8 Model

8 Model
Mau sebaik apa pun diri kita, jika mereka tidak suka, tetap saja yang ada dalam pikiran mereka hanya hal-hal buruk.
 
“Hai, Kenia,” sapa Marco.
“Mau apa?”
“Kenalin, aku Marco.”
“Iya, sudah tahu.”
Marco tersenyum, gadis di hadapannya ini benar-benar menggemaskan dan menantang.
“Sudah ya, aku mau kuliah.”
Kala melihat Marco yang menatap sinis kepadanya, namun Kala tidak peduli. Dia sudah biasa mendapatkan perlakuan yang seperti itu. Justru dirinya akan sangat aneh jika orang-orang saat ini menatap biasa saja padanya.
Ponsel Kala bergetar, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
[Kala, kamu sudah bisa mulai mengajar privat keponakan saya. Mulai besok sore, ya. Selasa, Rabu, Kamis. Jam empat sampai jam setengah enam.]
[Uji coba selama dua bulan. Kalau kamu bisa membuat nilai-nilainya lebih baik, kamu akan lanjut mengajar. Jadi jangan membuat saya malu karena sudah merekomendasikan dirimu.]
Kala langsung membalas.
[Baik, bu. Terima kasih karena sudah merekomendasikan dan menawarkan pekerjaan ini kepada saya.]
Kala tersenyum cerah, dia akan mendapatkan uang tambahan dari pekerjaan ini.
Kenia melihat wajah Kala yang memasuki kelas dengan tampang cerah.
“Eh, Curut! Enggak usah senyum-senyum begitu, malah tambah geli tahu, enggak!”
Kala tidak peduli, dia tetap saja tersenyum.
Pluk
Kenia melempar Kala dengan tisu bekas yang sudah diuwel-uwel. Kala melirik pada Kenia. Gadis itu suka sekali membuat gara-gara dengan dirinya, meski Kala tidak berbuat apa-apa.
Kala berdiri di depan sebuah rumah yang cukup mewah.
“Permisi, Pak. Saya mau bertemu dengan tuan Herlambang. Saya guru privat baru untuk putrinya,” ucap Kala pada satpam yang menjaga.
Satpam itu melihat Kala dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sama sekali tidak mencerminkan penampilan seorang guru.
“Tunggu sebentar, ya.”
Tidak lama kemudian satpam itu menyuruh Kala masuk. Kala disambut oleh asisten rumah tangga dan mengantarnya ke ruang tamu. Di ruang tamu, tuan Herlambang dan istrinya yang bernama Susan sudah ada lebih dulu.
“Selamat sore Tuan, Nyonya. Saya Kalandra, yang akan menjadi guru privat anak Anda.”
Herlambang dan Susan menyambut kedatangan Kala. Mereka terlihat biasa-biasa saja melihat penampilan Kala, mungkin sudah mendapat penjelasan lebih dulu dari bu Sri.
“Kamu sudah diberi tahu sebelumnya kan, oleh Susi?”
“Oya, Tuan,” jawab Kala sambil mengangguk.
“Bi, panggilkan Jesicca!” perintah Susi saat asisten rumah tangga itu mengantarkan minum untuk ketiganya.
“Baik, Nyonya.”
Tidak lama kemudian seorang gadis berwajah imut dan manis datang.
“Ini anak saya, Jesicca.”
“Halo Jesicca, saya Kalandra.”
“Aku Jesi, Kak.”
“Ya sudah, kalian mulai saja belajarnya.”
Jesi lalu meletakkan buku-bukunya di atas meja. Kala sendiri juga sebenarnya sudah menyiapkan materi yang akan diajarkannya kepada Jesicca.
Tuan Herlambang dan nyonya Susi tidak beranjak dari duduknya. Mereka sedang mengawasi Kala yang sedang mengajar, mereka ingin melihat sendiri bagaimana cara pria itu mengajarkan putri mereka.
Kala sendiri yang diawasi tidak merasa grogi sedikit pun. Semua pertanyaan Jesi dapat dia jawab dengan lancar dan memberikan poin-poin penting untuk Jesi pelajari karena besok katanya dia ada ulangan biologi. Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam, dan tugas Kala mengajar di hari pertamanya ini berakhir.
“Sebaiknya kamu ikut makan malam bersama.”
“Terima kasih banyak Tuan atas tawarannya, tapi saya harus segera pulang.”
“Kamu naik apa ke sini?”
“Saya naik angkutan umum, Tuan.”
“Biar sopir saya yang mengantar kamu pulang.”
“Terima kasih banyak Tuan, tapi tidak perlu repot-repot.”
“Tidak apa-apa, biar sopir saya yang mengantar.”
Akhirnya Kala diantar oleh sopir tuan Herlambang hingga rumahnya.
“Terima kasih banyak, Pak,” ucap Kala pada sang sopir saat tiba di rumah kontrakannya.
“Iya, sama-sama.”
Ini hari ketiga Kala mengajar, Herlambang dan Susan masih mengamati cara Kala mengajar Jesi. Selama ini juga, Kala selalu diantar oleh sopir dan dua hari ini dia dijemput oleh sopir itu. Kala sendiri di satu sisi merasa tidak enak kepada sopir yang bernama Sobri itu, karena harus mengantar jemputnya, namun di sisi lain juga merasa bersyukur karena bisa berhemat. Orang-orang yang melihat selama dua hari ini pria itu diantar jemput dengan mobil mewah, mencibir Kala.
“Jadi benar, dia simpanan tante-tante?”
“Sudah putus asa dia, bagaimana cara mendapatkan uang dengan cara cepat.”
“Simpanan dosen juga kan, dia.”
Kala diam saja, membela diri pun percuma, akan tetap dianggap salah, jadi tidak perlu membuang-buang waktu, pikirnya.
“Aku rasa, si curut tidak mungkin melakukan itu.”
Orang-orang langsung melihat Kenia, terutama Kala. Dia tidak menyangka Keni akan membelanya, meski masih memanggil dia dengan sebutan curut. Kala merasa hatinya menjadi ringan, diam-diam dia tersenyum bahagia bahwa masih ada yang membela dan percaya padanya.
Dwina dan Denis menatap Keni, apa benar gadis ini sedang membela Kala. Jangan-jangan Keni salah makan.
“Kamu ngebelain Kala, Keni?” tanya Dwina.
“Bukan, aku hanya menyampaikan pendapat yang menurutku sangat benar.”
“Serius?”
“Iya, dong.”
“Kok bisa?”
“Karena ... sejelek-jeleknya aku, aku juga tidak sudi tuh sama si curut. Harus cari yang lebih baik, lebih ganteng untuk memperbaiki keturunan, lebih kaya untuk mengamankan isi dompet. Lah kalau sama si curut, apanya yang mau diperbaiki? Ada juga memperburuk keadaan. Sudah sengsara, tambah sengsara deh!”
Mereka langsung tertawa. Bunga-bunga yang tadinya baru tumbuh akarnya di hati Kala, langsung tercabut begitu saja.
“Astaga!” teriak Keni.
“Apaan sih, Keni? Bikin kaget saja!” keluh Dwina yang mengusap dadanya dan menggosok kupingnya.
“Jangan-jangan si curut jadi model?”
Teman-temannya cengo mendengar perkataan Keni.
“Itu lebih enggak mungkin lagi.”
“Bisa saja, kan?”
Keni kembali mengingat dada bidang Kala dan lengan kokoh saat menggendongnya waktu itu. Keni lalu menatap Kala, melihat tubuh Kala meski masih tertutup kemeja kebesarannya.
“Kamu jadi model, kan? Ayo ngaku!”
Kala langsung menggeleng, karena memang dirinya tidak menjadi model.
“Mana mungkin, Keni.”
“Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini?” katanya bijak.
“Berarti mungkin saja dia jadi brondong tante-tante,” yang lain menyahut.
“Si curut ini kan diam-diam menghanyutkan!” Kenia tetap ngotot dengan pendapatnya.
“Model apaan memangnya?”
“Model bokep!”
Jawaban Keni langsung disambut gelak tawa. Denis sudah menduga bahwa Keni tidak sungguh-sungguh membela Kala. Wajah Kala memerah, antara malu dan marah. Entah keberanian dari mana, Kala mendekati Keni.
“Kenken!” katanya.
“Apa?” tantang Keni.
“Aw ....”
Kala baru saja menyentil bibir Keni.
“Aw ....” Kali ini Kala yang meringis karena Keni menjambak rambutnya.
“Beraninya kamu!”
Denis tertawa pelan, dirinya tidak ada niat sama sekali untuk membantu apalagi memisahkan mereka. Sejak dulu Denis memang ada di pihak tengah. Dia tidak membully meski terkadang suka iseng pada Kala, tapi dia juga tidak membela Kala, apalagi jika sudah berhubungan dengan Keni.
“Ayo Keni, kamu pasti bisa!” Dwina justru memberikan semangat pada sahabatnya itu.
Marco tertawa saat mendengar cerita tentang Kala dan Kenia.
“Pokoknya tuh cewek harus jadi pacar aku!” ucapnya dengan sungguh-sungguh.

Komentar Buku (83)

  • avatar
    Visitor

    Mantapp

    07/09

      0
  • avatar
    rafazhaamanda

    good novel

    22/02

      0
  • avatar
    RafliMuhammad

    sangt bguss

    16/11

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru