apa saja yang dia mau. “Jangan marah lagi, Sayang.” Edgar mencium kening Kenia di saat yang bersamaan dengan pintu yang terbuka. Sekretaris Edgar melongo melihat itu, apa bosnya itu sedang berselingkuh dengan simpanannya? “Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu, hah?” “Ma ... maafkan saya, Tuan.” “Tutup mata, telinga dan mulut kamu, mengerti!” “Ya, Tuan. Saya mengerti.” Sekretaris itu melirik Kenia yang terlihat santai. Memang cantik sih, pantas saja tuan Edgar tergoda. Tapi mirip siapa, ya? Kenia melewati sekretaris itu sambil memamerkan kartu tanpa batasnya. Saat jam istirahat “Anak-anak mereka sudah meninggal dalam kecelakaan tragis beberapa tahun yang lalu.” Salah seorang karyawan berbisik, sambil matanya melirik kanan kiri, takut ada yang mendengar. “Sejak saat itu, tuan Daniel, Bram dan Edgar berubah. Mereka jadi lebih ditakuti oleh orang-orang.” “Saat itu anak mereka juga masih kecil. Tidak ada yang tahu wajah mereka seperti apa, karena mereka tidak pernah menunjukkan diri.” “Bukan hanya itu, adiknya tuan Bram juga dikatakan meninggal dalam sebuah kebakaran.” “Kebakaran atau perampokan, sih?” “Gosipnya rumah itu dirampok, lalu dibakar. Semua penghuninya meninggal di tempat.” “Kamu tahu dari mana?” “Ini kan gosipnya, bisa jadi benar atau tidak. Tapi beberapa orang pernah mengatakan itu.” Kenia diam mendengar cerita itu, tapi pikirannya membayangkan peristiwa yang baru saja dikatakan. “Jangan gosip sembarangan! Ingat, di sini banyak mata-mata.” “Tahu nih, kamu lupa sama Yuni? Dia langsung dipecat saat bergosip tentang istri tuan Edgar yang dikatakan cantik tapi tidak bisa memiliki anak lagi, jadi lebih baik tuan Edgar cari perempuan lain!” Mendengar itu, Kenia langsung mengangkat wajahnya, tangannya terkepal. “Ken, kamu kenapa?” Dwina melihat wajah Kenia yang pucat dan keringat dingin.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua