65 Rumah Impian “Lama banget!” “Iya, ngantri.” “Kok kamu kelihatan senang, habis mengintip perempuan ya, di toilet?” “Ya ampun Ken, kalau nuduh tuh jangan yang asal ngejeplak, dong. Daripada ngintipin perempuan lain, lebih baik aku ngintip kamu yang setiap hari ada di apartemen.” Kenia menatap Kala tajam, yang hanya dibalas tawa ringan dari Kala. “Habis ini kita mau apa lagi?” “Pulang saja, lah. Dah malas aku.” “Nonton dulu yuk, kita kan belum pernah nonton berdua.” Kenia berpikir, lalu mengangguk. Kala ingin menyenangkan Kenia hari ini, karena selain keluarganya, siapa lagi yang harus dia bahagiakan? Nanti, anak-anaknya bersama Kenia. Kenia menatap curiga pada Kala yang sejak tadi senyum-senyum sendiri. “Kamu di dalam bioskop tidak berencana mesum, kan?” “Ayo Ken, habis ini kita bikin anak.” Plok Kenia menabok punggung tangan Kala dengan kencang. “Sakit, Ken!” “Suruh siapa mesum!” “Suruh siapa nuduh aku mesum? Sekalian saja aku mesum benaran sama kamu, daripada dituduh tanpa bukti.” Mereka berdua tertawa, tapi Kenia kembali berwajah muram saat mendengar perkataan orang-orang yang kembali membicarakan dia dan Kala. “Perempuannya operasi plastik kali, makanya bisa cantik begitu.” “Orang tuh kalau operasi plastik, biar bisa dapat pasangan yang ganteng atau cantik, ini malah dapat yang jelek juga.” “Mungkin yang lain tahu, kalau dia cantik hasil operasi.” Tidak ada film thriller, Kala memilih film komedi yang akan mereka nonton. Kenia langsung masuk begitu saja ke kamarnya setelah mereka tiba di apartemen, dia masih merasa kesal kalau mengingat orang-orang yang terus membicarakan dia dan Kala. Keesokan harinya setelah pulang kuliah, Kenia mengunjungi Kendrick dan Fernan, kebetulan hari ini dosen yang masuk hanya satu, dan itu pagi, jadi dia punya banyak waktu. Kenia kembali mencurahkan isi hatinya kepada dua orang itu tentang kejadian kemarin. Kenia membuka pintu apartemen, dan melihat Kala yang berdiri di tengah ruangan. Tapi ada yang aneh, kenapa ruangan ini kosong? Tidak ada barang satu pun di dalamnya. “Kamu habis kerampokan?” Bukannya merasa kasihan, gadis itu malah tertawa. Menyadari sesuatu, tawa Kenia berhenti, dia langsung berlari ke kamarnya. “Kenapa semua barang aku juga diambil?” “Tenang Ken, barang-barang kamu aman, kok. Aku enggak habis kerampokan, karena memang aku pindahkan semua.” “Dipindahkan ke mana?” “Ke apartemen yang lain.” “Kamu punya apartemen?” “Punya bos aku.” “Terus kita bagaimana? Jangan-jangan kita diusir.” “Ya enggak, lah.” “Pasti dia mau ngusir secara halus itu, pura-pura memindahkan barang, biar kita sadar diri terus pergi.” “Ayo.” “Mau ke mana?” “Beli barang-barang yang baru. Aku mau kamu yang memilih semuanya. Eh, tapi kamu lelah enggak, kalau lelah biar besok saja kita ke mall.” “Sekarang sekarang sekarang, ayo buruan, nanti mallnya keburu tutup.” “Ini masih jam tiga, Ken, mana mungkin tutup.” “Ayo buruan.” “Kamu sudah makan?" “Sudah kan tadi sama kalian.” “Berarti itu kan lagi, siangnya kenapa enggak makan. Ayo makan dulu.” “Mau makan apaan, orang enggak ada apa-apa di sini.” Kala lupa kalau memang tidak ada satu pun barang di sini, termasuk di dapur. “Ya sudah kita makan di luar saja.” Kala memasangkan helm untuk Kenia, sebelumnya mengelap kening gadis itu yang berkeringat. Kenia makan dengan cepat setelah mereka tiba di tempat makan dan pesanan sudah datang. “Jangan buru-buru, kalau sekarang tidak selesai, masih bisa dilanjutkan besok atau hari libur. Beli yang penting-penting saja dulu.” Mereka ke pusat furniture lebih dulu. Kenia memilih beberapa perabot yang dia suka dengan bebas. “Ini pakai uang siapa, bos kamu? Kalau pakai uang bos kamu, nanti aku pilih yang paling mahal sekalian, biar tahu rasa dia,” bisik Kenia. Kala tertawa, dia mencubit pipi Kenia dengan gemas, lalu mencium pipi itu. “Ish.” “Kamu pilih saja yang kamu suka, enggak usah mikirin harga dan uang siapa.” “Tapi kan ....” “Ayo, jangan kebanyakan mikir, kan masih banyak yang belum dibeli.” Kenia memilih sofa, kasur, lemari baju, lemari hias, meja rias, meja makan, lampu kristal dan barang lainnya yang dia pikir perlu. Setelah itu, mereka ke toko elektronik, membeli kulkas, TV dan sebagainya. Lalu ke perabotan rumah tangga, membeli gelas, piring, sendok dan lain-lain. Kenia bahkan tadi dengan semangat memilih kompor. Semua barang dibeli, karena memang semua diganti, dari yang paling kecil sampai yang paling besar. Mereka terlihat bahagia, seperti pasangan pengantin baru yang sedang menyiapkan rumah masa depan mereka. Meskipun sejak tadi juga masih banyak bisik-bisik membicarakan mereka berdua, tapi Kenia sekarang lebih santai. Kenia bahkan dengan sengaja memilih barang-barang yang paling mahal dan berkata, “Ini kok murah banget ya, harganya. Pesanan yang dari luar negeri kapan datang? Oya, guci antik yang kemarin aku pesan, mau dikirim besok.” Mereka yang sejak tadi mencibir, diam saja saat barang-barang mahal itu sudah dibayar, bukan hanya memilih, melihat, lalu disimpan lagi ke tempatnya. “Sudah malam Ken, besok lagi atau hari libur baru belanja. Lagian nanti barang-barang yang kamu beli datang, kita kan belum menatanya. Kita makan malam dulu.” Mereka makan, Kenia sudah terlihat kelah tapi tetap ceria. “Ternyata menyenangkan ya, belanja kebutuhan rumah seperti ini. Aku seperti lagi menyiapkan rumah masa depan,” ucap Kenia. “Rumah impian kamu yang seperti apa?” “Yang besar, dong. Ada kolam renang, ruang fitnes, theater, lapangan bulu tangkis dan tenis, basket, voli, landasan helikopter ....” Kala geleng-geleng kepala mendengar Kenia terus bicara menyebut satu persatu semua fasilitas rumahnya. “Sekalian saja kamu bikin mall dalam rumah.” Kenia tertawa mendengar perkataan Kala. Kenia terkantuk-kantuk di atas motor Kala. Lelah, tapi senang. Mereka sampai di apartemen, melihat Denis yang duduk selonjoran di lantai ruang yang tadinya ruang santai dengan botol minum dan makanan. “Lama banget sih, kalian!” Tidak lama kemudian, barang-barang yang dibeli datang. Kala meminta satu tempat tidur dulu yang dimasukkan ke kamar Kenia. Mengambil satu baju untuk Kenia dan memberikannya pada gadis itu. Selagi Kenia mandi, Kala memasangkan seprei di kasur Kenia. “Kamu mau barang-barangnya ditata seperti apa?” Kenia langsung memberinya tahu semuanya, baru nanti ditata. “Kamu tidur saja, biar mereka yang menata, yang penting mereka sudah tahu keinginan kamu.” Kenia mengangguk, karena memang sudah sangat lelah. Semua barang sudah ditata sesuai keinginan Kenia, Kala dan Denis melihat semuanya dan tersenyum.
“Selera Kenia memang bagus.” Mereka ke kamar masing-masing, Kala dan Denis tidak langsung tidur, karena sibuk mengerjakan pekerjaan. Kenia yang tadinya katanya mau kerja, malah mau mau enggak enggak, akhirnya Kala juga yang mengerjakannya. Kenia terbangun, dia pergi ke dapur karena merasa haus dan tidak ada air minum di dalam kamarnya. Dia melihat isi rumah dan bingung, kenapa barang-barangnya jadi sedikit begitu? Lalu dia ke kamarnya, tidak ada meja rias dan lemari baju. Dia langsung ke laut lagi, pergi ke kamar Kala. Mengetuk pintu kamar itu berkali-kali, tapi tidak dibukakan.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Mantapp
07/09
0good novel
22/02
0sangt bguss
16/11
0Lihat Semua