84 Senior

84 Senior
Hari berlalu, setiap hari Kala selalu ke apartemen Kenia tanpa tahu malu. Ada saja yang dia bawa, kue kesukaan Kenia, bunga, coklat. Bukan perhiasan atau barang-barang mewah lainnya. Kala benar-benar menyesal akan apa yang dia lakukan dulu.
“Aku benar-benar minta maaf padamu, Ken.” Selalu kata-kata itu yang Kala katakan. Bagi sebagian orang, hal yang orang lain anggap sepele, tapi tidak baginya. Seperti itu juga Kenia.
“Kenia!” Dwina datang bersama Denis, Yola dan Marco. Formasi yang kini terlihat unik di mata para mahasiswa lain.
“Ada gosip terbaru.” Wajah Dwina terlihat sangat bersemangat sat ingin mengatakannya.
“Apa?”
“Si Jesi bunuh diri!”
“Apa?” tanya mereka semua, kecuali Kenia yang terlihat masa bodo.
“Dia mencoba bunuh diri, tapi selamat, sih!”
“Bagus deh, aku kira dia mati benaran!” jawab Kenia. Yang mendengar itu tentu saja berpikir Kenia benar-benar jahat, bodo amat, pikir Kenia.
“Orang kalau terlahir goblok, ya tetap saja sampai mati goblok. Bukannya memperbaiki diri, malah mencari jalan pintas. Gitu tuh kalau dimanjakan!” Kala dan Denis saling pandang.
Wajah Kenia tiba-tiba saja terlihat sendu. Hal yang mungkin tidak ada yang benar-benar menyadarinya, kecuali Kala dan Denis. Ada hal-hal tertentu yang membuat Kenia sangat sensitif.
“Ngomong-ngomong, nanti kita PKL di mana, ya?” tanya Denis mengalihkan pembicaraan.
“Aku maunya sih di perusahaan Star. Bagaimana, Ken?”
“Enggak, ah!”
“Kenapa? Kan itu perusahaan terkenal, gajinya juga sangat besar.”
“CEO-nya sudah tua, jelek lagi.” Kala dan Denis tertawa mendengar perkataan Kenia yang memang selalu berkata seenaknya itu.

“Kamu tahu enggak, Ken? CEO Star mau mewariskan semua perusahaan dan kekayaannya pada keturunannya.”
“Apanya yang aneh?”
“Yang aku tahu, pewaris termuda Star itu sudah lama meninggal. Berita itu sangat heboh saat itu, Ken. Bahkan sampai sekarang masih menjadi pembicaraan di kalangan para pengusaha.”
Kenia terlihat berpikir saat mendengar cerita Dwina.
“Mungkin anak selingkuhannya. Kan yang aku tahu, pemimpin Star itu kakek-kakek. Dia punya anak ....”
“Yang meninggal itu, cucu si kakek itu.”
“Ya berarti, yang mewariskannya ya anaknya, lah.”
“Hm, tapi sudah tua Ken, paling berapa lama lagi dia juga harus punya ahli waris, kan?”
“Bagaimana kalau aku saja?” tanya Kenia.
“Kamu mau jadi anaknya?”
“Bukan. Kalau aku mah enggak punya hubungan darah juga pasti nanti dikeroyok sama para pemegang saham dan orang-orang yang mengincar kekayaan mereka.”
“Terus?”
“Ya aku jadi istrinya, lah. Nanti kan aku punya anak, tuh ... jadi pewaris, deh. Kaya kan aku, enggak perlu kerja tinggal main suruh saja. Kamu kerjakan ini, kamu saya pecat! Kamu terlalu jelek di mata saya, berhenti kerja sana!”
Mereka terbatuk mendengar perkataan Kenia. Niat yang sungguh tidak mulia.
“Jadi, kamu mau kerja di sana?”
“Enggak.”
“Ayo, Ken!”
“Kenapa enggak di tempat ayah kamu saja, Dwi? Perusahaan ayah kamu kan juga bagus.”
“Enggak ah, enggak bebas di sana. Nanti mau pendekatan dengan cowok ganteng malah diawasi terus.” Kedua sahabat itu memang sama ternyata, mau kerja atau mau mencari pasangan hidup?
“Ya sudah, nanti kerja di tempat ayah kamu, ya. Bilang sama ayah kamu!”
“Ish, Kenia. Ayo kerja di Star!”
“Enggak, ah. Aku benci perusahaan itu!” Mereka terdiam mendengar perkataan Kenia.
“Aku sumpahin perusahaan itu bangkrut, mati sekalian sama para pimpinannya!”
“Ken ken, tidak boleh bicara begitu, bagaimana kalau apa yang kamu katakan itu jadi kenyataan?”
“Ya bagus lah, memang itu yang aku mau!”
Kenia memang terlihat sangat tidak menyukai perusahaan itu. Kala dan Denis akhirnya lebih memilih diam, salah-salah nanti Kenia marah lagi.
Lain yang diharap, lain lagi yang terjadi. Kenia mendapatkan tugas PKL di Star, gadis itu menghela nafas berat.
“Kalian lagi, kalian lagi! Heran, aku juga bosan kalau harus ketemu kalian lagi!”
Bukan hanya Kenia, Kala, Denis dan Dwina ternyata juga dipilih untuk PKL di perusahaan besar itu. Yang paling bahagia tentu saja Dwina, sedangkan yang paling kesal sudah pasti Kenia.
Mereka memasuki loby. Ada mata yang memandang kagum Denis yang ganteng dan Kenia yang cantik, juga Dwina. Ada juga mata yang memandang sinis Kala yang culun. Apa dia tidak berkaca dulu sebelum masuk ke perusahaan besar ini, pikir mereka.
“Mbak, kami mahasiswa yang akan PKL di sini,” ucap Kala.
“Tunggu sebentar, ya.” Petugas resepsionis itu memeriksa data para anak magang.
“Nama kalian siapa?” tanyanya untuk memastikan.
“Kalandra, Kenia, Denis dan Dwina.”
“Silahkan ke lantai tujuh, nanti di sana ada petugas yang akan mengarahkan kalian.” Resepsionis itu memberikan kartu pengunjung untuk mereka.
Mereka memasuki lift yang ada beberapa karyawannya. Setiap sisi lift itu dari kaca, jadi mereka bisa melihat siapa atau apa yang ada di belakang mereka. Hal ini tentu saja sangat disukai Kenia dan Dwina.
“Bagaimana penampilan aku, Ken?”
“Bagus. Kita kan memang cantik, Dei. Tapi masih cantikkan aku, lah!”
Berkaca
Mereka bisa berkaca sepuasnya di dalam lift itu, melihat penampilan mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari depan atau belakang. Kala, Denis dan lara pria di dalam lift itu tersenyum mendengar perkataan Kenia.
“Untung saja lantainya bukan dari kaca, bisa mampus kita Ken, diintip sama pria yang ada di lantai ini!” Kala dan Denis kini tidak bisa lagi menahan tawa.
“Kalian mau melamar di perusahaan ini?” tanya salah satu karyawan yang ada di dalam lift itu.
“Kita mau PKL di sini.”
“Oh. Semoga lancar ya, pekerjaannya.”
“Kalian ini, belum apa-apa tapi sudah kecentilan!” ucap karyawan perempuan yang terlihat tidak menyukai Dwina dan Kenia, terutama Kenia.
Kenia melihat perempuan itu dari atas sampai bawah.
“Dwi, coba rok kamu pendekkan lagi!”
“Kenapa?”
“Ya buat menggoda pria di sini, lah. Kali saja dapat mangsa, apalagi kalau pimpinan di sini doyan paha mulus montok tanpa lemak.”
Wajah perempuan yang tadi menyindir Krnia dan Dwina langsung merah. Bagaimana tidak, Kenia jelas saja sedang menyindirnya yang berpakaian minum dan ketat.
“Paling nanti ada yang mikir, Dwi.”
“Mikir apa?”
“Kamu di sini mau kerja apa mau ngejablay?”
Dwina dan Kenia tertawa. Teman-teman perempuan yang bernama Siska itu, menahan tawa.
Mereka tiba di lantai tujuh, sedangkan yang masih di dalam liift tadi buru-buru keluar untuk masuk ke dalam lift lain dan turun. Karena keenakan melihat wajah Kenia dan Denis juga percakapan Kenia Dwina yang tidak ada takutnya dengan calon senior, mereka malah kebablasan.
“Pagi, Mbak ....”
“Mahasiswa yang mau PKL, ya?” Kala mengangguk, sedangkan resepsionis di lantai itu melihat Kenia yang sedang memainkan nametagnya.
“Mirip siapa, ya? Artis bukan, sih? Apa model?” batinnya.

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Visitor

    Mantapp

    07/09

      0
  • avatar
    rafazhaamanda

    good novel

    22/02

      0
  • avatar
    RafliMuhammad

    sangt bguss

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru