7 Gosip Tidak ada yang sia-sia. Jika belum mendapatkan hasilnya, mungkin karena belum waktunya, dan dia akan datang di waktu yang tepat, di saat yang tak pernah disangka. Kala melihat tatapan para mahasiswa yang terlihat berbeda. Memang biasanya mereka menatap Kala dengan tatapan mencela, namun yang sekarang tatapan mereka semakin mencela. Dia kemudian menundukkan wajahnya, mencoba memperhatikan penampilannya, meski yang bisa dia lihat hanya bagian badan, celana panjang dan sepatunya saja. Tidak ada yang aneh, masih sama seperti biasa, pikirnya. “Jadi kenapa mereka memandangku seperti itu?” Kembali dia bertanya dalam hati. “Tahu enggak ... katanya, si miskin itu main gila dengan salah satu dosen, makanya nilainya bisa bagus.” Tidak perlu bertanya, Kala tahu yang dibicarakan itu dirinya, karena siapa lagi yang selalu dihina miskin? Yang lain mungkin ada yang miskin namun tidak semiskin dirinya. Namun yang tidak dia mengerti, kapan dia main gila dengan seorang dosen? Dan siapa dosen itu? Sibuk memikirkan hal itu, Kala tidak sengaja menabrak Marco. “Dasar buta!” “Maaf, aku tidak sengaja.” “Memang dasar goblok!” Marco langsung menendang lutut Kala, membuat pria itu meringis. “Ada apa ini?” Mereka melihat bu Sri yang mendekati mereka. Dilihatnya Kala yang masih memegangi lututnya dengan bekas sepatu di celana hitamnya. Tanpa perlu bertanya, bu Sri tahu apa yang terjadi. “Kamu jangan membuat ulah, Marco, baru satu minggu kamu kuliah! Tugas yang saya berikan saja belum kamu kumpulkan. Saya mau kamu mengumpulkan tugas kamu nanti siang. Kalau tidak mengumpulkan, jangan harap kamu akan lulus mata kuliah saya semester ini!” “Dan kamu Kala, masuk ke kelas sekarang!” Kala langsung bergegas ke kelasnya. Marco menatap Kala dengan tatapan benci sambil mengepalkan tangannya. “Tunggu pembalasan dariku!” batin Marco penuh dendam. Pergantian mata kuliah Kala tiba lebih dulu di dalam kelas yang masih kosong. Tiba-tiba saja dirinya ingin ke toilet. Dengan tergesa-gesa, dirinya ke toilet dan meninggalkan tasnya. Toilet pria itu cukup ramai, sehingga Kala memakan waktu lebih lama untuk berada di sana. Sekembalinya dia ke kelas, dilihatnya Keni yang berdiri di depan mejanya. Namun ada yang janggal, gadis itu memegang tas dan buku-buku Kala yang sudah robek semua. “Bukan aku!” Denis dan Dwina masuk bersamaan, mereka juga melihat apa yang dipegang oleh Kenia. “Aku bilang bukan aku!” Kenia langsung menghempaskan yang dia pegang begitu saja, lalu duduk di bangkunya. Kala menyadari sesuatu, lalu melihat isi tasnya. Diraihnya makalah yang cukup tebal namun sudah tidak berbentuk. “Gawat!” ucap Denis dan Dwina bersamaan. “Apanya?” tanya Kenia santai. “Tugas kelompok kita. Hari ini kita mungkin dapat jatah presentasi dari bu Sri!” Kenia langsung berdiri tegak, lalu merebut makalah yang hancur itu dari tangan Kala. “Masih ada di flashdisk, kan?” tanya Denis. “Aku lupa membawanya.” “Aku juga tidak bawa.” “Aku menyimpannya di ponselku,” jawab Kenia. “Ya sudah, cepat sana print!” perintah Denis. “Kamu menyuruh aku? Memangnya aku babumu?” Denis dan Kala menghela nafas berat. “Ya sudah, sini ponsel kamu, biar aku yang print,” ucap Kala. “Enak saja. Itu ponsel aku, barang privasi aku, mana mungkin aku kasih pinjam begitu saja ke orang lain, apalagi itu kamu.” Kala yang sudah gemas-gemas kesal dengan Kenia, langsung menarik tangan Kenia dan mengajak gadis itu berlari. “Aaa ... Curut, lepas!” Mereka tiba di depan lift. Lift yang satu rusak, yang satu lagi baru saja turun, sedangkan yang satu masih di bawah. Kalau menunggu keduanya kembali naik, akan memakan waktu yang lebih lama. Kala kembali menarik tangan Kenia untuk berlari. “Pakai tangga saja.” “Enggak mau, cape.” Kala langsung menggendong Kenia dengan bridal style. “Anjir ... Ngepet dasar. Turunin gak! Turunin woy, monyet ....” Kenia mulai mengabsen nama penghuni kebun binatang dan binatang yang ada di rumah. Denis dan Dwina yang sempat melihat apa yang dilakukan Kala, kini saling pandang. “Mampus saja tuh nanti si Kala!” seru Dwina. Para mahasiswa yang melihat Kala menggendong Kenia, hanya bisa bengong. Mereka masih loading untuk langsung memberikan komentar dan gosip baru. Kala terpaksa harus turun ke lantai satu, karena di lantai empat tidak ada tempat foto copy, dan di lantai tiga tutup. Setibanya di lantai satu, mereka melihat banyak mahasiswa yang sedang mengantri. “Minggir, aku baru-buru!” seru Kenia memangkas antrian. “Kami juga buru-buru, kali!” Namun mereka melihat tatapan Kenia yang sangat judes itu, lebih memilih mengalah. “Buruan, Bang!” “Tiga puluh tujuh ribu.” “Pakai uangmu!” Kala langsung merogoh saku celananya dan mengambil uang lima belas ribu. “Kurang.” “Bang, si culun ngutang ya. Jangan menagih ke aku.” Kenia lalu berjalan dengan santai. “Aaaa ... anjir, bego banget. Turun kampret!” Mereka kembali menarik perhatian. Melihat cara berjalan Kenia yang lamban, bisa-bisa mereka marah bu Sri karena datang terlambat. Ada seseorang yang memperhatikan Kala menggendong Kenia, dan dia mengepalkan tangannya. “Bangsat!” Kala menaiki anak tangga dua sekaligus “Turunin!” Tangan Kenia dengan terampil menjambak rambut Kala hingga pria itu sampai tertunduk-tunduk. “Jangan tarik-tarik, Kenken. Nanti kalau kamu kena cium, jangan menyalahkan aku, loh!” Keni langsung menghentikan perbuatannya, namun mata gadis itu menatap nyalang pria di hadapannya. Tes tes tes .... Bukan air mata Kenia yang menetes, tapi keringat Kala yang jatuh ke Kenia. “Jorok, bego!” “Maaf, Kenken.” “Maaf-maaf, memangnya maafmu bisa mengembalikan kesucian wajahku?!” Plak “Aw!” “Sakit, Kenken!” Kenia baru saja menepuk pipi Kala dengan kencang. “Ada lalat di mukamu. Makanya jadi cowok tuh jangan jorok. Sudah kere, jelek, jorok, dekil, kucel, mesum!” “Sabar Kala, sabar. Banyak-banyak saja berdoa agar nanti dia yang mengejar-ngejarmu,” batin Kala. “Dah diam, nanti jatuh!” Kenia memberengut kesal. Setelah dia anteng, Kenia baru merasakan sesuatu. Dia dapat merasakan jantung Kala yang berdetak kencang, entah karena lelah berlari naik turun tangga, atau sesuatu yang lain. “Ngomong-ngomong, ini Kala dadanya bidang, ya? Lengannya juga berasa kokoh. Meskipun aromanya kaya dedemit!” Memang selama ini kemeja kebesaran punya Kala selalu menutupi bentuk tubuh pria itu yang sebenarnya sangat bagus. Akhirnya mereka tiba juga di lantai empat. Kala menurunkan Kenia di dekat kelas mereka. Tok tok tok .... Seisi kelas melihat kedatangan Kala dan Kenia. “Dari mana saja kalian? Ini sudah dua puluh menit kuliah dimulai!” Mereka melihat penampilan Kala yang tidak karuan. Baju lecek, muka berkeringat, rambut berantakan, nafas ngosngosan, belum lagi sebelah wajah yang memerah. Banyak yang berpikiran mesum, sedangkan Denis dan Dwina meringis melihat Kala. “Pasti telah terjadi kekerasan selama perjalanan,” batin mereka bersamaan. Kenia langsung memasang wajah melasnya. “Saya sakit perut tadi Bu, maklum perempuan.” Kenia mengelus perutnya yang tidak sakit. “Dasar ratu drama!” batin mereka bertiga. “Duduk!” Kenia berjalan pelan-pelan, untuk menunjang kebohongannya. “Lanjutkan!” perintah bu Sri peda kelompok lima yang sedang presentasi. Setelah presentasi, dilakukan sesi tanya jawab untuk menambah nilai. “Sekarang yang presentasi kelompok dua.” Kenia menatap kesal bu Sri, namun tidak mau protes. “Siapa tadi yang bilang kita mendapat jatah presentasi hari ini?” tanya Kenia menatap mereka satu persatu. Mereka bertiga sama-sama menunjuk. Kala menunjuk Dwina, Dwina menunjuk Denis, sedangkan Denis menunjuk Kala. “Salah Kala!” Dwina dan Denis kembali kompak. Kenia menatap Kala dengan tatapan psikopat. Dia lalu mengeluarkan kaca andalannya, yang membuat ketiganya heran. “Kaca? Buat apa, Keni? Aku kira kamu mau mengeluarkan pisau.” “Ya mau ngaca, lah. Bedakku jadi luntur, rambutku kusut. Sia-sia aku naik turun tangga dari lantai empat. Capek tahu!” Kala langsung cemberut. “Apanya yang capek? Itu juga digendong,” batin pria yang hanya bisa pasrah itu. “Duh Kala, jangan cemberut gitu, dong. Gemes deh, jadi pengen nampol tuh bibir,” ucap Denis sambil menaik turunkan alisnya. Tentu saja Denis dan Dwina tahu kalau Kala pasti menggendong Kenia naik turun tangga.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua